Hidup bukan sekadar berjalan mengikuti arus dunia, melainkan tentang bagaimana jiwa menemukan jalan pulang kepada Sang Pencipta.
Fazam Arjuna mengira hari-harinya hanya akan diisi dengan kesederhanaan hidup dan secangkir kopi di rumah bersama keluarga tercinta. Namun, takdir membawanya pada sebuah panggilan batin yang jauh lebih dalam—sebuah perjalanan laku spiritual yang menguji keteguhan hati, kesabaran, dan keikhlasan.
Di tengah sunyinya jalan setapak pencarian hakikat diri, langkah Fazam tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh rahasia semesta yang terbentang, pengawalan batin dari sosok harimau putih, hingga bimbingan penuh kearifan dari Eyang Semar yang menuntunnya menembus tirai gaib kehidupan.
Bagaimana kisah Fazam dalam menyucikan hati dan menemukan cahaya sejati di tengah liku-liku batinnya?
Ikuti perjalanan penuh hikmah dan misteri batin dalam Perjalanan Laku Spiritual. Temukan jawabannya di setiap lembarnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Di Antara Pujian dan Kebenaran
Hari-hari di desa berjalan semakin damai, dan kebaikan yang tumbuh perlahan menyebar ke mana-mana. Orang-orang tidak lagi memandang Fazam dengan pandangan bingung atau ragu — mereka memandangnya dengan hormat, ramah, dan penuh kepercayaan. Setiap pagi saat ia berjalan melewati jalan tanah menuju ladang, tetangga menyapa dengan senyum hangat. Anak-anak berlari mendekat bukan karena takut, tapi karena merasa tenang di dekatnya. Bahkan mereka yang dulu berbisik dan mencari kesalahan kini berjalan mendekat untuk meminta nasihat — bukan karena terpaksa, tapi karena hati mereka sendiri yang tertarik pada ketulusan yang terpancar dari wajah Fazam.
Namun Fazam tahu — hormat dan pujian orang adalah ujian yang lebih tajam daripada amarah dan celaan. Amarah bisa kau hadapi dengan kesabaran — tapi pujian bisa membuat hatimu membusuk tanpa kau sadari, seakan air yang tenang namun dalam menyembunyikan dasar yang licin. Setiap kali orang memujinya — "Fazam baik sekali," "Fazam saleh," "Hati Fazam bersih" — ada bisikan halus di sudut hatinya yang berkata: "Lihat, mereka mengakui kebaikanmu. Kau berbeda dari yang lain." Dan bisikan itulah yang paling ia takuti — karena ia tahu, sekecil apa pun rasa bangga diri itu, ia akan menutup pintu hati dan memadamkan cahaya yang menyala di sana.
Pagi itu, saat Fazam sedang membersihkan halaman rumah, datanglah seorang tetua desa — Mbah Karto, orang yang paling dihormati di desa itu, yang hidupnya panjang dan penuh pengalaman. Ia berjalan perlahan dengan tongkat kayu, wajahnya penuh kerutan namun matanya jernih dan tajam melihat apa yang sering tidak dilihat orang lain. Fazam segera meletakkan sapu, lalu mendekat dengan hormat dan menundukkan kepala.
"Assalamualaikum, Mbah. Silakan duduk," ucapnya lembut sambil mempersilakan ke beranda.
Mbah Karto duduk perlahan di bangku kayu, menatap Fazam lama sekali — meneliti wajah, mata, dan sikap pemuda itu. Lalu ia tersenyum tipis, senyum orang tua yang telah melihat banyak hal datang dan pergi.
"Le Fazam... desa kita beruntung ada kau di sini," ucap Mbah Karto pelan namun tegas. "Orang-orang mulai berubah — lebih sopan, lebih saling memaafkan, lebih ingat kepada-Nya. Semua karena keteladananmu. Kau membawa cahaya ke tempat yang lama gelap."
Fazam merasakan dadanya bergetar — bukan bangga, justru sebaliknya: ia merasa kecil dan takut. Ia segera merapatkan kedua telapak tangannya di dada, lalu menundukkan kepala lebih dalam.
"Mbah... hamba mohon jangan memuji hamba begitu," jawabnya lembut namun tulus. "Itu bukan dari hamba. Hamba hanyalah debu yang diberi napas. Jika ada cahaya yang terlihat — itu cahaya-Nya, bukan cahayaku. Hamba hanyalah kaca yang berusaha tetap bersih — agar cahaya itu bisa menembus. Jika kaca itu kotor, cahayanya terhalang. Jika bersih — cahayanya lewat. Maka puji dan syukur hanya kepada-Nya — karena Dia yang menyinari, Dia yang membersihkan, Dia yang menuntun. Hamba tidak ada apa-apanya."
Mbah Karto mengangguk pelan, matanya bersinar lembut — ia senang mendengar jawaban itu, karena justru itulah tanda hati yang benar-benar bersih.
"Kau paham sekali, Le. Dan itulah yang membuatmu berbeda — kau tidak merasa hebat saat dipuji. Tapi dengarkan nasihat orang tua ini — semakin orang memujimu, semakin berat beban yang kau pikul. Karena pujian itu seperti madu — manis di lidah, tapi bisa meracuni hati jika kau telan bersama rasa bangga," ucap Mbah Karto dalam.
"Benar sekali, Mbah. Hamba merasakannya setiap hari — ada bisikan kecil yang ingin merasa 'aku baik', 'aku berguna'. Dan hamba berjuang setiap hari melawan bisikan itu — karena di hadapan-Nya, hamba tahu hamba tidak ada apa-apanya," jawab Fazam tulus.
"Perjuangan itulah yang sebenarnya, Le. Bukan mendaki bukit atau berpuasa — tapi merendahkan hati setiap hari, setiap saat, di tengah pujian maupun celaan. Itulah jalan laku yang sesungguhnya," sahut Mbah Karto.
Setelah tetua itu pulang, Fazam tidak kembali bekerja. Ia duduk sendirian di bawah pohon mangga di halaman rumah, menatap tanah di hadapannya dengan hati yang berat sekaligus jernih. Ia sadar — semakin ia melangkah, semakin ujiannya halus dan dalam. Dulu ia diuji dengan amarah dan celaan — itu mudah dihadapi dengan kesabaran. Kini ia diuji dengan kasih dan pujian — dan itu jauh lebih berat, karena masuk ke dalam hati tanpa terasa.
Ia menutup matanya, menarik napas panjang, lalu berbicara di dalam hati — tulus, rendah, dan penuh kepasrahan:
"Ya Allah... Engkau tahu isi hati hamba — betapa kecilnya hamba, betapa lemahnya hamba. Jika orang memuji hamba — itu karena Engkau yang bersinar melalui hamba. Jika orang mencela hamba — itu karena hamba belum cukup bersih. Jangan biarkan pujian membuat hamba menjadi besar diri, dan jangan biarkan celaan membuat hamba putus asa. Jagalah hati hamba tetap rendah seperti tanah — diinjak, diinjak berulang kali, namun tetap diam dan memberi kehidupan. Karena di hadapan-Mu, hanyalah Engkau yang ada — dan hamba hanyalah titipan napas-Mu di dunia ini."
Sore itu, hal lain datang menguji hatinya — hal yang lebih halus. Seorang ibu muda datang membawa anak perempuannya yang masih kecil — wajah anak itu pucat dan matanya lesu. Ia mendekat dengan penuh hormat, lalu berlutut di depan Fazam.
"Le Fazam... tolonglah anakku. Dia sakit lama, tidak sembuh-sembuh. Orang bilang doamu mustajab — karena hatimu dekat kepada-Nya. Tolong doakan dia, dan katakanlah apa yang harus kulakukan agar dia sembuh," pinta ibu itu dengan suara bergetar penuh harap.
Fazam segera membantunya berdiri, menatapnya dengan lembut namun tegas — tidak ingin ia menaruh harapan pada manusia, meski niatnya tulus.
"Ibu... hamba berdoa bersama Ibu — itu akan hamba lakukan dengan sepenuh hati," ucap Fazam pelan namun jelas. "Tapi hamba mohon — jangan menaruh harapan pada hamba. Taruhlah harapan hanya kepada-Nya — karena Dia yang menyembuhkan, Dia yang memberi kehidupan, Dia yang menjaga setiap napas anak ini. Hamba hanyalah manusia biasa — berdoa bersama Ibu, memohon kasih-Nya. Tapi keputusan ada sepenuhnya pada-Nya — dan apa pun yang Dia tetapkan, ada kebaikan di baliknya."
Mereka berdoa bersama — Fazam merapatkan kedua telapak tangannya, menundukkan kepala, dan memohon dengan tulus agar anak itu diberi kesembuhan atau kekuatan yang sebanding dengan ujiannya. Namun setelah selesai, ia kembali mengingatkan — lembut namun tegas:
"Pulanglah, Ibu. Rawatlah anakmu dengan kasih, dan berdoalah sendiri — doa seorang ibu untuk anaknya itu yang paling didengar-Nya. Percayalah sepenuhnya kepada-Nya — dan jangan takut. Karena Dia tidak pernah tidur, tidak pernah lupa, dan tidak pernah meninggalkan siapa pun yang hati kembali kepada-Nya."
Saat ibu itu pergi, Fazam berdiri diam sejenak — menyadari betapa mudahnya orang menempatkan manusia di tempat yang seharusnya hanya milik-Nya. Betapa cepatnya mereka lupa kepada Sang Sumber, dan justru memuja wadah yang sederhana ini. Dan betapa beratnya menjaga hati tetap lurus — tidak menyalahkan mereka yang salah paham, namun juga tidak membiarkan diri tergelincir menjadi yang disembah.
Malam itu, saat seluruh desa sudah tidur dan hening menyelimuti segalanya, Fazam duduk di beranda rumah bersama Bapak. Langit di atas mereka gelap namun penuh bintang yang berkelap-kelip — begitu banyak, begitu indah, namun tak ada satu pun yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Bapak memandang langit, lalu berbicara pelan:
"Le... melihat bintang-bintang itu — tidak ada yang berteriak 'aku terang', tidak ada yang memuji satu sama lain. Mereka hanya menyala dalam diam, masing-masing di tempatnya, dan membiarkan cahayanya memancar tanpa mengharap pujian. Seharusnya begitu juga hati manusia — menyala karena diberi cahaya, dan tahu sepenuhnya bahwa cahaya itu bukan miliknya," ucap Bapak dalam.
Fazam menatap bintang-bintang itu, lalu tersenyum lembut — lega dan damai.
"Benar, Pak. Hamba akan berusaha menjadi seperti itu — menyala dalam diam, rendah hati, dan selalu ingat dari mana cahaya ini berasal," jawabnya tulus.
Di dalam sanubarinya, di tengah keheningan malam yang mendalam itu, zikir lembut terus mengalir — menjadi perlindungan, menjadi pengingat, menjadi jalan yang tak pernah berakhir:
"Allah... Allah... Allah..."