Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Menanggalkan Kepolosan

Pukul sembilan malam. Riuk rendah aktivitas ruko Katering Barokah telah mereda.

Pak Budi dan para pekerja dapur sudah pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan Intan Saputri di area kantor kecil depan yang remang-remang.

Namun, bukannya bergegas kembali ke kamar kosnya yang sempit, Intan justru duduk tegak di balik meja kasir.

Di hadapannya, Mbak Maya menggeletakkan tiga buah map tebal berisi berkas transaksi, salinan identitas palsu, dan cetakan riwayat obrolan digital dari berbagai kasus penipuan proyek di masa lalu.

"Hal pertama yang harus kamu pahami, Intan: seorang penipu seperti Rian tidak pernah menjual produk atau proyek."

Ujar Maya sambil bersandar pada tepi meja, tangannya memegang cangkir kopi hitam.

 "Yang dia jual adalah harapan dan rasa takut korbannya."

Intan menyimak setiap kata dengan mata tak berkedip. Kalimat itu menghantam memorinya secara telak.

"Dia tahu kamu takut tidak menikah dan merasa kerdil karena usiamu."

Lanjut Maya dengan suara dingin tanpa basa-basi.

"Maka, dia menjual harapan berupa perhatian, pujian, dan janji pernikahan."

"Di saat yang sama, dia menciptakan rasa takut: takut kehilangan kesempatan, takut dianggap tidak peduli."

"Begitu harapan dan ketakutanmu berbenturan, logikamu lumpuh."

"Di situlah dia mengambil uangmu."

Intan menunduk sejenak, menatap telapak tangannya. Rasa pahit kembali merayap, namun kali ini tidak ada lagi air mata.

"Lalu... bagaimana cara saya membalikkan keadaan?"

"Dengan menanggalkan seluruh kepolosanmu."

Jawab Maya tegas. Ia mengetuk salah satu berkas di meja.

 "Mulai malam ini, kamu harus berhenti berpikir seperti korban."

"Kamu harus belajar berpikir seperti pemangsa."

Maya mengambil sebuah ponsel tua dari saku celananya dan meletakkannya di hadapan Intan.

"Penipu selalu menggunakan pola yang sama saat mencari mangsa baru atau menghindari kejaran: mereka memanfaatkan kelemahan emosional lawan bicaranya."

"Sekarang, kita lakukan simulasi."

"Simulasi?"

Dahi Intan berkerut.

"Saya akan berperan sebagai Rian dengan identitas baru."

"Kamu harus memancing informasi keberadaan saya tanpa membuat saya curiga bahwa kamu sedang melacak saya."

Perintah Maya. Matanya menatap Intan tajam.

"Ingat, begitu kamu menunjukkan nada benci, marah, atau mendesak, penipu akan langsung menutup diri dan menghilang."

Maya meraih ponselnya, lalu menekan tombol panggilan ke nomor di ponsel Intan.

Ponsel di tangan Intan bergetar. Layarnya menampilkan nomor yang tak dikenal.

Intan menarik napas panjang. Ia menutup matanya sejenak, membayangkan bayangan gadis lugu yang penakut di Desa Sukamaju sepenuhnya melebur.

Begitu ia membuka mata, sorot matanya yang semula defensif berubah menjadi sangat tenang dan terkontrol.

Intan menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo?"

Suara Maya di seberang telepon berubah total—menjadi sangat ramah, hangat, dan sarat akan pesona, persis seperti nada suara Rian yang dulu pernah membuainya di malam hari.

"Selamat malam, Mbak... Saya lihat nomor Mbak tertera di papan penawaran material katering proyek."

"Apakah betul ini dengan bagian pengadaan?"

Intan tidak langsung menjawab. Ia menahan jeda selama dua detik untuk menguasai emosinya.

"Selamat malam. Iya betul, ini dengan bagian administrasi Katering Barokah."

Jawab Intan. Suaranya terdengar sangat lembut, sedikit lugu, namun memiliki intonasi yang efisien—sebuah topeng baru yang ia ciptakan secara spontan.

"Ah, syukurlah."

Sahut Maya di telepon, mempertahankan aktingnya yang memikat.

"Saya Rian dari tim pengadaan material area timur."

"Saya sedang cari katering harian untuk lima puluh pekerja proyek baru saya minggu depan."

"Tapi, pembayaran dari kantor pusat baru turun akhir bulan."

" Apa bisa kita atur pembayaran secara berkala di awal?"

Pancingan emosional telah dilemparkan. Penipu itu mencoba menguji apakah Intan bisa dimanipulasi dengan janji pesanan besar namun dengan syarat transaksi yang janggal.

Intan jemarinya mengetuk meja kayu pelan. Jika ini Intan yang lama, ia pasti akan langsung menyanggupi karena tergiur omset katering.

Namun kini, otak Intan bekerja dengan perhitungan dingin.

"Tentu bisa, Mas Rian."

Jawab Intan dengan nada manis yang terukur.

"Pesanan lima puluh porsi tentu sangat berarti untuk kami."

"Tapi aturan pemilik katering kami cukup ketat untuk proyek baru..."

"Boleh saya tahu alamat kantor lapangan atau lokasi proyek Mas Rian di area timur?"

"Biar besok staf kami yang antarkan sampel makanan sekalian tukar dokumen penawaran resmi."

Di seberang telepon, Maya terdiam sejenak.

Intan berhasil menyelipkan perangkap balik: ia tidak menolak pesanan (sehingga penipu tidak merasa curiga), tidak menunjukkan kemarahan, tetapi langsung mengejar lokasi fisik dan dokumen resmi secara halus berkedok pelayanan katering.

Maya mematikan sambungan teleponnya. Ia menurunkan ponselnya dari telinga dan menatap Intan dengan senyum tipis yang penuh apresiasi.

"Bagus sekali," puji Maya.

"Kamu tidak terpancing tawaran pesanan besarnya, dan kamu memanfaatkan peranmu sebagai staf katering untuk meminta lokasi fisik secara natural."

"Penipu akan sulit menolak permintaan itu karena terlihat seperti standar prosedur bisnis biasa."

Intan menghembuskan napas pelan. Dadanya terasa agak lapang.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan sensasi mengendalikan alur percakapan—sesuatu yang selama 23 tahun hidupnya tak pernah bisa ia lakukan.

"Tapi ingat, Intan"

Sela Maya, memutus rasa lega Intan.

 "Itu baru simulasi sederhana."

" Di dunia nyata, Rian jauh lebih licik."

"Dia akan memakai berbagai topeng: bisa jadi pengusaha dermawan, korban yang teraniaya, atau bahkan pria terdesak yang butuh pertolonganmu."

Maya berjalan menuju pintu ruko, menatap ke arah jalanan kota yang makin pekat oleh malam.

"Mulai besok, kamu tidak boleh lagi memandang orang lain hanya dari apa yang mereka katakan."

Lanjut Maya tanpa menoleh.

"Lihatlah dari apa yang mereka sembunyikan."

"Belajarlah membaca gerak-gerik mata, keraguan dalam nada suara, dan ketidakcocokan dalam cerita mereka."

"Tanggalkan kepolosanmu sampai tidak ada satu pun orang yang bisa menyentuh kerapuhan hatimu lagi."

"Saya mengerti, Mbak Maya."

Sahut Intan mantap.

Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan buku catatan hitam kecil miliknya.

Di bawah catatan tentang PT Rian Cipta Konstruksi, Intan menambah baris tulisan baru dengan tinta hitam yang tebal:

> Aturan Perburuan #1: Jangan pernah percaya pada perkataan. Kejar lokasi fisik, bukti dokumen, dan celah dalam ceritanya.

>

Intan menutup buku itu dengan ketukan yang tegas. Kepolosan dan sifat penakut khas anak desa yang selama ini menjadi kurungan jiwanya kini telah benar-benar ditanggalkan.

Yang tersisa di balik tubuh mungilnya adalah seorang wanita muda yang makin cerdik, dingin, dan siap melacak setiap sudut kota demi menyeret pria yang telah meremukkan hatinya ke hadapan keadilan.

Ia mengunci pintu ruko, melangkah keluar menyusuri lorong malam menuju kamar kosnya.

Langkah kakinya di atas aspal dingin tak lagi terdengar ragu.

Perburuan ini baru saja memasuki tingkatan yang jauh lebih berbahaya.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe ☺️

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!