Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.
Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Terakhir
Lembah Sektor Terlarang kini berubah menjadi medan perang yang hampir tidak bisa dikenali. Tanah retak di mana-mana, dinding-dinding batu runtuh, dan asap hitam mengepul memenuhi udara. Cahaya merah dari Karbon-X menyinari seluruh lembah seperti pertanda datangnya kehancuran yang kian dekat.
Di tengah puing-puing kehancuran itu, tiga orang masih berdiri bertahan: Yasing, Maul, dan Rian.
Di hadapan mereka, para Mechabest yang telah terinfeksi Karbon-X berdiri mematung dengan tubuh dipenuhi pendar merah. Neo-Tracker yang tersisa bergerak tanpa kesadaran mereka sendiri, sementara puluhan Drone Seri-N beterbangan di udara, mengunci ketiganya sebagai target utama.
Yasing menatap teman-temannya penuh tekad. "Maul..."
"Hm?" saut Maul singkat.
"Kita harus nyelametin mereka."
Maul mengangguk mantap. "Harus."
Rian memeriksa panel Neo-Tracker miliknya yang sudah rusak parah. "Kalau kalian mau membebaskan mereka, lakukan sekarang. Gua bakal tahan yang lain."
Yasing menoleh cepat. "Rian, elu sendirian!"
"Emang dari awal gua datang ke sini buat apa?" Rian tersenyum tipis seraya mengangkat senjata energinya. "Kalau kalian berdua gagal, tiga kota bisa hancur."
Yasing mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Jangan mati."
"Gua usahain," jawab Rian terkekeh pelan.
"JANGAN CUMA USAHAIN!" tegah Yasing.
"Yaudah, gua janji."
WOOOOOOOOM!
Puluhan Drone Seri-N mendadak meluncur turun dari langit.
"Datang!" teriak Rian yang langsung berlari ke depan memotong jalur musuh. "Yasing! Maul! Sekarang!"
Yasing dan Maul segera melesat menuju para Mechabest. Di belakang mereka, Rian bertarung seorang diri menghadapi seluruh pasukan Neo-Tracker.
BRAT!
Satu serangan energi menghantam tanah. Rian melompat menghindari ledakan. SWOOSH! Ia memutar tubuhnya di udara lalu melemparkan tiga bom elektromagnetik.
BZZZZT! BOOM!
Tiga Neo-Tracker langsung kehilangan kendali dan tumbang ke tanah. "Maaf, bro!" seru Rian sambil kembali berlari.
Namun dari udara, SHIIIIING! Drone Seri-N menembakkan puluhan berkas laser secara beruntun. Rian berguling cepat di tanah saat sinar energi menghancurkan batu di belakangnya hingga berkeping-keping.
"Buset..." Ia menghela napas panjang. "Jumlah kalian kebanyakan!"
Sementara itu, Yasing sudah berhadapan dengan Alifian. Mode Elang yang terinfeksi membuat Alifian dapat melayang tinggi di udara.
"Alifian!" panggil Yasing. Tidak ada jawaban.
Alifian justru menukik tajam ke arahnya. SWOOOOOSH! Yasing melompat ke samping tepat sebelum Alifian menghantam tanah dengan keras. BRRAAAK!
Yasing tidak membuang waktu. Ia segera berlari mendekati Alifian. "Maaf, Lif!" Tangannya merogoh dan meraih chipset Karbon-X di bagian belakang zirah Alifian.
BZZZZZT!
"ARGHH!" Yasing mengerang ketika tubuhnya tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.
Alifian meronta-ronta hebat, tetapi Yasing tetap bertahan dengan genggaman eratnya. "Gua tahu ini sakit..." Yasing menggertakkan gigi menahan perih. "...tapi elu harus balik!"
KRAAAK! Chipset itu mulai terlepas sedikit demi sedikit. "Sedikit lagi!"
Maul datang membackup. "Pegang dia!"
Yasing menahan tubuh Alifian yang terus mengamuk, sementara Maul mencengkeram chipset itu dan menariknya sekuat tenaga.
"SATU!" BZZT!
"DUA!" BZZZZT!
"TIGAAAA!"
CRAAACK!
Chipset Karbon-X akhirnya terlepas sepenuhnya. Alifian langsung kehilangan tenaga dan ambruk ke tanah.
"ALIF!" Yasing dengan sigap menangkap tubuh temannya. "Dia pingsan."
Maul memandangi chipset di tangannya yang masih berdenyut merah. "Satu berhasil."
"Masih banyak," sahut Yasing tegas.
Mereka berdua langsung bergerak cepat. Sahla menyerang tiba-tiba menggunakan Mode Cheetah, namun Maul berhasil menahannya. BRANG! Yasing memanfaatkannya untuk menarik chipset dari zirah Sahla. CRACK! Sahla pun terkulai lemas.
Selanjutnya Kelay menyerang menggunakan manipulasi air. Yasing menghindar gesit, sementara Maul menahan hantaman tersebut.
"Maul!" teriak Yasing memberikan aba-aba.
"Udah!" jawab Maul seraya mencabut chipset Kelay dengan satu tarikan kuat. BZZZT! Kelay jatuh tidak sadarkan diri.
Pasya menyusul, dilanjutkan oleh Teh Caca, lalu Opik... Satu demi satu chipset Karbon-X berhasil dipisahkan dari tubuh mereka. Namun, prosesnya memakan korban energi yang besar; setiap kali chipset dicabut, sengatan aliran listrik Karbon-X merusak dan menyiksa tubuh Yasing maupun Maul.
Di sisi lain lembah, Rian masih bertempur mati-matian. BRANG! Ia menghantam satu Neo-Tracker hingga tersungkur.
"Yang terakhir!" gumamnya. Namun, belasan Drone Seri-N kini mengepungnya rapat-rapat dari segala penjuru. Rian menatap jumlah mereka dan terkekeh pasrah.
"Yah... waktunya pakai cara lama."
Klik.
Rian menekan sebuah tombol di perangkat kecil dalam genggamannya.
BZZZZZZT!
Gelombang Elektromagnetik (EMP) berskala besar menyapu seluruh area lembah. Drone Seri-N kehilangan daya satu per satu dan berjatuhan dari langit. Pasukan Neo-Tracker pun berhenti bergerak seketika.
DUK! DUK! DUK!
Rian berdiri sendirian di tengah puluhan pasukan yang telah tumbang. Ia menghela napas lega. "Kelarin."
Namun, sebuah suara berat yang bergaung dingin terdengar dari balik asap. "Kau terlalu percaya diri."
Rian perlahan menoleh. Di kejauhan, sosok Karbon-X berdiri megah. Tubuh raksasanya memancarkan aura energi hitam-merah yang jauh lebih pekat dan masif daripada sebelumnya.
Yasing dan Maul bergerak mendekat, berdiri di samping Rian. Di belakang mereka, teman-teman Mechabest terbaring aman meski belum sadarkan diri.
Rian kembali mengangkat senjatanya. "Jadi..."
Yasing mengepalkan tinjunya. "...tinggal elu."
Karbon-X mengeluarkan suara mekanis yang menggema tajam di seluruh lembah. "KEHANCURAN... TIDAK DAPAT DIHINDARI."
Maul melangkah maju tanpa rasa takut. "Berisik."
Karbon-X mengangkat salah satu tentakel bajanya. WOOOOOOM! Puluhan tentakel baja melesat menghantam tanah dengan kecepatan tinggi.
"AWAS!" teriak Yasing.
Mereka bertiga berpencar. DUARR! Ledakan menghancurkan tanah tempat mereka berdiri sebelumnya.
Maul memacu kecepatannya. "MODE BANTENG!" Zirahnya bertransformasi seketika. BRUUUUM! Ia menghantam Karbon-X dengan serangan frontal yang sangat kuat.
BRAAAANG! Karbon-X terdorong beberapa meter ke belakang. Namun, tentakelnya bergerak cepat membalas dan melilit tubuh Maul. SWOOSH! Maul terangkat melayang.
"MAUL!" Yasing langsung berganti ke Mode Singa. "AARRRGHHH!"
Ia menerjang maju. SLASH! Cakar energinya memotong tentakel baja itu hingga putus. KRAK! Maul terjatuh ke tanah.
"Thanks," bisik Maul napasnya terengah.
"Belum selesai!" seru Yasing.
Karbon-X membuka puluhan mata sensor di sekujur tubuhnya. BZZZZZZT! Seluruh mata itu menembakkan berkas laser energi secara bersamaan.
Rian berteriak histeris, "YASING! MAUL! TIARAP!"
BOOOOOOOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang lembah, memicu gulungan asap tebal yang membumbung tinggi menutupi pandangan.
"Yasing!" panggil Rian cemas. Tidak ada jawaban. "Maul!" Suasana hening mencekam.
Karbon-X melangkah maju dengan angkuh. Namun dari balik gumpalan asap, sebuah suara terdengar.
"Gua masih hidup!" Yasing keluar dari asap dengan kondisi zirah yang rusak parah. Maul berdiri tegap tepat di belakangnya.
"Masih kuat?" tanya Maul.
Yasing tersenyum tipis. "Kalau belum kuat, pura-pura kuat."
Maul tertawa kecil. "Dasar."
Tanpa membuang waktu, mereka kembali melancarkan kombinasi serangan. Yasing mengaktifkan Mode Serigala untuk bergerak cepat mengalihkan perhatian tentakel Karbon-X, sementara Maul menggunakan Mode Banteng untuk menerjang dari arah berlawanan. Rian terus memberikan tembakan penutup dari jarak jauh.
"SEKARANG!"
DUARR!
Ketiganya menghantam titik lemah Karbon-X secara bersamaan hingga monster raksasa itu terpental. Akan tetapi, Karbon-X justru menyerap sisa-sisa energi chipset yang berserakan di tanah. Tubuhnya membesar dua kali lipat!
WOOOOOOOOOOM! Energi hitam meluap dan menyelimuti lembah.
Rian membelalakkan mata. "Dia menyerap sisa energi dari chipset!"
Karbon-X meraung, "AKU... ADALAH... TEKNOLOGI TERAKHIR!"
Sebuah gelombang energi destruktif berbentuk bola raksasa mulai terkumpul di dadanya. Yasing menatap bola energi itu dengan napas berat. "Maul..."
"Hm?"
"Kayaknya kita bakal kalah."
Maul mematung. Rian pun mengepalkan tangan, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Namun tiba-tiba—BZZZZZZZZZT!
Yasing mendadak terhenti. Mecha Watch di pergelangan tangannya bergetar hebat. "Eh?"
Maul mengalihkan pandangan ke Mecha Watch miliknya yang juga bergetar senada. BZZZZZZZZZT! Layar jam tangan mereka berubah, kilatan warna merah menghilang dan digantikan oleh tulisan sistem berwarna emas. Sebuah suara mekanis baru bergema di telinga mereka:
MECHA DINO ACTIVE.
Yasing dan Maul saling memandang penuh keheranan. "Hah?"
Layar milik Yasing menampilkan siluet raksasa Tyrannosaurus, sedangkan layar Maul menampilkan siluet Triceratops.
"Sejak kapan ada ini?!" pekik Yasing terkejut.
Tiba-tiba, suara Profesor Einsten terdengar melalui saluran komunikasi yang terhubung. "Sepertinya sudah waktunya kalian mengetahui rahasia ini."
Rian tersontak. "Profesor?!"
"Selama ini saya diam-diam memasukkan data genetik dan teknologi dinosaurus ke dalam Mecha Watch kalian," jelas Prof. Einsten.
Yasing menatap jam tangannya tak percaya. "Kenapa gak bilang dari awal?!"
Prof. Einsten tertawa kecil. "Karena saya sendiri belum yakin apakah sistem tersebut akan berhasil atau tidak."
Maul mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Berarti..."
"Ya," potong Prof. Einsten dengan nada serius. "Kalian adalah pengguna pertama yang berhasil mengaktifkannya."
Sunggingan senyum optimis kembali hadir di wajah Yasing. "Kalau begitu..." Ia menekan tombol utama di jam tangannya. "MECHA DINO!"
WOOOOOOOSH!
Tubuh Yasing diselimuti pendar cahaya terang. Zirah baru bertransformasi dan melapisi seluruh tubuhnya; pelindung bahu berbentuk kepala dinosaurus muncul, cakar tajam terbentuk di kedua tangannya, dan sebuah ekor mekanis yang kokoh hadir di belakangnya.
"TYRANNOSAURUS!"
ROAAAAAARRRR! Suara raungan mekanis memecah keheningan lembah.
Maul tak mau kalah. Ia menekan tombol jam tangannya. "MECHA DINO!"
Cahaya hijau keemasan membungkus tubuh Maul. Zirah baja tebal yang sangat kokoh terbentuk menyelimuti tubuhnya, lengkap dengan tanduk pelindung besar di bagian helm.
"TRICERATOPS!"
RROOOOAAARRR!
Maul menghentakkan kakinya ke tanah. DUUUM! Landasan batu di bawahnya retak seketika.
Karbon-X yang melihat perubahan itu mundur beberapa langkah. "Apa... kekuatan ini?"
Yasing tersenyum bangga. "Hadiah terakhir dari Profesor."
Maul memutar bahunya, bersiap. "Dan sekarang..."
Yasing dan Maul berdiri berdampingan menatap musuh utama mereka. "...kita tamatkan ini!"
Karbon-X menerjang murka. WOOOOOSH!
Yasing berlari melompat ke depan. "TYRANNOSAURUS CHARGE!" BUAAAAAM! Hantaman fisiknya melontarkan tubuh raksasa Karbon-X.
Maul menyusul cepat dari bawah. "TRICERATOPS RAM!" BRUUUUUUM! Tanduk utamanya menancap dan menghantam inti energi Karbon-X.
CRAAAAACK! Lapisan zirah baja hitam Karbon-X retak parah. Monster itu meraung kesakitan. "AKU TIDAK AKAN KALAH!"
Tentakel Karbon-X mengamuk liar, tetapi Yasing sudah melompat tinggi ke udara. "Maul!"
"Siap!" balas Maul seraya menundukkan tubuh mengambil posisi fondasi.
Yasing berputar di udara menumpuk seluruh energinya, sementara Maul melesat maju dari bawah.
"TYRANNOSAURUS—"
"TRICERATOPS—"
"FINAL ATTACK!" teriak mereka bersamaan.
BOOOOOOOOOOOOOOOMMMMM!
Dua serangan gabungan berbasis teknologi dinosaurus menghantam telak inti Karbon-X. Retakan menjalar ke seluruh bagian tubuh monster itu.
BZZZZZT! Energi hitam berhamburan keluar secara tidak terkendali.
ERROR... ERROR... SISTEM RUSAK... Suara sistem Karbon-X melemah.
Yasing berteriak sekuat tenaga, "INI BUAT SEMUA TEMAN KITA!"
"DAN BUAT TIGA KOTA!" tambah Maul.
CRAAAAAAAAAAAAASH!
Tubuh Karbon-X hancur berkeping-keping menjadi ribuan partikel energi hitam yang kemudian menguap memudar di udara. Lembah Sektor Terlarang mendadak menjadi tenang dan sunyi.
Yasing dan Maul berdiri mengatur napas mereka yang memburu, sementara Rian perlahan menurunkan senjatanya. "Berhasil..." gumam Rian tak percaya.
Beberapa detik kemudian, suara lenguhan terdengar dari balik puing-puing. "Ugh..."
Yasing menoleh cepat. Alifian mulai bergerak, Sahla perlahan membuka matanya, dan Kelay perlahan berusaha duduk. Teh Caca memegangi kepalanya yang pusing. "Kenapa kepala saya pusing sekali?"
Opik memandangi sekelilingnya yang hancur. "Karbon-X..."
Pasya bangkit perlahan, menatap Yasing dan yang lain. "Sudah kalah?"
Rian tersenyum lebar. "Udah."
Maul yang biasanya tenang mendadak tertawa lepas. "AKHIRNYA!"
Yasing ikut tertawa lega. "Teman-teman kita balik!"
Satu per satu anggota Mechabest bangkit berdiri. Mereka semua selamat dan terbebas dari pengaruh jahat, sementara chipset Karbon-X yang terlepas di tanah kini telah mati sepenuhnya.
Teh Caca berjalan mendekati Yasing dan Maul. "Kalian berdua..."
"Kenapa?" tanya Yasing.
"Terima kasih," ucap Teh Caca tulus.
Sahla secara tiba-tiba berlari dan memeluk Yasing erat-erat. "Lu hampir bikin gua nangis!"
Yasing tertawa canggung sembari berusaha melepaskan diri. "Eh, jangan peluk-peluk!"
Maul hanya menggelengkan kepala dan tertawa melihat tingkah mereka.
Beberapa jam kemudian, suasana hangat menyelimuti Kantor Mechabest. Ruangan besar itu dipenuhi dengan suara gelak tawa, makanan lezat menumpuk di meja, dan minuman dibagikan ke seluruh anggota. Para Neo-Tracker yang selamat juga bergabung merayakan kemenangan besar ini.
Rian berdiri di tengah ruangan sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Untuk kerja sama tiga kota!"
"UNTUK TIGA KOTA!" sorak seluruh orang di ruangan itu serentak.
Prof. Einsten tersenyum penuh kebanggaan memandangi mereka. "Saya bangga kepada kalian semua."
Yasing duduk bersandar menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Maul duduk di sampingnya, sementara Alifian, Sahla, Pasya, Kelay, Teh Caca, dan Opik berkumpul bersama. Semuanya telah kembali normal. Tidak ada lagi pendar merah, tidak ada lagi Karbon-X, dan tidak ada lagi peperangan.
Yasing menoleh ke samping. "Maul."
"Apa?"
"Lu inget gak waktu dulu gua gak punya duit?"
Maul langsung mengerutkan dahi keheranan. "Jangan mulai."
"Lu yang bayarin gua makan," lanjut Yasing terkekeh.
"Ya udah."
"Terus waktu gua sakit—"
"Udah," potong Maul cepat.
"Terus waktu resleting tas gua rusak—"
"Yasing!" tegur Maul.
"Hahaha!" Tawa Yasing pecah, memicu gelak tawa anggota yang lain di ruangan itu. Maul pada akhirnya tidak bisa menahan senyum dan ikut tertawa bersama.
Untuk pertama kalinya setelah pertarungan yang panjang dan melelahkan, mereka akhirnya bisa tertawa lepas tanpa rasa takut.
Di luar gedung, matahari mulai terbenam di ufuk barat. Cahaya jingga yang hangat menyinari seluruh Kota Mecha. Tiga kota telah berhasil diselamatkan, Karbon-X telah dimusnahkan, dan para Mechabest kembali berkumpul sebagai sebuah keluarga yang utuh.
Yasing melangkah ke luar sejenak dan menatap langit sore. Ia meraba Mecha Watch di pergelangan tangannya. Di layar kecil itu masih tertera satu tulisan berwarna hijau terang: TYRANNOSAURUS — ACTIVE.
Yasing tersenyum tipis. "Petualangan kita..." Ia menoleh menatap teman-temannya di dalam. "...akhirnya selesai."
Maul berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. "Atau mungkin baru dimulai."
Yasing tertawa kecil menyetujui. "Ya juga."
Mereka saling menatap dan mengangguk pelan, lalu bersama-sama melangkah kembali ke dalam kantor. Pintu tertutup rapat, menyisakan suara hangat tawa kebersamaan dari dalam.
Sejak hari itu, para Mechabest dikenang sebagai para pahlawan yang menyatukan dan menyelamatkan tiga kota dari ancaman terbesar. Mereka pernah bertarung bersama, bahkan pernah saling berhadapan sebagai musuh. Namun pada akhirnya, ikatan persahabatan sejatilah yang menyatukan mereka kembali.
TAMAT