Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28 Di tuduh Mencuri Cincin Ana
Ana pura-pura syok dan duduk di kursinya kembali.
"Siapa yang melakukannya?"Tanya Amber menatap para karyawan satu persatu.
⁷
"Periksa tas kami satu persatu."Usul salah satu karyawan.
Ana tertawa di dalam hatinya. Dia akan menghancurkan mereka kali ini.
Lily dan Grace sama sekali tidak menanggapinya. Kedua wanita itu fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.
Mereka sama sekali tidak merasa jika mereka mengambil barang milik orang lain.
"Lily, sekarang milik mu."
"Aku sama sekali tidak mengambilnya. "
Amber menghela nafas.
"Jika kamu tidak melakukannya maka biarkan kami memeriksanya."
Lily mengeluarkan tasnya.
"Begitu dong."
Amber meraih tas Lily dan membukanya.
Ana hanya duduk manis di meja kerjanya. Membiarkan dua dayang-dayangnya melakukan pekerjaan mereka.
"Bagaimana Amber?"Bisik Jane.
"Tidak ada apa-apa."
Jane terlihat kecewa. Begitu juga dengan Amber.
Lily meraih tasnya.
"Sudah aku bilang. Jika aku tidak mengambil barang milik orang lain."Ujar Lily menatap Amber dan Jane.
"Kami hanya ingin memastikannya."Kesal Amber.
Amber dan Jane kembali melangkahkan kakinya. Kali ini mereka berhenti di hadapan Grace.
"Sekarang giliran mu."
"Aku sama sekali tidak melakukannya."Ujar Grace.
Amber sama sekali tidak mempedulikannya. Dia mengambil tas Grace dengan paksa.
Amber membukanya satu persatu. Bahkan Amber memeriksa dompetnya.
"Itu dompetku."Grace tidak terima.
Begitu Amber membuka dompetnya. Mata Amber melihat sesuatu.
"Pantas saja kamu tidak ingin memeriksanya. Dia yang mengambil cincin mu Ana."
Grace beranjak dari tempat duduknya.
"Apa yang kamu katakan? Bagaimana bisa benda itu ada di dompet ku?"
Grace terlihat pucat.
Dia menoleh kepada Lily dan seluruh karyawan lain.
"Aku..."
Grace tidak bisa berkata apa-apa.
"Tunggu dulu. Cincin ku rusak."Ujar Ana saat Amber mengembalikan cincinnya kembali.
Seluruh tangan Grace lemas.
"Bukan aku pelakukannya."
Ana mendekat.
"Lalu apa cincin ku ini bisa masuk ke dalam dompet mu begitu saja?" Ana menatap Grace.
Lily mendekat.
Dia menatap Grace.
"Apa kamu benar-benar melakukannya?" Lily menatap Grace.
Grace menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak melakukannya. Kamu percaya kepada ku kan Lily?"
Grace menatap Lily. Di matanya tidak memancarkan kebohongan.
"Aku sama sekali tidak melakukannya."Ujar Grace kembali.
Amber tersenyum kecil.
"Mana ada maling ngaku."
Amber dan Jane tertawa mengejek.
"Lebih baik dia di pecat. Kami sama sekali tidak ingin bekerja dengan seorang pencuri."Ujar salah satu karyawan.
Lily menatap sahabatnya. Dia tidak melihat adanya kebohongan di mata Grace.
"Dia mengatakan tidak melakukannya."Ujar Lily menatap Ana.
Ana tersenyum miring.
"Kamu membelanya? Dia mencuri cincin ku dan bahkan merusaknya. Cincin itu jelas ada di dalam dompetnya. Kamu masih membelanya?"
Ana menatap Lily.
"Ada apa ini?"
Tuan Hartono menatap para anggota timnya satu persatu.
Ana tersenyum kecil.
"Grace mencuri cincin ku dan merusaknya."Ujar Ana menatap tuan Hartono.
"Aku tidak melakukannya tuan."Sangkal Grace.
Semua orang tertawa. Dia sama sekali tidak percaya jika bukan Grace pelakunya. Bukti sudah terlihat di depan mata mereka semua.
Tuan Hartono menoleh kepada Security.
"Periksa cctv keamanan."
"Maaf tuan. Cctv di dalam ruangan ini rusak."
"Tunggu apa lagi tuan. Kita tidak punya bukti cctv. Kita melihat dengan mata kepala kita sendiri jika Amber menemukan cincin itu di dalam dompet Grace. Tidak mungkin Ana menyimpannya dan merusak barang miliknya bukan?"Ujar salah satu karyawan.
"Itu benar sekali."Amber segera membenarkannya.
Grace tidak bisa lagi membela diri. Dia hanya menangis. Tangannya gemetar. Hampir saja dia tidak bisa menopang tubuhnya.
Seumur hidup, ini pertama kalinya dia di anggap seorang pencuri pada sesuatu yang tidak ia lakukan.
Lily mendekat.
"Tuan Hartono, Grace mengatakan jika dia sama sekali tidak melakukannya. "
Lily membantu Grace memohon kepada tuan Hartono. Dia percaya jika Grace sama sekali tidak melakukan hal itu.
Lily percaya Grace tidak melakukannya. Dia akan membela sahabatnya.
"Pecat saja dia tuan Hartono."Ujar Amber.
"Amber benar tuan."Timpal Jane.
Seluruh karyawan menyetujuinya.
Tangan Grace semakin gemetar.
"Tolong jangan pecat saya. Saya tidak melakukannya. Saya akan melakukan apa pun asalkan jangan pecat saya tuan."
Grace menangis di depan tuan Hartono. Tangannya terangkat memohon kepada tuan Hartono.
Lily memalingkan wajahnya. Dia tidak sanggup melihat semua itu.
"Begini saja. Ganti rugi 1 miliar. Maka aku akan menganggap semuanya selesai."Ujar Ana menatap Grace.
Grace terjatuh ke lantai.
Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu. Bahkan satu tahun dia bekerja di perusahaan belum tentu ia bisa mengembalikannya.
"Setuju."Jawab Lily.
Grace menoleh kepada Lily.
"Kalau begitu kamu punya waktu satu minggu untuk membayarnya."
"Sekarang masalahnya selesai. Jangan ada lagi keributan seperti ini."Ujar tuan Hartono.
"Baik tuan."
Tuan Hartono meninggalkan tim nya. Semua orang kembali ke meja mereka masing-masing.
Grace meninggalkan meninggalkan semua orang.
Lily menoleh ke arah Grace. Tatapan Lily kemudian beralih kepada para karyawan lain.
Lily menghela nafas.
Dia menyandarkan punggungnya.
Di sisi lain, Grace duduk di atas closet. Buliran bening membasahi wajahnya. Grace memukul-mukul dadanya karena sesak.
"Apa sesakit ini rasanya tidak memiliki apa-apa? Semua orang menuduh kita atas hal yang tidak kita lakukan. Bahkan kita tidak punya suara untuk membela."Grace tertawa kecil.
Dia menertawakan kemalangannya sendiri. Di depan pintu kamar mandi Lily baru saja datang. Dia mendengar semuanya. Isakan tangis pilu Grace membuat Lily merasa iba.
Lily mengangkat tangannya mengetuk pintu. Mendengar hal itu, Grace menghapus air matanya.
Dia membuka pintu kamar mandi.
"Lily."
Lily memeluk Grace tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Maafkan aku Lily. Kamu terseret dengan masalah ku."Lirih Grace menundukkan wajahnya.
Lily melerai pelukannya.
"Tidak apa-apa. Jangan terlalu memikirkan semunya Semuanya akan baik-baik saja. Bukan kamu pelakunya."
Grace melerai pelukannya.
"Apa lagi yang bisa aku lakukan? Semua orang memandang rendah aku. Mereka hanya melihat cincin itu ada di dompet ku. Mereka sama sekali tidak mendengar apa yang aku katakan." Lirih Grace dengan berlinang air mata.
Lily kembali memeluk Grace.
"Aku percaya kepada mu Grace. Mengenai uang itu, aku bisa membantumu."
Grace terdiam.
Obrolan keduanya terhenti saat para karyawan melangkah masuk ke dalam toilet. Tatapan mereka tertuju kepada Grace.
"Siapa ini?"
"Hati-hati, barang kalian bisa di curi mereka."
"Pencuri seperti mereka tidak pantas berada di perusahaan."
Para karyawan mulai mencemooh Grace dan Lily. Tatapan mereka terlihat merendahkan Grace.
Lily mengepalkan tangannya. Dia menoleh kepada Grace. Wajah Grace terlihat pucat.
"Grace, jika miskin jangan jadi pencuri."
Grace terdiam.
Beberapa menit kemudian. Grace memilih pergi meninggalkan toilet.
Semua orang menertawakan Grace.
Lily mengepalkan tangannya.
"Hentikan."Teriakan Lily menggema di dalam toilet.