Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Sahabatku

Menikah Dengan Om Sahabatku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Aluna Putri adalah mahasiswi yatim piatu yang menghabiskan waktunya bekerja keras, hingga suatu hari ia nyaris tumbang karena kelelahan di depan Kayvan Dipta Madhava, CEO kaku sekaligus om dari sahabatnya, Raline.

Pertemuan canggung itu menjadi awal dari skenario besar yang disusun oleh Baskara Madhava yaitu papa dari Kayvan dengan alasan kesehatan yang menurun, tuan Baskara mendesak Kayvan untuk segera menikahi gadis pilihannya yang tak lain adalah Aluna.

Terdesak masalah finansial yang mengancam pendidikannya, Aluna terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Kayvan.

Meski terpaut usia dua belas tahun, benih cinta mulai tumbuh di sela-sela kesibukan kuliah Aluna dan jadwal padat Kayvan.

Pada akhirnya, Aluna dan Kayvan membuktikan bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu memiliki, melainkan tentang siapa yang sanggup bertahan dan melindungi dalam diam.

Bagaimana Kelanjutannya??
Yukkk Gass Bacaaaa!!!!!

IG: LALA_SYALALA13
YT: NOVELALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pisang Goreng

Pagi itu, suasana di meja makan mansion Madhava terasa sedikit lebih riuh dari biasanya.

Bukan karena ada perdebatan melainkan karena Raline sedang sibuk menceritakan rencana study tour jurusannya ke luar kota yang akan dilaksanakan minggu depan.

Aluna mendengarkan dengan antusias dan sesekali menyuap bubur ayam hangat yang disiapkan koki rumah.

"Luna, kamu harus ikut! Meskipun kita beda peminatan karena kuota untuk pendamping masih ada dua lagi. Ayo, ya?" bujuk Raline sambil memberikan tatapan memohon.

Aluna melirik ke arah Kayvan yang duduk di ujung meja, pria itu tampak tidak terganggu dan jemarinya lincah menggeser layar tablet yang menampilkan grafik pertumbuhan ekonomi.

Namun Aluna tahu telinga Kayvan selalu tajam untuk percakapan di meja makan.

"Aku tidak yakin Raline, aku baru saja berhenti bekerja paruh waktu dan rasanya aneh kalau tiba-tiba langsung pergi berlibur." jawab Aluna sopan.

"Itu bukan berlibur tapi itu studi lapangan!" Raline mengoreksi dengan nada jenaka.

"Lagipula kamu butuh penyegaran, sejak pindah ke sini kamu cuma bolak-balik kampus-rumah." seru Raline.

Tuan Baskara Madhava yang sejak tadi asyik dengan koran fisiknya mendongak.

"Opa setuju dengan Raline. Aluna, kamu masih muda jadi jangan biarkan pernikahan ini membuatmu merasa terkekeh, pergilah kalau kamu mau." ujar Tuan Baskara.

Aluna kembali menatap Kayvan dan kali ini, pria itu meletakkan tabletnya dan menatap Aluna lekat-lekat.

"Kapan acaranya?" tanya Kayvan singkat.

"Senin depan Om, selama tiga hari dua malam." Raline yang menjawab dengan semangat.

Kayvan diam sejenak, seolah sedang menghitung jadwal di kepalanya.

"Pergilah, aku akan mengatur agar sopir atau pengawal mengawasimu dari jarak jauh." ucap Kayvan.

"Mas..." Aluna mendesah pelan.

"Itu acara kampus dan aku tidak mau terlihat seperti anak kecil yang dikawal ke mana-mana, itu akan membuatku semakin menjadi pusat perhatian." ucap Aluna.

Kayvan mengerutkan kening, baginya keamanan adalah prioritas utama.

"Dunia luar tidak seaman ruang kelasmu Aluna." seru Kayvan tidak ingin di bantah.

"Aku tahu tapi aku ingin menjadi mahasiswa biasa di sana, bisakah kali ini saja Mas percaya padaku?" Aluna menatap suaminya dengan sorot mata yang teguh namun lembut.

Ada keheningan singkat, Tuan Baskara Madhava tersenyum kecil melihat interaksi itu.

Kayvan akhirnya mengembuskan napas pendek, tanda ia mengalah yaitu sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam dunia bisnisnya.

"Baiklah, tanpa pengawal tapi ponselmu harus aktif dua puluh empat jam." serunya.

"Terima kasih Mas." ucap Aluna tulus dengan senyumnya merekah dan Kayvan merasakan desiran aneh di dadanya yang selama ini ia anggap sebagai gangguan efisiensi kerja.

Setelah sarapan, Kayvan menawarkan diri untuk mengantar Aluna ke kampus.

Ini sudah menjadi rutinitas barunya yang membuat sekretaris di kantornya sering kebingungan karena jadwal rapat pagi yang sedikit bergeser.

Di dalam mobil, keheningan yang tercipta terasa lebih nyaman dibandingkan hari-hari pertama pernikahan mereka.

Aluna sibuk merapikan catatan presentasinya, sementara Kayvan sesekali melirik ke arah istrinya.

"Aluna." panggil Kayvan saat mereka terjebak kemacetan.

"Iya, Mas?"

"Soal perjalanan itu... apakah kamu benar-benar ingin pergi?" tanya Kayvan memastikan.

Aluna meletakkan buku catatannya dan melihat ke arah sang suami.

"Sebenarnya aku hanya ingin merasa normal Mas, menikah denganmu adalah hal paling luar biasa dalam hidupku tapi terkadang aku merasa kehilangan diriku yang lama yaitu si Aluna yang harus berjuang sendiri dan aku takut menjadi terlalu manja dengan semua kemewahan ini." lirihnya.

Kayvan tertegun, ia tidak pernah berpikir dari sudut pandang itu.

Baginya memberikan segalanya adalah bentuk perlindungan, ia tidak sadar bahwa kemandirian Aluna adalah harga diri yang sangat dijaga oleh gadis itu.

"Aku tidak ingin kamu kehilangan dirimu." ucap Kayvan pelan dengan suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.

"Aku hanya tidak ingin kamu merasa lelah lagi tapi kalau mandiri adalah hal yang membuatmu bahagia dan aku akan mencoba menghargainya." lanjutnya.

Aluna tersenyum dan kali ini ia memberanikan diri menyentuh punggung tangan Kayvan yang berada di atas transmisi mobil.

"Terima kasih sudah mengerti Mas." ucapnya dengan penuh syukur.

Sentuhan itu singkat namun cukup membuat Kayvan tidak fokus saat lampu lalu lintas berubah hijau.

Di kampus Raline benar-benar menepati janjinya, begitu sampai di kantin saat jam istirahat, ia langsung menyodorkan formulir pendaftaran studi lapangan.

Aluna mengisinya dengan perasaan campur aduk, ia senang namun ada rasa berat hati meninggalkan rumah yang kini mulai terasa hangat.

"Eh Luna! Kamu dengar tidak? Katanya ada dosen tamu baru untuk seminar besok sore dan dia pengusaha muda juga, temannya Om Kayvan katanya." celetuk Raline sambil menyeruput jus jeruknya.

"Siapa?" tanya Aluna.

"Namanya kalau tidak salah Pak Satya dan katanya dia saingan Om Kayvan di dunia properti. Wah, kalau dia datang suasana kampus pasti bakal heboh." Raline tertawa.

Aluna hanya mengangguk-angguk, ia tidak terlalu tertarik dengan persaingan bisnis suaminya.

Fokusnya saat ini adalah menyelesaikan tugas kuliah dan memastikan ia tidak membuat malu keluarga Madhava dengan perilaku atau nilainya.

Sore harinya, Aluna pulang lebih awal karena ada kelas yang ditiadakan.

Ia memutuskan untuk mampir ke dapur, ingin membuatkan sesuatu untuk Tuan Baskara dan Kayvan sebagai rasa terima kasih.

"Bi boleh saya pakai dapurnya sebentar?" tanya Aluna pada kepala pelayan.

"Tentu saja Nyonya Muda, ingin memasak apa?" tanya bibi.

"Hanya camilan sederhana, pisang goreng keju dan teh jahe, Opa bilang dia suka itu kalau sore hari." jawab Aluna riang.

Aluna mulai beraksi, ia menggulung lengan sweternya, mengikat rambutnya asal dan mulai mengupas pisang.

Di saat itulah Kayvan pulang lebih awal, ia biasanya langsung menuju ruang kerja namun aroma gorengan yang menggoda membawanya ke arah dapur.

Kayvan berdiri di ambang pintu memperhatikan Aluna yang sedang sibuk membalik pisang di penggorengan.

Wajah gadis itu sedikit memerah karena uap panas, dan ada noda tepung sedikit di pipinya.

Kayvan terpaku, pemandangan ini jauh lebih indah daripada lukisan mahal yang tergantung di kantornya.

Aluna berbalik untuk mengambil piring dan terlonjak kaget melihat Kayvan.

"Mas! Sudah pulang? Masih jam empat lewat." seru Aluna terkejut karena sang suami sudah datang.

"Rapatnya selesai lebih cepat." jawab Kayvan, mencoba kembali ke mode datarnya. Ia berjalan mendekat.

"Kamu memasak sendiri?" tanya Kayvan.

"Hanya camilan untuk Opa, Mas mau coba?" Aluna menyodorkan satu pisang goreng yang baru matang.

Kayvan biasanya sangat menjaga dietnya, ia jarang makan gorengan, apalagi yang berminyak.

Namun melihat binar di mata Aluna ia tidak sanggup menolak, ia menerima pisang itu, meniupnya sebentar, lalu menggigitnya.

"Bagaimana?" tanya Aluna antusias.

"Enak." jawab Kayvan singkat.

"Tapi ada tepung di pipimu."

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Karsa Sanjaya
ini seriusan tokohnya 4 orang doank ceritanya ultah tpi pada kemana anaknya orang tua nya Aluna koq GK ada
Nurjana Bakir
kapan bela durennya😄
Ima Kristina
co cweet banget sich
Ima Kristina
Astagaaa Kaivan bener bener ya bikin baper aku juga pingin digituin sama misua aku
Ima Kristina
Om Kaivan setelah merasakan ninaninu jadi gak kaku lagi tapi hanya buat Luna yayank
Ima Kristina
akhirnya Kaivan dan Luna ninaninu.....
Ima Kristina
kapan sich malam pertama Kaivan dan Luna ceritanya jangan bertele-tele dong Thor kan bacanya jadi bosen
Ima Kristina
satria salah cari lawan kamu mungkin pintar tapi Kaivan selain pintar juga punya kuasa
Ima Kristina
mahasiswa kok nantangin CEO... kalah kuasa dan pengalaman dong
Ima Kristina
kok ceritanya bertele tele sudah berapa bab yang dibahas soal pendekatan Kaivan dan Aluna
Ima Kristina
om Kaivan dan Luna kapan ninaninu Thor
Ima Kristina
Daripada kamu sibuk dengan incesure, mending fokus sama kuliah dan belajar bisnis biar bisa bantu suamimu
Ima Kristina
Rasa tidak percaya diri Luna berlebihan deh atau dia mulai merasa cemburu
Ima Kristina
Kalau cinta apapun akan dilakukan meski makan makanan yang tidak disukai
Ima Kristina
next
Ima Kristina
Om Kaivan sudah bucin akut sama Luna tapi terkesan co cweet dah
Ima Kristina
ooo ternyata orangtua Ralin sudah meninggal kok bisa bersamaan meninggalnya
Ima Kristina
Kapan Kaivan dan Luna ninaninu Thor gak sabar aku
Ima Kristina
Harusnya Luna dihukum saja kalau salah panggil Om lagi biar dia i get terus tapi hukumannya yang enak 🤭
Ima Kristina
Pria model Kaivan beneran bikin baper kaku tapi perhatian co cweet banget sich
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!