Indonesia
NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : Janji Setia di Ujung Tebing Kerajaan

Matahari mulai condong ke barat, memancarkan bias cahaya keemasan yang bercampur dengan warna kemerahan senja di atas perbukitan curam di pinggiran kota Roma. Tempat itu dikenal sebagai Ujung Tebing Kerajaan—sebuah area terpencil yang berbatu terjal, dikelilingi oleh jurang dalam yang langsung menghadap ke aliran deras Sungai Tiber di bawah sana. Dari kejauhan, pemandangan kota tampak begitu megah dengan kuil-kuil marmer dan kubah istana yang menjulang tinggi, namun tempat di mana Callista dan Marcus berdiri saat itu terasa begitu terisolasi dari dunia luar, seolah menjadi satu-satunya tempat di bumi di mana aturan kekaisaran tidak memiliki kekuatan.

Angin malam berhembus kencang, menerbangkan jubah merah tua Marcus dan helai rambut hitam Callista. Mereka berdiri berdampingan di tepi tebing yang dibatasi oleh pagar batu kuno berlumut. Di bawah langit senja yang mulai menggelap, napas keduanya terlihat mengepul tipis di udara dingin.

"Mengapa kau membawaku ke tempat ini, Yang Mulia?" tanya Callista dengan suara lirih. Matanya menatap ke bawah, ke arah jurang yang curam dan gelap, menimbulkan rasa ngeri di dadanya. Namun, keberadaan Marcus di sisinya memberikan rasa aman yang menenangkan.

Marcus menoleh, menatap lekat wajah gadis di sampingnya. Tangannya yang hangat terulur untuk menggenggam jemari Callista yang terasa dingin. "Karena hanya di tempat ini, Callista, aku bisa berbicara jujur tanpa harus takut didengar oleh para kasim istana, para senator tua, atau Panglima Decimus," jawab Marcus lembut.

Pria itu melangkah lebih dekat, menangkup wajah Callista dengan kedua tangannya, memaksa mata legam sang gadis untuk fokus sepenuhnya kepadanya. Sorot mata hazel Marcus memancarkan ketulusan yang luar biasa, menepis segala keraguan yang sempat singgah di benak Callista.

"Sidang dewan tadi siang semakin memperkeruh keadaan," lanjut Marcus dengan nada suara yang mulai bergetar oleh emosi tertahan. "Jenderal Maximus dan Dewan Senat mendesak ayahku untuk segera meresmikan pertunanganku dengan Lady Claudia minggu depan. Mereka ingin mengikatku dalam rantai politik yang akan menghancurkan hidupku... dan memisahkan kita untuk selamanya."

Mendengar hal itu, hati Callista seolah dihantam palu berat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia menggelengkan kepala perlahan, jemarinya mencengkeram erat jubah beludru Marcus. "Lalu... apa yang harus kita lakukan, Marcus? Kita tidak bisa melawan kekaisaran. Kau adalah pewaris takhta, dan aku... aku hanyalah seorang budak. Hukum mereka tidak akan pernah memihak kita."

Marcus tersenyum, sebuah senyuman penuh keyakinan yang mampu menenangkan badai di dalam dada Callista. Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan cincin perunggu kecil yang pernah ia berikan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi di bawah cahaya senja yang mulai pudar.

"Dengar sumpahnya di hadapan langit dan bumi ini, Callista," ucap Marcus dengan suara tegas, berwibawa, namun penuh kelembutan yang menusuk relung jiwa. "Aku, Marcus, putra mahkota kekaisaran Romawi, bersumpah demi nyawa dan kehormatanku: aku tidak akan pernah menikahi siapapun selain diriku. Jika takdir tidak membiarkan kita bersatu di dalam istana yang megah itu, maka aku siap melepaskan mahkotaku, meninggalkan seluruh harta kekaisaran, dan pergi jauh bersamamu ke ujung dunia mana pun."

Pernyataan itu membuat Callista terperanjat hebat. Melepaskan mahkota? Meninggalkan takhta kekaisaran demi seorang budak rendahan? Itu adalah bentuk pengorbanan terbesar yang mustahil dilakukan oleh seorang pangeran, namun Marcus mengucapkannya dengan kesungguhan mutlak tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.

"Jangan katakan itu, Marcus..." Isak tangis Callista semakin pecah. Ia memeluk tubuh pangeran itu erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang Marcus. "Aku tidak ingin kau kehilangan segalanya karenaku. Nyawaku tidak seharga mahkota kekaisaran."

Marcus membalas pelukan itu dengan sama eratnya, mendekap tubuh kurus Callista seolah ingin melindungi gadis itu dari segala ancaman dunia. Ia mencium puncak kepala Callista dengan penuh kasih sayang.

"Bagi dunia, kau mungkin dianggap tidak bernilai," bisik Marcus di dekat telinga gadis itu, suaranya bergetar penuh cinta. "Tapi bagiku, kau adalah segalanya. Beri aku waktu beberapa hari lagi. Aku sedang menyiapkan jalur pelarian melalui jalur perdagangan pelabuhan selatan. Begitu kapal itu siap, kita akan meninggalkan Roma selamanya dan memulai lembaran hidup yang baru sebagai manusia biasa, bukan sebagai pangeran dan budak."

Di atas Ujung Tebing Kerajaan yang diselimuti angin senja, di bawah naungan langit Roma yang kelam, dua jiwa yang terikat oleh takdir terlarang itu saling mengikat janji setia. Mereka percaya bahwa cinta mereka akan mampu mengalahkan dinding kasta yang kejam. Namun, mereka tidak mengetahui bahwa di balik batu-batu besar tidak jauh dari tempat mereka berdiri, sepasang mata tajam mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan senyuman iblis—Panglima Decimus telah merekam setiap kata sumpah setia itu, siap menjadikannya senjata mematikan untuk menghancurkan keduanya di babak-babak penentuan yang akan datang.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!