Indonesia
NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Racun berbalut Manisan

​Perasaan manusia adalah labirin yang paling membingungkan, dan Raisha merasa dirinya telah tersesat terlalu jauh di dalamnya.

​Logikanya sudah memberi peringatan keras. Akal sehatnya terus mengulang-ulang kenyataan bahwa Aldo Otavian adalah seorang manipulator berdarah dingin yang hanya memanfaatkan dinamika penaklukan.

Namun, di saat yang sama, ada bagian dari dirinya yang tetap merindukan afeksi. Bagi seseorang yang seumur hidupnya mati rasa dan baru pertama kali merasakan getaran cinta, sedikit saja perhatian manis dari Aldo terasa bagaikan air di tengah gurun pasir, meski Raisha tahu air itu telah dicemari racun.

​Aldo seolah sadar betul akan posisi tawarnya. Setelah konfrontasi dingin di dekat kubikelnya tempo hari, Aldo mulai memainkan strategi baru. Karena dia tahu pasti bahwa Raisha telah menyerahkan hatinya dan menaruh perasaan yang begitu dalam, Aldo mulai memberikan perhatian-perhatian kecil yang datang dan pergi secara tak terduga.

​Pola itu dibuat begitu acak, membuat Raisha terus berada dalam kondisi menanti.

​Suatu sore di hari Selasa, hujan deras mengguyur area kantor. Raisha yang baru saja kembali dari toilet merasa tubuhnya sedikit demam dan terus-terusan terbatuk kecil di meja kerjanya. Dia hanya bisa mengusap lengannya yang kedinginan karena hembusan AC kantor yang menusuk tulang.

​Tiba-tiba, sebuah cangkir keramik berisi teh jahe hangat yang masih berasap diletakkan dengan pelan di samping laptopnya.

​Raisha mendongak terkejut. Aldo berdiri di sana, menyunggingkan senyum paling manis dan hangat yang pernah Raisha lihat. Pria itu sedikit membungkuk, memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya terpisah beberapa senti.

​"Kamu dari tadi batuk terus," bisik Aldo dengan suara baritone-nya yang begitu lembut, cukup pelan agar tidak terdengar oleh Siska di kubikel sebelah.

"Minum teh jahe ini ya. Tadi aku sengaja minta ibu pantry buatkan khusus buat kamu. Jangan sampai sakit, Ra."

​Sebelum Raisha sempat mencerna kagetnya, Aldo mengusap puncaknya kepala Raisha dengan sangat lembut, sebuah gestur intim yang sangat menghentak dada Raisha lalu berbalik pergi sambil menyunggingkan senyum tipis.

​Raisha mematung. Tangannya yang dingin perlahan menyentuh puncaknya kepala yang baru saja diusap Aldo, lalu beralih menggenggam cangkir teh yang hangat. Dada sebelah kirinya bergemuruh hebat. Sensasi manis yang menjalar dari usapan ringan itu begitu membuncah, membakar seluruh keraguan yang sempat ditanamnya.

​Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama.

​Hanya berselang dua hari setelah kejadian teh jahe itu, Raisha berpapasan dengan Aldo di lorong utama dekat lift. Dengan perasaan membuncah dan senyum tipis yang sengaja disiapkannya, Raisha menyapa,

"Hai, Al."

​Namun, respons yang diterimanya justru bak siraman air es di tengah malam.

​Aldo hanya meliriknya sekilas dengan pandangan mata yang sangat datar, hampir tanpa ekspresi. Dia hanya mengangguk sangat tipis seolah Raisha adalah orang asing yang tak sengaja berpapasan di jalan lalu melangkah melewatinya begitu saja tanpa menghentikan langkah atau mengulas senyum sedikit pun.

​Raisha berdiri membeku di depan pintu lift yang terbuka. Rasa hangat di dadanya seketika menguap, berganti menjadi rasa sesak dan bingung yang luar biasa.

​Kenapa? tanyanya dalam hati. Kenapa kemarin dia begitu perhatian, tapi hari ini bertingkah seolah nggak kenal?

​Sikap tarik-ulur itu berulang berkali-kali sepanjang minggu. Ada kalanya Aldo secara tiba-tiba menyelipkan kotak cokelat favorit Raisha di atas mejanya dengan catatan kecil bertuliskan 'Semangat kerjanya ya, Ra', membuat Raisha melayang tinggi ke awan dan merasa bahwa pria itu mungkin benar-benar memiliki perasaan tersembunyi padanya.

Tapi di hari berikutnya, Aldo bisa berubah menjadi sosok yang sangat dingin, mengabaikan pesan singkat Raisha selama berhari-hari, atau sengaja berjalan melewatinya sambil tertawa lepas bersama staf wanita lain tanpa memandang Raisha sedikit pun.

​Raisha sadar betul. Dia tahu sedang dipermainkan. Dia tahu Aldo sengaja memberi 'umpan manisan' manis setiap kali merasa Raisha mulai menjauh, hanya untuk menariknya kembali ke dalam cengkeraman emosionalnya, lalu mengabaikannya lagi begitu Raisha kembali bertekuk lutut.

​Ini adalah bentuk permainan psikologis yang sangat kejam. Tetapi bagian yang paling menyedihkan dari diri Raisha adalah: dia menikmati perhatian manis itu.

​Setiap kali Aldo bersikap ramah, membelai rambutnya, atau memberikan perhatian-perhatian kecil yang terasa eksklusif, Raisha merasa begitu bahagia, sebuah kebahagiaan semu yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya.

Dia seperti seorang pecandu yang tahu bahwa obat yang diminumnya berbahaya, tetapi tetap merengkuhnya karena hanya obat itulah yang mampu memberikan rasa nikmat sesaat.

​"Ra, kamu sadar nggak sih kalau muka lu akhir-akhir ini kayak roller coaster?" tegur Siska suatu sore ketika mereka merapikan barang.

"Kadang senyum-senyum sendiri kayak orang jatuh cinta, tapi sejam kemudian muka kamu duka banget kayak habis tertimpa musibah. Kamu sebenarnya kenapa sih?"

​Raisha menyunggingkan senyum tipis yang pahit, menyangkutkan tali tas di bahunya.

"Aku nggak apa-apa kok, Ka. Cuma agak capek aja."

​Dia berjalan keluar dari area kantor dengan langkah yang pelan. Di pelataran gedung, Raisha kembali melihat sosok Aldo yang baru saja keluar dari mobilnya, tampak begitu karismatik dan tenang di bawah pendar lampu jalan.

"Padahal penampilannya mengendarai motor sport lebih terlihat keren dibanding mengendarai mobil." guman Raisha lirih.

​Aldo sempat menghentikan langkahnya, menatap Raisha dari jauh, lalu menyunggingkan senyum manisnya yang sangat khas senyuman yang seolah menyiratkan bahwa dia tahu betul Raisha sedang memikirkannya. Aldo memberi gestur lambai tangan kecil sebelum berjalan menuju pintu keluar.

​Raisha berdiri terpaku di trotoar, memandangi punggung Aldo yang perlahan menghilang di dalam kegelapan malam.

​Dia meremas tali tasnya erat-erat, membiarkan dadanya bergejolak hebat antara rasa perih karena dipermainkan dan rasa senang yang tak wajar atas perhatian tipis pria itu. Raisha menyadari bahwa hatinya sedang dipermainkan dan sadar kalau Aldo telah mengenggam hatinya.

Untuk pertama kalinya, Raisha menyadari betapa mengerikannya jatuh cinta pada orang yang salah: ketika rasa sakit dan rasa bahagia menyatu dalam satu ikatan yang sama, membuat korbannya bersukarela tetap bertahan dalam lingkaran racun yang tak berujung.

"Aku nggak sangka, dia seberacun itu. Tapi kenapa aku nggak bisa berpaling darinya?"

Seolah ada magnet yang mencengkram hatinya untuk terbelenggu dalam genggaman Aldo. Meskipun terluka yang berulang, ditepis dengan harapan manis yang diciptakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!