Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 MEREKA TAK BERSATU

Bara duduk di balik meja kerja dari kayu mahoni, sebuah map terbuka di hadapannya. Bramantyo berdiri di dekat jendela, kedua lengan bersedekap di dada, dengan raut yang tak Maya lihat selama berminggu-minggu.

Bukan kepasrahan. Melainkan tekad.

"Maya," kata Bara sambil mengangkat pandangannya. "Duduklah. Ini menyangkut dirimu."

Maya menurut, mengambil tempat di salah satu kursi kulit di depan meja.

"Ada apa?" tanyanya sambil menatap ayahnya.

Bramantyo mengembuskan napas. Ia mengusap rambutnya yang kini hampir seluruhnya memutih, lalu menjatuhkan diri ke kursi di samping jendela.

"Kami sedang membicarakan pamanmu," katanya. "Mahendra."

Nama itu jatuh ke dalam ruangan bagai batu ke kolam. Maya merasakan kebencian menggelegak di dadanya, panas dan getir.

"Apa lagi yang perlu dibicarakan? Kita sudah tahu dia pengkhianat. Kita sudah tahu dia terlibat perdagangan narkoba. Kita sudah tahu dia menginginkan kita mati. Apa lagi yang perlu kita ketahui?"

Bara menutup map itu dan menatap Maya lekat-lekat.

"Kita perlu tahu bagaimana rencananya bergerak. Dan untuk itu, kita butuh informasi yang dimiliki ayahmu tentang perusahaan-perusahaan itu. Para kontak, para pemasok, para klien. Semua yang bisa jatuh ke tangan Mahendra ketika ayahmu ditahan."

Bramantyo mengangguk, meski dengan kejijikan yang jelas terlihat.

"Aku tak suka mengakuinya," katanya, "tapi Prakoso benar. Aku tahu isi perut bisnis itu lebih baik dari siapa pun. Kalau Mahendra memakai perusahaan-perusahaan itu untuk mencuci uang, aku bisa menunjukkan pada kalian dari mana dia bernapas."

Maya menatap ayahnya. Lalu ia menatap Bara. Ada sesuatu yang baru dalam cara keduanya saling memandang. Bukan persahabatan, bahkan bukan pula simpati. Melainkan rasa hormat. Rasa hormat yang enggan, yang lahir dari pertempuran semalam.

"Kalian berdua sepakat?" tanya Maya, tak percaya.

"Tidak," jawab keduanya serempak.

Lalu mereka saling pandang, dan sesuatu semacam percik humor yang sama-sama mereka rasakan melintas di antara keduanya.

"Kami tidak sepakat dalam hal apa pun," Bramantyo menjelaskan. "Tetapi kami sepakat bahwa Mahendra adalah ancaman. Dan bahwa dia harus dihentikan. Itu sudah cukup untuk saat ini."

Bara membuka map itu dan mengeluarkan sebuah peta kota, dipenuhi tanda titik merah dan catatan dalam tulisan kecil.

"Kakak Anda punya tiga gudang di pelabuhan," katanya sambil menunjuk titik-titik itu. "Dua atas nama perusahaan fiktif. Yang ketiga, anehnya, atas nama istri pengacaranya. Itu tidak melanggar hukum, tapi mencurigakan. Kalau kita berhasil membuktikan gudang-gudang itu dipakai untuk menyelundupkan barang ilegal, kita bisa mengajukan surat perintah penggeledahan."

Bramantyo mendekat ke peta, menelaahnya dengan mata seorang ahli.

"Gudang utara pelabuhan," katanya sambil menunjuk sebuah titik. "Dulu itu yang paling aman. Ayahku membangunnya dengan dinding yang diperkuat. Kalau Mahendra menyembunyikan sesuatu, pasti di situ."

"Bagaimana kita masuk?" tanya Bara.

"Bukan kita. Aku yang masuk. Aku punya kuncinya. Ayahku memberikannya padaku sebelum meninggal. Mahendra tak pernah tahu kunci itu ada."

Bara menatapnya dengan pandangan yang baru.

"Anda punya kuncinya?"

"Yang asli, ya. Tersimpan di tempat yang bahkan tak diketahui adikku. Aku bisa masuk ke gudang itu tanpa memicu alarm. Tetapi aku butuh seseorang untuk menjaga punggungku. Aku tak lagi muda atau gesit."

"Aku yang menjaga Anda," kata Bara, tanpa ragu. "Tapi tidak malam ini. Aku perlu menyusun rencana. Dan aku perlu Anda memberitahuku semua detail soal keamanannya. Kamera, kode, penjaga."

Bramantyo mengangguk.

"Sore ini. Setelah makan siang."

Maya mengamati mereka seakan sedang menonton film asing tanpa terjemahan. Ayahnya, lelaki yang pernah menyebut Bara "penjahat" dan "mafioso", kini merancang sebuah operasi bersamanya. Ayahnya, yang telah bersumpah tak akan berutang apa pun pada siapa pun, kini menawarkan kunci perusahaannya sendiri.

"Aku tidak mengerti apa-apa," kata Maya, dengan jujur. "Seminggu lalu kalian saling benci. Sekarang kalian... rekanan?"

"Bukan," jawab Bramantyo. "Kami masih saling benci. Tapi musuh dari musuhku adalah temanku. Dan pamanmu adalah musuh kami berdua."

Bara mengangguk.

"Kalau semua ini selesai, kami akan kembali saling benci sebagaimana mestinya. Tetapi untuk sementara, kami bekerja sama."

Maya menggeleng, tetapi tak bisa menahan senyum kecil.

"Kalian berdua sudah gila."

"Betul sekali," jawab Bara, dengan senyum tajam yang mulai terasa akrab bagi Maya. "Tetapi tidak segila itu sampai mau kalah."

* * *

Sore itu juga, ponsel Bara berdering membawa kabar yang tak seorang pun sangka.

Pers telah mengendus soal serangan itu.

Tentu saja tidak semua detailnya. Bukan darahnya, bukan korban tewasnya, bukan para penyusup yang ditangkap. Tetapi seseorang telah membocorkan bahwa "pelanggaran keamanan" terjadi di mansion Prakoso, dan bahwa istri baru sang pengusaha—begitulah media menyebut Bara, pengusaha, seolah kata itu bisa menghapus masa lalunya—sempat berada dalam bahaya.

"Ini ulah Mahendra," kata Bara sambil membanting ponsel ke meja. "Dia yang membocorkannya. Dia ingin pers menekan kita. Dia ingin kita bicara. Dia ingin kita membela diri, karena ketika kita membela diri, kita melakukan kesalahan."

"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Maya, jantungnya berdegup kencang.

Bara menatapnya.

"Konferensi pers. Besok pagi-pagi sekali. Kamu dan aku. Berdua saja. Menunjukkan bahwa kita bersatu."

"Bersatu?" Maya melepaskan tawa gugup. "Kita bukan satu kesatuan. Kita cuma sebuah perjanjian."

"Itu kita yang tahu. Mereka tidak. Yang mereka lihat cuma seorang perempuan cantik di gandengan seorang lelaki berkuasa. Itulah yang perlu mereka lihat. Itulah yang akan kita tunjukkan pada mereka."

Bramantyo, yang duduk di kursi tak jauh dari situ sambil membaca dokumen, mengangkat pandangannya.

"Konferensi pers? Apa itu perlu?"

"Perlu," jawab Bara. "Kalau bukan kita yang bicara, Mahendra yang akan bicara. Dan apa pun yang dia katakan pasti lebih buruk."

Maya menarik napas dalam-dalam.

"Baiklah. Kita akan bicara. Tapi aku ingin tahu apa yang harus kukatakan. Aku tak mau berdiri di depan wartawan lalu bicara asal-asalan."

Bara mengangguk, dengan gerak yang mungkin bisa disebut persetujuan.

"Malam ini kita berlatih."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!