Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Edris Ruan
Ketika menyadari ada seseorang berdiri tepat di belakangnya, Esmera berusaha keras untuk tetap tenang.
Jangan panik, Esmera, tetaplah tenang.
Dia terus mengulang kalimat itu dalam hati, seolah-olah dengan mengingatnya berulang kali, rasa takut yang mulai menjalar di tubuhnya bisa menghilang.
Esmera menarik napas perlahan, kemudian memberanikan diri untuk berbalik.
Namun, begitu pandangannya jatuh pada sosok yang berdiri di belakangnya, seluruh keberanian yang baru saja ia kumpulkan seketika runtuh.
Matanya melebar.
Di sana, bersandar dengan santai pada dinding penginapan lusuh tempat Esmera tinggal, berdiri seorang pria yang sangat ia kenal.
Edris Ruan.
Untuk beberapa saat, Esmera bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.
Pria itu menatapnya dengan wajah setenang air. Tidak ada kemarahan, tidak ada senyuman, bahkan tidak ada sedikit pun ekspresi di wajahnya. Datar, sama seperti masa lalu. Ia layaknya manusia yang tidak memiliki emosi, tidak memiliki jiwa.
Wajah yang selalu membuatnya ketakutan, wajah yang selalu membuatnya menjadi tak berharga. Wajah itu, kini ada di hadapannya.
Tatapan Esmera mulai bergetar.
Rasa takut yang selama ini berusaha ia kubur kembali muncul ke permukaan. Dalam sekejap, semua kenangan buruk yang ingin ia lupakan menyeruak begitu saja.
Kesepian yang panjang.
Perasaan tidak diinginkan.
Rasa dikucilkan.
Ketakutan yang selama ini menghantuinya.
Semuanya bercampur menjadi satu, membuat tubuh Esmera mulai gemetar tanpa bisa ia kendalikan.
Apa yang dia lakukan?
Esmera mundur satu langkah ketika melihat Edris mulai berjalan mendekat. Langkah pria itu perlahan, tetapi justru terasa semakin mengancam. Esmera kembali mundur.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Hingga punggungnya akhirnya menyentuh dinding kayu di belakangnya. Tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri.
Edris terus berjalan sampai akhirnya berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Esmera dapat melihat dengan jelas wajah tenang pria itu, walaupun dia sedikit mendongak, karena Edris Ruan memiliki tubuh yang sangat tinggi dan besar , khas keluarga Ruan. Lebih baik dia melihat hantu, daripada harus melihat wajah Edris Ruan.
"Bersembunyi seperti tikus begini," ucap Edris dengan suara datar,"kuakui keberanianmu cukup bagus, Esmera." lanjutnya.
Jantung Esmera berdegup semakin kencang ketika mendengar namanya disebut. Bagaimana bisa dia langsung mengenalinya? Dimasa lalu, mereka baru saling bertatapan mata ketika hari pernikahan. Sebelumnya Esmera tidak pernah sekalipun bertemu dengan Edris Ruan.
Esmera langsung menundukkan wajah, berusaha menghindari tatapan Edris. Namun, pria itu tidak membiarkannya begitu saja.
"Tapi keberanian saja tidak cukup."
Esmera terdiam, semakin merunduk.
"Kau harus lebih pintar lagi." Nada suara Edris tetap sama. Datar. Tidak tinggi, tidak pula terdengar mengancam. Memang begitulah dia, Esmera sangat hapal dengan sosok itu.
Bagi Esmera, setiap kata yang keluar dari mulut pria itu terasa seperti ancaman yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan. Setiap kata yang dia ucapkan serasa hukuman tak kasat mata, selalu berhasil membuat jiwa lawannya menciut.
Esmera hanya bisa diam.
Tangannya yang berada di sisi tubuh mengepal erat. Dia ingin mengatakan sesuatu, ingin menyangkal bahwa dirinya bukan Esmera, tetapi lidahnya terasa kelu.
Apa gunanya berpura-pura lagi?
Edris sudah menemukannya.
Semua penyamarannya selama beberapa hari ini ternyata tidak cukup untuk mengelabui pria itu.
Edris kemudian sedikit menundukkan kepalanya, memperhatikan wajah Esmera yang masih dipenuhi arang. Untuk sesaat, tatapannya berhenti pada kedua mata gadis itu.
"Seharusnya hal pertama yang kau lakukan adalah menyembunyikan kedua mata indahmu ini." Ucapnya, yang berhasil membuat Esmera perlahan mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu.
Edris tetap tanpa ekspresi."Agar aku tidak bisa menemukanmu."