Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Menuju Kampung Pitu

Tiga hari setelah pertemuan itu, seluruh persiapan keberangkatan telah selesai. Dua kendaraan terparkir rapi di halaman kantor produksi: satu mobil van berwarna putih yang penuh sesak dengan peralatan syuting, dan satu mobil penumpang berwarna hitam untuk membawa kru dan perlengkapan pribadi. Pagi itu langit masih berawan tipis, namun suasana di sekitar kendaraan itu terasa padat dan sibuk. Sembilan orang yang akan menjalani perjalanan ini sudah berkumpul, masing-masing dengan tugas dan tanggung jawabnya sendiri. Tidak sedikit pun yang terlihat santai — semua tahu, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan kerja biasa.

Raka berdiri di samping pintu bagasi mobil van, memeriksa daftar perlengkapan yang ia pegang di tangan untuk ketiga kalinya. Ia memastikan tidak ada satu pun alat penting yang tertinggal. Kamera, tripod, lampu sorot, mikrofon, baterai cadangan, dan peralatan pendukung lainnya semuanya sudah tercatat. Wajahnya tampak tenang, namun matanya yang menatap jauh ke depan menyembunyikan kegelisahan yang semakin lama semakin kuat tumbuh di dalam dadanya. Sejak pertama kali melihat rumah itu di foto yang dikirim teman, sesuatu di dalam dirinya terus berbisik, memanggil-manggil namanya tanpa suara, seakan tempat itu sudah menunggunya sejak lama sekali.

Laras keluar dari pintu gedung, berjalan pelan membawa tas bahu kecil di bahu kanannya. Langkahnya terlihat agak lambat, dan wajahnya yang biasanya ceria tampak sedikit pucat pagi itu. Semalaman ia terbangun berkali-kali karena mimpi yang sama terus berulang tanpa henti: sebuah jendela besar di lantai dua rumah tua itu, dan sosok samar yang berdiri diam di balik kaca, seakan menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Ia tidak tahu mengapa hal itu begitu mengganggunya, bahkan ia sempat berpikir untuk membatalkan keikutsertaannya. Namun saat fajar menyingsing, sesuatu di dalam hatinya berkata bahwa ia harus tetap pergi. Bahwa tempat itu membutuhkannya, dan ia pun butuh pada tempat itu.

"Semua sudah siap?" tanya Bu Sari, sutradara sekaligus produser film itu, sambil menutup pintu bagasi mobil penumpang dengan gerakan mantap. Suaranya terdengar berusaha tegas dan mengendalikan suasana, namun nada bicaranya menyembunyikan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Kita benar-benar tidak bisa mempertimbangkan kembali? Tempat itu belum pernah ada kru syuting yang masuk, dan kabarnya aturan di sana sangat ketat. Aku tidak ingin kalian semua dalam bahaya."

"Kita sudah berjanji, Bu," jawab Raka lembut namun tegas, matanya menatap lurus ke arah sutradaranya. "Dan kita juga sudah sepakat sejak awal. Kalau di sana terasa benar-benar tidak benar, kalau ada tanda-tanda yang tidak wajar, kita pulang. Tanpa menunda, tanpa memaksakan keadaan. Saya janji."

Perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta memakan waktu berjam-jam. Jalanan yang mulus perlahan berubah menjadi jalan berkelok-kelok yang menanjak dan menurun, menembus perbukitan hijau yang semakin rapat. Di dalam dua mobil itu, suasana sebagian besar hening. Tidak ada yang berbicara banyak. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, memikirkan keputusan yang telah mereka ambil, dan tempat yang akan mereka tuju. Budi, pengarah kamera, sesekali berbicara dengan Eko, asisten sutradara, tentang rencana pengambilan gambar dan sudut pandang yang akan digunakan nanti. Maya, penata busana, dan Tika, manajer produksi, sibuk memeriksa kelengkapan kostum, bahan rias, serta kebutuhan makan dan minum selama di lokasi. Rian, penata suara, sesekali menguji peralatan rekamannya, memastikan semuanya berfungsi dengan baik sebelum tiba di lokasi yang sinyalnya belum tentu stabil. Semua terlihat profesional dan teratur, namun di balik kesibukan itu, ada ketegangan halus yang terasa di udara. Semakin jauh mereka meninggalkan keramaian kota, semakin kuat perasaan bahwa sesuatu yang besar dan tak terduga sedang menanti mereka di sana.

Sesampainya di penginapan yang terletak di kaki bukit, matahari sudah mulai turun ke arah barat. Penginapan itu sederhana, milik warga setempat, dan letaknya agak jauh dari keramaian desa. Bangunannya terbuat dari kayu dan batu alam, berpadu dengan pepohonan rindang di sekelilingnya. Sore itu, setelah beristirahat dan makan sejenak, Raka mengajak seluruh kru duduk bersama di beranda yang menghadap ke arah bukit yang menjadi tujuan mereka. Dari kejauhan, di balik kabut tipis yang mulai turun, siluet rumah kedelapan itu samar terlihat berdiri tegak di antara pepohonan, seakan mengawasi siapa saja yang berani mendekat.

"Besok pagi-pagi sekali kita naik ke sana," ucap Raka pelan namun tegas, matanya menatap ke arah bukit itu. "Kita akan menemui kepala adat atau warga tertua di sana untuk meminta izin terlebih dahulu. Kita tidak akan melangkah masuk sebelum mendapat izin dan berbicara panjang lebar dengan mereka. Kita harus menghormati aturan tempat itu, apa pun aturannya, sekalipun itu terasa aneh bagi kita. Dan satu hal lagi yang tidak boleh kalian lupakan: jangan sembarangan menyentuh benda apa pun di dalam rumah, jangan membuang apa pun sembarangan, jangan mengambil sesuatu dari tempat itu, dan jangan melanggar batas yang ditentukan warga. Kita tamu di sana, dan tamu harus tahu diri."

Malam itu, suasana di penginapan terasa lebih hening dari biasanya. Angin malam berhembus kencang di antara pepohonan, menciptakan suara desiran yang terdengar seperti bisikan-bisikan panjang. Laras kembali terbangun berkali-kali, berkeringat dingin, karena mimpi yang sama terus berulang tanpa henti. Di luar, langit bersih tanpa awan, bulan purnama bersinar terang benderang, menerangi jalan setapak yang akan mereka lalui esok pagi. Dan di atas bukit itu, rumah kedelapan itu berdiri sunyi dan sendirian di bawah cahaya bulan. Jendelanya yang besar memantulkan cahaya itu, seakan sepasang mata raksasa yang terbuka lebar dan tak pernah terpejam, menyadari bahwa akhirnya, orang-orang yang ia tunggu selama bertahun-tahun itu telah tiba.

Keesokan paginya, sebelum matahari terbit sepenuhnya, mereka sudah bersiap berangkat. Langit masih berwarna ungu pucat bercampur jingga di ufuk timur, dan udara pagi terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang. Mereka berjalan kaki menanjak perlahan menuju kawasan itu, membawa barang-barang secukupnya, berusaha tidak menimbulkan keributan atau suara yang berlebihan. Semakin dekat mereka, semakin sepi suasana di sekitar mereka. Tidak ada suara burung berkicau, tidak ada suara serangga pagi, hanya suara langkah kaki mereka di atas tanah dan bebatuan yang berderit pelan. Hening yang begitu dalam, seakan alam di sekitar itu menahan napas menyambut kedatangan mereka.

Hingga akhirnya, mereka tiba di batas kawasan itu. Di sana, tersusun berdekatan tujuh rumah yang sederhana namun terawat dengan baik, berjejer rapi seakan menjaga sesuatu di belakangnya. Dan di ujung paling jauh, terpisah sedikit dari ketujuh rumah itu, berdiri rumah kedelapan. Berlantai dua, kokoh namun terabaikan, dindingnya tampak kusam dan jendelanya besar menatap lurus ke arah mereka seakan menyambut sekaligus memperingatkan agar tidak melangkah lebih jauh. Dan di depan rumah-rumah itu, seorang lelaki tua berdiri diam menunggu. Itu adalah lelaki yang ditemui Raka beberapa hari sebelumnya. Ia berdiri tegak, punggungnya tidak membungkuk meski usianya sudah lanjut, dan menatap mereka dengan tatapan yang begitu dalam seakan sudah mengetahui segala sesuatu tentang mereka. Di sampingnya berdiri seorang wanita paruh baya yang menatap mereka dengan tatapan campuran antara rasa ingin tahu yang besar dan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

"Kalian akhirnya datang juga," ucap lelaki tua itu pelan, suaranya terdengar berat namun tenang, seakan setiap kata yang diucapkannya memiliki makna yang dalam. "Dan kalian membawa banyak orang. Ingat pesanku: semakin banyak orang yang datang, semakin hati-hati harus kalian bersikap. Karena di sini, setiap langkah yang salah bisa berakibat lebih dari sekadar kesalahan biasa." jelas lelaki tua itu.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!