Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Skenario yang Meleset

Firasat Laras belum sempat terbukti ketika serangan lain datang lebih dulu.

Pagi itu, sebuah pesan berantai menyebar di grup WhatsApp kompleks. Isinya menuduh dokter hewan baru di peternakan hanya pandai mencari perhatian. Penyelamatan Garang disebut pertunjukan yang telah diatur. Keberhasilan menangani PMK dianggap hasil kerja pegawai lama yang sengaja diakuinya. Ada pula kalimat yang menyiratkan Laras mendapat pekerjaan karena dekat dengan kepala peternakan.

Nama Laras tidak ditulis lengkap, tetapi foto punggungnya saat berada di Puskeswan dipasang di bawah pesan.

Rina menunjukkan tangkapan layar itu di ruang kerja. "Bu Yuni yang pertama mengirim ke grup arisan. Setelah ditegur, dia bilang cuma meneruskan dari orang lain."

Laras membaca semuanya tanpa mengubah wajah. "Simpan pesan asli, waktu kirim, dan daftar penerusnya. Jangan membalas dengan makian."

"Kamu tidak marah?"

"Marah tidak mengubah fakta. Bukti bisa."

Di sudut kantor, Vania menunduk di balik buku persediaan. Beberapa hari sebelumnya, ia sengaja menemui Bu Yuni di warung. Ia hanya perlu menyebut bahwa Laras terlalu cepat mendapat pekerjaan dan sering terlihat bersama Pak Sutrisno. Bu Yuni menyusun sisanya dengan senang hati.

Dalam kehidupan sebelumnya, sebuah tuduhan serupa pernah menghancurkan nama Laras. Perempuan itu tidak punya pekerjaan tetap, tidak punya keluarga yang membela, dan masih gemetar setiap kali Bu Marni memakinya. Setelah gosip menyebar, Laras mengurung diri dan akhirnya pergi dari kota dalam keadaan terhina.

Seharusnya kali ini juga begitu.

Namun menjelang siang, Pak Kasno datang membawa dua jeriken susu pertama dari induk sapi yang diselamatkan Laras. Di belakangnya menyusul tiga peternak yang pernah menerima kunjungan Laras.

"Saya dengar ada orang bilang Bu Laras dokter palsu," kata Pak Kasno keras-keras. "Kalau begitu, anak sapi yang lahir hidup ini ditolong hantu?"

Pak Sutrisno keluar membawa laporan PMK bertanda tangan petugas dinas. Pak Yohanes menunjukkan catatan isolasi dan foto kondisi ternak sebelum serta sesudah penanganan. Drh. Hutomo mengirim surat singkat yang menegaskan status kerja Laras dan kompetensinya.

Laras tidak meminta siapa pun memujinya. Ia hanya mengundang warga yang ragu datang ke peternakan sore itu.

"Silakan lihat kandang isolasi, catatan obat, dan hewan yang kami tangani," katanya. "Tanyakan langsung kepada pemiliknya. Kalau ada tindakan saya yang salah, catat dan laporkan ke Puskeswan. Tetapi jangan menuduh tanpa memeriksa."

Undangan itu menyebar lebih cepat daripada gosip.

Belasan warga datang. Laras mengenakan sepatu bot dan membawa mereka melewati batas biosekuriti. Ia tidak memperbolehkan semua orang masuk kandang, tetapi menunjukkan zona dari jalur aman. Setiap pertanyaan dijawab dengan data. Siapa yang mengambil sampel, siapa yang menghubungi dinas, kapan kandang ditutup, dan berapa ekor yang pulih, semuanya tercatat.

Seorang lelaki yang sejak pagi ikut menyebarkan pesan mengangkat tangan. "Kalau Ibu memang menangani wabah, kenapa masih ada ternak yang dipotong?"

"Karena dokter tidak boleh menjanjikan semua hewan hidup," jawab Laras. "Pada penyakit menular, melindungi kawanan sehat kadang membutuhkan pemusnahan terkontrol berdasarkan keputusan dinas. Yang harus dinilai adalah apakah pelaporan dilakukan cepat, kontak ditelusuri, dan penularan dihentikan."

Ia menunjukkan garis waktu kasus tanpa membuka data pribadi pemilik. Kandang merah telah ditutup sebelum hewan dari kelompok itu sempat dijual ke pasar. Ternak di zona hijau dipantau dua kali sehari, dan pekerja menggunakan alas kaki terpisah. Tidak ada penularan baru setelah masa pengawasan terakhir.

"Jadi foto Ibu memakai pakaian pelindung itu bukan sekadar untuk konten?" tanya seorang perempuan dengan malu.

"Pakaian itu panas dan sulit dipakai. Saya tidak akan mengenakannya demi foto," kata Laras datar, membuat beberapa orang tertawa. "Namun kalau Ibu ingin belajar mengapa alat pelindung diperlukan, Wati bisa menunjukkan urutan melepasnya agar tangan tidak tercemar."

Wati langsung memperagakan. Kunjungan yang semula lahir dari gosip berubah menjadi pelajaran biosekuriti sederhana. Warga pulang membawa daftar tanda bahaya dan nomor Puskeswan, bukan cerita buruk.

Bu Endah menulis di grup bahwa Garang diselamatkan di depan puluhan saksi. Ia juga mengunggah foto hasil rontgen tenggorokan serta laporan luka akibat kawat, dengan bagian sensitif ditutup.

Bu Yuni mencoba bertahan. "Saya hanya mendengar katanya pertolongannya sudah diatur supaya kelihatan hebat."

"Dari siapa?" tanya Bu Endah.

Bu Yuni tidak menjawab.

Saat itulah Santi melangkah maju. Selama ini ia cukup dekat dengan Vania karena bekerja di bagian yang sama. Ia sering mendengar Vania mengeluh bahwa hidup Laras seharusnya tidak berjalan seperti sekarang. Awalnya Santi mengira itu sekadar iri.

"Saya melihat Vania berbicara dengan Bu Yuni di warung sebelum pesan ini muncul," katanya. "Dia bilang Bu Laras merebut pekerjaan orang dan menggoda atasan. Saya ada di meja sebelah."

Semua kepala menoleh kepada Vania.

Vania memaksakan tawa. "Kamu salah dengar. Aku cuma bilang proses penerimaannya terlalu cepat."

"Kamu juga bilang penyelamatan Garang bisa saja sengaja dibuat," balas Santi. "Aku sudah menyuruhmu berhenti. Mulai sekarang, jangan libatkan namaku dalam urusanmu."

Wajah Vania kehilangan warna. "Kita teman."

"Teman tidak diminta membantu menjatuhkan orang dengan kebohongan."

Santi menyerahkan salinan catatan persediaan kepada Pak Sutrisno dan meminta dipindahkan dari meja yang bersebelahan dengan Vania. Keputusannya sederhana, tetapi di depan para pekerja, itu terasa seperti pintu yang ditutup keras.

Pak Sutrisno mengumumkan bahwa peternakan akan menyimpan seluruh tangkapan layar. Siapa pun yang mengulang tuduhan tanpa bukti dapat dilaporkan karena merusak nama baik dan mengganggu pelayanan ternak. Ia tidak mengancam kosong. Surat peringatan internal langsung dibuat untuk Vania karena membawa konflik pribadi ke tempat kerja.

"Ini peringatan pertama dan terakhir," katanya. "Kalau ada keberatan terhadap pegawai, gunakan pemeriksaan internal. Jangan menggerakkan warga untuk menyerang kehormatan orang lain."

Vania menerima surat itu di bawah tatapan rekan-rekannya. Ia ingin mengatakan bahwa semua ini hanya kesalahpahaman, tetapi Santi telah mencatat tanggal, tempat, dan kalimat yang didengarnya. Setiap kebohongan baru hanya akan menambah bukti.

Sore itu, isi grup WhatsApp berubah. Orang-orang yang pagi tadi bertanya apakah Laras dokter sungguhan kini membagikan foto Pak Kasno bersama anak sapinya. Beberapa bahkan meminta jadwal pemeriksaan ternak.

Laras kembali ke mejanya dan meneruskan perhitungan air seolah tak terjadi apa-apa. Sikap itu justru membuat Vania semakin takut.

Ini bukan bagian yang ia ingat.

Dalam kehidupan sebelumnya, Laras tidak punya Pak Kasno, drh. Hutomo, Bu Endah, atau puluhan laporan yang bisa menjadi perisai. Santi juga tidak pernah membelot. Semuanya seharusnya tunduk pada alur yang telah Vania ketahui.

Malamnya, Vania menatap layar ponsel yang penuh kabar baik tentang Laras. Jemarinya dingin meski udara terasa panas.

"Kok beda dari yang aku ingat?" bisiknya.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya berapa banyak masa depan yang masih bisa dipercayainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!