Indonesia
NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:34.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Bertemu Shasa

Bel pulang sudah berbunyi. Anak-anak pun mulai berhamburan meninggalkan kelasnya masing-masing. Namun, tidak dengan Azmira. Anak itu baru beranjak dari bangkunya ketika ruang kelas mulai kosong. Ia segera menghampiri Ibu Sinta, guru Bahasa Indonesia yang tadi sempat memberikan nasihat baik untuk dirinya.

Melihat Mira berjalan ke arahnya, Ibu Sinta mulai bertanya. “Mira, kenapa tidak pulang cepat?”

Anak itu menggeleng pelan. “Mira mau bantu Ibu Guru membersihkan meja,” ujarnya.

“Enggak usah, Nak. Ini sudah menjadi tugas Ibu,” sahut Ibu Sinta.

Mira terdiam. Namun dari gelagatnya terlihat jelas kalau anak itu tidak ingin menyerah begitu saja.

“Bu, boleh ya Mira bantu Ibu sekali ini saja? Kan tadi Ibu sudah bantuin Mira.”

Ibu Sinta yang sedang menata buku menghentikan pergerakan tangannya.

“Nak, apa yang Ibu lakukan tadi sudah menjadi tanggung jawab Ibu. Mira tidak boleh merasa tidak enak sama Ibu.”

“Aku tahu,” jawab Azmira.

“Lalu?”

“Karena Mira tahu, makanya Mira mau bantuin Ibu Guru.”

Ibu Sinta menatap anak itu dengan tatapan heran. “Enggak usah, Nak. Ibu Guru bisa sendiri.”

Seketika wajah Mira terlihat murung. Entah kenapa, setiap kali permintaannya ditolak, anak itu selalu merasa sedih. Bukan karena ia ingin mendapatkan sesuatu dari bantuannya, tetapi sejak kecil Mira memang terbiasa rajin dan ringan tangan. Ia tidak pernah merasa keberatan membantu orang lain.

“Bu, kali ini saja izinkan Mira membantu Ibu,” pintanya sekali lagi.

Melihat wajah Azmira yang mulai murung, akhirnya Ibu Sinta mengalah. “Baiklah. Mira boleh bantu Ibu, tapi yang ringan-ringan saja, ya.”

Mira langsung mengangguk antusias. “Iya, Bu!”

Tangan kecilnya mulai membawa beberapa tumpukan buku untuk dipindahkan ke ruang guru. Senyum riang kembali terpancar di wajahnya.

Sementara Ibu Sinta yang melihat ketulusan Azmira hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hati wanita itu berdoa.

Anak ini memang baik. Semoga suatu hari nanti cita-cita yang selama ini diinginkannya bisa terwujud.

Setelah selesai membantu Ibu Sinta, entah kenapa perjalanan pulang terasa lebih ringan bagi Mira. Ada rasa lega di dalam hatinya karena hari itu ia kembali bisa membantu seseorang.

Mira mengayuh sepedanya cukup kencang. Angin siang menerpa wajah lelahnya, membuat beberapa helai rambut yang keluar dari ikatannya bergerak mengikuti arah angin.

Namun, baru beberapa meter meninggalkan sekolah, kayuhan Mira perlahan melambat. Dari kejauhan ia melihat tiga anak laki-laki berada di tanah lapang yang cukup sepi.

Di antara mereka ada seorang anak perempuan yang terlihat sedang menangis. Mira langsung menghentikan sepedanya. Ia turun dan memarkirkannya di pinggir jalan.

Tanpa berpikir panjang, gadis kecil itu berjalan mendekati mereka. “Hei! Kalian kenapa bikin Kakak ini menangis?” seru Mira.

Ketiga anak laki-laki itu menoleh. Salah satunya mendengus. “Jangan ikut campur!”

“Aku enggak akan ikut campur kalau kalian enggak gangguin Kakak ini.”

Anak laki-laki bertubuh paling besar maju beberapa langkah. “Oh, jadi kamu mau main-main sama aku?”

Mira tidak mundur. Tubuhnya memang jauh lebih kecil dibandingkan anak itu, tetapi tatapan matanya tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.

“Aku cuma bilang jangan gangguin dia.”

Anak itu terkekeh. “Berani sekali kamu.”

Ia kemudian menunjuk ke arah anak perempuan yang sejak tadi menangis. “Dia saja enggak punya keberanian buat melawan kami.”

Mira menoleh kepada anak perempuan itu. Wajahnya basah oleh air mata. Seragamnya terlihat sederhana. Tas yang dibawanya juga sudah tampak lama.

Namun bukan itu yang membuat Mira merasa kasihan. Ia melihat bagaimana anak itu terus menundukkan kepalanya, seolah berharap dirinya bisa menghilang dari tempat tersebut.

“Kalian ngapain dia?” tanya Mira lagi.

Salah satu anak laki-laki tertawa. “Kami cuma bercanda.”

“Kalau bercanda kenapa Kakak menangis?”

“Biar saja.”

Anak yang paling besar kemudian berkata dengan nada mengejek. “Dia memang gampang nangis. Lagian siapa suruh dia gak mau ngerjain tugas kita."

Mira mengerutkan kening. “Hah, kalian bertiga! Badan saja besar tapi otaknya kecil."

“Bukan urusanmu.”

“Ya jelas itu urusanku, kalian sudah membully anak yang tidak mau mengikuti perintah kalian, memangnya kalian siapa?" desak Mira.

Anak itu terdiam beberapa saat. Kemudian ia menjawab dengan santai.

“Sudah kamu pulang saja dari pada nanti giliranmu yang kami bully," ujar anak itu dengan santai.

"Aku tidak takut melawan kalian bertiga, justru kalian yang harus pergi sebelum aku memanggil warga setempat.

Ketiga anak itu langsung menjawab ucapan Mira dengan gelak tawa yang begitu kencang. "Kamu mau panggil warga silahkan saja, lagian mana ada warga yang mau bantuin dia, anak tanpa ayah."

Deg! Seketika Mira membeku, bukan karena takut pada ketiga anak itu melainkan karena kata-kata terakhirnya begitu dekat dengan kehidupan pribadinya.

Sementara teman-teman yang lainnya masih tertawa. “Kasihan banget.”

"Enggak punya ayah.”

“Makanya jangan sok!”

Mira masih terdiam seolah ikut mencerna ejekan demi ejekan yang terlontar dari mulut ketiga anak itu. Entah kenapa kata-kata itu terasa berbeda di telinganya.

Ia menatap anak perempuan di hadapannya. Gadis itu masih menangis sambil menundukkan kepala. Mira kemudian mengepalkan tangannya.

“Jangan bilang begitu.”

Tiga anak laki-laki itu kembali menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena enggak punya ayah bukan berarti dia anak yang salah.”

Suasana mendadak hening, tatapan Mira berubah tajam ke arah mereka. “Pergi kalian!”

Mira menunjuk ke arah jalan. Anak bertubuh besar tadi kembali mendekatinya.

“Kamu mau apa?”

“Aku bilang pergi!”

Kali ini suara Mira terdengar lebih keras. Mungkin karena mereka merasa tidak mendapatkan kesenangan lagi, akhirnya ketiga anak itu pergi sambil terus mengomel.

Mira tidak mengejar. Ia justru segera menghampiri anak perempuan tadi.

“Kakak enggak apa-apa?”

Anak itu menggeleng.

Air matanya masih mengalir. “Mereka sering begitu.”

“Kenapa Kakak enggak bilang sama guru?”

Anak perempuan itu mengusap pipinya. “Percuma.”

“Kenapa?”

“Karena mereka selalu bilang cuma bercanda, dan menuduhku yang berbohong."

Mira terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri di tempat itu. Sampai akhirnya Mira bertanya pelan.

“Nama Kakak siapa?”

“Shasa.”

“Azmira Shafira.”

Shasa menatapnya. “Aku tahu. Kamu adik kelas yang suka bantu-bantu guru, kan?”

Mira tersenyum. “Iya.”

Shasa kemudian menunduk lagi. “Makasih sudah nolongin aku.”

Mira mengangguk. “Jangan sedih.”

Shasa mengusap air matanya. “Mereka benar.”

“Benar apa?”

“Aku memang enggak punya ayah.”

"Kalau pun itu benar, bukan berarti Kakak harus diam jika mereka membully, mereka harus dilawan Kak," tegas Mira.

Shasa masih terdiam entah kenapa ia merasa ketakutan seperti itu sementara Mira yang melihat wajah teman di hadapannya itu menatapnya dalam-dalam. Ada sesuatu yang terasa begitu dekat dari kalimat tersebut.

Sesuatu yang selama ini juga ada dalam hidupnya. Mira kemudian duduk di samping Shasa.

“Kak... jangan sedih, ya.”

Shasa menoleh. “Aku juga sama seperti Kakak.”

Shasa mengernyit. “Maksudnya?”

Mira tersenyum kecil. “Aku juga enggak pernah tahu wajah ayahku.”

Shasa tidak lagi berkata apa-apa. Mira melanjutkan dengan suara polos.

“Kata Ibu, Ayah kerja di kota. Tapi sampai sekarang aku enggak pernah lihat Ayah pulang.”

Senyum di wajah Mira perlahan memudar. “Tapi mungkin suatu hari nanti Ayah pulang.”

Shasa hanya menatap anak kecil itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Entah mengapa, mendengar ucapan Mira justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

Sebab selama ini ia mengira hanya dirinya yang tumbuh tanpa seorang ayah. Ternyata ada anak lain yang juga menyimpan pertanyaan yang sama.

Mira kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya. “Sudah, Kak. Jangan nangis lagi.”

Shasa menatap tangan kecil itu. Kemudian perlahan menggenggamnya. Hari itu mereka pulang bersama. Tak satu pun dari keduanya tahu, pertemuan sederhana itu kelak akan membawa mereka pada sebuah rahasia besar yang selama bertahun-tahun tersembunyi.

Bersambung. ...

1
kiky
kapan up Thor 🤔🤔
Fenty
kok lama g up thot
kiky
Loom up y
Marini Suhendar
thor kapan up lagi
Yeni Astriani
kapan update lagi Author, penasaran nihhhh kelanjutan ceritanya
ceuceu
Dika tetep harta hak shiren ga di ganggu gugat,pdhl bukan anak kandung,azmira dari kecil ga merasakan kasih sayang ga ada harta dari dika tapi dika ga mikirin hak azmira,puck lah dika
falea sezi
jangan mau menerima maafin boleh menerima ogah bgt🤣 di jadiin serep saat si seren bukan anak nya enak bgt si bangsat🤣
Yeni Astriani
memaafkan boleh tapi bukan berarti harus menerima apalagi Azmira sudah terbiasa hidup mandiri tanpa bantuan dari Pak Dika ☺☺☺
Nar Sih
makasih udh up lgi kak🙏
Ilham
berarti sirhen bukan anak kandung Dika yang dia rawat 25 tahun
Sari Nilam
gimana rasanya dika....sakittttt kan
tp tidak lebih sakit apa yang pernah azmira lalui tanpa tahu ayahnya dendiri tdak mengakuinya
Sari Nilam
masih belum sebanding de gan luja yang azmira dan ibunya rasakan
azmira yang malang tapi tangguh
azmira yang cerdas tapu tak pernah diakui
🤣🤣penyesalanmu terlambat kaunmerawat anak yang bukan darah dagingmu. dan darah dagingmu kau abaikan
Ilham
aku mau bertanya,,katanya si Dika pengin anak laki2 buat penerusnya...tapi knapa sama anak selingkuhan nya perempuan juga si Dika mau saja menerimanya...sedangkan anak kadung nya sendiri perempuan juga tapi dia ngk mau menerimanya kan aneh
Ilham
aku ketawa sendiri membawa kata jawaban Mira...aku berharap ceritanya Mira di bantu sama orang kaya
Ilham
buat lah cerita Mira ini sebenarnya enak mungkin...aku suka cerita anak kecil tapi ada juga penolong Mira
Rohmi Yatun
gak ada gunanya kehadiran Dika disaat Azmira sudah sukses.. kalo q jadi Azmira Big No untuk Dika.. gak akan ada istilah anak durhaka untuk seorang ayah seperti Dika.. 👎
Nar Sih
dulu rina yg sdh setiya dan sabar dgn tangisan azmira ,kini saat nya kmu terima kemarahan putri mu dika🤣
ceuceu
Kesalahanmu terlalu fatal dika
Tengku Nafisa
maafmu tdk berlaku dika. sibuk membesarkan anak org. anak sendiri kau telantarkan.
Rohmi Yatun
jujur kalo q jd Azmira.. tidak bisa menerima kehadiran Ayahnya.. untuk apa hadir skrg.. mau tanggung jawab katanya, tanggung jawab dlm hal apa?.. 👎👎👎👎 tidak masuk akal.. kedatangan mu sudah sgt terlambat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!