Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Di minimarket ini memang sedang ada promo undian besar-besaran dari sebuah merek teh kemasan botol terkenal.

"Mbak Risa, promo teh botol manis yang berhadiah kejutan di balik tutupnya itu masih ada kan stoknya?" tanya Akbar santai.

"Masih banyak Bar, hadiah utamanya padahal motor matic terbaru lho," jawab Risa dari meja kasirnya.

"Tapi ya namanya juga undian untung-untungan, dari bulan lalu banyak yang beli borongan paling cuma dapat tulisan coba lagi."

"Bos Dion anak kades itu saja tadi sore habis borong dua dus tapi tidak ada satu pun yang menang hadiah lumayan."

Akbar langsung tersenyum miring mendengar cerita jujur dari Risa.

"Dion memang manusia berhati busuk paling sial kalau soal beginian," batin Akbar mengejek musuhnya itu.

Akbar lalu berdiri tegak tepat di depan kulkas yang berisi penuh puluhan botol teh promo tersebut.

[Misi Utama: Beli satu tiket undian minuman berhadiah!]

"Sistem, aktifkan kekuatan Mata Hoki Level 1 sekarang juga," perintah Akbar tegas di dalam hatinya.

[Mata Hoki Level 1 berhasil diaktifkan. Sisa durasi batas pemakaian hari ini: 4 menit 59 detik.]

Tiba-tiba pandangan kedua mata Akbar berubah drastis bagaikan memakai kacamata khusus.

Dia merasa ada aliran energi ajaib yang hangat mengalir membasahi kedua bola matanya.

Dunia di depannya mendadak berubah warna menjadi sedikit lebih gelap dengan nuansa abu-abu.

Namun, di antara puluhan botol teh biasa di dalam kulkas itu, ada beberapa botol yang anehnya memancarkan cahaya.

Ada sekitar lima botol di rak tengah yang memancarkan pendar cahaya putih redup.

"Cahaya putih redup ini sepertinya menandakan hadiah hiburan bernominal kecil seperti payung atau pulsa," analisis Akbar cepat.

Mata Akbar terus menyapu liar seluruh barisan botol itu dari rak paling atas sampai ke rak paling bawah.

Hingga akhirnya matanya langsung tertuju pada satu botol yang berada di posisi paling belakang tersembunyi di rak bawah.

Botol tersembunyi itu memancarkan aura cahaya kuning keemasan yang sangat terang benderang hingga menyilaukan mata.

"Nah, itu dia yang kucari," ucap Akbar sambil tersenyum lebar menahan tawa.

"Auranya berwarna emas terang menyilaukan, ini sudah pasti jaminan hadiah utamanya."

Akbar lekas membuka pintu kulkas, menyingkirkan beberapa botol penghalang di depannya, dan mengambil botol bercahaya emas itu.

Begitu botol dingin itu berpindah ke tangannya, Akbar segera mematikan Mata Hoki miliknya untuk menghemat sisa durasi.

[Mata Hoki Level 1 dinonaktifkan sementara. Sisa durasi batas pemakaian hari ini: 4 menit 10 detik.]

Pandangan mata Akbar seketika kembali normal seperti sedia kala melihat warna-warni lampu minimarket.

Dia berjalan santai menuju meja kasir dan meletakkan sebotol teh keberuntungan itu di atas meja.

"Tumben jajan beginian, cuma beli ini saja Bar?" tanya Risa sambil mengambil botol teh tersebut untuk di-scan.

"Iya Mbak Risa, aku lagi lumayan haus dan siapa tahu malam ini nasibku lagi beruntung," jawab Akbar santai.

Tit!

Suara laser mesin barcode berbunyi mendata harga minuman manis itu ke dalam sistem komputer.

"Totalnya murah kok, jadi cuma enam ribu lima ratus rupiah saja Bar," kata Risa.

Akbar merogoh sakunya lagi lalu mengambil uang dari dompetnya dan meletakkan selembar uang seratus ribuan bergambar Soekarno-Hatta yang masih licin.

Mata Risa langsung membulat kaget melihat uang pecahan besar itu keluar dari saku Akbar.

Selama ini Akbar selalu membayar belanjaan murahnya pakai tumpukan uang koin recehan atau uang dua ribuan yang lecek.

"Tumben banget kamu bawa uang pecahan besar begini Bar, dapat dari mana?" Risa tidak bisa menyembunyikan rasa herannya.

"Alhamdulillah baru dapat rezeki nomplok Mbak dari bos kerjaku di pasar," Akbar beralasan dengan wajah kelewat polos.

Risa hanya mengangguk pelan menanggapi hal itu meskipun sebenarnya otaknya masih sedikit kebingungan.

Dia menerima uang seratus ribu itu dan mulai menghitung kembaliannya di laci mesin kasir.

"Ini uang kembaliannya ya Bar, sembilan puluh tiga ribu lima ratus rupiah," ucap Risa sambil menyerahkan uang beserta struk belanjanya.

Akbar menerima uang kembalian itu dan langsung memutar tutup botol tehnya di depan wajah Risa.

Krek!

Segel tutup botol plastik itu terbuka dengan mudah di tangan Akbar.

Akbar langsung membalik bagian dalam tutup botol itu dan mulai membaca tulisan rahasia di sana.

Tiga pemuda geng Dion yang sedari tadi mengintip dari luar pintu kaca ikut menajamkan mata mereka melihat adegan itu.

Mereka sangat penasaran kesialan macam apa lagi yang didapatkan si anak kutukan pembawa sial itu.

"Bagaimana hasilnya Bar? Dapat tulisan coba lagi atau dapat hadiah pulsa?" tanya Risa penasaran sambil memajukan wajahnya.

Akbar hanya tersenyum lebar penuh misteri dan menyodorkan tutup botol itu tepat ke depan wajah Risa.

Risa menyipitkan matanya berusaha keras membaca tulisan kecil berwarna hitam yang tercetak di balik tutup botol tersebut.

Detik berikutnya, Risa langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya saking terkejutnya.

"Ya ampun Gusti! Ini... ini hadiah utamanya!" jerit Risa histeris memecah keheningan malam minimarket.

"Kamu menang motor matic Honda Scoopy keluaran terbaru Bar, ya ampun!"

Suara jeritan Risa yang melengking itu terdengar sangat jelas sampai tembus ke luar pintu kaca.

Tono, Riki, dan Yanto yang sedang asyik mengintip dari luar seketika melongo tidak percaya mendengar kabar itu.

"Mustahil, tidak mungkin!" teriak Tono kencang sambil menerobos masuk kasar ke dalam minimarket.

"Bagaimana bisa si pembawa sial miskin ini menang hadiah utama yang dari tadi diincar Bos Dion?"

"Coba kulihat tutup botolnya sini, pasti dia curang bawa tutup botol palsu dari luar!" sahut Yanto ikut masuk mendekati meja kasir.

Risa langsung menepis kasar tangan kotor Yanto yang berniat merampas tutup botol dari tangan Akbar.

"Mulutmu itu sembarangan Yanto, Akbar beli langsung di sini resmi di depan mataku sendiri," bela Risa dengan nada marah.

"Lagian segel plastiknya tadi masih utuh belum terbuka, apanya yang curang coba!"

Akbar perlahan menatap wajah ketiga preman kampung bodoh itu dengan tatapan mengejek.

"Kenapa kalian panik begitu? Kalian kaget melihat orang yang kalian sebut pembawa sial ini memenangkan hadiah utama?" tanya Akbar pelan namun menusuk.

Tono menggemeretakkan giginya menahan rasa kesal dan iri hati yang memuncak sampai ke ubun-ubun.

Dion sudah menghabiskan uang jutaan rupiah untuk membeli berdus-dus teh promo ini tapi hasilnya zonk total.

Sedangkan si Akbar yang kotor dan miskin ini hanya membeli satu botol eceran dan langsung meraup hadiah utama dengan mudah.

Ini benar-benar pukulan telak yang menghancurkan sisa harga diri geng kampung mereka.

"Ini cuma kebetulan saja sialan! Besok kau pasti sial lagi ditabrak truk di perempatan jalan!" umpat Riki dengan wajah memerah menahan malu.

"Terserah kalian para pecundang mau bilang apa, aku sama sekali tidak peduli," balas Akbar acuh tak acuh sambil mengambil botol minumannya.

Akbar lalu memutar tubuhnya menoleh pada Risa dengan tatapan mata yang kembali melembut.

"Mbak Risa, bagaimana ya proses cara menukarkan hadiah motor ini?" tanya Akbar sopan.

"Oh iya gampang Bar, kamu tinggal telepon nomor call center agen yang ada di bawah tulisan hadiah ini," Risa menunjuk dengan antusias.

"Nanti pihak perusahaan teh itu yang akan datang ke minimarket ini buat acara penyerahan hadiah resminya lusa depan."

"Oke siap, tolong Mbak Risa bantu urus ya sekalian besok, hadiah motor barunya nanti kita pakai jalan-jalan berdua," canda Akbar santai.

Wajah Risa mendadak memerah bersemu tomat mendengar candaan berani yang keluar dari mulut Akbar.

Selama bertahun-tahun ini Akbar dikenal sebagai sosok yang sangat pendiam dan suram, tidak pernah sekalipun dia berani bercanda luwes seperti ini.

"Kamu ini bisa saja merayunya Bar, ya sudah besok pagi jam delapan kamu ke sini lagi ya bawa fotokopi KTP kamu."

"Siap laksanakan Mbak Risa, kalau begitu aku pamit pulang dulu mau mandi, badanku sudah lengket bau lumpur semua."

Akbar membalikkan badannya dan berjalan keluar dari minimarket dengan langkah tegap dada membusung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!