Indonesia
NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Serangan

Festival akademi yang tadinya penuh dengan tawa, musik, lampion yang melayang, dan aroma sate ayam yang dibumbui seperti sate naga, dalam satu detik berubah menjadi mimpi buruk yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Ledakan pertama terdengar dari arah gerbang utama akademi, dari arah dinding akademi yang menghadap ke kota. Bukan ledakan kembang api festival yang berwarna-warni, tapi ledakan yang dalam, berat, dan menghancurkan.

BOOM! Suara yang menggetarkan seluruh tanah akademi, membuat lampion-lampion yang melayang jatuh, membuat kaca-kaca jendela perpustakaan bergetar.

Dinding akademi setinggi 10 meter yang terbuat dari batu putih yang diperkuat sihir, dinding yang sudah berdiri selama 200 tahun tanpa pernah runtuh, runtuh dengan suara gemuruh yang mengerikan. Batu-batu besar berjatuhan, debu tebal mengepul ke langit malam festival, menutupi cahaya bulan.

Monster memasuki kota, memasuki akademi, melalui lubang besar di dinding itu. Bukan Goblin Level 3 atau Goblin Warrior Level 5 seperti di dungeon latihan. Monster-monster yang jauh lebih besar, lebih gelap, dengan mata merah yang sama seperti mata monster bermahkota tiga tanduk di Hutan Elaria, tapi lebih liar, lebih buas.

Para siswa yang tadinya bersenang-senang dengan makanan dan permainan, kini berteriak, menjerit, berlarian ke segala arah, mencari perlindungan. Beberapa terjatuh, beberapa terinjak, beberapa menangis memanggil guru.

Guru-guru akademi yang tadinya mengawasi festival dengan santai, kini berlari dengan pedang dan tongkat sihir, berusaha melindungi siswa-siswa, membuat barikade mana, berteriak "Lindungi siswa tahun pertama! Bawa mereka ke aula utama!"

Kekacauan total. Asap, debu, jeritan, dan auman monster bercampur menjadi satu, menenggelamkan musik festival yang masih terdengar samar-samar dari panggung yang sudah ditinggalkan.

Yamada berdiri di tengah kekacauan itu, di belakang gedung perpustakaan, di bangku kayu tua tempat dia dan Aria duduk beberapa menit lalu dengan teh hangat. Teh mereka tumpah ke tanah karena guncangan ledakan. Bangku kayu itu bergetar.

Dia tidak lari seperti siswa lain. Bukan karena dia berani, tapi karena kakinya membeku sesaat, karena kepalanya yang malas dipaksa memproses situasi yang jauh di luar perkiraan.

Sistem muncul di depan wajahnya, bukan dengan warna biru tenang atau keemasan meriah, tapi dengan warna merah darah yang berkedip-kedip cepat, dengan suara alarm yang melengking, alarm yang sama seperti saat perempuan rambut putih muncul di jendela kamarnya.

[Emergency Quest Triggered.]

[Priority: MAXIMUM.]

[Objective: Protect Aria Luvellia at all costs. Do not let her be touched by monsters. Do not let her be taken.]

[Failure: Catastrophic. World line will deviate.]

Yamada membeku, menatap tulisan itu, dengan mata melebar.

"Kenapa Aria? Kenapa harus Aria? Kenapa bukan Elena? Kenapa bukan semua siswa? Kenapa sistem tiba-tiba peduli pada satu orang?" Tanyanya keras, dengan suara yang hampir berteriak di tengah kekacauan, karena sistem tidak pernah memberikan quest dengan prioritas maksimum sebelumnya.

[Target Aria Luvellia possesses critical significance to main quest, to memory recovery, and to true identity of host.]

"Significance? Significance apa? Jelaskan! Jangan pakai kata significance doang!"

Tidak ada jawaban. Sistem hanya berkedip merah, dengan tulisan Protect Aria yang semakin besar, semakin mendesak.

Monster besar muncul dari balik debu dinding yang runtuh, melompat ke dalam lapangan utama festival. Monster yang jauh lebih besar dari Direwolf, dengan tinggi sekitar 4 meter, dengan tubuh seperti kera raksasa yang ditutupi bulu hitam tebal, dengan tangan yang panjangnya dua meter dan cakar yang panjangnya 30 sentimeter, dengan wajah yang mirip serigala tapi dengan tanduk kecil di dahinya.

[Monster identified: Berserk Ape - Corrupted Variant]

[Level: 27]

[Threat: Extremely High for current host level.]

Yamada hanya level 1. Baru naik dari Level 1 ke Level 1 dengan proficiency skill, belum pernah naik level sungguhan. Mana 0 di atas kertas, Level 1 di status.

Monster Level 27 vs Level 1. Perbedaan 26 level. Perbedaan yang dalam logika akademi berarti kematian pasti.

Aria berdiri di belakang Yamada, di belakang bangku kayu tua itu, dengan gaun biru mudanya yang kini sedikit kotor karena debu, dengan tangan yang memegang tongkat sihir kecil yang dia bawa untuk pertunjukan festival, bukan tongkat tempur. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat pucat, tapi tidak panik, matanya ungu menatap monster besar itu.

"Yamada." Panggilnya, dengan suara yang pelan tapi jelas di tengah jeritan.

"Pergi. Lari ke aula utama. Guru-guru ada di sana. Aku akan menahannya sebentar." Kata Yamada, tanpa menoleh, matanya menatap monster kera raksasa yang sedang mengaum dan menghancurkan stan makanan.

"Aku bisa membantu. Aku punya sihir es, aku bisa—" Aria mencoba maju, mengangkat tongkat sihirnya, cahaya biru keperakan mulai berkumpul di ujungnya.

"Pergi! Ini bukan Goblin Level 3! Ini Level 27! Sihirmu tidak akan cukup! Pergi!" Yamada berteriak, dengan suara yang lebih keras dari biasanya, suara yang membuat Aria terkejut, karena Yamada tidak pernah berteriak padanya sebelumnya.

Monster itu menyerang, melihat dua anak kecil yang berdiri diam di belakang perpustakaan, menganggap mereka mangsa yang mudah. Dia melompat dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk tubuh sebesar itu, dengan cakar besar yang terangkat, siap untuk mencabik.

Yamada menghindar, mendorong Aria ke samping, berguling di tanah yang berdebu. Cakar monster itu menghantam bangku kayu tua tempat mereka duduk tadi, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil dalam satu pukulan.

Tanah hancur, retak, dengan bekas cakaran sedalam 20 sentimeter.

Yamada mengambil pedang, bukan pedang baja sungguhan, tapi pedang kayu latihan yang tergeletak di dekat gudang peralatan festival, pedang kayu yang biasa dipakai untuk pertunjukan. Pedang kayu yang ringan dan rapuh.

Namun kali ini, Yamada tahu, dia tidak bisa menang hanya dengan kecerdasan, hanya dengan memperbaiki lingkaran sihir atau menghitung efisiensi mana. Kecerdasan tidak akan menghentikan cakar sebesar itu.

Monster itu terlalu cepat. Jauh lebih cepat dari Horned Direwolf Level 12 di Hutan Elaria. Gerakannya hampir tidak terlihat, hanya bayangan hitam yang melintas.

Cakar besar itu mendekat lagi, kali ini mengarah langsung ke wajah Yamada, yang masih memegang pedang kayu dengan posisi bertahan yang berantakan.

Aria yang terdorong ke tanah, melihat itu, berteriak dengan suara yang pecah, suara yang penuh ketakutan yang belum pernah Yamada dengar darinya,

"YAMADA! AWAS!"

Detik itu, saat cakar itu hanya berjarak 10 sentimeter dari wajahnya, saat kematian terasa begitu dekat untuk kedua kalinya dalam hidupnya—

sesuatu meledak dari tubuh Yamada.

Bukan mana biru, bukan api, bukan es.

BOOM! Ledakan cahaya putih keperakan yang sangat terang, yang keluar dari dalam dada Yamada, dari dalam jantungnya, dari tempat di mana bola cahaya biru dari perempuan rambut putih itu pernah dimasukkan lima tahun lalu.

Cahaya itu mendorong monster Level 27 itu terpental mundur 5 meter, dengan suara lengkingan kesakitan, bulu hitamnya terbakar sedikit.

Yamada berdiri di tengah cahaya putih itu, dengan pedang kayu di tangan, dengan mata yang kini terbuka lebar, tapi bukan mata mengantuk yang malas. Matanya bersinar pelan dengan cahaya biru keperakan, dengan simbol-simbol lingkaran sihir yang berputar di dalam pupilnya.

[Emergency ability unlocked due to extreme threat to critical target.]

[Unique Trait Evolution: Lazy Genius -> Absolute Calculation]

[Skill: Absolute Calculation - Activated.]

[Effect: For 10 seconds, host can see 0.5 seconds into the future, calculate all possible trajectories of all objects within 20 meters, and find the most efficient path to victory with minimal energy. Cost: Massive mana and soul synchronization.]

[Duration: 10 seconds.]

Yamada menatap monster kera raksasa yang kini bangkit lagi, mengaum marah, dengan mata yang baru. Dunia di matanya berubah. Tidak lagi dunia yang bergerak cepat dan kacau, tapi dunia yang penuh dengan garis-garis, garis-garis biru yang menunjukkan kemungkinan gerakan monster, garis-garis merah yang menunjukkan titik lemah, garis-garis hijau yang menunjukkan jalur menghindar yang paling efisien.

Semua gerakan monster, yang tadinya terlalu cepat untuk diikuti, kini terlihat jelas, terlihat lambat, terlihat seperti sedang berjalan di dalam air.

Sepuluh detik. Hanya sepuluh detik. Tapi bagi otak Lazy Genius yang berevolusi, sepuluh detik adalah waktu yang sangat lama.

Cukup. Cukup untuk melakukan semuanya dengan efisien.

Satu langkah ke kiri, menghindari cakar yang akan datang 0.3 detik kemudian.

Serangan balik, bukan dengan kekuatan, tapi dengan mencongkel lutut monster yang merupakan titik lemah dengan ujung pedang kayu.

Putaran, menggunakan momentum monster yang jatuh untuk naik ke punggungnya.

Tebasan terakhir, bukan ke leher yang tebal, tapi ke belakang kepala, ke titik di mana saraf pusat monster berada, titik yang hanya bisa dilihat oleh Absolute Calculation.

DUAK! Suara pedang kayu yang menghantam tulang keras, tapi dengan presisi yang sempurna, dengan sudut 37 derajat yang dihitung oleh otak.

Monster kera Level 27 itu jatuh, dengan mata yang memutih, dengan tubuh besar yang bergetar sekali, lalu diam, tidak bergerak lagi.

[Enemy defeated: Berserk Ape (Corrupted) - Level 27 - Defeated by host Level 1 with Absolute Calculation.]

[Level Up! Level 1 -> Level 8. Seven levels at once due to level difference bonus.]

[HP: 100/100 -> 180/100 (Temporarily overhealed due to level up)]

[MP: 82 -> 210]

[Soul Synchronization: 64% -> 61% - Decreased due to forced evolution.]

Yamada terengah-engah, cahaya biru di matanya padam, simbol-simbol di pupilnya menghilang. Pedang kayu di tangannya patah menjadi dua karena tidak tahan dengan tekanan. Lututnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena efek samping dari Absolute Calculation yang menguras seluruh energi jiwanya dalam 10 detik.

Aria berlari menghampirinya, dengan gaun biru mudanya yang robek di pinggir, dengan tongkat sihir yang sudah terjatuh, dengan mata ungu yang berkaca-kaca, bukan karena takut pada monster, tapi karena takut pada Yamada yang hampir mati.

"Kau terluka? Kau berdarah? Mana yang sakit?" Tanyanya panik, memeriksa wajah Yamada, tangan Yamada, dada Yamada.

Yamada menggeleng pelan, dengan napas yang masih terengah, keringat membasahi dahinya.

Namun tubuhnya yang baru saja naik 7 level sekaligus, yang baru saja menggunakan kemampuan darurat yang bahkan sistem tidak tahu ada, mulai kehilangan keseimbangan, karena beban pada jiwa terlalu besar.

Kakinya lemas, matanya berkunang-kunang.

Aria dengan cepat menangkapnya, memeluk tubuh Yamada yang hampir jatuh, menahan tubuhnya yang lebih berat darinya dengan sekuat tenaga, agar tidak jatuh ke tanah yang berdebu dan penuh serpihan bangku.

"Yamada! Yamada, bertahan! Guru medis akan datang!" Serunya, dengan suara yang bergetar.

Yamada membuka mata dengan susah payah, menatap wajah Aria yang berada sangat dekat, hanya berjarak 10 sentimeter, wajah yang pucat karena khawatir, dengan mata ungu yang berkaca-kaca, dengan rambut biru keperakan yang berantakan karena debu.

Dia tersenyum lemah, senyum lelah, senyum malas yang khas, tapi dengan sedikit kelegaan.

"Sepertinya..." Bisiknya, dengan suara yang hampir tidak terdengar di tengah jeritan dan auman monster lain yang masih bertarung di lapangan utama. "...aku benar-benar merepotkanmu. Lagi. Janji tidak akan menghilang, tapi malah hampir hilang duluan."

Aria yang mendengar itu, yang melihat senyum lemah itu, yang merasakan tubuh Yamada yang gemetar di pelukannya, memeluknya lebih erat, dengan air mata yang akhirnya mengalir di pipinya yang dingin.

"Dasar bodoh. Pemalas bodoh. Jangan bicara. Jangan tidur. Tetap di sini." Bisiknya, dengan suara yang bergetar, memeluk kepala Yamada ke dadanya, seperti ingin melindunginya dari semua monster di dunia.

Dan di atas mereka, lampion-lampion festival yang masih tersisa, yang belum jatuh, masih melayang pelan di langit malam yang penuh asap dan debu, dengan cahaya yang redup, menyaksikan dua anak 15 tahun yang berpelukan di tengah reruntuhan bangku kayu tua di belakang gedung perpustakaan, di tengah festival yang berubah menjadi mimpi buruk.

[Soul Resonance with Aria: 41% -> 55% - Critical increase due to life-saving event.]

[Hidden Quest Progress: Protect Aria - Complete.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!