Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.
Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.
Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.
Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.
Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Tidak Disadari
Dapat dipastikan bahwa setelah malam itu dan segala perbincangannya dengan Rozen di tangga, Aurora memang kesulitan terpejam. Aurora bahkan tidur cukup larut hingga membuatnya masih sangat mengantuk pagi ini.
Tapi cahaya matahari yang menyusup melalui celah tirai kamarnya dan membentuk garis-garis keemasan di atas lantai memaksa Aurora untuk segera bangun.
Aurora merasakan udara pagi terasa sejuk setelah hujan yang turun semalaman. Pagi itu disambut kicau suara burung dari taman walau terdengar samar di balik jendela.
Wanita itu perlahan membuka mata dan menghabiskan beberapa detik hanya menatap langit-langit kamar. Ia jelas masih merasa mengantuk. Tetapi begitu kesadarannya kembali, ingatan tentang kejadian semalam tiba-tiba muncul begitu saja.
Kilas tentang pertemuan dengan keluarga suaminya, tatapan penuh keraguan orang-orang Salvadore, pertanyaan Marco yang sungguh diluar perkiraan sampai pada percakapannya dengan Rozen di tangga.
Aurora menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Pipinya terasa panas hanya dengan mengingatnya. Nyonya Salvadore itu merasa malu mengingat perkataannya sendiri. Apalagi memikirkan cara pria itu menatapnya.
"Mungkin karena suamiku ternyata memperhatikanku."
Aurora menahan jeritnya. "Kenapa aku bisa mengatakan itu?"
Aurora kembali memikirkan perbuatan cerobohnya. Karena percakapan singkat itu sebenarnya sederhana, tetapi terus terbayang di kepalanya. Aurora menggelengkan kepalanya cepat, menghentikan pikirannya berkelana terlalu jauh.
Aurora menggeliat kecil di atas tempat tidur, kemudian menutup wajah dengan kedua tangan. Seharusnya ia tidak perlu merasa semalu ini. Aurora juga tahu Rozen bahkan tidak berniat mengatakan sesuatu yang istimewa.
Suami dinginnya itu hanya mengingatkan hal dasar agar tidak tidur terlalu larut dan tidak pergi ke taman sendirian. Sebenarnya bukan hal yang istimewa. Namun bagi Aurora, malam itu ia merasa bahwa Rozen benar-benar memperhatikannya setelah selama ini hanya diperlakukan baik hanya karena memenuhi tanggung jawab semata.
Aurora kembali menggelengkan kepala merasa bahwa pikirannya sudah semakin tidak bisa dikendalikan.
"Sudahlah, Aurora. Berhenti berperilaku bodoh yang berakhir mempermalukan dirimu sendiri."
Aurora berkata tegas pada dirinya sebelum akhirnya bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
...***...
Aurora dengan gaun sederhananya berwarna kuning lembut segera turun menuju lantai bawah. Tujuannya adalah ruang makan karena dirinya harus sarapan dengan Rozen. Rutinitas pagi yang tidak boleh dilewatkan. Setidaknya begitulah yang Aurora pikir setelah resmi menjadi istri Rozen Salvadore.
Tapi pada langkah pertamanya, Aurora diam membeku. Ia mendadak berhenti karena Rozen berdiri di bawah sana.
Pria itu sedang berbicara dengan salah seorang pelayan, mengenakan setelan hitam yang membuat sosoknya terlihat begitu berwibawa.
Aurora membeku. Sungguh, Aurora tidak mengerti kenapa ingatan tentang semalam selalu saja muncul di benaknya. Kemudian setelah itu pipinya juga seketika memanas.
"Astaga! Tenanglah sedikit, Aurora!”
Rozen di bawah menyadari kehadiran sosok istrinya. Pria itu mengangkat wajah dan tatapan mereka bertemu. Aurora melemparkan senyuman walau terlihat begitu kaku.
Untuk beberapa detik, Aurora hanya berdiri diam di anak tangga. Perbuatannya itu melahirkan kebingungan hingga Rozen mengernyit sedikit.
"Kenapa berhenti?" tanya Rozen singkat.
Aurora langsung mengalihkan pandangan. Tersadar telah bertatapan cukup lama.
"Tidak." Aurora buru-buru menuruni tangga. Sayangnya, semakin dekat jaraknya dengan Rozen, semakin gugup perasaannya.
"Selamat pagi," ucap Aurora pelan.
"Pagi."
Jawaban Rozen terdengar biasa saja, tanpa adanya perubahan ekspresi. Dan juga tidak ada tanda bahwa pria itu mengingat percakapan mereka semalam.
Aurora justru semakin malu karena hanya dirinya seorang yang mengingatnya dan dibuat gila setelahnya. Aurora tidak mendustai perasaannya bahwa dirinya juga sedikit kecewa.
Namun apa yang diharapkan dari semua itu? Bahwa Rozen tiba-tiba jatuh cinta padanya? Mustahil.
Aurora berjalan melewati Rozen sambil berpura-pura tenang. Dan baru beberapa langkah, suara Rozen terdengar dari belakang.
"Kau baik-baik saja?"
Aurora berhenti untuk menoleh dengan senyum kecil yang terasa canggung.
"Hm... Aku baik," jawab Aurora cepat seolah apa yang diucapkannya sesuai dengan apa yang dirasakannya.
Tapi Aurora mendadak salah tingkah begitu Rozen memperhatikannya beberapa detik.
"Kau terlihat gugup."
"Aku tidak gugup."
Jawaban itu terlalu cepat. Aurora pun menyesal telah bereaksi seperti itu. Dan lihat bagaimana Rozen menanggapi dengan mengangkat satu alisnya.
Aurora menundukkan wajah dan bergumam, "Aku hanya belum terbiasa."
"Terbiasa dengan apa?"
Aurora menghentikan niatnya menjawab padahal mulutnya sudah sempat terbuka.
"Denganmu." Aurora ingin mengatakannya. Lantang. Tapi jawaban itu hanya akan berputar di kepala selamanya. Tentu saja tidak mungkin Aurora mengatakannya.
"Aku belum terbiasa tinggal di sini."
Rozen hanya mengangguk. "Kalau begitu biasakan."
Aurora tidak menimpali lagi. Bukan karena tidak ingin, tapi karena tidak sanggup menahan debaran menyebalkan di dadanya. Untungnya Rozen pun hanya berjalan melewatinya.
Aurora berdiri diam beberapa detik sebelum tanpa sadar tersenyum kecil setelah memikirkan kalimat sederhana yang terdengar seperti sebuah izin itu. Izin untuk mulai merasa bahwa mansion ini adalah rumahnya. Dan mungkin juga untuk mulai terbiasa dengan keberadaan pria yang kini menjadi suaminya.
Selama Rozen Salvadore memperlakukannya dengan baik, itu sudah cukup.
...***...
Mereka akhirnya berada di ruang makan. Seperti biasa, berdua dan sarapan bersama.
Rozen juga seperti biasa, sedang membaca koran sambil menikmati sarapan.
Aurora sempat ragu dan teringat bagaimana beberapa hari lalu mereka sarapan dalam keheningan yang terasa canggung seperti ini. Sejujurnya Aurora tidak menyukai hal itu tapi pada akhirnya ia menarik kursi dan duduk di tempat yang sama.
Rozen menurunkan korannya sedikit dan mendapati Aurora sudah duduk di kursinya, di sebelah kanannya. Tidak ada kata yang terucap. Hanya satu lirikan singkat kemudian kembali membaca halaman korannya.
Aurora tersenyum kecil saat seorang pelayan segera menuangkan teh ke dalam cangkirnya. Aurora hendak mengambil roti ketika Rozen berkata, "Kau tidur larut."
Tangan Aurora berhenti lalu menoleh pada suaminya. "Bagaimana kamu tahu?"
"Aku melihat lampu kamarmu masih menyala."
Pria itu kembali membaca korannya seolah perkataan tadi tidak memiliki arti apa-apa. Tapi Aurora justru punya pemikiran berbeda.
"Kamu memperhatikan lampu kamarku?" tanya Aurora penasaran.
Rozen membalik halaman koran dengan gerakan terlalu santai.
"Mansion ini besar. Aku harus tahu keadaan penghuninya." Jawaban yang sangat Rozen. Rasional tanpa melibatkan perasaan.
Aurora menahan senyumnya setelah terbawa kembali ke kenyataan. Suaminya adalah Rozen Salvadore. Pria yang menikahinya sebagai pengantin pengganti.
"Ohh." Aurora mengambil rotinya.
Baru beberapa detik berlalu, Rozen berkata lagi, "Jangan terlalu sering pergi ke taman sendirian malam-malam."
Aurora mengangkat wajah. "Kenapa?"
"Jalur menuju taman belakang cukup gelap," ucap Rozen seadanya.
Aurora mengangguk. "Aku akan berhati-hati."
Rozen kembali diam sementara Aurora menatap sarapannya sambil tersenyum kecil. Kepalanya sibuk berpikir, apakah semua perkataan suaminya itu benar-benar hanya tanggung jawab semata.
Aurora ingin mengusir segala perasaan asing yang dirasakannya setiap kali perhatian kecil itu tercipta. Seolah-olah Rozen memang mulai memperhatikannya. Padahal Aurora tahu, bagi pria itu semuanya hanyalah bentuk kewajiban semata.
"Aku akan ke taman menemani Bibi Rosa."
Rozen mengangguk singkat. "Silahkan."
Setelah sarapan, Aurora segera menuju taman bunga. Di sana ia menemukan Bibi Rosa sedang merawat beberapa tanaman.
"Selamat pagi, Bibi," sapa Aurora lembut.
Bibi Rosa menoleh dan tersenyum. "Selamat pagi, Nyonya Salvadore."
Aurora langsung mengerucutkan bibir. Memperlihatkan pemberontakannya yang lucu.
"Bibi masih memanggilku Nyonya?"
"Memangnya salah?" ucap Bibi Rosa kemudian.
"Aku merasa seperti orang asing."
Bibi Rosa terkekeh. "Kalau begitu Anda harus membiasakan diri."
Aurora tersenyum kecut karena pagi ini dirinya sudah dituntut oleh dua orang untuk segera terbiasa dengan status barunya.
"Baiklah." Kemudian Aurora mengambil gunting kecil dari meja. "Biarkan aku membantu," pintanya kemudian.
"Jangan." Bibi Rosa langsung menarik tangan Aurora. "Kemarin Nona Aurora sudah membantu terlalu banyak."
"Aku tidak keberatan," timpal Aurora tidak mau kalah.
"Saya yang keberatan," balas Bibi Rosa lebih tegas.
Aurora tertawa kecil. Akhirnya mereka berjalan berdampingan menyusuri taman. Tidak ada yang bekerja membereskan taman.
Aurora merasa bahagia. Ada Bibi Rosa dan ada taman bunga. Juga beberapa orang mulai mengajaknya berbicara, termasuk Rozen yang perlahan mulai memperhatikannya.
Aurora tidak tahu apakah semua itu akan bertahan lama. Ia juga tidak tahu apakah suatu hari nanti Rozen akan benar-benar melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar pengganti.
Dan untuk saat ini, Aurora memilih menikmati setiap hal kecil yang membuatnya merasa diterima.
...***...
Berpaling ke sudut lain, di lantai dua mansion, Rozen berdiri di balik jendela ruang kerjanya. Saat itu pandangannya jatuh ke taman, menyaksikan Aurora yang tertawa bersama Bibi Rosa.
Sudut bibirnya hampir bergerak, tetapi segera kembali datar. Pria berekspresi datar itu menghela napas dan kembali menuju meja kerjanya karena ada banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan.
Namun beberapa menit kemudian, tanpa sadar pandangannya kembali mengarah ke jendela, lalu ke taman. Ke wanita yang kini telah menjadi istrinya.
...^^^***^^^...