Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Topeng yang Asli

Aroma biji kopi sangrai beradu dengan aroma lembap hujan gerimis yang mengguyur kawasan jalan lintas selatan.

Kedai kopi tua berdinding kayu itu tampak temaram, hanya diterangi beberapa bola lampu kuning yang menggantung rendah.

Suara rintik hujan yang menimpa atap seng menciptakan latar ketegangan yang pekat.

Di sudut paling belakang, dekat jendela kayu yang berembun, Rendra Wijaya duduk seorang diri.

Jaket parka hijau kusamnya masih basah oleh air hujan. Ia sedang menyesap kopi hitamnya ketika bunyi dentang bel pintu kedai terdengar.

Seorang wanita muda melangkah masuk. Ia mengenakan blazer hitam berpotongan tegas, membawa tas selempang kulit, dan melangkah dengan irama kaki yang tenang namun sarat akan keberanian.

Rendra memicingkan matanya di balik topi bisbol hitam yang ia kenakan rendah. Jemari tangannya di bawah meja refleks bergeser menyentuh tali tas kameranya.

Pria itu seketika mengenali sosok tersebut: perwakilan Katering Barokah yang tadi pagi menandatangani dokumen bersama Ardiansyah di Zona Empat.

Tanpa ragu sedikit pun, Intan Saputri berjalan lurus menuju meja Rendra.

"Tempat ini cukup sepi untuk membicarakan seorang penipu berdarah dingin seperti Ardiansyah Putra, bukan?"

Puji Intan halus namun tajam, berdiri tepat di hadapan meja Rendra.

Rendra tidak menunjukkan rasa terkejut, meski pupil matanya membesar tipis.

Ia bersandar pada sandaran kursi kayu, menatap Intan dari atas ke bawah dengan pandangan seorang auditor forensik yang dingin.

"Kamu salah meja, Mbak."

Suara Rendra terdengar berat dan datar.

"Saya tidak kenal siapa itu Ardiansyah."

"Jangan membuang waktu, Mas Rendra. "

Potong Intan seraya menarik kursi kayu di hadapan Rendra dan duduk tanpa menunggu undangan. Ia menatap lurus mata pria di baliknya.

"Foto kamera lensa panjangmu tadi pagi di depan kafe Zona Empat cukup jelas untuk membuktikan siapa yang sedang kamu incar."

"Dan plat nomor van kateringku yang kamu potret sudah cukup membuatmu tahu siapa aku."

Atmosphere di sekitar meja itu mendadak membeku. Rendra memiringkan kepalanya sedikit, menanggalkan sikap acuh tak acuhnya.

Aura seorang investigator yang berpengalaman memancar kuat dari tubuhnya.

"Kalau kamu sudah tahu aku mengawasimu, lalu untuk apa kamu ke sini?"

Tanya Rendra, nadanya kini dingin dan penuh ancaman.

"Menyerahkan diri?"

"Atau Ardiansyah yang menyuruhmu untuk menggertakku?"

Sebuah senyuman tipis—dingin, sarat kendali, dan tanpa raut ketakutan—terukir di bibir Intan.

Ia membuka tas selempangnya dengan gerakan perlahan agar tidak memicu kewaspadaan Rendra, lalu mengeluarkan dua barang di atas meja: salinan dokumen kontrak kerja sama PT Pandawa Perkasa yang baru ditandatangani tadi pagi, dan sebuah buku catatan hitam kecil berukuran saku.

"Ardiansyah tidak tahu aku ada di sini."

Ujar Intan lugas.

"Dan dia tidak pernah tahu bahwa topeng yang asli dari wanita yang duduk di depanmu ini bukanlah seorang perwakilan katering kota yang berambisi..."

"Melainkan salah satu korbannya dari Desa Lao-Lao."

Rendra menatap dokumen di atas meja, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Intan.

Keraguan dan rasa penasaran mulai bergolak di matanya.

Intan mendorong buku catatan hitamnya ke tengah meja, membiarkannya terbuka di halaman yang memuat tanggal penipuan dua juta rupiah di desanya, diikuti oleh rincian nomor rekening penampungan atas nama Ardiansyah Putra yang berhasil ia lacak bersama Maya.

"Dua bulan lalu, pria itu menggunakan nama alias Rian."

"Dia menguras tabungan kecilku dan membiarkanku hancur di desa."

"Aku Intan dengan suara yang teratur, tanpa sedikit pun nada meratapi nasib.

"Tapi aku tidak datang ke kota ini untuk menangis."

"Aku mengubah penampilanku, menyusup ke dalam perusahaannya, dan memancingnya menandatangani dokumen resmi ini."

Rendra meraih dokumen kontrak tersebut dan memindainya dengan cepat. Matanya berhenti pada tanda tangan basah dan stempel perusahaan yang dibubuhkan Ardiansyah.

"Ini... stempel resmi dan nomor rekening operasional pribadi Ardiansyah."

Bisik Rendra, raut wajahnya yang keras mulai mencair oleh rasa terkejut.

"Selama dua tahun ini dia selalu bertransaksi memakai akun anonim atau rekening perantara milik korban lain."

" Ini pertama kalinya dia memakai rekening penampungan utama atas namanya sendiri."

"Karena dia percaya padaku."

Sahut Intan mantap.

"Di matanya, aku hanya gadis katering yang tergiur oleh keuntungan proyek Zona Empat."

" Dia melepaskan kewaspadaannya karena mengira topengku adalah topeng seorang rekan bisnis yang naif."

Rendra menghembuskan napas panjang. Ia melepas topi bisbol hitamnya, memperlihatkan rambut jarak pendek dan bekas luka kecil di alisnya.

Tatapan matanya yang tadi penuh kecurigaan kini berganti menjadi rasa hormat yang mendalam.

"Nama saya Rendra Wijaya."

Ujar pria itu, mengulurkan tangannya secara formal di atas meja.

"Saya bekerja untuk keluarga almarhum Pak Herman—korban penggelapan satu koma dua miliar rupiah dua tahun lalu."

Intan menyambut genggaman tangan Rendra dengan erat.

"Intan Saputri."

"Maafkan kecurigaanku tadi pagi, Mbak Intan."

Kata Rendra jujur.

"Saya sudah melacak Ardiansyah selama delapan bulan, tapi pria itu seperti belut licin."

"Dia selalu berganti nama, berganti nomor, dan menutup jejak digitalnya dengan sangat bersih."

"Saya tidak menyangka seorang korban dari desa bisa menyusup sejauh ini ke dalam lingkarannya."

"Saya tidak bekerja sendirian."

Balas Intan.

"Saya punya mentor yang membimbing saya melacak jejaknya."

"Dan sekarang, kita berdua punya tujuan yang sama."

Rendra memperbaiki posisi duduknya, menatap dokumen di meja dengan binar ketegasan baru.

"Ardiansyah sedang bersiap melakukan penarikan dana besar-besaran minggu depan dari para kontraktor batu dan bahan bangunan."

"Jika kita tidak menyegel aliran dananya sekarang, dia akan kabur keluar pulau dengan nama baru lagi."

"Dia tidak akan bisa kabu."

Sela Intan, matanya berbinar tajam di bawah pendar lampu kedai kopi.

"Senin depan adalah pengiriman katering pertama."

"Rekening penampungan di dokumen ini akan menjadi bukti sah tindak pidana penggelapan dan pencucian uang saat transaksi pembayaran termin pertama dilakukan."

Rendra tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kebanggaan dari seorang profesional yang akhirnya menemukan sekutu yang setara.

"Kamu punya rencana yang sangat matang, Intan."

"Apa yang kamu butuhkan dariku?"

"Bawa seluruh berkas kasus almarhum Pak Herman dan koordinasikan dengan pihak kepolisian kepolisian kawasan industri."

Ujar Intan tanpa ragu.

"Saat Ardiansyah menerima pembayaran termin dan berusaha memindahkan dananya hari Senin nanti, kita kunci dia dari luar dan dalam."

Malam makin larut, dan gerimis di luar berubah menjadi hujan deras yang membasahi kaca kedai kopi. Namun di dalam ruangan temram itu, sebuah aliansi yang mematikan telah resmi lahir.

Intan mengambil kembali buku catatan hitam kecilnya dan merapikan dokumen di meja. Saat berdiri untuk pamit, ia menatap Rendra sekali lagi.

"Ardiansyah pikir dia bisa terus bersembunyi di balik ratusan topeng palsunya."

Kata Intan seraya mencangklong tas selempangnya.

"Tapi Senin nanti, kita yang akan memperlihatkan topeng yang asli dari seorang kriminal di hadapan semua orang."

Rendra mengangguk mantap.

"Sampai bertemu di Zona Empat, Intan."

Intan melangkah keluar dari kedai kopi menuju hujan malam. Angin dingin menyapa wajahnya, namun di dalam dadanya, api keberanian membakar habis sisa-sisa trauma masa lalu.

Perburuan panjang ini telah mencapai babak akhir, dan perangkap di Zona Empat siap menutup rapat-rapat.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe😉

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!