"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESTU DARI KELUARGA
Lusa yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Suasana mansion yang biasanya dingin dan tegang kini tersulut oleh kemewahan yang tenang dan anggun. Dekorasi bunga-bunga putih segar dan nuansa emas menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan atmosfer kedamaian yang seolah menghapus sisa-sisa duka yang pernah merundung tempat itu.
Di dalam kamar utama, Elara berdiri di depan cermin besar. Balutan gaun pengantin putih yang begitu elegan membingkai tubuhnya dengan sempurna. Riasan wajahnya yang lembut menyamarkan sisa-sisa warna pucat, memancarkan kecantikan alami yang anggun. Meski ada sedikit kepedihan yang masih tersimpan di relung hatinya, binar harapan jauh lebih mendominasi manik matanya.
Pintu kamar terbuka perlahan. Haidar melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam yang gagah dan berwibawa. Pandangan pria itu seketika terkunci pada sosok Elara. Untuk sejenak, bos mafia yang dikenal tak memiliki cela itu terpaku, takjub melihat calon istrinya yang tampak begitu memesona.
Haidar mendekat tanpa suara, berdiri tepat di belakang Elara dan menatap bayangan mereka berdua di cermin. Kedua tangannya yang kokoh melingkar pelan di pinggang Elara, menarik tubuh wanita itu bersandar di dada bidangnya.
"Kau sangat cantik, Elara," bisik Haidar lembut tepat di samping telinganya.
Elara tersenyum tulus, menyentuh jemari Haidar yang menggenggamnya. "Terima kasih, Haidar. Aku siap menyambut hari ini."
"Hari ini, dan untuk selamanya, tidak akan ada lagi air mata kesedihan," janji Haidar seraya mengecup pelipis Elara dengan penuh kehangatan. "Hari ini adalah awal dari masa depan kita."
Dengan menggenggam erat tangan satu sama lain, Haidar dan Elara siap melangkah menuju altar, mengikat janji suci yang akan menyatukan takdir mereka dalam perlindungan dan cinta yang tak tergoyahkan.
Pintu ruang persiapan kembali terdorong pelan, mengalihkan perhatian Haidar dan Elara. Di balik pintu, muncul sosok sepasang suami istri paruh baya dengan pakaian formal yang amat bersahaja namun anggun. Wajah sang ibu tampak berbinar membendung genangan air mata haru, sementara sang ayah mengukir senyum bangga yang begitu hangat.
"Ibu... Ayah..." bisik Elara dengan suara bergetar.
Orang tua Elara melangkah mendekat, mempercepat langkah mereka untuk memeluk putri tunggal kesayangan mereka. Pelukan hangat sang ibu seketika membawa ketenangan tiada tara bagi Elara. Setelah segala badai dan duka hebat yang ia lalui, kehadiran kedua orang tuanya menjadi pelengkap sempurna di hari paling membahagiakan dalam hidupnya.
"Putri Ayah cantik sekali hari ini," puji sang ayah seraya mengusap lembut puncak kepala Elara, berusaha menahan getaran di suaranya. "Ayah dan Ibu sangat bahagia bisa berada di sini menyaksikanmu mengikat janji suci."
Haidar melangkah maju, melepaskan aura dinginnya dan membungkuk penuh rasa hormat di hadapan kedua orang tua Elara. Pria yang ditakuti di dunia bawah tanah itu kini berdiri sebagai seorang pria yang memohon restu penuh ketulusan.
"Paman, Bibi... terima kasih sudah hadir," ucap Haidar dengan nada rendah nan khidmat. "Aku berjanji di hadapan Anda berdua, aku akan menjaga, menghormati, dan membahagiakan Elara seumur hidupku. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitinya."
Ayah Elara menatap Haidar, menepuk bahu tegap calon menantunya itu dengan mantap. "Kami percayakan putri satu-satunya milik kami kepadamu, Haidar. Bawa dia menuju kebahagiaan."
Dengan restu yang kini mengalir sempurna dari kedua pihak keluarga, Haidar mengulurkan tangannya pada Elara. Dengan genggaman jemari yang makin erat dan mantap, mereka bersama-sama melangkah keluar menuju ruang utama pernikahan.