Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pertanyaan itu langsung menarik Su Qingxue kembali ke dunia nyata.
Dia segera memperbaiki postur berdirinya dan berdehem pelan untuk menutupi kegugupannya, memulihkan topeng esnya kembali.
"Kualitas lukisan ini memang sangat luar biasa, aku tidak akan menyangkalnya," aku Su Qingxue dengan jujur.
"Namun, tidak ada tanda tangan pelukis di sudut kanvas ini. Siapa nama seniman yang membuatnya?" selidik Su Qingxue menatap tajam ke mata Jiang Ming.
"Kalau kusebut lukisan ini adalah buatanku yang menyelesaikannya dalam waktu satu jam, kau pasti tidak akan percaya, kan?" batin Jiang Ming menyusun rencananya.
Jiang Ming memasang wajah tenang dan penuh rahasia.
"Pelukisnya adalah seorang pertapa tua yang tidak peduli dengan ketenaran duniawi. Beliau hanya memanggil dirinya sebagai Tuan Wu Ming," bohong Jiang Ming dengan sangat lancar.
Wu Ming secara harfiah berarti Tanpa Nama.
Mata Su Qingxue berkedip pelan, otaknya berputar cepat mencari nama Wu Ming di dalam database dunia seni ingatannya.
"Tuan Wu Ming? Aku belum pernah mendengar nama itu di asosiasi seni mana pun."
"Guruku memang tidak pernah keluar dari pengasingannya di pegunungan. Aku hanyalah perantara yang ditugaskan untuk menjual karyanya ke dunia luar," tambah Jiang Ming memperkuat karangannya.
Identitas palsu ini sangat penting untuk melindungi dirinya dari incaran orang-orang berbahaya di masa depan.
Su Qingxue mengangguk pelan, dia sudah sering mendengar tentang seniman jenius eksentrik yang mengasingkan diri dari peradaban.
"Baiklah. Aku tertarik untuk mengakuisisi karya Tuan Wu Ming ini. Berapa harga yang kau minta?" tanya Su Qingxue mulai masuk ke mode negosiasi bisnis.
"Asistenmu tadi bilang ini adalah galeri terbaik. Aku ingin mendengar penawaran dari ahli sepertimu terlebih dahulu," Jiang Ming melempar bola kembali dengan cerdik.
Su Qingxue tersenyum tipis, merasa tertantang dengan cara negosiasi pemuda gembel di depannya ini.
"Karena pelukisnya belum memiliki nama dan rekam jejak di pasar seni lelang, aku akan mengambil risiko besar jika membelinya."
"Aku menawarkan dua ratus ribu yuan untuk membelinya hari ini juga," sebut Su Qingxue memberikan harga awal.
Asisten kurator di belakangnya tersedak ludahnya sendiri mendengar angka fantastis itu ditawarkan kepada seorang pemuda miskin.
Jiang Ming tetap mempertahankan wajah datarnya, padahal jantungnya sedang melompat-lompat kegirangan di dalam dada.
Dua ratus ribu yuan sudah jauh melampaui ekspektasi awalnya yang hanya berharap puluhan ribu yuan.
"Tiga ratus lima puluh ribu yuan. Nona Su, kita berdua tahu aura naga di lukisan ini bisa kau jual tiga kali lipat lebih mahal kepada para pejabat yang percaya pada fengshui," balas Jiang Ming menekan harga.
Mata Su Qingxue menyipit tajam, dia tidak menyangka pemuda ini paham tentang target pasar lukisan spiritual.
"Tiga ratus ribu yuan. Itu harga mentok dari galeriku untuk seniman tanpa sertifikat resmi," putus Su Qingxue dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat.
"Tiga ratus ribu yuan tidak masalah, asalkan uangnya ditransfer langsung secara penuh hari ini tanpa potongan pajak," Jiang Ming menyetujui kesepakatan itu.
"Deal. Ikut aku ke ruang kerjaku untuk menandatangani kontrak peralihan hak cipta."
Su Qingxue berbalik dan berjalan menaiki tangga spiral itu kembali.
Dia melirik ke arah asisten kuratornya yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.
"Dan kau, siapkan surat pemecatanmu sendiri dan tinggalkan galeri ini sebelum jam makan siang."
"Galeri Bintang Langit tidak butuh karyawan bermata buta yang hampir membuang mahakarya seni bernilai ratusan ribu yuan," usir Su Qingxue dengan nada mematikan.
Asisten itu langsung jatuh terduduk di lantai marmer, menyesali mulut sombongnya yang telah menghancurkan kariernya sendiri.
Jiang Ming berjalan mengikuti Su Qingxue dari belakang tanpa sedikit pun rasa kasihan pada asisten tersebut.
Di dalam ruangan kerja yang mewah, proses transfer uang berjalan dengan sangat cepat dan profesional.
Tring.
[Bank Jinhai: Saldo Anda telah bertambah sebesar 300.000 Yuan.]
Jiang Ming menatap deretan angka nol di layar ponselnya dengan napas tertahan.
Dalam waktu kurang dari dua hari, dia telah melompat dari seorang pengangguran yang berutang lima ratus yuan menjadi pria dengan tabungan ratusan ribu yuan.
Ini semua berkat investasi delapan puluh koin emas di Toko Dewa Tiga Alam semalam.
"Ini kartu nama pribadiku," ucap Su Qingxue menyodorkan sebuah kartu hitam bergaris emas.
Jiang Ming menerima kartu itu dan menyimpannya di saku kemejanya.
"Jika Tuan Wu Ming menghasilkan karya baru lagi, aku harap kau mau membawanya ke galeriku terlebih dahulu sebelum ke tempat lain," pinta Su Qingxue dengan nada sedikit lebih ramah.
"Tentu saja, Nona Su. Berbisnis denganmu sangatlah menyenangkan," balas Jiang Ming sambil berdiri.
"Siapa namamu? Aku tidak mungkin terus memanggilmu tuan perantara."
"Namaku Jiang Ming. Jadi sampai jumpa lagi, Nona Su."
Jiang Ming menganggukkan kepalanya sopan lalu berjalan keluar dari ruangan mewah tersebut.
Su Qingxue menatap punggung Jiang Ming yang menghilang di balik pintu dengan pandangan penuh teka-teki.
"Jiang Ming... pemuda yang sangat menarik," gumam Su Qingxue menyentuh dagunya perlahan.
"Pakaiannya lusuh, tetapi dia tidak menelan ludah sedikit pun saat melihat uang tiga ratus ribu yuan."
"Tuan Wu Ming ini... apakah dia benar-benar ada, atau itu hanyalah nama samaran dari pemuda itu sendiri?"
Insting tajam Su Qingxue sebagai seorang pebisnis mengatakan bahwa Jiang Ming menyembunyikan rahasia yang sangat besar di balik sikap tenangnya.
Sementara itu, Jiang Ming melangkah keluar dari Galeri Bintang Langit dengan dada membusung bangga.
Angin panas kota Jinhai kini terasa seperti hembusan angin surga di kulitnya.
"Tiga ratus ribu yuan sudah ada di tanganku," batin Jiang Ming sambil tersenyum lebar.
Dia mengeluarkan ponsel bututnya dan membuka aplikasi Toko Tiga Alam.
Uang ini harus segera diubah menjadi kekuatan nyata sebelum orang-orang serakah mulai mencium bau kekayaannya.
"Sudah waktunya aku meninggalkan lingkungan kumuh itu," tekad Jiang Ming dengan mata menyala terang.