Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuka Rahasia
Saka tidak langsung menjawab. Dia menatap lekat wajah Dirga yang duduk di sampingnya. Mungkin memang sudah saatnya dia mengatakan soal kemampuan yang dimilikinya setelah selamat dari kecelakaan maut yang menimpanya.
“Iya,” akhirnya Saka menjawab dengan suara pelan.
Meski sudah menyiapkan diri untuk mendengar jawaban Saka, tak ayal membuat Dirga terkejut juga. Dia langsung menoleh ke arah sahabatnya. “Sejak kapan?” tanya Dirga lagi.
“Sejak kecelakaan. Awalnya aku dapat penglihatan di rumah sakit. Saat itu aku melihat kecelakaan kereta api yang terjadi beberapa waktu lalu.”
“Serius?” Kali ini, Dirga terlihat lebih antusias.
“Iya. Setelah itu aku dapat penglihatan lain.”
Saka kemudian menceritakan penglihatan apa saja yang didapatnya. Dari peristiwa yang bisa dia lihat tanpa bisa dia cegah hingga apa yang terjadi terakhir kali.
“Jadi kemarin, waktu kamu ngajak ke Rusun Harapan Indah karena kamu dapat penglihatan ada yang terkena ledakan gas?”
“Iya. Tapi aku terlambat. Dan itu kegagalan pertamaku sejak aku berusaha mencegah hal buruk terjadi.”
“Tapi itu bukan salah kamu, Ar. Kamu sudah berusaha. Kamu juga tahu kalau aku ngebut kayak Valentino Rossi, tapi ternyata tetap nggak bisa mencegah musibah itu terjadi.”
Saka mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Dirga. Setelah mengatakan apa yang selama ini dipendamnya, Saka sedikit perasaan lega. Setidaknya dia punya teman untuk berbagi.
“Tapi aku harap kamu nggak bilang soal ini ke Pak Revan.”
“Ck … ngapain juga aku kasih tahu Pak Revan? Nanti malah repot kalau dia menggunakan kemampuan kamu demi kepentingannya sendiri.”
“Betul. Ibu juga jangan sampai tahu. Aku nggak mau buat dia cemas.”
Dirga menjawab dengan menggerakkan tangannya di depan mulutnya, pertanda bahwa dirinya akan tutup mulut.
“Ehm … sebenarnya ada satu lagi yang buat aku penasaran,” ujar Dirga.
“Apa?” Saka menoleh dan melihat Dirga memasang mimik muka aneh saat menatapnya. “Mau tanya apalagi?” tanya Saka curiga.
“Ayura,” jawab Dirga sambil menaik-turunkan alisnya. “Sejak kapan kamu kenal Ayura? Kok kamu nggak pernah bilang soal Ayura sebelumnya?” cecar Dirga yang masih penasaran tentang Ayura.
Mendengar nama Ayura, Saka kembali terdiam. Tentu saja Aryan tidak pernah mengungkit tentang Ayura sebelumnya karena dia memang tidak mengenal wanita itu.
“Kapan kenal Ayura?” desak Dirga membuyarkan lamunan Saka.
“Baru beberapa hari. Aku ke tokonya waktu mau beli kue buat ibu.”
“Tapi dia emang cantik sih. Cocok sama kamu. Aku dukung kamu pokoknya. Setidaknya salah satu dari kita akhirnya lepas dari status jomblo.” Dirga tertawa setelahnya.
Tawa Dirga menghilang saat pria itu teringat bahwa besok dokter akan membacakan hasil pemeriksaan MRI Aryan. Dia takut kecelakaan yang dialami Aryan akan memperburuk keadaannya.
“Kenapa?” tanya Saka yang menyadari perubahan ekspresi Dirga.
“Nggak apa-apa. Aku cuma keingetan kalau besok hasil pemeriksaan MRI kamu dibacakan dokter.” Wajah Dirga terlihat sendu.
Mendengar itu, perasaan Saka kembali tak karuan. Namun dia berusaha menyembunyikan kegelisahannya. “Semoga aja hasilnya baik.” Saka mencoba menghibur Dirga dan dirinya sendiri.
“Aaamiin yang kencang. Pokoknya kamu harus sehat dan kita bisa tetap bersahabat sampai tua,” sahut Dirga seraya memeluk bahu sahabatnya ini.
Saka merasa terharu dengan ucapan Dirga. Baru kali ini dia merasakan kehangatan pelukan seorang sahabat.
***
Keesokan paginya, Dirga sudah berada di kediaman Aryan lagi. Sebelum mulai bekerja, mereka akan ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mendengarkan hasil pemeriksaan MRI.
Saka langsung menaiki motor Dirga. Kendaraan roda dua itu segera meluncur dengan kecepatan sedang.
Setibanya di rumah sakit, Dirga memarkir motornya lalu menyusul Saka yang sudah lebih dulu memasuki gedung rumah sakit. Keduanya langsung menuju ruang praktik dokter Rasyid.
Perawat yang mengenali Saka langsung memintanya masuk. Pria itu didahulukan karena hanya datang untuk mendengarkan hasil pemeriksaan MRI.
Jantung Saka berdebar tak karuan saat dokter Rasyid hendak membacakan hasil pemeriksaan kemarin. Dirga pun tak kalah berdebarnya.
Mata dokter Rasyid tak lepas memandangi layar komputer di depannya. Dia kemudian melihat kepada Saka lalu mengalihkan ke layar lagi.
“Bagaimana hasilnya, Dok?” tanya Saka yang sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil pemeriksaan MRI.
“Dari hasil pemeriksaan kemarin, ada sesuatu yang tidak biasa,” jawab dokter Rasyid sambil terus melihat ke layar.
“Maksudnya, Dok?” Saka semakin dibuat bingung dan penasaran.
“Tumor yang sebelumnya tampak jelas, sekarang … sudah tidak terlihat lagi.”
“Apa? Maksud dokter, tumor saya menghilang?” tanya Saka memastikan.
“Ya. Bahkan saya sampai berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah saraf sambil membandingkannya dengan hasil MRI sebelumnya. Kami sama-sama tidak menemukan tumor itu di kepalamu lagi.”
Di balik keterkejutan dari kabar yang disampaikan dokter Rasyid, ada perasaan lega menyelinap. Jika tumor itu benar-benar hilang, itu artinya Saka memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama.
“Tapi, untuk lebih meyakinkan, saya menganjurkan pemeriksaan MRI dua minggu lagi. Bagaimana?” tawar dokter Rasyid. Pria itu juga masih terkejut dengan menghilangnya tumor secara tiba-tiba.
“Boleh, Dok,” Saka langsung menyetujui.
“Karena hasil pemeriksaan menunjukkan tumor sudah tidak ada lagi, pengobatan pun distop. Kamu tidak perlu mengonsumsi obat lagi. Dua minggu ke depan, kamu akan menjalani pemeriksaan MRI lagi.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
Saka bangkit seraya mengulurkan tangannya kepada dokter yang menanganinya. Rasyid segera membalas uluran tangan Saka. Dirga ikut menyalami dokter itu seraya mengucapkan terima kasih.
Keduanya kemudian keluar dari ruang praktik dengan wajah berseri-seri.
Dirga langsung memeluk Saka begitu mereka keluar dari ruang praktik dokter spesialis saraf tersebut. Pria itu senang mengetahui tumor di kepala sahabatnya telah menghilang.
“Semoga saja pemeriksaan MRI dua minggu ke depan hasilnya tetap sama,” ujar Dirga.
“Aamiin,” sahut Saka cepat.
Meski tidak mengerti bagaimana tumor itu bisa tiba-tiba menghilang, Saka tetap bersyukur. Yang ada di pikirannya, mungkin karena dirinya dan Aryan bertukar roh, penyakit itu juga menghilang. semasa hidup, Saka memang tidak pernah menderita tumor otak.
Kali ini, Saka tampak lebih bersemangat. Saat sedang menuju parkiran motor, dia teringat akan janjinya kepada Firlan.
“Dir, nanti pulang kerja, apa kamu mau menemaniku bertemu Firlan?”
“Maksudmu polisi yang sudah kamu bantu menangkap buronan kemarin?”
“Iya. Aku berutang penjelasan padanya.”
“Apa kamu akan mengatakan yang sejujurnya?”
“Ya. Kalau ternyata penglihatanku ini bisa menolong orang lain, tidak ada salahnya aku memberitahunya. Siapa tahu dia juga bisa membantuku nantinya.”
“Ya, aku setuju. Pokoknya apa pun yang kamu lakukan, aku akan dukung. Tapi ingat … jangan lupa buat jadi mak comblangku dan Gina.”
Saka melemparkan cengiran. Untuk permintaan itu, dia tidak yakin bisa mewujudkannya. Dirinya saja tidak tahu banyak soal Gina. Namun demi menyenangkan hati Dirga, Saka mengiyakan saja.
***
Selesai bekerja, Saka akan menemui Firlan untuk memenuhi janjinya. Pria itu menghubungi dulu petugas kepolisian tersebut.
Firlan mengajaknya bertemu di salah satu kedai kopi yang ada di dekat kantornya. Ditemani Dirga, Saka menuju ke sana.
Dirga memarkir motornya di depan Urban Brew, kedai kopi yang dijadikan tempat bertemu oleh Firlan.
Begitu memasuki kedai kopi, Saka melihat Firlan melambaikan tangannya. Pria itu sudah datang dan memilih meja di lantai atas.
Dirga meminta Saka menemui Firlan lebih dulu, sementara dirinya memesan kopi dan camilan.
Sesampainya di lantai atas, Saka segera menarik kursi di depan Firlan.
“Apa kamu berhasil menangkap buronannya?” tanya Saka tanpa basa-basi.
“Ya, berkat petunjuk darimu.”
“Dia buronan kasus apa?”
“Kasus KDRT. Dia sudah menyiksa istri dan anaknya sampai harus dirawat di rumah sakit. Bahkan anaknya masih terbaring koma. Dia kabur saat hendak ditangkap.”
Saka merasa bersyukur karena Firlan berhasil menangkap pria itu. Penglihatan yang dialaminya bisa memberikan keadilan bagi korban penganiayaan.
“Kamu pasti ingat apa agenda pertemuan kita sekarang, bukan?” tanya Firlan, mengingatkan akan janji Saka kepadanya.
“Ya, aku tidak akan mengelak. Tapi sebelumnya, apa kamu akan mempercayai apa yang akan kukatakan?” tanya Saka, membuat Firlan bingung.
***
Siap² kaget Firlan🤭
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/