Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembaran Hitam dan Balasan Sang Penulis

Angin sore berhembus pelan dari celah ventilasi kafe, membawa serta sisa-sisa aroma kopi pekat yang kini terasa hambar di lidah Reina Lunox. Di hadapannya, map dokumen berwarna cokelat itu tergeletak tenang di atas meja marmer, bagaikan kotak Pandora yang siap melepaskan segala rahasia kelam ke permukaan.

Elena Vance masih menyunggingkan senyuman kemenangan di balik lensa kacamatanya, menikmati detik-detik keraguan yang bergelayut di wajah gadis yang duduk di seberangnya.

Reina menatap map itu cukup lama. Jantungnya bergemuruh hebat, bukan karena rasa takut yang mencengkeram, melainkan karena gelombang kemarahan yang mendadak melesat menembus batas kesabarannya. Selama ini, ia selalu menjadi pihak yang dipojokkan, disindir, dan direndahkan oleh orang-orang dari lingkaran sosialita kelas atas yang merasa paling berkuasa. Namun, cukup sudah. Ia bukan lagi gadis desa yang bisa diintimidasi dengan selembar kertas ancaman murahan.

Alih-alih meraih atau membuka map dokumen tersebut dengan tangan gemetar seperti yang diharapkan oleh Elena, Reina justru mendongakkan kepalanya perlahan. Sorot mata cokelatnya berubah tajam, memancarkan ketegasan yang membuat senyuman di wajah Elena sedikit meluntur.

"Kau menyuruhku membuka ini agar aku ketakutan, lalu lari meninggalkan Jino, begitu?" suara Reina terdengar tenang, namun sarat akan penekanan yang dingin.

Elena mengerjap sesaat, sedikit terkejut dengan reaksi yang tidak sesuai prediksinya. "Kau... tidak penasaran? Itu adalah bukti nyata bahwa pria yang akan kau nikahi tidak sekecil dan semulia yang kaubayangkan, Reina. Jino menyembunyikan rahasia besar tentang masa lalu keluarganya yang bisa menghancurkan reputasi kalian dalam semalam."

Reina menarik napas panjang. Alih-alih menyentuh map itu, ia justru mendorong balik map cokelat tersebut dengan ujung jarinya melewati permukaan meja, tepat kembali ke hadapan Elena.

"Dengar ya, Nona Vance," ucap Reina tajam, setiap kata keluar dari bibirnya dengan artikulasi yang jelas dan menusuk. "Pertama, aku tidak peduli seberapa banyak rahasia kelam atau dosa masa lalu yang dimiliki Jino. Manusia mana yang hidup tanpa cela? Bahkan kau sendiri, yang dengan bangganya datang membawa ancaman, dulunya adalah pengkhianat yang menjual perusahaan demi kepentingan perutmu sendiri."

Wajah Elena berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal erat di atas meja. "Kau—!"

"Kedua," potong Reina tanpa memberi celah bagi Elena untuk berbicara, suaranya semakin meninggi penuh wibawa. "Jika memang ada hal buruk tentang Jino, aku lebih memilih mendengarnya langsung dari mulut pria itu sendiri, bukan dari wanita licik sisa masa lalu yang datang bersembunyi di balik map dokumen palsu!"

Brak!

Elena tidak bisa menahan emosinya lagi. Wanita itu menggebrak meja cukup keras hingga beberapa pengunjung kafe di sekitar mereka menoleh ke arah meja sudut tersebut. Napas Elena memburu, matanya melotot tajam menatap Reina dengan kebencian yang nyata.

"Kau benar-benar gadis bodoh yang keras kepala, Reina!" desis Elena tertahan, penuh amarah. "Kau akan menyesal! Ketika keluarga besar West menghancurkan hidupmu dan keluargamu nanti, jangan datang merengek padaku!"

Reina berdiri dari kursinya dengan gerakan elegan. Ia merapikan sedikit lipatan pakaiannya, lalu menatap rendah ke arah wanita di hadapannya dengan senyuman penuh kemenangan.

"Terima kasih atas peringatannya, Nona Vance. Tapi sayangnya... aku bukan tipe wanita yang suka merengek," balas Reina telak. "Dan satu hal lagi: pergilah dari kota ini, atau aku sendiri yang akan memastikan Tuan Muda Jino menyeretmu keluar dengan cara yang jauh lebih tidak menyenangkan."

Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk mendengarkan balasan Elena, Reina memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari kafe dengan dagu terangkat tinggi. Udara sore menyambut wajahnya, dan meskipun jantungnya masih berdegup kencang, ada kelegaan luar biasa yang meresap ke dalam dadanya. Ia baru saja membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia berdiri sejajar, bukan di bawah bayang-bayang siapa pun.

Sementara itu, di lantai atas gedung pencakar langit pusat kota, suasana di dalam ruang kerja utama West Corporation tampak jauh lebih mencekam dari biasanya.

Jino West berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan sore hari kota metropolitan. Kemeja hitam tanpa jas yang dikenakannya membuat auranya tampak semakin gelap dan intimidatif. Di atas meja kerjanya, sebuah laporan intelijen pribadi terbuka lebar, memuat informasi lengkap tentang keberadaan Elena Vance di kota ini sejak kemarin.

"Tuan Muda," suara asisten pribadi Jino, David, terdengar ragu-ragu di dekat pintu. "Tim pengamanan kami melaporkan bahwa Nona Reina baru saja meninggalkan kafe di distrik pusat setelah menemui Nona Vance secara langsung."

Seketika itu juga, manik mata kelam Jino membelalak tajam. Suhu di dalam ruangan seolah merosot drastis hingga titik beku. Jino berbalik badan begitu cepat, rahangnya mengeras sempurna.

"Kenapa kau baru melaporkannya sekarang?!" bentak Jino dingin, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga membuat David menunduk ketakutan.

"K-kami baru mendapat konfirmasi, Tuan. Nona Reina bergerak sendiri tanpa pengawalan..."

Tanpa mendengarkan penjelasan lebih lanjut, Jino menyambar jas kerja dan kunci mobilnya di atas meja. Ia melangkah lebar meninggalkan ruangannya dengan amarah yang siap meledak. Pikirannya dipenuhi oleh kekhawatiran luar biasa; ia tahu persis seberapa manipulatif Elena Vance, dan ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika wanita berengsek itu berhasil melukai atau menanamkan keraguan di hati Reina.

Dua puluh menit kemudian, taksi yang ditumpangi Reina baru saja memasuki kawasan parkir penthouse. Gadis itu turun dengan langkah sedikit gontai, kelelahan mental setelah konfrontasi tegang di kafe mulai merayapi sekujur tubuhnya.

Namun, begitu ia melangkah keluar dari lift pribadi lantai empat puluh dan membuka pintu utama penthouse, pemandangan yang menyambutnya membuatnya tertegun di tempat.

Jino West berdiri di dekat ruang tengah dengan napas memburu dan raut wajah pucat pasi yang belum pernah Reina lihat sebelumnya. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan separuh dunianya.

Begitu melihat sosok Reina berdiri utuh di ambang pintu, Jino langsung melangkah cepat menerjang jarak di antara mereka. Tanpa sepatah kata pun, tangan kokoh pria itu merengkuh tubuh Reina erat-erat, menariknya ke dalam dekapan dadanya dengan kekuatan yang begitu besar, seolah ia sedang memastikan bahwa gadis di pelukannya itu benar-benar nyata dan tidak akan pernah hilang.

Reina terkesiap kecil. Ia bisa merasakan degup jantung Jino berdetak sangat kencang dan tidak beraturan di balik kemeja pria itu.

"Jino... kau kenapa?" tanya Reina bingung, meski ia bisa merasakan kehangatan dan getaran panik yang merambat dari tubuh pria di hadapannya.

Jino membenamkan wajahnya di ceruk leher Reina, menghirup aroma vanila dan angin luar dari rambut gadis itu. Napasnya masih terdengar tidak teratur.

"Kau darimana saja, gadis desa?" bisik Jino dengan suara serak, begitu berat dan sarat akan ketakutan yang mendalam. "Aku hampir membalikkan seluruh kota begitu mendengar kau menemui wanita itu sendirian."

Reina terdiam sejenak. Hatinya yang sempat keras mendadak luluh seketika mendengarkan kejujuran di balik kepanikan sang Tuan Muda yang terkenal angkuh dan selalu bisa mengendalikan segala situasi. Ternyata, di balik sosok dingin dan sempurnanya, Jino memiliki titik kelemahan terbesar—dan titik lemah itu adalah dirinya.

Dengan perlahan, tangan Reina terangkat, membalas pelukan Jino. Ia melingkarkan lengannya di pinggang pria itu, menepuk-nepuk pelan punggung bidang Jino untuk menenangkannya.

"Aku baik-baik saja, Jino," bisik Reina lembut, tersenyum kecil di bahu pria itu. "Wanita itu tidak bisa menyakitiku. Aku sudah mengusirnya."

Jino melonggarkan sedikit pelukannya, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Reina dengan sorot mata yang dipenuhi rasa lega bercampur amarah yang tertahan. "Kau tidak takut? Kau tidak ingin membuka dokumen apa pun yang dia bawa?"

Reina menggeleng pelan, manik matanya berbinar tulus menatap pria di hadapannya. "Untuk apa aku membaca kebohongan dari masa lalu, kalau masa depan yang kutahu ada di sini, berdiri di hadapanku?"

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Reina, jujur dan tanpa keraguan.

Jino tertegun. Untuk kesekian kalinya, gadis desa di hadapannya berhasil memukul telak pertahanan rasionalitasnya. Tanpa membuang waktu lagi, Jino menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman penuh gairah, kerinduan, dan rasa cinta yang teramat dalam—sebuah jawaban mutlak bahwa tidak ada lagi ruang bagi masa lalu di dalam hidup mereka berdua.

Dan di dalam pelukan sang Tuan Muda yang kini telah sepenuhnya bertekuk lutut, Reina menyadari bahwa kisah cinta mereka bukanlah lagi sekadar plot novel fiktif, melainkan kenyataan terindah yang tidak ingin ia akhiri selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!