Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Lari dari Pernikahan / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:118
Nilai: 5
Nama Author: Anna Brenda

Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.

Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.

Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.

Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembalinya Sang Perempuan Itu

Roxanna memutus sambungan telepon dengan gerakan kasar, seolah tindakan itu bisa menghapus suara yang masih menggema di kepalanya.

Sedetik kemudian, kakinya lemas dan ia terjatuh ke lantai, merasakan dinginnya ubin menyentuh kulitnya. Getaran tak terkendali menjalari tubuhnya sembari ia berbisik pada dirinya sendiri,

"Tidak! Tidak! Tidak mungkin dia! Tidak mungkin Violet!"

Penyangkalan itu bagai mantra, sebuah upaya putus asa untuk mengusir kenyataan yang begitu tiba-tiba menyusup ke dalam hidupnya.

"Aku pasti salah dengar," pikirnya, tapi keyakinan akan suara perempuan itu masih bergaung di telinganya.

Dengan jantung berdegup kencang dan pikiran kalut, Roxanna berlari ke arah lemari es, mencari secercah pelipur dalam wujud alkohol. Gagasan meneguk secangkir anggur terasa seperti solusi sempurna untuk meredakan gejolak emosi yang menguasainya.

Tapi begitu tangannya menyentuh botol, gelombang kenangan menyerbu kepalanya; peringatan dokter tentang bayinya bergema bagai alarm.

"Aku harus berhati-hati demi bayiku," pikirnya, lalu dengan helaan napas berat, ia mengembalikan anggur itu. Sebagai gantinya, ia mengambil sekotak susu dan berjalan pelan ke arah sofa, merasa tersesat.

Duduk di sana, dengan kotak susu di tangan, Roxanna tenggelam dalam kekalutan perasaan. Ia tak mengerti mengapa suara itu bergaung begitu jelas untuknya.

Bagaimanapun, Violet tak pernah menjadi temannya; sebenarnya, mereka nyaris seperti orang asing semasa sekolah. Violet adalah tipikal gadis pirang jelita yang membuat semua pria tergila-gila, gadis paling cantik dan populer di kampus. Alessandro juga bagian dari dunia gemerlap itu—si playboy yang dipuja semua orang. Bersama-sama, mereka adalah pasangan yang semua orang harapkan, jauh lebih serasi daripada Alessandro dengan seseorang seperti Roxanna.

Harga dirinya tak sanggup menerima gagasan melihat pria yang begitu ia cintai jatuh hati pada perempuan lain; hal itu menggerogotinya dari dalam. Justru karena itulah, semasa sekolah, Roxanna diam-diam berusaha menjauh dari mereka. Tapi Alessandro tak membiarkannya keluar dari hidupnya semudah itu.

Selalu muncul di depan pintunya dengan senyum memesona dan janji-janji petualangan di dunia nyata—Alessandro tak tertahankan.

Mengenang situasi-situasi itu membangkitkan campuran nostalgia dan pedih.

Bagaimana bisa begitu mudah baginya meninggalkan Roxanna?

Dan kini, dengan kemunculan tak terduga suara Violet, segala rasa tak aman kembali menyeruak ke permukaan. Roxanna berusaha menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam sembari menatap dinding ruang tamu, dihiasi kenangan-kenangan bahagianya bersama Alessandro. Tapi kini semuanya seakan terancam oleh bayang-bayang masa lalu.

Ia harus fokus pada masa kini dan masa depan; pada masa depan bayinya.

Dengan pikiran itu, Roxanna meneguk sedikit susu dan memejamkan mata sejenak, berusaha menemukan kejernihan di tengah kekacauan emosi yang menyelimutinya. Hal terakhir yang ia inginkan adalah membiarkan rasa tak aman kembali menguasai hidupnya; kini ada sesuatu yang berharga untuk ia lindungi.

Ia selalu menjadi sahabat yang setia di sisinya, menyembunyikan hati yang hancur di balik senyum yang menyemangati. Ia memerankan sahabat baik dengan sempurna, bahkan ketika hatinya berkeping-keping. Melihat Alessandro bahagia di sisi Violet bagai tusukan yang tak henti-henti di jiwanya. Ia melihat dirinya tertawa mendengar lelucon Alessandro, mendukung setiap keputusannya, menyemangatinya, sementara hatinya sendiri hancur dalam diam.

Setiap tatapan yang Alessandro lemparkan pada Violet, setiap tawa yang mereka bagi, membuat Roxanna merasa bagai orang asing dalam hidupnya sendiri.

Ketika ia memutuskan kuliah di luar negeri, keberanian itu akhirnya muncul. Itu adalah kesempatan baru untuk lari dari luka dan memulai lagi. Tapi kemudian, ia tahu bahwa Alessandro berencana melamar Violet. Pikiran itu menyiksanya.

Bagaimana bisa Alessandro mengambil langkah itu?

Apa yang begitu istimewa dari Violet hingga membuatnya melupakan luka yang Roxanna tahu ia pikul?

Beberapa bulan kemudian, Roxanna mendengar Alessandro mengalami kecelakaan. Ia tak ragu untuk segera pulang. Ada yang tak beres. Begitu tiba, hatinya mencelos melihat raut suram di wajah orang-orang di sekitarnya. Dan kemudian ia melihatnya: Alessandro terbaring di sana, tak bernyawa, seolah seluruh cahaya telah padam dari dalam dirinya.

Dunia Roxanna runtuh saat itu juga.

Kebenaran terungkap bagai pukulan telak; Violet meninggalkan Alessandro justru di saat ia paling membutuhkannya.

Alessandro mengalami kecelakaan mengerikan dan berbulan-bulan tak bisa berjalan; sebuah masa kerapuhan ekstrem yang semestinya justru mempererat mereka berdua. Tapi Violet memilih pergi dari hidupnya di saat sekritis itu, dan hal itu takkan pernah bisa Roxanna maafkan.

Kebencian pada Violet mulai tumbuh di dalam dirinya bagai bara yang membakar.

Bagaimana Violet tega melukai Alessandro seperti itu?

Sungguh tak terbayangkan bahwa seseorang bisa menghancurkan hati yang begitu lembut dan penuh cinta di saat ia paling membutuhkan dukungan.

Alessandro tak pernah menceritakan luka terdalamnya pada siapa pun selain Roxanna; ia hanya menyebutkan bahwa ia telah mengakhiri hubungan dengan Violet karena tak ingin menjadi beban baginya. Terungkapnya penderitaan Alessandro membuat cinta Roxanna padanya terasa semakin dalam sekaligus menyiksa.

Ketika Melissa mengatur pernikahan itu meski ia jelas-jelas memandang rendah Roxanna, Roxanna tak mengerti mengapa Alessandro mau menyetujuinya.

Roxanna merasakan campuran amarah dan kesedihan. Kata-kata tajam Alessandro masih bergaung di kepalanya, "Menikah dengan siapa pun selain Violet sama saja bagiku." Kalimat itu terdengar bagai vonis mati bagi perasaan dan harapannya.

Menyakitkan menyaksikan semua itu terjadi di depan matanya, tapi ia tak bisa membiarkan Alessandro sendirian dalam perjalanan barunya. Alessandro terluka, dan meski tahu ia sendiri berisiko hancur dalam prosesnya, Roxanna ingin memperbaikinya.

Di tengah pusaran emosi itu, Roxanna akhirnya tertidur di sofa ruang tamu, terselimuti rasa tak aman dan kekhawatiran akan masa depan. Beban dunia seakan menghimpit bahunya yang letih sementara air mata mengering di wajahnya.

Di tengah malam, sesuatu membangunkannya.

Dengan mata berat oleh kantuk dan pedih yang menumpuk beberapa hari terakhir, ia perlahan membuka mata dan seketika mengenali aroma akrab yang menenangkan itu.

"Alessandro," bisiknya, suaranya nyaris seperti gema dari masa lalu.

Alessandro ada di sana, dekat dengannya, dengan tatapan intens yang selalu membuat jantungnya berdebar. Bahkan di tengah kesedihan dan kekalutan, sentuhan kasih sederhana itu membawa secercah harapan ke dalam kegelapan yang mengelilinginya. Roxanna merasakan gelombang emosi bercampur aduk; cinta yang mendalam pada Alessandro dan pedih yang tajam atas kehilangan yang ia hadapi.

"Kau di sini," ucapnya dengan suara bergetar, sembari berusaha mencerna kenyataan bahwa Alessandro benar-benar berada di sisinya lagi. Seakan waktu berhenti sesaat.

"Hmm!" Alessandro bergumam sembari melangkah ke arah tangga.

"Kenapa kau tidur di sofa? Tidak lelah selalu jadi orang yang menyusahkan?" Roxanna menatapnya sementara Alessandro membantunya berbaring di ranjang.

Meski mereka pernah berbagi momen-momen intim, ada sesuatu dalam sikap Alessandro yang membuatnya tak puas. Mereka telah terpisah lebih dari tiga bulan, dan tubuhnya merindukan Alessandro, sebagaimana hatinya mendambakan kehadirannya.

"Kau ke mana saja?" Roxanna bertanya sambil menguap. "Aku menunggumu."

Alessandro menjawab acuh tak acuh, hal yang tak biasa baginya,

"Cuma bertemu seorang teman. Katamu kau menungguku; ada hal mendesak?"

Roxanna menatap lekat wajah Alessandro dan tiba-tiba tak ingin merusak momen itu. Maka ia membungkam segala kekhawatirannya dan memutuskan menelan kebenaran sekali lagi.

Mungkin besok ia akan punya keberanian untuk memberitahunya.

Tapi kemudian ia justru bertanya,

"Bagaimana kalau kita punya anak?"

Alessandro menatapnya terkejut, lalu menjawab,

"Kau tahu aku tak mau punya anak. Kita tidak saling mencintai. Jadi untuk apa punya bayi?"

Roxanna menelan ludah, menggeleng, lalu mengerucutkan bibir sambil beralasan mengantuk. Alessandro bangkit. Tepat saat ia hendak pergi setelah memberi ciuman selamat malam di kening Roxanna, gelombang panik menyergap, dan Roxanna cepat-cepat menariknya, menciumnya dengan segenap gairah yang ia rasakan, berusaha melepas pakaiannya dan membuat Alessandro menyentuhnya lebih dalam.

Ia merindukan Alessandro dan ingin merasa terhubung lagi.

"Tunggu, Roxy!" Alessandro berkata, menahan kedua tangannya di ranjang. "Katamu kau mengantuk dan perlu istirahat."

Tapi Roxanna menjawab,

"Sekarang aku justru semakin merindukanmu."

Saat menatap Alessandro dengan tatapan polos, ia melihat percik hasrat berkilat di mata pria itu, tapi dengan cepat lenyap. Dulu Alessandro biasa senang dengan inisiatifnya.

Menyadari kebingungan Roxanna, Alessandro mencubit hidungnya.

"Aku mau mandi dulu; badanku bau alkohol."

Roxanna hanya mengangguk dan memperhatikan Alessandro pergi ke kamar mandi. Kantuk kembali menyergapnya dan ia memejamkan mata untuk beristirahat. Ketika akhirnya terbangun keesokan paginya, sinar matahari menyusup lewat celah tirai gelap, dan Alessandro ada di sisinya.

"Hai!" Roxanna menyapanya dengan senyum sementara Alessandro menatapnya seolah ragu untuk mengatakan sesuatu.

Ketika Alessandro duduk di ranjang, cahaya pagi menyaring lembut melewati tirai, menyinari wajahnya dengan kilau lembut. Ia memegang sebuah apel merah mengilap, yang tampak nyaris terlalu sempurna. Dengan gerakan pelan, ia menyodorkan buah itu pada Roxanna, yang menatapnya penuh curiga.

"Apa ini? Suap?" Roxanna bertanya dengan nada sedikit sinis. "Kau membiarkanku menunggu semalaman, dan sekarang mau menyogokku dengan sebuah apel?"

Ekspresi Alessandro tak berubah; ia tak tertawa.

Helaan napas dalam lolos dari bibirnya sembari ia sedikit mencondongkan tubuh.

"Roxanna." Ia memulai, menggenggam erat tangan Roxanna, matanya lekat menatap mata istrinya.

Dunia di sekeliling seakan lenyap sementara ketegangan meningkat. Jauh di lubuk hatinya, Roxanna merasakan jantungnya berpacu, berdenyut seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Pikiran-pikiran bergolak menyerbu benaknya: bayi di dalam kandungannya, penolakan Alessandro menerima kehidupan baru itu. Alessandro punya sesuatu untuk dikatakan, dan Roxanna tahu ia pun harus bicara; bagaimanapun, Alessandro adalah sang ayah.

"Baiklah." Roxanna berkata gugup, suaranya sedikit bergetar. "A-apa itu?"

Alessandro menarik napas dalam, seolah menyiapkan kata-kata yang akan ia ucapkan.

"Kau tahu hari ini akan datang, kan?" Pertanyaan itu menggantung di antara mereka bagai awan pekat.

Roxanna berusaha memahami perlahan, bibirnya sedikit terbuka penuh harap sekaligus cemas. Rasa takut akan apa yang akan Alessandro katakan menggerogotinya; sebuah firasat buruk mulai terbentuk di dasar perutnya.

Saat itu, Roxanna menyembunyikan kedua tangannya yang terkepal di bawah seprai, melawan air mata yang mengancam luruh di wajahnya. Ia tak mengerti mengapa Alessandro mengatakan itu; sesuatu di dalam dirinya sudah merasakan yang terburuk.

"Roxy..." Alessandro berhenti sejenak, menyipitkan mata seolah mengumpulkan keberanian sebelum kembali menatap mata Roxanna.

"Kurasa sudah waktunya kita bercerai."

Kata-kata itu menghantam Roxanna bagai tinju ke ulu hati.

Hatinya seketika mencengkeram; pedihnya nyaris tak tertahankan.

Alessandro melanjutkan,

"Aku tahu kau pun tak punya perasaan padaku. Kau menikahiku hanya karena ibuku." Suaranya tenang dan terkendali, tapi kata-katanya mengiris bagai pisau tajam. "Dan ia bahkan tak menyukaimu. Ia memaksamu menikahiku hanya karena dulu aku lumpuh... Aku berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku, tapi... sekarang saatnya kita mengejar kebahagiaan kita yang sesungguhnya, Roxy."

Roxanna menggeleng menyangkal, kebingungan menguasainya.

"A-apa maksudmu, Alessandro?" Ketidakpercayaan terpampang jelas di wajahnya.

Tanpa menyembunyikan antusiasme yang kini membuncah, Alessandro mengungkapkan,

"Violet sudah kembali, Roxanna. Cinta pertamaku sudah kembali."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!