Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bruk.
Buku tebal bersampul kulit itu jatuh berdebum ke atas karpet tebal.
"Postur tubuh Anda masih terlalu kaku, Nona Anya."
Suara Nyonya Martha terdengar dingin namun tidak lagi merendahkan seperti dulu.
Anya menghela napas panjang dan memijat lehernya yang terasa sangat pegal.
"Aku sudah berjalan memutar ruangan ini dua puluh kali, Nyonya Martha."
"Dan buku itu sudah jatuh lima belas kali dari atas kepala Anda," balas Nyonya Martha tanpa ampun.
Anya cemberut dan memungut buku tebal itu dari lantai.
Sudah tiga hari dia dikurung di dalam ruang perpustakaan rumah utama untuk belajar tata krama.
Mulai dari cara berjalan, cara memegang gelas anggur, hingga cara tersenyum palsu tanpa terlihat tegang.
Semua ini dia lakukan demi mempersiapkan diri menghadapi istri para pejabat kota besok malam.
"Coba lagi, angkat dagu Anda sedikit, dan tahan senyum Anda pada sudut empat puluh lima derajat."
Anya meletakkan kembali buku itu di atas kepalanya dan mulai berjalan perlahan.
Tap. Tap. Tap.
"Lebih anggun sedikit, bayangkan Anda sedang melayang, bukan sedang berbaris," tegur Nyonya Martha lagi.
"Kau terlalu keras padanya, Martha."
Suara bariton yang sangat familier itu membuat konsentrasi Anya seketika buyar.
Bruk.
Buku tebal itu kembali jatuh untuk yang keenam belas kalinya.
Anya menoleh dan melihat Kenji berdiri bersandar di ambang pintu perpustakaan.
Pria itu mengenakan kemeja santai berwarna biru tua yang lengannya digulung asal.
"Tuan Muda, ini demi kebaikan Nona Anya sendiri di pesta nanti," Nyonya Martha menunduk hormat.
"Aku tahu, tapi dia butuh istirahat, kau boleh pergi sekarang, Martha."
Nyonya Martha tidak membantah dan segera membereskan beberapa perlengkapan belajarnya.
"Baik, Tuan Muda, selamat beristirahat Nona Anya," pamit wanita paruh baya itu sebelum keluar.
Kriet. Blam.
Pintu perpustakaan ditutup rapat menyisakan mereka berdua saja di dalam ruangan luas itu.
Kenji berjalan mendekat dan memungut buku yang tadi dijatuhkan oleh Anya.
"Kau tidak perlu memaksakan diri sampai lehermu patah begitu," ucap Kenji sambil meletakkan buku itu di atas meja.
"Aku tidak mau mempermalukanmu di depan Nyonya Walikota nanti," jawab Anya sambil duduk menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Kenji ikut duduk di sofa seberang dan menatap Anya dengan intens.
"Sejak kapan kau peduli pada reputasiku?" goda Kenji dengan senyum miring.
"Sejak kau menjadikanku umpan untuk masuk ke sarang serigala berbulu domba itu," balas Anya sinis.
Kenji tertawa pelan mendengar sindiran tajam dari tunangannya.
Akhir-akhir ini Kenji memang lebih sering berada di rumah daripada mengurus markasnya.
Pria itu beralasan ingin mengawasi langsung keamanan rumah, padahal Anya tahu Kenji hanya ingin memantau perkembangannya.
"Pesta amal besok malam akan dihadiri oleh Nyonya Ratna, istri dari Walikota."
Kenji mulai masuk ke mode seriusnya dan menatap mata Anya lekat-lekat.
"Tugasmu hanya satu, buat dia menyukaimu dan undang dia untuk minum teh secara pribadi minggu depan."
"Kedengarannya mudah, tapi aku yakin Nyonya Ratna bukan orang yang sembarangan memilih teman," ucap Anya ragu.
"Gunakan Mata Elang milikmu untuk mencari tahu barang apa yang paling dia sukai atau perhiasan apa yang dia pakai."
Kenji mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyilangkan jari-jarinya.
"Lalu pujilah barang itu dengan sangat spesifik, wanita tua elit sangat menyukai pujian yang detail."
Anya mengangguk pelan mencerna taktik sederhana namun masuk akal tersebut.
[Pemberitahuan Sistem: Misi Utama Arc 2 Tahap Pertama Tersedia.]
[Tujuan: Dapatkan simpati dari Nyonya Ratna dan kumpulkan informasi awal.]
Anya mengabaikan tulisan biru yang melayang di udara itu dan memusatkan perhatiannya kembali pada Kenji.
"Lalu kau sendiri akan ada di mana saat aku sedang sibuk menjilat istri Walikota?" tanya Anya menyelidik.
"Aku akan datang terlambat karena ada pertemuan singkat dengan petinggi klan cabang."
"Tapi Bima akan mengawalnya dari luar gedung, dan dua pengawal wanita akan menyamar menjadi pelayan di dalam."
Anya menghela napas lega mendengar bahwa dia tidak benar-benar ditinggalkan sendirian.
"Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik besok malam," ucap Anya mantap.
Keesokan malamnya, sebuah hotel mewah di pusat kota disulap menjadi tempat pesta amal yang sangat glamor.
Mobil limosin klan Bratadikara berhenti tepat di depan pintu masuk utama yang dihamparkan karpet merah.
Anya turun dari mobil dengan balutan gaun malam berwarna hijau zamrud yang sangat elegan.
Gaun itu memeluk tubuhnya dengan pas dan membuat kulit putihnya terlihat semakin bersinar.
Banyak pasang mata yang langsung tertuju padanya saat dia melangkah masuk ke dalam aula pesta.
Anya menegakkan punggungnya dan memamerkan senyum empat puluh lima derajat hasil latihan kerasnya.
"Ternyata latihan menyiksa Nyonya Martha sangat berguna sekarang," batin Anya penuh syukur.
Dia mengambil segelas sampanye dari nampan pelayan yang lewat dan mulai membaur dengan tamu lain.
Mata Elang miliknya langsung aktif menyisir ke seluruh penjuru ruangan besar itu.
Pandangannya berhenti pada seorang wanita paruh baya yang dikelilingi oleh banyak ibu-ibu pejabat lainnya.
Wanita itu mengenakan gaun sutra emas dan terlihat sangat mendominasi percakapan.
"Itu pasti Nyonya Ratna," tebak Anya dalam hati.
Anya berjalan mendekati kelompok sosialita itu dengan langkah yang anggun namun tidak terburu-buru.
Tap. Tap.
Dia berhenti di dekat mereka seolah sedang mengagumi lukisan yang dipajang di dinding.
"Oh, lihat siapa yang datang, ini adalah Nona Anya kan?" sapa seorang wanita berbaju merah yang mengenali wajahnya.
"Tunangannya Tuan Muda Kenji dari klan Bratadikara," tambah wanita yang lain dengan nada sedikit berbisik.
Nyonya Ratna menghentikan obrolannya dan menoleh menatap Anya dari atas sampai bawah.
"Selamat malam, Nyonya-nyonya, suatu kehormatan bisa berada di sini," sapa Anya dengan sopan.
Nyonya Ratna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat menilai.
"Klan Bratadikara jarang sekali mengirimkan perwakilan wanitanya di acara amal seperti ini," ucap Nyonya Ratna terdengar sedikit meremehkan.
"Kenji sangat sibuk mengurus bisnis, jadi saya yang mengajukan diri untuk mewakilinya, Nyonya Ratna."
Anya memusatkan Mata Elangnya pada sebuah bros berlian berbentuk kupu-kupu yang terpasang di gaun Nyonya Ratna.
Anya bisa melihat inisial pembuat perhiasan itu terukir sangat kecil di balik sayap kupu-kupu tersebut.
"Itu bros karya desainer Eduard dari Paris kan, Nyonya Ratna?" tanya Anya dengan wajah kagum yang dibuat-buat.
Nyonya Ratna sedikit melebarkan matanya karena terkejut.
"Potongan berlian birunya sangat rapi, saya dengar Eduard hanya membuat tiga buah di seluruh dunia."
Anya mengucapkan informasi acak yang berhasil dia rangkai dari detail yang dilihatnya.
Wajah Nyonya Ratna seketika berubah menjadi jauh lebih ramah dan antusias.
"Kau benar sekali, Nona Anya, matamu sangat jeli," puji Nyonya Ratna sambil memegang brosnya dengan bangga.
"Suamiku memenangkannya di pelelangan tertutup bulan lalu khusus untuk ulang tahun pernikahan kami."
Ibu-ibu lain di sekeliling mereka langsung ikut memuji bros tersebut agar tidak kalah saing.
Anya tersenyum tipis dalam hati karena taktik yang diajarkan Kenji bekerja dengan sangat sempurna.
[Peringatan: Target terpesona dengan pengetahuan Anda. Afeksi Nyonya Ratna +10.]
"Saya juga sangat menyukai perhiasan klasik, mungkin suatu saat Nyonya Ratna bersedia membagikan koleksi lainnya pada saya?" pancing Anya halus.
"Tentu saja, sayangku, kau harus datang minum teh di kediamanku minggu depan," jawab Nyonya Ratna tanpa ragu.
Anya mengangguk hormat, misi pertamanya berhasil dia selesaikan dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Namun saat Anya hendak memundurkan diri dari kelompok itu untuk bernapas, seseorang tiba-tiba menghalangi jalannya.