Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Mimpi Buruk
Bukannya menjawab pertanyaan Ruby, Maura malah menghentikan senamnya, lalu meminta Ruby untuk mendekat.
"Kak ada apa?" tanya Ruby penasaran melihat raut wajah Maura terlihat sangat tertekan.
Maura melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang lain selain dirinya dengan Ruby. " Sebenarnya belakangan ini, aku sering mimpi buruk!" ujarnya dengan gelisah.
Ruby menggenggam tangan Maura dan berkata. "Kak! Kalau nggak sanggup cerita jangan dipaksain. Nanti baby di dalam perut Jadi rewel!"
Maura menatap Ruby, dia sudah berusaha untuk tidak menceritakan mimpinya pada orang lain. Tapi dia tidak sanggup, mimpi itu seolah-olah datang untuk memperingatinya dan keluarganya.
"Dek, aku mimpi kita semua dikejar puluhan mayat hidup. Kita semua berlari tanpa arah, karena aku sedang hamil, aku hanya bisa berlari dengan pelan."
Deg
Ruby terdiam kaku, Ini benar-benar mimpi buruk. Apalagi mimpi itu hampir datang setiap malam, dan Maura memendamnya sendiri.
"Mayat hidup itu berhasil menangkapku, mereka mencabik-cabik perut dan mengeluarkan bayiku!" lanjut Maura dengan suara gemetar.
Rasa sakit itu sangat nyata, dia melihat bayinya dimakan oleh mayat hidup. Dia mati bersama dengan bayinya.
"Kak, jangan dilanjut lagi!" pinta Ruby. Dia takut Maura jadi kepikiran dan membuatnya kontraksi.
Bagaimana mungkin dia tidak kepikiran, sudah seminggu lebih mimpi itu terus datang, sehingga dia meminta kepada suami dan mertuanya untuk refreshing di perkebunan.
Ya. Rumput hijau yang luas itu adalah sebuah perkebunan. Lahan luas itu milik mertuanya, tapi yang dipasangkan tembok tinggi hanya dibagian rumah yang mereka tinggali sekarang.
"Aku mengidam ingin ke perkebunan itu hanya alasan!" ucap Maura. "Karena di dalam mimpiku itu, cuman di perkebunan ini tempat yang aman!"
Ruby menelan ludah, dia sebagai pendengar sudah dibuat merinding, apalagi Maura yang didatangi dalam mimpinya.
Melihat Maura yang terus bercerita, Ruby akhirnya bertanya lagi. "kak! Apa mayat hidup itu hanya mengejar kita?"
Maura menggeleng dengan cepat. "Aku lihat mayat hidup itu mengejar siapa saja yang dia lihat.!"
"Jadi bagaimana cara Kak Maura tahu hanya di perkebunan ini yang aman?" tanya Ruby yang merasa mimpi Maura benar-benar sangat aneh.
"Di hembusan terakhir, saat aku sudah memejamkan mata. Perkebunan langsung melintas dipenglihatanku!" ujar Maura dengan yakin.
Dia tidak mungkin salah lihat, di dalam mimpinya, perkebunan berubah jadi tempat perlindungan orang-orang yang berhasil selamat dari mayat hidup tersebut.
Perkebunan yang awalnya sepi, berubah jadi perkampungan kecil. Hanya gambaran itulah yang terlihat dalam mimpinya.
"Jadi Kak, tujuanmu datang ke sini untuk mengungsi lebih awal? Bukankah ini terlalu berisiko? Kakak sedang hamil, Rumah Sakit sangat jauh, butuh dua jam perjalanan!"ucap Ruby.
Maura terdiam, dia menunduk sambil mengusap perutnya. "Entah lah. Aku hanya mengikuti kata hatiku untuk segera pergi ke perkebunan.!" ucap Maura.
Ruby terdiam, kadang sebuah firasat juga tidak bisa diabaikan begitu saja. "Kak! Dalam mimpimu, apa kamu melihat bayimu?"
"Ya. Bayiku dipaksa keluar dari perut, mereka menangis, entah dia takut atau sedang meminta tolong!"
"Kak! di mimpimu ada dua bayi?" tanya Ruby mendengar kata 'mereka'
Maura tersentak, dia menatap Ruby dengan terkejut. Ya, di dalam mimpinya, dia melihat dua bayi yang keluar dari perutnya.
Ruby menenangkan Maura sambil memberinya segelas air. Sebenarnya dia masih ingin bertanya lebih lanjut, tapi dia urungkan, karena kondisi Maura yang makin tertekan.
...----------------...
Di malam hari setelah makan malam, mereka semua berkumpul di ruang tengah. Ruby akhirnya bisa melihat Kakak dan Ayah pemilik tubuh.
"Bagaimana? Apa semua sudah selesai?" tanya sang Ibu.
"Belum! Masih ada beberapa lagi!" balas Ayah Ruby yang bernama Edward Sterling.
Edward sudah berumur 50 tahun, tapi tubuhnya masih terlihat sangat sehat dan bugar. Bagaimana tidak, dulunya dia seorang tentara dengan jebatan tinggi.
Tapi setelah anak sulungnya masuk Militer, dia akhirnya pensiun dan menikmati masa tuanya dengan sang istri.
"Ayah pasang apa?" Tanya Ruby dengan ragu.
"Sayang kamu lupa? Kamu sendiri yang minta pasang CCTV di sepanjang jalan perkebunan sampai ke jalan utama!" sahut sang Ayah.
Ruby tertegun, dia tidak mendapatkan ingatan tentang itu. "Oh, gara-gara terbentur, otakku jadi eror!" kilahnya berusaha tetap tenang.
"Nak! Besok kita ke rumah sakit ya!" ajak Ayah Edward dengan khawatir Melihat Ruby yang sudah mulai lupa ingatan.
"Nggak usah! Aku cuman lupa.!" kata Ruby dengan yakin.
"Nak, kamu yakin? Coba kasi tau Ayah, kok tiba-tiba minta dipasangin CCTV?" tanya Ayah Edward untuk mengetes, apakah anaknya baik-baik saja!
Ruby terdiam sejenak, dia tidak bisa berkilah lagi. Jika jawabannya salah, terpaksa dia harus setuju untuk dibawa ke Rumah Sakit.
"Bukannya cuman memperkuat keamanan?" sahut Ruby.
Ayah dan yang lainnya tersenyum lega, karena jawaban itu sama persis dengan apa yang Ruby katakan beberapa hari yang lalu.
"Syukurlah! Ternyata kamu nggak benar-benar lupa ingatan!" kata Ayah Edward sambil mengusap kepala Ruby dengan lembut.
Ruby terdiam, perasaan yang begitu asing. Ternyata begini rasanya disayang dan dikhawatirkan oleh seorang Ayah.
"Ibu mau ngomong sesuatu!" ucap Ibu Ruby yang bernama Seraphina.
"Ibu ada apa?" tanya Leo dengan mode serius melihat raut wajah Ibunya yang tak biasa.
"Sayang ada apa?" tanya Edward yang sangat peka. Pasti telah terjadi sesuatu yang sangat serius.
Nyonya Sera terlihat ragu untuk berbicara, tapi dia sudah tidak bisa menahannya lagi. "Selama beberapa hari ini, Ibu sering mimpi buruk. Makanan dan air tiba-tiba sangat langkah sampai jadi rebutan. Ibu mati karena kelaparan!"
Hening! Semua terdiam dengan perasaan campur aduk. Sedangkan Ruby dan Maura saling tatap dengan mata terbelalak.
"Sayang! Itu cuman bunga tidur!" Tuan Edwar menenangkan istrinya.
"Tapi mimpinya datang setiap hari.!" keluh Nyonya Sera dengan memelas. "Apa itu artinya umurku nggak...!" dia tidak menyelesaikan ucapannya.
Tuan Edwar langsung memeluk sang Istri, dan memintanya untuk tidak berpikir negatif. Tapi dalam hati, dia sangat ketakutan.
Ruby dan Maura langsung berpikir sama, jika Kedua mimpi tersebut saling berkaitan. Tapi mereka tidak berani untuk berbicara.
"Kak Leo! Kamu juga mimpi buruk?" tanya Ruby yang melihat gelagat Leo yang aneh.
Leo terkejut mendengar pertanyaan Ruby. Sebenarnya dia tidak ingin menceritakannya, tapi Karena Ruby sudah bertanya dia akhirnya jujur.
"Ya. Aku juga akhir-akhir ini mimpi buruk! Aku mati karena kedinginan!"
Ruby sangat gelisah, mimpi mereka semua tentang kematian. Apa jangan-jangan pemilik tubuh juga mimpi buruk? Karena tidak mungkin dia tiba-tiba meminta kemanan di area perkebunan diperketat.
Tuan Edwar menatap mereka satu persatu dengan pandangan takut, dan gelisah. Karena dia sebenarnya juga mimpi buruk.
Diantara mereka semua, mimpinya lah yang paling buruk. Karena dia menyaksikan semua anggota keluarganya mati satu persatu.
Mulai dari Ruby yang berubah jadi mayat hidup, Maura yang dicabik-cabik sampai bayinya keluar, Leo mati kedinginan, dan sang istri mati karena kelaparan.
Sedangkan dirinya sudah sangat putus asa karena ditinggalkan oleh keluarga nya satu persatu. Dan dia mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas, yaitu melompat dari gedung lantai 50.
"Ayah bagaimana denganmu?"
.
.
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka