6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEASON 2. BAB 33 HUTANG 3 NYAWA
Setelah Bima mati. Setelah Pak Lurah jadi tanah. Kami kira adzan subuh menyelamatkan kami. Ternyata itu cuma penundaan 40 hari.
40 HARI KEDUA
Kota Jambi. Apartemen kosong.
Sudah 40 hari sejak malam di gapura itu. 40 hari sejak kami 4 orang pulang dengan luka di hati.
Aku, Selvi. Maya. Sinta. Riko.
Kami janji gak akan pisah. Tapi kenyataan beda.
Maya pindah ke rumah orang tuanya di Palembang. Katanya biar aman.
Sinta tinggal sama kakaknya. Tiap malem telpon aku nangis.
Riko tidur di masjid. Dia bilang biar ada yang jaga.
Aku? Sendiri di kos.
Jam 03.17. Lagi-lagi jam itu.
HP bergetar. Grup "SISA 4" yang kami bikin.
Pesan dari +62 8xx-xxxx-xxxx:
[1/6] FARHAN - LUNAS
[2/6] BIMA - LUNAS
[3/6] MAYA
[4/6] SINTA
[5/6] RIKO
[6/6] SELVI
"HUTANG 3 NYAWA. WAKTU 7 HARI. DIMULAI DARI YANG PALING LEMAH."
Jantungku copot.
Yang paling lemah. Maya.
Aku langsung video call Maya. Tidak diangkat.
Telpon. Tidak aktif.
"MAYA!!" teriakku.
Aku langsung pesen travel ke Palembang. 4 jam perjalanan.
RUMAH MAYA
Jam 07.00. Aku sampai di rumah Maya.
Pintu terkunci dari dalam. Lampu mati.
"BUK IBU!" teriakku ke tetangga. "Maya mana?"
Bu RT keluar. Wajahnya pucat. "Nak Selvi... dari jam 3 subuh ada suara teriakan dari rumah Maya. Pas kami dobrak..."
Jantungku berhenti.
Di dalam, ruang tamu berantakan. Meja pecah. Kaca berserakan.
Dan di tengah ruangan...
Sehelai kain kafan. Tergelar.
Di atasnya ada tulisan darah: "MAYA"
Tapi Maya tidak ada.
Di kamar mandi, air keran nyala. Penuh darah.
Di cermin, ada tulisan pakai lipstik:
"SAYA SUDAH PULANG KE GAPURA"
Polisi datang. Katanya "hilang".
Tapi aku tau. Dia sudah diambil.
PEMAKAMAN KOSONG
3 hari kemudian. Pemakaman Maya.
Petinya kosong. Sama seperti Farhan dan Bima.
Di batu nisannya tertulis: [3/6] MAYA - LUNAS
Sinta pingsan di kuburan. Riko cuma bisa menunduk.
Aku berdiri paling depan. "Ini salahku," bisikku. "Aku yang ngajakin KKN."
HP bergetar lagi.
"SISA 2. WAKTU 4 HARI. SINTA. RIKO."
TEROR KE SINTA
Hari ke-5.
Sinta menghilang dari kamar kakaknya.
CCTV menunjukkan jam 03.16, lampu kamar kedip. Lalu pintu kebuka sendiri. Sinta jalan keluar sambil melayang. Matanya putih semua.
Kami cari 1x24 jam. Tidak ketemu.
Hari ke-6. Ditemukan di Sumur Tujuh, Desa Bayunglencir.
Keadaannya... sama. Kain kafan melilit leher. Mata melotot ke atas.
[4/6] SINTA - LUNAS
Tinggal 2. Aku dan Riko.
KEPUTUSAN TERAKHIR
Hari ke-7. Malam terakhir.
Aku dan Riko di kosku. Tidak tidur.
"Sel, kita ke gapura," kata Riko. "Kita hadapin bareng."
"Kalau kita mati berdua gimana?" tanyaku.
Riko tersenyum. "Mending mati bareng daripada nunggu diambil satu-satu."
Jam 11.00 malam. Kami berangkat.
Sepanjang jalan, radio nyala sendiri. Suara Nyi Raras ketawa.
Jam 11.55. Sampai di gapura.
Kosong. Tidak ada peti. Tidak ada Pak Lurah.
Hanya kabut. Dan di tengah kabut, Nyi Raras.
Wajahnya lebih hancur dari dulu. "Akhirnya... 2 terakhir."
Riko maju. "Ambil aku! Lepaskan Selvi!"
Nyi Raras tertawa. "Tidak bisa. 2 untuk 2. Itu aturan."
Dia menarik kain kafan bertuliskan "RIKO".
Riko menoleh ke aku. "Sel... hidup ya..."
KRETEK
Leher Riko patah. Tubuhnya jatuh.
[5/6] RIKO - LUNAS
Tinggal aku.
Nyi Raras berjalan ke arahku. Kain kafan "SELVI" sudah di tangannya.
"Giliranmu," bisiknya.
Aku menutup mata. Pasrah.
Tiba-tiba...
ALLAHU AKBAR
Adzan Subuh lagi.
Nyi Raras menjerit. "TIDAK! BELUM WAKTUNYA!"
Tubuhnya terbakar. Dan dari dalam dirinya keluar 4 arwah. Farhan, Bima, Maya, Riko.
Mereka mengelilingiku.
"Selvi," kata Farhan. "Lari."
Aku lari. Tidak menoleh ke belakang.
EPILOG
1 tahun kemudian.
Desa Bayunglencir sudah rata dengan tanah. Pemerintah gusur karena "tanah longsor".
Aku pindah ke Jakarta. Ganti nama. Ganti identitas.
Tapi tiap jam 03.17, HPku tetap bergetar.
Isinya selalu sama:
"HUTANG LUNAS. TAPI KAMU PENUNGGU BARU. 40 TAHUN LAGI KAMU YANG NAGIH."
Dan di kaca kamar, selalu ada tulisan:
"SELVI - PENUNGGU GAPURA"
Aku tidak mati.
Tapi aku juga tidak hidup.
Aku terjebak.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭