Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Tap tap tap.

Langkah kaki Akbar terdengar mantap menyusuri pinggiran jalan aspal yang basah.

Hujan sudah mulai reda menyisakan gerimis kecil dan hawa dingin yang menusuk.

Tapi Akbar sama sekali tidak menggigil kedinginan seperti biasanya.

Badannya terasa sangat hangat dan tenaganya seakan tidak ada habisnya.

"Fisikku benar-benar berubah drastis malam ini," ucap Akbar pelan sambil menatap telapak tangannya sendiri.

"Dulu jalan menanjak dari pinggir sungai ke jalan raya saja nafasku sudah ngos-ngosan seperti kakek-kakek."

"Sekarang aku bahkan merasa bisa berlari maraton sepuluh kilometer tanpa henti sedikit pun."

Ting!

Layar biru holografik kembali muncul tepat di depan wajahnya yang sedang berjalan.

[Peningkatan atribut fisik lima puluh persen adalah batas maksimal yang aman untuk tubuh manusia biasa saat ini.]

[Jika melebihi batas itu tanpa masa adaptasi, pembuluh darah Tuan bisa meledak hancur karena kelebihan tekanan tenaga.]

"Oh, begitu rupanya aturannya," gumam Akbar sambil mengangguk paham.

"Sistem, sebenarnya Mata Hoki Level 1 yang kudapat dari hadiah pemula tadi fungsinya untuk apa?"

[Mata Hoki Level 1 memungkinkan Tuan untuk melihat wujud aura keberuntungan pada benda mati di sekitar Tuan.]

[Aura tersebut akan memancarkan cahaya keemasan, semakin terang auranya maka semakin besar nilai keberuntungan di dalamnya.]

[Durasi maksimal penggunaan Mata Hoki Level 1 saat ini adalah lima menit per hari.]

"Lima menit per hari?" Akbar mengelus dagunya sambil terus melangkah santai menyusuri jalan.

"Terdengar sangat sebentar, tapi kalau dipakai di saat yang tepat ini adalah kekuatan yang sangat mengerikan."

Akbar tersenyum tipis membayangkan apa saja yang bisa dia capai dengan mata ajaib itu.

Dia bisa membeli lotre berhadiah besar, memilih barang antik asli, atau menebak undian dengan akurasi seratus persen.

"Dion, kau pasti tidak sabar melihatku kembali hidup-hidup ke kampung ini kan," batin Akbar sambil menyeringai dingin.

Akbar melangkah masuk ke halaman minimarket Indomaret.

Minimarket ini adalah satu-satunya toko modern yang ada di dekat gapura pintu masuk kampungnya.

Biasanya teras tempat ini selalu menjadi markas nongkrong anak-anak muda kampung yang tidak punya kerjaan jelas.

Benar saja, di bangku teras minimarket itu ada tiga orang pemuda yang sedang asyik duduk merokok dan minum kopi.

Mereka adalah komplotannya Dion, tapi sosok Dion sendiri justru tidak terlihat batang hidungnya di sana.

Mungkin anak kepala desa itu sudah pulang duluan karena kedinginan atau sedang merayakan pesta kematian Akbar.

Tiga pemuda pengangguran itu adalah Tono, Riki, dan Yanto.

Mereka bertiga serempak langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki Akbar mendekat ke arah mereka.

Mata mereka bertiga seketika melotot lebar seakan bola matanya mau melompat keluar dari kelopaknya.

"Setan!" teriak Tono panik sambil melompat mundur dari kursi plastiknya.

Kopi panas di tangan Tono tumpah berantakan membasahi celana jeansnya sendiri.

Riki dan Yanto juga langsung mundur ketakutan hingga menabrak tempat sampah aluminium di belakang mereka.

Prang!

Tempat sampah itu jatuh terguling membentur lantai dan membuat suara berisik.

"Woi, kalian kenapa berisik banget sih di depan situ?" tegur kasir perempuan dari dalam minimarket.

Akbar hanya berdiri diam mematung menatap ketiga orang pem-bully itu dengan wajah datar tanpa emosi.

Baju kaos dan celana jeans Akbar memang basah kuyup dan penuh noda lumpur hitam dari pinggir sungai.

Ditambah lagi wajahnya yang sedikit pucat karena dingin, wajar saja kalau mereka bertiga mengira Akbar adalah hantu penasaran.

"Ak... Akbar?" Yanto menunjuk dengan jari telunjuk yang gemetar hebat.

"Bukannya kata Bos Dion kau tadi baru saja mati bunuh diri lompat dari atas jembatan?"

"Kau sudah jadi arwah penasaran ya sekarang minta tumbal?" tambah Riki sambil menelan ludah paksa.

Akbar perlahan menghentikan langkah kakinya tepat dua jengkal di depan mereka bertiga.

"Aku masih hidup," jawab Akbar dengan nada suara yang sangat dingin dan menusuk.

"Dan tolong sampaikan pesanku ini pada bos kesayangan kalian si Dion itu."

"Lain kali kalau mau memastikan aku mati, suruh dia mengecek mayatku sampai ke dasar sungai sana."

Tiga preman kampung itu terdiam kaku seperti patung mendengar ucapan berani dari Akbar.

Ada sesuatu yang terasa sangat aneh dan berbeda dari aura diri Akbar malam ini.

Biasanya Akbar akan menunduk ketakutan dan langsung lari terbirit-birit kalau bertemu rombongan mereka.

Tapi malam ini sorot mata Akbar setajam silet dan postur tubuhnya sangat mengintimidasi.

Tanpa mempedulikan wajah bodoh mereka lagi, Akbar melangkah masuk melewati pintu kaca ke dalam minimarket.

Ting tong!

Pintu kaca itu terbuka otomatis menyambut kedatangan Akbar.

Hawa dingin AC langsung menerpa wajah tubuhnya, tapi dia sama sekali tidak peduli dan merasa nyaman.

Kasir yang sedang berjaga malam itu adalah seorang perempuan muda bernama Risa.

Risa adalah salah satu dari sedikit orang di kampung yang tidak pernah ikut-ikutan membuli Akbar selama ini.

"Eh, Akbar?" Risa menatap kaget dari balik layar monitor komputer meja kasir.

"Ya ampun, kamu habis dari mana hujan-hujanan malam begini sampai kotor penuh lumpur begitu?"

"Habis terpeleset jatuh di pinggir sungai tadi, Mbak," jawab Akbar berbohong halus sambil tersenyum tipis.

"Astaga, kamu ini hati-hati dong jalannya, sini Mbak ambilkan tisu buat lap mukamu yang kotor itu."

"Tidak usah repot-repot Mbak Risa, aku cuma mau ke mesin ATM sebentar di pojokan sana," tolak Akbar dengan sopan.

Akbar berjalan lurus menuju mesin ATM bank yang terletak di sudut paling ujung minimarket tersebut.

Dia merogoh saku celananya dalam-dalam dan mengeluarkan dompet dan mengambil kartu ATM jadulnya yang warnanya sudah buram terkelupas.

Akbar memasukkan kartu ATM itu dan mengetikkan enam digit PIN dengan gerakan jari yang cepat.

Dia memilih menu informasi saldo di layar utama mesin tersebut.

Tit tit tit!

Mesin langsung memproses permintaannya selama beberapa detik dengan suara khasnya.

Layar mesin ATM itu pun berkedip dan menampilkan nominal total saldo uang yang ada di rekeningnya.

Rp 10.005.500.

Mata Akbar kembali melebar takjub melihat deretan panjang angka nol yang sangat banyak itu.

"Ternyata sistem aneh ini benar-benar tidak berbohong sedikit pun padaku," batin Akbar kegirangan di dalam hati.

"Sisa uang hasil memulungku yang cuma lima ribu perak benar-benar ditambah sepuluh juta secara instan."

Akbar langsung menekan tombol penarikan uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah tanpa ragu.

Zzzrrrtt!

Lima lembar uang pecahan seratus ribuan yang masih kaku keluar dari celah mesin dengan mulus.

Akbar mengambil uang merah itu dan memasukkannya ke dompet dengan hati-hati ke dalam saku celananya yang masih agak basah.

Kini saatnya dia bergerak menyelesaikan misi utama pertama dari sistem.

Akbar berjalan memutar menuju rak lemari pendingin kaca tempat berbagai macam minuman dingin dipajang rapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!