Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Final Gunung Hua
Fajar di hari final Turnamen Besar Aliansi Murim datang dengan awan gelap yang menggantung rendah di atas puncak Gunung Hua, seolah langit sendiri sedang menahan napas untuk menyaksikan pertarungan yang akan menentukan siapa yang akan disebut sebagai pedang terkuat di generasi muda, dan di bawah awan itu, Arena Pertama yang biasanya hanya bisa menampung sepuluh ribu orang sekarang dipenuhi oleh lebih dari dua puluh ribu orang yang datang dari seluruh penjuru Jianghu, mulai dari murid sekte kecil yang berjalan kaki selama sebulan hanya untuk melihat, sampai Tetua dari Sekte Iblis yang duduk di pojok dengan topeng dan tidak mengatakan sepatah kata pun, karena semua orang tahu bahwa di tengah arena itu akan berdiri dua nama yang tidak seharusnya berada di tempat yang sama, Jang Mu-won, murid utama Gunung Hua, pedang terkuat generasi ini yang dijuluki "Cahaya Langit Selatan", dan Tang Hyun, Anak Racun Klan Tang, monster yang tiga minggu lalu bahkan tidak dianggap layak untuk masuk ke daftar peserta.
Tang Hyun berjalan masuk ke arena dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya, bukan karena dia takut, melainkan karena setiap langkah terasa seperti menarik beban di dadanya, karena lukanya di perut dan di lengan belum sepenuhnya sembuh, dan karena racun di dalam darahnya masih bergejolak akibat pertarungan melawan Baek Seolhwa tiga hari lalu, tetapi dia tidak menunjukkan rasa sakit itu, karena di Klan Tang mereka diajarkan bahwa kelemahan adalah undangan bagi kematian, dan dia sudah muak diundang oleh kematian.
Di seberangnya, Jang Mu-won berdiri dengan tenang seperti gunung, mengenakan jubah biru langit dari Gunung Hua dengan sulaman awan perak di bagian dada, rambutnya diikat dengan jepit giok, dan di tangannya ada pedang panjang bernama "Langit Tanpa Awan" yang katanya sudah ditepa oleh tiga generasi Ketua Sekte Gunung Hua dan yang bilahnya tidak pernah ternoda oleh darah orang yang tidak bersalah.
"Jadi kau anak itu," kata Jang Mu-won ketika mereka berdiri berhadapan, suaranya dalam dan tenang, "aku sudah mendengar banyak tentangmu. Katanya kau mengalahkan Mutiara Pedang dan Bunga Salju dengan cara yang tidak terhormat."
Tang Hyun menundukkan kepala sedikit, "Saya hanya menggunakan apa yang saya miliki, Tuan Jang."
Jang Mu-won mengangguk, "Baiklah. Aku tidak akan meremehkanmu. Aku akan bertarung dengan sungguh-sungguh, karena itu adalah bentuk penghormatan terbesar yang bisa kuberikan kepadamu."
Wasit mengangkat tangan tinggi-tinggi, dan seluruh arena menjadi sunyi, bahkan angin pun seolah berhenti bertiup, karena semua orang tahu bahwa pertarungan ini akan tercatat dalam sejarah, tidak peduli siapa yang menang.
"Mulailah!"
Kata itu menggema, dan Jang Mu-won menghilang.
Kecepatannya jauh di atas Nangong Yeon dan Baek Seolhwa, dan sebelum Tang Hyun sempat bereaksi, pedang "Langit Tanpa Awan" sudah berada di depan dadanya, membawa serta Qi yang terang seperti matahari dan panas seperti api, sebuah serangan yang disebut "Tebasan Fajar" yang bisa membelah gunung kecil.
Tang Hyun tidak menghindar, dia tidak bisa, sehingga dia memutar tubuhnya dan membiarkan pedang itu menggores sisi perutnya, sengaja, karena darah yang keluar langsung mengenai bilah pedang dan membuat bilah itu mendesis dan mengeluarkan asap, memaksa Jang Mu-won untuk mundur setengah langkah.
"Racun?" Jang Mu-won mengerutkan kening, "Kau menggunakan darahmu sendiri sebagai senjata?"
"Ya," jawab Tang Hyun sambil menekan lukanya, "karena itu satu-satunya yang saya punya."
Pertarungan dimulai dengan sungguh-sungguh, dan berbeda dengan pertarungan sebelumnya yang penuh dengan tipu daya dan racun tersembunyi, pertarungan ini adalah pertarungan antara kekuatan murni dan kelangsungan hidup, antara cahaya yang lurus dan bayangan yang berliku.
Jang Mu-won menyerang dengan serangkaian jurus Gunung Hua yang indah dan mematikan, "Pedang Awan Mengalir", "Tujuh Bintang Jatuh", "Langit Terbuka", setiap jurusnya bisa menghancurkan batu besar, dan setiap tebasannya memaksa Tang Hyun untuk terus mundur, menghindar, dan menggunakan setiap trik kotor yang dia tahu untuk bertahan hidup.
Namun Tang Hyun bukan lagi Gu Cheol yang dulu, dia adalah produk dari satu tahun penyiksaan di Klan Tang, dan tubuhnya sudah terbiasa dengan rasa sakit, sehingga setiap kali dia terluka, dia akan menggunakan darahnya untuk membalas, menyemprotkan kabut, melempar jarum, dan membuat arena menjadi medan yang tidak bisa diprediksi.
Sepuluh menit berlalu, dan keduanya sudah terluka, Jang Mu-won memiliki beberapa goresan di lengan dan lehernya yang berwarna ungu karena racun Tang Hyun, sementara Tang Hyun sudah hampir tidak bisa berdiri, jubahnya robek di mana-mana, dan darah mengalir dari sudut mulutnya.
"Berhenti," kata Jang Mu-won tiba-tiba, "kau sudah cukup. Kalau kita terus, salah satu dari kita akan mati."
"Aku tidak bisa berhenti," jawab Tang Hyun dengan suara serak, "aku belum sampai di akhir."
Jang Mu-won menatapnya lama, lalu dia menghela napas dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan langit di atas arena tiba-tiba menjadi terang, awan terbelah, dan Qi di sekitarnya menjadi padat seperti air.
"Jurus terakhir Gunung Hua," katanya pelan, "Langit Tanpa Awan: Hukuman Langit."
Semua orang di tribun berdiri, karena mereka tahu bahwa jika jurus ini jatuh, setengah arena akan lenyap.
Tang Hyun melihat itu dan tahu bahwa dia tidak punya cara untuk menghindar, sehingga dia melakukan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan, dia memotong telapak tangannya sendiri dengan jarum, membiarkan darahnya mengalir deras, dan kemudian dia menepuk dadanya dengan keras, memaksa seluruh darah di tubuhnya keluar dan berubah menjadi kabut merah raksasa yang menutupi seluruh arena.
"Kabut Darah Sembilan Bunga: Versi Terakhir," gumamnya, dan itu adalah teknik terlarang yang bahkan Tetua Ketiga melarangnya untuk menggunakannya karena bisa membuatnya mati seketika.
Kabut itu bertabrakan dengan "Hukuman Langit", dan terjadi ledakan yang membuat tanah bergetar, angin bertiup ke segala arah, dan ketika debu menghilang, orang-orang melihat pemandangan yang tidak bisa mereka lupakan seumur hidup.
Jang Mu-won berdiri dengan satu lutut, pedangnya menancap di tanah untuk menopang tubuhnya, dan di dadanya ada luka besar yang mengeluarkan darah, sementara Tang Hyun tergeletak di tanah, tidak bergerak, dengan tubuh penuh luka dan mata tertutup.
"Siapa... siapa yang menang?" bisik seseorang.
Wasit berlari ke tengah arena dan memeriksa nadi keduanya, lalu dia mengangkat tangan dengan ragu, "Pemenangnya... adalah... Jang Mu-won dari Gunung Hua!"
Sorakan meledak, tetapi sorakan itu tidak keras, karena semua orang baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seorang murid Klan Tang hampir mengalahkan murid utama Gunung Hua.
Tang Hyun dibawa keluar dari arena dengan tandu, dan dia tidak sadarkan diri selama tiga hari, demam tinggi, dan para tabib berkata bahwa jika dia tidak memiliki tubuh yang sudah ditempa racun, dia pasti sudah mati.
Ketika dia bangun, dia berada di kamar yang sama seperti setelah pertarungan melawan Baek Seolhwa, tetapi kali ini ada lebih banyak orang, Tetua Kedua, Tang Ling, dan di kursi dekat jendela, duduk Tang So-yeon.
"Kau kalah," kata Tang So-yeon langsung.
"Aku tahu," jawab Tang Hyun lemah.
"Tapi kau membuat seluruh dunia murim mengingat namamu," lanjut Tang So-yeon, "mulai hari ini, tidak ada yang akan berani menyebutmu pengemis lagi."
Tang Hyun tersenyum tipis, "Itu sudah cukup."
Malam itu, upacara penutupan turnamen diadakan, dan Jang Mu-won dinobatkan sebagai juara, tetapi semua orang tahu bahwa nama yang paling banyak dibicarakan bukanlah namanya, melainkan nama Tang Hyun.
Ketua Sekte Gunung Hua secara pribadi datang ke tenda Klan Tang dan memberikan hadiah kepada Tang Hyun, sebuah kotak berisi pil penyembuh terbaik di dunia, dan dia berkata, "Anak muda, kau memiliki hati seorang pejuang sejati. Aku harap suatu hari nanti kita bisa bertarung lagi, dengan cara yang lebih terhormat."
Tang Hyun hanya mengangguk, karena dia terlalu lelah untuk berbicara.
Tiga hari kemudian, rombongan Klan Tang bersiap untuk kembali ke Sichuan, dan sebelum pergi, Tang Hyun berdiri di puncak Gunung Hua dan menatap ke bawah, ke arah jalan yang penuh dengan tenda dan orang-orang yang perlahan-lahan bubar.
Tang So-yeon berdiri di sampingnya, "Apa yang kau pikirkan?"
"Aku berpikir," jawab Tang Hyun, "bahwa aku sudah tidak sama seperti dulu."
"Bagus," kata Tang So-yeon, "karena dunia juga tidak akan sama lagi setelah melihatmu."
Mereka turun gunung bersama, dan di sepanjang jalan, orang-orang memberi jalan kepada mereka, bukan karena takut, tetapi karena hormat.
Di malam terakhir perjalanan, ketika mereka berkemah di hutan, Tang Ling bertanya, "Jadi, apa rencanamu sekarang, Tang Hyun?"
Tang Hyun menatap api unggun, "Aku ingin menjadi lebih kuat. Kuat sampai tidak ada yang bisa menyakitiku, dan kuat sampai aku bisa melindungi orang yang penting bagiku."
Tang So-yeon yang duduk tidak jauh menoleh, "Dan siapa orang penting itu?"
Tang Hyun menatapnya, "Nona tahu."
Tang So-yeon tidak menjawab, tetapi untuk pertama kalinya, dia tidak mengalihkan pandangan.
Setibanya di Klan Tang, Tang Hyun langsung dipromosikan menjadi murid inti, sebuah posisi yang biasanya membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk dicapai, dan Tetua Ketiga menepuk bahunya dan berkata, "Kau membuatku bangga, anak muda."
Malam itu, Tang Hyun duduk sendirian di kamarnya yang baru, lebih besar, lebih bersih, dan di dindingnya tergantung pedang kecil yang diberikan Jang Mu-won sebagai tanda penghormatan.
Dia mengeluarkan surat yang dia terima kemarin, surat dari Nangong Yeon yang isinya hanya satu kalimat: "Pertarungan kita belum selesai."
Dan di bawah bantalnya ada selembar kertas kecil dengan tulisan tangan Baek Seolhwa: "Jaga dirimu. Dunia ini kejam."
Tang Hyun melipat semua surat itu dan menyimpannya, lalu dia berbaring dan menatap langit-langit.
Di luar jendela, bunga plum mulai mekar lagi, kelopaknya berwarna ungu gelap, indah dan beracun.
Dan di dalam hatinya, Gu Cheol yang dulu sudah mati sepenuhnya, dan yang tersisa hanyalah Tang Hyun, Anak Racun Klan Tang, yang baru saja mengambil langkah pertamanya menuju puncak dunia murim.