Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Kegelapan di dalam sel bawah tanah Blackwood Manor adalah jenis kegelapan yang pekat. Tanpa ada ventilasi udara luar atau lampu, serta tidak ada penanda waktu, detik-detik berputar dengan rasa lambat yang menyiksa.

Evangeline tetap tergantung pada rantai bajanya. Luka-luka goresan di leher dan dadanya yang tersiram air garam telah mengering menjadi rasa perih dan dingin.

Otot-otot bahunya menegang parah akibat menopang bobot tubuhnya sendiri selama belasan jam tanpa henti, namun kesadaran Eva tetap berada dalam mode siaga tinggi.

Di dunia The Crow's Veil, rasa sakit adalah sinyal bahwa ia masih hidup.

Eva mengolah napasnya dengan teknik vagus nerve control, metode pernapasan lambat yang diajarkan Silas untuk menurunkan detak jantung dan menekan dorongan panik saat mengalami hipotermia.

Udara bawah tanah yang sedingin es menusuk hingga ke tulang, tetapi Eva terus memfokuskan pikirannya pada satu titik, lambang belati Serpent-Rose yang ia lihat di galeri seni.

"Aku tidak boleh mati di sel ini, Belum saatnya,"

bisik batin Eva di balik bibirnya yang pucat dan pecah-pecah.

Klak. Srrrrt.

Pintu besi seberat dua ton di ujung lorong berderit terbuka, memutus hening yang mencekam. Cahaya kuning temaram menyelinap masuk, memotong kegelapan sel dan membentuk bayangan panjang di atas lantai beton.

Dua pasang langkah kaki mendekat.

Dominic Blackwood kembali. Pria itu kini telah berganti pakaian, mengenakan kemeja serba hitam dengan lengan yang tergulung rapi dan celana kain berpotongan kustom. Di belakangnya, berjalan seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas kelabu dan tatapan mata yang tajam seperti pisau bedah.

Ia adalah Viktor, kepala eksekutor dan spesialis interogasi kepercayaan Dominic.

Dominic berhenti dua langkah di depan Eva. Pria itu mengamati kondisi pelayan gadungan di depannya dengan tatapan meneliti. Ia mengharapkan melihat tubuh yang gemetar kelelahan atau mata yang memancarkan keputusasaan.

Namun, saat Eva perlahan mengangkat kepalanya, sepasang mata hazel gadis itu masih membakar dengan intensitas kebencian yang sama.

"Kau bertahan lebih lama dari perkiraanku," kata Dominic, suaranya tenang.

Eva tidak menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum sinis yang sangat tipis pada bibirnya yang pucat, menantang dominasi pria di depannya.

"Viktor," perintah Dominic pelan tanpa mengalihkan pandangan dari Eva. "Gunakan jarum perak. Biarkan saraf pergelangan tangannya yang berbicara."

Viktor mengangguk, dari dalam tas kulit hitam yang dibawanya, ia mengeluarkan satu set jarum baja tipis yang berkilau di bawah lampu sel. Metode interogasi ini tidak meninggalkan bekas luka yang kasat mata dari luar, namun tekanan jarum pada titik saraf tertentu sanggup memicu rasa sakit yang luar biasa hebat, seperti membakar sistem saraf dari dalam.

Viktor melangkah mendekati Eva, meraih tangan kanan Eva yang terbelenggu rantai, dan menyeleksi titik saraf di balik pergelangan tangannya.

"Ini kesempatan terakhirmu," bisik Dominic dari balik bahu Viktor, matanya terkunci pada raut wajah Eva. "Katakan siapa yang menyewamu dan bagaimana kau mendapatkan identitas Evie Thorne."

Eva menarik napas panjang. Rasa dingin dari udara yang masuk membuat dadanya sesak, namun matanya tetap lurus menembus mata kelam Dominic.

"Persetan... dengan pertanyaanmu, Blackwood," desis Eva serak.

Viktor menusukkan jarum perak pertama tepat ke titik saraf pergelangan tangan Eva.

Sensasi seperti lelehan logam panas langsung menjalar cepat menyusuri lengan kanan Eva hingga menghantam pangkal otaknya. Otot-otot di leher Eva menegang keras, urat-urat di dahi dan pelipisnya menonjol seketika. Tubuhnya bergetar hebat di bawah kekangan rantai baja.

Sensasi sakit itu luar biasa dan memancing dorongan alami untuk menjerit dan memohon ampun. Namun Eva mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga rasa darah membasahi area bibinya dari gusi yang tergigit.

Ia menolak memberikan Dominic kepuasan mendengar suara jeritannya.

Satu detik. Tiga detik. Lima detik.

Napas Eva berembus patah-patah dan berat, keringat dingin membasahi seluruh dahinya, tetapi bibirnya tetap terkatup rapat.

Dominic memicingkan matanya. Ia melangkah mendekat, menghentikan tangan Viktor yang hendak menusukkan jarum kedua. Dominic menarik rahang Eva dengan cengkeraman jari-jarinya yang kuat, memaksa wanita itu menatap matanya dari jarak hanya beberapa sentimeter.

"Kenapa?" bisik Dominic dengan nada suara yang terdengar frustrasi. "Kenapa kau memilih mati daripada membuka mulutmu? Tidak ada bayaran organisasi yang sepadan dengan penderitaan ini."

Eva menatap tepat ke dalam pupil mata Dominic. Di balik kesakitan yang membakar seluruh tubuhnya, pendar dendam pribadi Eva membakar begitu terang.

"Kau tidak akan pernah mengerti... dasar monster," cicit Eva dengan suara serak.

Dominic membeku. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun interogasi dunia bawah, ia merasa dikalahkan oleh kemauan baja seorang tahanan. Wanita ini tidak bertarung demi uang pada organisasi rival. Ada dorongan yang jauh lebih dalam dan mematikan di balik matanya.

Sebelum Dominic sempat melancarkan metode interogasi berikutnya, suara langkah kaki asing yang kontras mendadak bergaung di sepanjang lorong lorong sel bawah tanah.

Klak. Klak. Klak.

Bukan langkah pengawal, bukan pula irama sepatu kulit pembunuh. Suara itu adalah ketukan teratur dari sebuah tongkat kayu berbahan jati tua.

Dua pengawal yang bersiap di pintu sel mendadak memucat. Mereka langsung menarik tubuh mereka ke posisi berdiri paling tegap, menundukkan kepala penuh hormat.

"Ny—Nyonya Besar..." desis salah satu pengawal dengan suara gemetar.

Dominic melepaskan cengkeramannya dari rahang Eva dan berbalik dengan kening berkerut dalam. "Nenek?"

Dari balik pintu besi sel yang terbuka, seorang wanita tua melangkah masuk dengan penuh keanggunan. Meskipun berusia awal tujuh puluhan, postur tubuh Lady Eleanor Blackwood tetap tegak dan memancarkan wibawa mutlak dari seorang penguasa.

Ia mengenakan gaun berwarna biru tua dari bahan beludru mahal, dengan syal kasmir melingkari bahunya dan kalung mutiara yang berkilau di lehernya.

Dua pengawal pribadi Lady Eleanor mengapit di belakangnya, membawa lampu penerang tambahan.

Lady Eleanor memindai isi sel bawah tanah yang remang dan dingin itu. Matanya melewati Viktor yang masih memegang jarum interogasi, lalu menyapu kondisi Eva yang tergantung lemas dengan bercak air garam dan darah mengering di seragam pelayannya.

Namun, saat mata biru jernih Lady Eleanor terkunci pada garis wajah Eva yang ternoda keringat dingin, matanya yang tenang mendadak membesar oleh rasa terkejut yang luar biasa.

"Astaga..." bisik Lady Eleanor, suaranya yang halus mendadak bergetar oleh emosi yang tak terduga. "Gadis ini..."

Eva yang kesadarannya hampir kabur akibat siksaan fisik memaksa matanya untuk tetap terbuka. Ia menatap sosok wanita tua di depannya dengan kebingungan. Ada sesuatu pada raut wajah itu yang memicu kenangan singkat di benak Eva.

Empat bulan yang lalu.

Malam hari di sebuah gang sempit yang gelap di dekat pasar barang antik Verona Heights. Eva yang saat itu sedang menjalankan misi pengintaian lapangan biasa untuk The Crow's Veil melihat sebuah mobil limusin tua mogok dan disergap oleh tiga perampok jalanan bersenjata pisau.

Tanpa memedulikan misi utamanya, insting Eva mendorongnya untuk bertindak, ia melumpuhkan ketiga perampok itu dengan cepat, merebut kembali tas tangan wanita tua itu, lalu menghilang ke dalam bayangan gang sebelum polisi atau pengawal tiba tanpa meminta imbalan satu sen pun atau menyebutkan namanya.

Wanita tua di gang sempit malam itu ternyata adalah Lady Eleanor Blackwood.

"Itu kau..." ucap Lady Eleanor pelan, langkah kayunya mendekat dua langkah. Sebuah senyuman hangat dan penuh keharuan melintas di wajah keriputnya yang anggun. "Gadis bermata hazel yang menyelamatkan nyawaku di Distrik Pasar empat bulan lalu."

Lady Eleanor berbalik cepat ke arah dua pengawal Dominic di pintu sel. Wajahnya yang lembut berubah menjadi keras bagaikan baja.

"Buka rantai itu sekarang juga!" perintah Lady Eleanor dengan suara yang menggema keras di dinding beton.

Viktor dan kepala pengawal saling pandang dengan cemas dan panik. "Tapi Nyonya Besar!" pengawal kepala mencoba memprotes.

"Tuan Dominic memerintahkan agar tahanan ini tetap terikat. Dia adalah penyusup berbahaya yang mencoba menyerang Tuan Dominic di ruang kerjanya!"

Lady Eleanor memukulkan tongkat kayunya ke lantai beton dengan suara yang sangat nyaring, membuat seluruh pengawal terlonjak kaget.

"Apakah suara cucuku lebih tinggi dari suaraku di dalam rumah ini, pengawal?!" gertak Lady Eleanor dengan aura dominasi penguasa yang tak terbantahkan. "Aku bilang buka rantai itu sekarang!"

"B-baik, Nyonya Besar!"

Dua pengawal bergerak cepat tanpa berani membantah lagi. Mereka memutar gembok dan melepaskan engsel rantai baja di langit-langit. Tubuh Eva yang lemas dan kehilangan tumpuan langsung jatuh ke depan.

Namun sebelum tubuh Eva menghantam lantai beton yang dingin, Lady Eleanor dengan sigap melangkah maju dan menahan bahu Eva dengan tangannya yang renta namun terasa sangat hangat dan kokoh.

"Pegang aku, anak muda," bisik Lady Eleanor lembut, membantu menyangga tubuh Eva yang gemetar akibat kelelahan otot luar biasa.

Eva menatap wanita tua itu dengan campuran tidak percaya dan kebingungan yang mendalam. "Kenapa... Kenapa Anda menolongku? Aku... aku mencoba membunuh cucu Anda."

Lady Eleanor menatap lurus ke dalam mata hazel Eva dengan pandangan bijak yang dipenuhi intuisi tajam.

"Aku telah hidup selama tujuh puluh tahun di tengah para penjahat dan penguasa, Anakku," kata Lady Eleanor pelan namun jelas.

"Aku mengenal mata seorang pembunuh yang didorong oleh keserakahan, dan aku mengenal mata seorang anak yang memiliki hati yang murni. Kau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan seorang wanita tua yang tidak kau kenal di gang gelap tanpa meminta imbalan. Kau punya jiwa yang terhormat."

Lady Eleanor mengangkat tangan kirinya, dengan lembut menyibakkan helai rambut cokelat yang menutupi wajah kotor Eva, sebuah sentuhan keibuan yang sudah tidak pernah Eva rasakan sejak kematian ibunya empat belas tahun lalu.

Dominic memotong momen tersebut.

"Nenek!" teriak Dominic, melangkah cepat mendekat dengan raut wajah meluap oleh rasa tidak percaya.

"Apa yang Nenek lakukan di sini? Wanita ini sangat berbahaya, dia pembunuh profesional yang disusupkan untuk memenggal kepalaku!"

"Tutup mulutmu, Dominic Arthur Blackwood!" potong Lady Eleanor tegas, berbalik membalas tatapan tajam cucunya tanpa gentar sedikit pun.

Dominic membeku seketika saat mendengar nama lengkapnya dipanggil oleh sang nenek, sebuah kode tak tertulis dalam hirarki tertinggi keluarga Blackwood bahwa keputusannya tidak lagi bisa diganggu gugat.

"Nenek, dia tertangkap basah di ruang kerja pribadiku beberapa jam lalu!" protes Dominic, suaranya tertahan oleh kekesalan yang luar biasa seraya menunjuk ke arah Eva.

"Dan itu membuktikan bahwa sistem pengamananmu yang kau bangga-banggakan itu sangat payah," balas Lady Eleanor tanpa ragu.

"Gadis ini cerdik, berani, dan yang paling penting... hutang nyawa keluarga Blackwood padanya belum terbayar."

Lady Eleanor berdiri tegak di antara Dominic dan Eva, meletakkan kedua tangannya di atas gagang perak tongkat kayunya. Pandangan mata mengunci Dominic dengan ketegasan yang sanggup menundukkan seluruh anggota Blackwood Syndicate.

"Aku sudah bosan melihatmu hidup seperti mayat tanpa emosi di rumah tua ini, Dominic," kata Lady Eleanor.

"Kau menghabiskan waktumu dengan darah, senjata, dan persaingan bisnis yang tak ada habisnya. Sementara media dan dewa-dewa politik di luar sana terus menyebarkan rumor bahwa kau adalah monster tanpa nurani."

Dominic memicingkan matanya keras. "Apa hubungannya semua itu dengan penyusup ini?"

Lady Eleanor tersenyum singkat. "Gadis ini bukan lagi tahananmu," ujarLady Eleanor tenang.

"Kita akan mengumumkan kepada seluruh media dan faksi elit Verona bahwa dia adalah kekasih rahasiamu yang datang menyusup malam ini hanya untuk memberimu kejutan pribadi."

"Nenek gila?!" geram Dominic, rahangnya terkatup begitu keras hingga urat di lehernya menonjol.

"Aku sangat sadar, Dominic," balas Lady Eleanor tajam.

"Kau akan menikahi gadis ini dalam waktu tiga hari. Buat pernikahan resmi yang akan membungkam seluruh musuh politik kita, atau aku sendiri yang akan mencabut seluruh hak warismu dan membekukan hak aksesmu atas seluruh aset keluarga besok pagi."

Keheningan total yang luar biasa mendadak mencekik sel bawah tanah tersebut.

Viktor dan para pengawal menundukkan kepala, tidak berani bernapas atau membuat gerakan sekecil apa pun di hadapan ultimatum sang penguasa.

Dominic menatap neneknya dengan napas memburu dan sepasang mata kelam yang berkilat oleh kemarahan berdarah dingin. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat, menyadari bahwa di dalam keluarga Blackwood, posisi dan legalitas aset Lady Eleanor adalah dinding hukum yang tidak bisa ia tembus begitu saja tanpa memicu perang saudara di dalam tatanan hierarki keluarga Blackwood.

Di sisi lain, Eva berdiri menyender pada dinding beton yang dingin. Rasa sakit di tubuhnya mendadak menguap, digantikan oleh syok berat atas takdir yang sama sekali tidak ia duga.

Menikahi Dominic Blackwood.

Pria yang ia yakini sebagai anak dari pemimpin terdahulu yang memerintahkan untuk membantai ibunya. Pria yang baru saja menyiksanya beberapa jam lalu.

Namun, di balik keputusasaan dan kebingungannya, sebuah pemikiran kelam melintas cepat di dalam otak seorang Ghost Rose.

Pernikahan berarti akses total.

Sebagai seorang tahanan di sel bawah tanah, ia akan mati tanpa membawa hasil. Namun sebagai seorang istri sah dari Dominic Blackwood, ia akan tinggal di kamar utama lantai tiga, berjalan bebas di koridor manor, dan memiliki akses tanpa batas ke seluruh rahasia tergelap keluarga Blackwood.

Eva menengadah, matanya yang hazel mengunci tatapan matanya pada Dominic yang dipenuhi amarah.

Pernikahan paksa ini bukan sekadar hukuman atau penyelamatan. Ini adalah medan perang baru, sebuah permainan catur berbahaya di mana sang mangsa dan sang predator dipaksa untuk berbagi tempat tidur yang sama, sementara belati dendam tersembunyi tepat di bawah bantal mereka.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!