Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela dapur kediaman Nadya dan Armand.

Suasana rumah terasa begitu hangat dan menenangkan.

Nadya, dengan rambut panjangnya yang masih basah usai keramas, tampak sibuk meracik dua cangkir kopi hitam hangat di atas kitchen island.

Aroma kopi yang harum langsung menyeruak memenuhi ruangan.

Tak berselang lama, langkah kaki tegap terdengar mendekat.

Armand yang sudah rapi mengenakan kemeja kerja lengkap dengan setelan jasnya muncul dari arah kamar tidur.

Pria itu tampak segar dan memancarkan aura kepercayaan diri yang luar biasa.

Melihat suaminya datang, Nadya menoleh dan memberikan senyuman manisnya.

"Selamat pagi, Mas. Kopinya sudah siap," ucap Nadya lembut.

Armand berjalan mendekat, lalu dengan penuh kasih melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri dari belakang, mengecup puncak kepala Nadya sekilas.

"Pagi juga, Dek. Wangi banget, bikin makin semangat."

Nadya terkekeh pelan, menyerahkan cangkir pertama kepada suaminya.

"Ayo duduk, sarapannya sudah Bibi siapkan di meja makan. Kita sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor."

Tidak jauh dari sana, Bibi berdiri di dekat lemari pantry sambil merapikan beberapa piring bersih.

Melihat keharmonisan dan kemesraan yang begitu tulus di antara pasangan itu, Bibi hanya bisa tersenyum tipis penuh kebahagiaan.

Dalam hati, wanita paruh baya itu sangat bersyukur melihat Non Nadya akhirnya mendapatkan pendamping hidup yang benar-benar menghargai dan mencintainya dengan tulus, memupus habis masa-masa sulit yang pernah Armand lalui di masa lalu.

Piring-piring berisi nasi goreng spesial buatan Bibi tersaji rapi di meja makan.

Di tengah suasana pagi yang hangat, Nadya dan Armand menikmati sarapan mereka dengan sesekali diselingi obrolan ringan penuh keakraban.

Sambil menyesap kopi hangatnya, Nadya menatap suaminya dengan mata berbinar penasaran.

"Hari ini Mas mulai menjahit?" tanyanya lembut.

Armand meletakkan garpu dan sendoknya sejenak, lalu tersenyum penuh antusias sebelum menjawab.

"Iya, Dek. Hari ini jadwalnya sudah masuk ke tahap eksekusi inti. Kalau kemarin kan kita baru sebatas sosialisasi, pengukuran massal, dan pengecekan mesin high-speed di ruang produksi eksklusif. Nah, mulai pagi ini, tim kecil yang kemarin sudah dilatih akan langsung turun tangan untuk memotong bahan kain perdana sesuai dengan pola desain modern yang sudah Mas rancang."

Armand menjelaskan panjang lebar, gestur tangannya bergerak natural menggambarkan antusiasmenya terhadap proyek besar ini.

"Mas sudah membagi tugas secara detail. Dua orang asisten senior akan fokus memegang mesin jahit utama untuk bagian badan dan lengan kemeja, karena jahitan di area itu menuntut ketelitian tinggi agar serat kainnya tidak bergeser. Sementara tiga asisten lainnya akan membantu proses finishing, seperti pemasangan kancing berlogo khusus perusahaan, merapikan benang sisa, serta melakukan quality control tahap awal sebelum bajunya masuk ke mesin setrika uap."

Sorot mata Armand memancarkan ketegasan sekaligus gairah besar dalam dunia yang selama ini menjadi keahlian utamanya.

"Mas ingin memastikan setiap seragam yang keluar dari ruang produksi kita bukan sekadar pakaian seragam biasa, Dek. Tapi sebuah karya busana kerja yang rapi, kuat, nyaman dipakai seharian, dan punya nilai estetika tinggi yang mencerminkan profesionalisme perusahaan kamu. Jadi, begitu karyawan lain nanti memakainya, mereka bukan cuma merasa bangga, tapi juga merasakan kenyamanan maksimal saat bekerja."

Nadya mendengarkan setiap kalimat suaminya dengan dada yang bergemuruh kagum.

Penjelasan yang terstruktur, penuh perhitungan matang, dan disampaikan dengan penuh semangat itu semakin menegaskan bahwa Armand berada di tempat yang tepat.

Pria di hadapannya ini bukan lagi seorang penjahit bayang-bayang, melainkan seorang master designer dan pemimpin produksi yang sesungguhnya.

"Penjelasan Mas bikin aku makin tidak sabar ingin melihat hasil akhirnya," puji Nadya tulus sambil tersenyum bangga.

"Semuanya pasti akan berjalan sukses."

"Aamiin." ucap Armand mantap, mengamini doa sang istri dengan senyuman penuh keyakinan.

Selesai sarapan dan menghabiskan kopi pagi mereka, Armand dan Nadya bangkit dari kursi meja makan.

Keduanya berjalan berdampingan menuju pintu depan, di mana Bibi sudah berdiri bersiap mengantar kepergian mereka.

"Bibi, kami berangkat dulu ya," pamit Nadya sambil meraih tangan wanita paruh baya itu dan mencium punggung tangannya dengan hormat.

"Hati-hati di jalan, Non Nadya, Tuan Armand. Semoga kerjanya lancar hari ini," balas Bibi ramah. Armand turut mengangguk sopan seraya berpamitan.

Begitu tiba di halaman samping mobil mewah Nadya yang terparkir, Armand mendadak menghentikan langkahnya.

Ia menatap kunci mobil di tangan istrinya, lalu beralih menatap Nadya dengan ragu-ragu.

"Dek, boleh Mas menyetir mobil?" tanya Armand pelan, sedikit salah tingkah.

Nadya mengerjap, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat kaget.

"Eh? Mas Armand bisa nyetir?"

"Bisa, Dek," jawab Armand singkat dengan senyuman tipis.

Mendengar itu, Nadya spontan melipat tangan di depan dada, menatap suaminya penuh selidik namun dengan mata yang berbinar geli.

"Kemarin-kemarin kenapa nggak bilang? Selama ini kan selalu aku atau supir yang setir."

Armand menundukkan kepalanya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tersenyum malu-malu.

"Ya, kemarin-kemarin kan Mas masih merasa canggung, Dek. Masih belum terbiasa..."

Nadya terkekeh renyah, merasa gemas melihat sisi pemalu suaminya itu.

Ia lantas melemparkan anak kunci mobil ke arah Armand, yang dengan sigap ditangkap oleh suaminya.

"Ya sudah, kalau begitu CEO hari ini mau jadi penumpang setia," kata Nadya sambil berjalan memutar ke sisi penumpang depan.

"Tunjukkan keahlian menyetir suamiku tersayang."

Armand tersenyum lebar, rasa percaya dirinya kian membuncah.

Ia membuka pintu kemudi, masuk ke dalam mobil, dan bersiap mengantar istrinya menuju kantor untuk memulai hari penuh kemenangan mereka.

Mesin mobil berkapasitas besar itu meraung halus begitu Armand memutar kuncinya.

Dengan gerakan tenang dan penuh percaya diri, ia memasukkan gigi persneling dan mulai memundurkan kendaraan keluar dari halaman rumah.

Nadya, yang duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi, memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya dengan senyum simpul yang tak kunjung pudar dari bibirnya.

Ternyata, kemampuan Armand tidak hanya terbatas di meja potong dan mesin jahit; pria itu juga sangat mahir dan tenang mengendalikan kemudi di tengah padatnya arus lalu lintas pagi itu.

Setir digenggamnya dengan mantap, sesekali matanya melirik kaca spion dengan cermat sebelum berpindah jalur.

"Wah, ternyata suamiku bukan cuma jago bikin pola baju, tapi juga jago nyetir, ya," puji Nadya sambil melirik ke arah Armand dengan sorot mata penuh kekaguman.

Armand melirik sekilas ke arah istrinya, tersenyum tipis dengan rona merah tipis yang masih membekas di pipinya.

"Dulu waktu masih merintis jalan sendiri, Mas pernah beberapa kali kerja serabutan, termasuk jadi pengemudi lepas. Jadi, ya, sedikit-sedikit belajar dan terbiasa, Dek."

Mendengar kalimat itu, ada secercah rasa haru yang menyusup di dada Nadya.

Di balik kesuksesan dan ketegasan Armand saat ini, tersimpan lembaran-lembaran perjuangan berat yang membentuknya menjadi pria tangguh.

Nadya lantas mengulurkan tangan, meraih jemari Armand yang bebas dari kemudi, lalu menggenggamnya erat.

Armand membalas genggaman itu dengan sebelah tangannya, membiarkan kehangatan mengalir di antara mereka sepanjang sisa perjalanan menuju kantor.

Tak sampai tiga puluh menit kemudian, mobil mewah yang dikemudikan Armand memasuki area parkir basement perusahaan milik Nadya.

Setelah memarkirkan kendaraan dengan sempurna di slot khusus pimpinan, keduanya turun dan melangkah bersama menuju lobi.

Kehadiran mereka langsung menarik perhatian para karyawan yang berpapasan di sepanjang koridor.

Bisik-bisik kekaguman terdengar pelan; bukan hanya karena pesona Nadya sebagai seorang CEO, melainkan karena aura wibawa yang kini terpancar kuat dari sosok Armand.

Pria itu berjalan tegap, mengenakan setelan jas rapi dengan tatapan fokus yang menepis jauh-jauh bayangan masa lalu kelamnya.

"Mas langsung ke ruang produksi ya, Dek," bisik Armand saat mereka tiba di lantai divisi produksi.

Nadya menghentikan langkahnya, menatap suaminya dengan mata berbinar penuh dukungan.

"Iya, Mas. Semangat ya hari ini! Kalau ada apa-apa, kabari aku."

Armand mengangguk mantap. Ia mengecup kening istrinya sekilas tanpa peduli pada beberapa staf yang kebetulan lewat, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah masuk ke ruang produksi eksklusif.

Begitu pintu kaca bergeser terbuka, kelima asisten barunya langsung berdiri menyambut dengan sikap hormat.

Meja potong besar di tengah ruangan sudah tertata rapi dengan gulungan kain katun premium berwarna biru dongker—bahan utama untuk seragam baru perusahaan.

Armand menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut energi kreatif yang bergemuruh di dadanya. Ia menggulung sedikit lengan kemejanya hingga ke siku, mengambil kapur penanda kain, dan bersiap memimpin timnya menciptakan karya terbaik yang akan membungkam siapa saja yang pernah meremehkannya—termasuk Sarah.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!