Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Wajah

Di bawah langit sore yang kian menggelap, di teras rumah kayu yang sederhana itu, dua sahabat itu saling berpelukan erat. Hening sejenak, hanya terdengar napas hangat mereka yang menyatu, menyadari bahwa persahabatan mereka kini tumbuh lebih kuat—dibangun di atas rasa saling percaya, pengertian, dan kebanggaan atas perjuangan masing-masing. Rania merasakan genggaman tangan Yuna yang sedikit gemetar, merasakan betapa tulusnya penyesalan dan kasih sayang sahabatnya itu. Ia membalas pelukan itu dengan lembut, membiarkan kehangatan di antara mereka menyapu sisa-sisa kesedihan yang sempat menumpuk di hati.

Di tengah kehangatan itu, terdengar suara langkah kaki pelan mendekat dari arah jalan menujuke arah rumah. Keduanya melepaskan pelukan perlahan, lalu menoleh serentak. Di sana, berdiri sesosok wanita setengah baya dengan wajah yang lembut namun tampak lelah, rambutnya yang terurai rapi di bahu. Di kedua tangannya, ia membawa beberapa sayuran segar seperti bayam, kangkung, dan wortel yang masih berlumur sedikit tanah basah. Itu adalah Mamanya Rania, yang baru saja pulang dari ladang.

Mata wanita itu membelalakkan sedikit saat melihat kedua gadis yang berdiri berhadapan di teras, lalu senyum hangat merekah di bibirnya begitu menyadari kehadiran Yuna.

"Assalamualaikum..." sapa Mama Rania pelan, suaranya terdengar lembut namun penuh kehangatan. "Wah, ada tamu ya? Yuna sudah lama tidak datang"ucap mama rania.

"Waalaikumsalam, Tante..." jawab Yuna sedikit malu-malu, menyeka sudut matanya yang masih terasa basah. "Iya, Tante... Saya sedikit sibuk" ucap yuna.

Mama Rania melangkah mendekat, meletakkan sayuran yang ia bawa di meja kecil di teras, lalu mengusap kepala putri bungsunya itu dengan penuh kasih sayang. "Kamu sudah pulang, Nak. Bagaimana harimu di pasar?" tanyanya lembut, matanya menatap Rania dengan tatapan yang penuh bangga sekaligus sayu.

Rania tersenyum, menggenggam tangan Mamanya yang kasar namun hangat. "Semuanya baik, Ma. Aku pulang dengan selamat. Dan hari ini... hari ini aku mendapat sedikit lebih banyak upah karena hari ini banyak sekli pelangan " ucap rania seraya tersenyum.

" Kami sedikit kewalhan melayani pembeli " sambung rania.

Mama Rania mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca namun ia menahannya. "Syukurlah, Nak. Yang penting kamu sehat dan tidak kelelahan. Mari kita masuk, ya. Sudah mulai gelap, dan angin malam mulai terasa dingin" ucapnya.

Mereka pun bertiga melangkah masuk ke dalam rumah. Ruangan itu sederhana—dindingnya terbuat dari kayu yang sudah mulai menghitam dimakan usia, lantainya semen yang selalu bersih, dan di tengah ruangan terdapat meja kayu kecil yang menjadi tempat makan mereka sehari-hari. Namun di dalam kesederhanaan itu, terasa kehangatan yang menenangkan hati siapa pun yang masuk.

"Mari duduk dulu sebentar, Nak Yuna. Rania, kamu msndi dan bersihkan diri dulu ya. Cuci muka dan ganti pakaianmu, biar segar" ucap Mama Rania lembut sambil membawa sayuran itu ke dapur.

"Iya, Ma" jawab Rania. Ia menoleh ke arah Yuna.

"Tunggu aku sebentar ya, aku ganti baju dulu" ucap rania.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. "Iya, kamu pergi saja. Aku bantu Tante di dapur sebentar" ucap yuna.

Rania pun melangkah menuju kamarnya yang kecil namun rapi. Ia membuka tas anyamannya, mengeluarkan uang pemberian Bu Rahma yang tersimpan rapi di dalamnya, lalu meletakkannya di bawah bantal tempat tidurnya—disimpan dengan hati-hati, seolah itu adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki.

Setelah itu, ia melepas pakaiannya dan pergi mandi lalu memakai baju santai berwarna putih bersih yang nyaman di kulit. Wajahnya ia basuh dengan air dingin yang segar, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan hingga jatuh terurai rapi di bahu. Saat menatap bayangannya di cermin kecil di dinding, Rania tersenyum tipis—ia terlihat segar kembali, dan hatinya terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Tak lama kemudian, Rania keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Di sana, di ruangan sederhana yang beraroma kayu dan air bersih itu, Yuna sudah sibuk membantu Mamanya.

Yuna sedang duduk di bangku kayu, tangannya lincah memilah sayuran hijau, membuang bagian yang tidak terpakai dan menyusunnya di wadah bersih. Sementara itu, Mama Rania sedang mengupas wortel di sisi lain, wajahnya tampak tenang dan damai.

"Kamu sudah selesai, Nak?" sapa Mama Rania tanpa menoleh, namun senyumnya terdengar jelas dari nada bicaranya.

"Iya, Ma. Aku bantu apa nih?" tanya Rania mendekat.

"Kamu bantu cuci sayuran yang sudah dipilah Yuna itu, ya" jawab Mamanya lembut.

"Lalu siapkan piring dan gelas di meja makan. Nasi sudah matang di panci sebentar lagi" ucapnya lagi memberi intruksi.

"Siap, Ma" ucap Rania ceria. Ia pun segera mengambil wadah berisi sayuran yang sudah bersih, lalu membawanya ke tempat cucian. Air yang mengalir sejuk menyentuh tangannya, membersihkan sisa-sisa tanah yang masih menempel pada batang sayur. Setiap sayuran ia bilas dengan teliti, memastikan tidak ada kotoran yang tersisa. Hatinya terasa damai, menikmati setiap gerakan tangannya yang sederhana namun penuh makna. Di sampingnya, Yuna terus memilah sayuran sambil sesekali bercanda dengan Rania, membuat suasana dapur yang hangat itu menjadi semakin hidup dengan suara tawa mereka yang pelan namun tulus.

Tak lama berselang, aroma masakan mulai tercium harum memenuhi ruangan. Sayur bening berisi bayam dan wortel mengeluarkan uap hangat yang mengepul, di sampingnya terdapat tempe goreng yang renyah dan sambal terasi yang sederhana namun menggugah selera. Nasi hangat yang putih bersih sudah tersaji di meja makan, mengisi ruangan itu dengan kehangatan yang menenangkan.

"Semuanya sudah siap" ucap Mama Rania pelan, meletakkan panci sayur di tengah meja.

"Mari kita makan bersama"sambungnya.

Mereka pun duduk melingkar di meja kayu kecil itu. Rania di sebelah Mamanya, dan Yuna duduk di hadapan mereka. Tangan mereka bertiga merentangkan telapak tangan, berdoa bersama dalam hati, mengucap syukur atas rezeki sederhana yang tersaji di hadapan mereka malam ini.

"Mari dimakan, Nak. Jangan sungkan ya, Yuna. Anggap saja di rumah sendiri" ucap Mama Rania lembut sambil menyendokkan sayur ke piring Yuna.

"Terima kasih, Tante... Maaf merepotkan" jawab Yuna tulus, matanya menatap makanan di piringnya dengan rasa haru.

"Kamu ini anak baik. Tidak merepotkan sama sekali" kata Mama Rania sambil tersenyum.

"Rania terlihat senang sekali kalau ada kamu datang ke sini. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat untuknya" ucap mama rania.

Yuna menatap Rania sejenak, lalu tersenyum hangat. "Justru saya yang berterima kasih, Tante. Rania... Rania yang sudah mau berteman dengan saya" ungkap yuna.

Rania hanya tersenyum malu-malu, menyendokkan nasi ke mulutnya perlahan. Rasanya sederhana, namun begitu nikmat—nasi hangat, sayur bening yang segar, dan tempe goreng yang gurih. Di meja makan sederhana itu, di antara dua wanita yang ia sayangi, Rania merasa hatinya penuh hingga meluap-luap. Tidak ada kemewahan, tidak ada piring porselen mahal atau hidangan yang rumit.

Namun ada kehangatan yang tak bisa dibeli dengan uang, ada kasih sayang yang mengalir pelan namun pasti, ada kebersamaan yang membuat setiap suapan terasa begitu berharga.

Mereka makan dalam keheningan yang damai, sesekali diselingi percakapan ringan—tentang sekolah, tentang tanaman di ladang, tentang Bu Rahma dan lapak sayurnya. Mama Rania mendengarkan cerita Rania dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk pelan dan tersenyum bangga. Yuna pun ikut bercerita, menceritakan kekagumannya pada keteguhan hati sahabatnya itu.

Saat makan malam itu selesai, Rania dan Yuna bersama-sama membereskan meja makan. Piring-piring kotor mereka bawa ke dapur, lalu dicuci bersama-sama sambil berbisik-bisik dan tertawa pelan, seolah tak ingin mengganggu keheningan malam yang mulai menyelimuti desa itu. Mama Rania duduk sebentar di kursi teras, menatap langit yang penuh bintang dengan hati yang tenang dan penuh syukur.

Ia tahu, putrinya tumbuh menjadi gadis yang luar biasa—tegar, jujur, dan penuh kasih sayang. Dan malam ini, di hadapan sahabatnya, Rania telah membuktikan bahwa keberanian dan ketulusan hati jauh lebih berharga daripada apa pun di dunia ini.

Untuk sejenak mma rania terdiam sambil menatap langit, ia teringat akan kedua buah hatinya yang berada jauh darinya. Rian dan rina yang sekarang berada di rumah ayah mereka.

Malam itu berakhir dengan damai. Yuna berpamitan pulang setelah makan malam, berjalan pulang dengan hati yang penuh kehangatan dan pelajaran berharga yang baru saja ia pelajari. Rania mengantarnya sampai ke teras rumah, dan saat sahabatnya itu menghilang di tikungan jalan, Rania berdiri sejenak menatap langit malam yang jernih. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara sejuk menyentuh wajahnya, lalu tersenyum penuh keyakinan. Besok adalah hari yang baru, dan ia siap menghadapinya dengan kepala tegak dan hati yang lapang.

Matahari pagi menyelinap lembut menembus celah jendela kamar Rina, menyinari ruangan luas yang tertata rapi dan penuh kemewahan. Rina sudah berdiri di depan cermin, berpakaian rapi dan elegan—sesuai dengan gaya yang selalu ia tampilkan di hadapan semua orang.

Riasannya tipis namun sempurna, pakaiannya menutup tubuhnya dengan sopan namun tetap memancarkan keanggunan yang terpelajar. Ia merapikan sedikit ujung bajunya, lalu menghela napas panjang, berusaha menata kembali hatinya sebelum melangkah keluar dari kamar itu.

Dengan langkah yang mantap dan tenang, Rina berjalan menyusuri lorong rumah besar keluarga Wijaya yang senyap dan dingin. Lantai marmer mengkilap memantulkan bayangannya, seolah mengingatkan kembali pada peran yang harus ia mainkan setiap hari—peran sebagai anak yang penurut, patuh, dan tidak pernah membantah.

Namun baru saja kakinya melangkah menuju pintu utama, langkahnya terhenti seketika. Sosok wanita berdiri tegak di sana, tepat di hadapannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan dia adalah laras, ibu tirinya.

"Mau ke mana, Rina, sepagi ini?" tanya Laras dengan nada yang tenang namun tajam, matanya menatap lekat-lekat wajah gadis itu seolah sedang meneliti setiap ekspresi yang tersembunyi di balik senyumnya.

Rina berhenti, lalu perlahan membalikkan badannya menghadap Laras. Wajahnya tetap tenang, senyum tipis masih terpatri di bibirnya, seolah tidak ada beban apa pun di hatinya.

"Aku mau pergi, Bu" jawab Rina cepat, suaranya terdengar mantap dan tidak ragu sedikit pun.

"Kan kemarin Ibu memintaku untuk melakukan sesuatu. Bukankah itu yang Ibu inginkan?" Ucap rina tenang.

Laras terdiam sejenak, menatap wajah anak tirinya itu dalam-dalam. Ia mengangguk pelan, seolah puas dengan jawaban yang ia dengar.

"Ya sudah..." ucap Laras pelan, matanya masih tak lepas dari wajah Rina. "Hati-hati di jaln dan Cepat pulang" ucapnya.

Rina tersenyum lebih lebar, senyum yang tampak begitu ceria dan patuh di mata siapa pun yang melihatnya.

"Oke, siap, Bos!" ucapnya ringan, nada bicaranya terdengar riang seolah-olah ia benar-benar senang dengan perintah itu.

Tanpa menunggu lagi, Rina melangkah mantap meninggalkan Laras, berjalan menuju pintu depan dengan punggung yang tegak dan langkah yang percaya diri. Ia terus berjalan, tidak menoleh ke belakang lagi, seolah-olah beban berat yang baru saja ia tinggalkan di belakang punggungnya itu tidak ada artinya sama sekali.

Sesampainya di teras rumah yang luas dan megah itu, Rina berhenti sejenak. Ia berdiri di sana, menatap ke arah halaman depan yang terbentang luas dengan rumput hijau yang terawat rapi.

Perlahan, ia menghela napas panjang—satu tarikan napas yang begitu dalam, seolah ingin menyedot seluruh udara segar di sekitarnya untuk mengisi kembali paru-parunya yang terasa sesak.

Namun begitu napas itu diembuskan keluar, wajah Rina seketika berubah 180 derajat. Senyum yang tadi begitu cerah dan manis itu lenyap seketika, digantikan oleh raut wajah yang penuh kejengkelan, kekesalan, dan rasa muak yang begitu dalam.

Matanya yang tadi berbinar ceria kini meredup, dipenuhi dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan yang tertahan. Bibirnya terkatup rapat, menekan kuat agar tidak ada kata-kata kasar yang meluncur keluar. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, kuku-kukunya menancap lembut di telapak tangan, menahan rasa sakit yang sebanding dengan rasa muak yang sedang ia rasakan.

"Disini aku yang mengatur permainanya, laras.." gumamnya pelan, suaranya bergetar menahan amarah. " Nikmatilah kebahagianmu yang aku berikan, karena aku akan segera mengambilnya kembali" ucap rina pelan.

Rina menatap ke arah garasi yang terbentang tidak jauh dari sana, tempat mobilnya terparkir rapi. Ia menarik napas panjang sekali lagi, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu karena emosi.

Langkah kakinya yang tadi mantap kini terasa berat, namun ia tetap melangkah—menuju garasi, menuju mobilnya, menuju kewajiban yang harus ia lakukan. Wajahnya kembali berusaha ditata, menyembunyikan rasa muak itu secepat mungkin, karena ia tahu, di luar sana masih banyak mata yang mengawasi. Dan ia tidak boleh terlihat lemah, tidak boleh terlihat rapuh, tidak boleh terlihat kalah.

Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tenang, Rina membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam, dan menutup pintu itu rapat-rapat.

Di dalam ruang tertutup itu, ia membiarkan dirinya menunduk sejenak, memejamkan mata rapat-rapat, dan merasakan betapa lelahnya hatinya pagi ini. Lalu, perlahan ia menyalakan mesin mobil, membiarkan deru halus itu mengisi keheningan di sekelilingnya, sebelum akhirnya melaju perlahan meninggalkan halaman rumah besar yang terasa begitu dingin dan penuh kepura-puraan itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!