Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar Hitam
Hari semakin larut.
Setelah menghabiskan waktunya di ruang kerja, akhirnya Leon kembali ke kamar. Dan, saat ia membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Elena yang sedang duduk di tepi ranjang sambil berusaha mengganti perban di lengannya sendiri.
Leon hanya diam. Tidak ada niat sedikit pun untuk membantu. Ia berjalan melewatinya, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan santai.
"Menyesal sudah melukai dirimu sendiri?" sindirnya.
Elena hanya melirik sekilas. Tangannya tetap sibuk membersihkan luka sebelum kembali membalutnya.
"Kenapa?" balas Elena tenang. "Putus asa karena belum menemukan orang yang menyerang kami sampai membuatmu kesal?"
Tangan Leon mengepal.
Dalam sekejap, ia bangkit dari sofa dan menghampiri Elena.
"Katakan! Siapa yang menyerang mu?"
Elena mengangkat wajah. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Ternyata benar."
"Apa?"
"Kamu memang kesal karena tidak mendapatkan jawaban."
Elena kembali menunduk dan berusaha membalut lengannya sendiri, seolah-olah tidak peduli pada Leon yang kini berdiri tepat di depannya.
Sikap acuh itu justru semakin membuat Leon geram. Tanpa banyak bicara, ia merebut perban dari tangan Elena.
"Biar aku saja."
Leon duduk di sampingnya, lalu mulai membalut luka di lengan Elena dengan gerakan tegas.
Elena memperhatikan tangannya sesaat lalu berkata, "Meskipun kamu bersikap baik padaku, aku tetap tidak akan mengatakannya."
"Kenapa?" tanya Leon tanpa menoleh. "Kamu takut kalau semuanya ternyata berhubungan dengan dirimu?"
Elena terkekeh pelan. "Untuk apa aku takut? Mereka menyerang ku justru karena dirimu."
Leon menghentikan gerakannya. Perlahan, pandangannya beralih pada Elena, sehingga tatapan mereka bertemu.
"Jadi, semua yang kamu katakan sebelumnya benar?"
Elena mengangkat alis. "Kamu pikir aku hanya mengarang cerita?"
Leon tidak menjawab. Pikirannya kembali tertuju pada kejadian sebelumnya. Ia mencoba mengingat siapa saja yang mungkin memiliki alasan untuk menyerangnya. Namun, semakin ia pikirkan, semakin banyak nama-nama yang muncul.
Hampir semua organisasi yang pernah berurusan dengannya dan memiliki alasan untuk balas dendam padanya.
"Sudah sadar kalau semua ini terjadi karena ulahmu?" celetuk Elena tiba-tiba.
Leon mendengus pelan. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik ujung perban dan mengikatnya sedikit lebih kencang.
"Ah..." Elena langsung meringis.
Leon menatapnya sekilas, tetapi bukannya meminta maaf, ia justru mendekatkan wajahnya.
Jarak mereka kini begitu dekat hingga Elena bisa merasakan hembusan napasnya.
"Aku akan sangat merasa bersalah jika sesuatu terjadi pada Mommy," ucap Leon dingin. "Tapi, kalau itu terjadi padamu..." Ia berhenti sejenak, menatap tajam ke dalam mata Elena.
"...aku tidak akan merasa bersalah sedikit pun."
Leon kemudian menegakkan tubuhnya. Ia meraih bantal dan membawanya ke sofa.
"Tidak masalah kalau kamu tidak mau mengatakannya." Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Elena. "Cepat atau lambat, aku pasti mendapatkan informasi yang aku inginkan. Termasuk semua hal tentang dirimu."
Elena terdiam. Tapi, bukannya takut, ia justru tersenyum miring.
"Begitu juga dengan ku, Leon," batin Elena.
***
Cahaya matahari pagi perlahan menyusup melalui celah tirai, menerangi sebagian kamar yang masih diselimuti keheningan.
Elena mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya terbangun. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, seolah berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih tersisa.
Beberapa detik kemudian, ia menghela napas pelan dan bangkit dari tempat tidur.
Tangannya sempat menyentuh lengan yang terluka. Rasa nyeri masih terasa, meski sudah jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Ia menatap perban yang membalut lengannya, lalu teringat kejadian semalam.
Elena mendengus pelan.
"Pria menyebalkan."
Ia menyingkirkan selimut dan turun dari tempat tidur. Setelah merapikan rambutnya yang berantakan, Elena melangkah menuju lemari untuk mengambil baju bersih.
Pagi itu terasa begitu sunyi. Hanya suara langkah kakinya yang terdengar di dalam kamar.
Setelah mendapatkan baju yang akan ia pakai, Elena berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat setelahnya, giliran Leon yang perlahan membuka matanya.
Ia menegakkan tubuhnya sambil meregangkan otot-ototnya. Lalu, Tatapannya jatuh pada ranjang yang kosong.
Leon mengernyit. Ia menatap sekeliling kamar dan tidak melihat Elena di mana pun. Lalu, ia menoleh ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit.
"Mungkin, dia sudah turun lebih dulu," gumam Leon.
Ia akhirnya bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi.
Ia membuka pintu, tanpa tahu ada Elena di dalam. Lalu, saat ia hendak mencuci muka di wastafel, langkahnya tiba-tiba terhenti. Tubuhnya langsung membeku.
Di depannya, Elena berdiri membelakanginya dengan tubuh polos yang masih basah. Wanita itu meraih handuk dan melilitkannya di tubuhnya, sebelum bersiap memakai baju. Wanita itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Leon di sana.
Mata Leon seketika melebar.
"Elena," gumamnya.
Leon hendak berbalik dan keluar. Namun, gerakannya terhenti saat matanya menangkap sesuatu di bahu bagian belakang Elena.
Leon menyipitkan mata.
Itu adalah sebuah simbol yang membuatnya penasaran. Simbol yang mungkin bisa memberinya petunjuk tentang identitas Elena yang sebenarnya.
Tubuh Leon perlahan menegang. Tangannya yang semula hendak meraih gagang pintu kini terdiam di sisi tubuhnya.
Tatapan Leon tidak lagi tertuju pada tubuh Elena, melainkan pada simbol yang terukir jelas di bahunya.
"Itu..."
Leon mengepalkan tangannya erat. Dia akhirnya keluar dari kamar mandi dan langsung keluar kamar, menuju ruang kerjanya.
Ia membuka laci meja, mencari dokumen lama yang ia bawa dari markas The Raven.
Setelah menemukan dokumen tersebut, ia membukanya, mencari simbol organisasi yang sudah lama hilang.
Tiba-tiba, gerakannya terhenti. Tatapannya jatuh pada simbol mawar hitam di dokumen tersebut.
"Mawar hitam," gumamnya.
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊