Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Ide Januar
Berbeda dengan sebelumnya, wanita bernama Sarah itu datang lagi ke rumah Juragan Marta, tanpa ibunya. Dia bertandang pagi-pagi, sengaja sekali ingin bertemu dengan Biyakta.
Saat Biyakta dan Diyah bergabung ke meja makan. Sarah langsung mengalihkan perhatiannya, begitu juga dengan Laksmi yang tak sabar melihat reaksi pria itu, dia yakin Biyakta pasti akan menyukai gadis yang dibawanya.
"Pagi, Biyakta, Diyah," sapa Laksmi sambil tersenyum lebar.
"Pagi, Bude," balas Diyah yang lantas tatapannya beralih pada Sarah. Senyum di bibirnya sempat menghilang, tetapi karena tak ingin dicap sombong, Diyah menyapa wanita yang sempat membuatnya cemburu itu. "Eh Sarah ada di sini?" ujarnya sambil memeluk lengan Biyakta lebih erat. Seakan ingin menunjukkan bahwa pria itu hanya miliknya.
"Iya, dia mau ikut sarapan. Oh iya Biyakta, ini Sarah—anaknya sahabat Bude," sambar Laksmi langsung memperkenalkan Sarah kepada Biyakta, dia benar-benar tidak memikirkan bagaimana respon sekitar. Padahal di keluarga tersebut masih ada yang lajang, kenapa Laksmi tidak mengenalkan Sarah kepada Januar?
Tujuannya satu, dia ingin mendepak Diyah dari keluarga Kusuma, hanya karena dirasa tidak setara.
"Aku Sarah," ucap wanita itu, menyelipkan rambutnya dengan manis sambil mengulum senyum.
"Hem," balas Biyakta dengan cuek, dia juga tak melirik Sarah sedikit pun. Membuat wajah Sarah berubah masam seketika. Dia dan Laksmi saling tatap.
"Aku diundang sama Bibi Laksmi, karena kebetulan lagi libur," ujar Sarah lagi tak menyerah.
"Iya, dari dulu kan Sarah dekat dengan Bude, jadi suka Bude ajak main, tapi setelah jadi pramugari dia agak sibuk. Oh iya—"
"Sudahlah, Laksmi, orang-orang sudah lapar," potong Juragan Marta, merasa perkenalan itu tidak penting, mengingat semua orang memiliki kesibukan masing-masing.
Laksmi langsung kicep, sementara Diyah tersenyum penuh kemenangan karena sang mertua memahami situasinya. Dia pun melakukan tugasnya sebagai seorang istri, mengambilkan makanan untuk Biyakta.
"Hari ini aku lagi malas pegang sendok, kamu saja yang suapi," ujar Biyakta tanpa peduli tatapan orang-orang.
Diyah melirik Laksmi yang tampak sangat kesal. Tanpa pikir panjang Diyah langsung mengiyakan. "Ya sudah sini biar aku suapi. Aaa ...."
Melihat pemandangan itu hati Sarah pun langsung terbakar. Dia merasa kehadirannya seperti angin lalu, berbeda dengan Juragan Marta dan Mbok Sum, mereka sangat senang sekali melihat sejoli itu akur dan romantis.
"Mentang-mentang masih pengantin baru, Bapak jadi agak iri," goda Juragan Marta sambil geleng-geleng kepala.
"Kalau Bapak iri, ya tinggal menikah lagi, apa susahnya," balas Biyakta dengan enteng yang membuat Juragan Marta langsung mendengus. Tidak semudah itu dia menggantikan posisi mendiang istrinya.
"Mas Biyakta kayak anak kecil ya, Pak, sukanya disuapin," timpal Tama, yang juga sedang disuapi oleh ibunya. Dia memang terbiasa memanggil Juragan Marta dengan panggilan Bapak.
"Iya, manja ya, Tama?" ledek pria paruh baya itu.
Tama langsung manggut-manggut dan bicara dengan mulutnya yang penuh. "Belalti umulnya Mas Biyakta balu lima tahun, sama kayak aku."
"Sudah jangan ngomong terus, nanti keselek!" tukas Laksmi yang terlanjur kesal karena rencananya tidak sesuai. Begitu juga dengan Sarah yang mendadak tak selera makan.
'Kemarin dia hanya bisa diam, tapi sekarang dia malah sok-sokan menunjukkan kemesraan.' batin Sarah sambil mengeratkan gigi depannya.
***
Diyah telah mendengar kabar dari orang tuanya tentang Sarmila yang ingin pergi ke kota untuk mengubah nasib menjadi seorang artis. Untuk itulah Diyah pulang ke rumah. Namun, sepertinya sudah terlambat untuk menasehati adiknya, karena tekad Sarmila sudah sangat bulat, esok dia akan dijemput beserta rombongan yang lain, dan sekarang dia sedang berkemas.
"Mila, coba pikirkan lagi. Kamu tidak boleh langsung percaya begitu saja. Ayo kita cari tahu dulu!" ujar Diyah mencoba untuk membujuk adiknya yang keras kepala. Yang bahkan selalu menganggapnya sebagai saingan.
Sarmila langsung berhenti mengemas. Dia menatap Diyah dengan tajam. "Kenapa, Kak? Kak Diyah takut aku sukses? Makanya ngelarang-larang aku kayak gitu?"
"Nggak gitu lah, Mila. Kakak cuma takut aja, lagian mereka ini kan belum jelas kredibilitasnya. Kalau ternyata mereka nipu gimana?" balas Diyah dengan menggebu-gebu, sebab dia menyayangi Sarmila layaknya adik kandung.
"Nggak usah sok peduli deh. Aku udah cari tahu sendiri, dan mereka memang dekat sama artis-artis terkenal, ada kok foto-fotonya. Jadi Kakak lebih baik pulang sekarang!" Sarmila mendorong Diyah supaya keluar dari kamarnya, supaya Diyah tidak mengganggu, apalagi sampai membuatnya ragu.
"Tapi—" Diyah tak sempat bicara lagi, tubuhnya terdorong dan Sarmila segera menutup pintu serta menguncinya.
"Huh, aku tahu dia itu nggak mau kalah saing. Liat aja nanti kalo aku udah sukses. Aku bakal balik kampung bawa mobil yang mewah dan bikin rumah yang super gede," cerocos Sarmila sambil mendengus kasar.
Sedangkan Diyah hanya bisa mengelus dada, sebab dia gagal membujuk adiknya.
****
Di bumi belahan lain.
Januar yang juga sudah mendapat bagian untuk mengelola sawah dan kebun, tampak sedang sibuk memberi titah kepada para pekerjanya.
"Tapi, Den, kalo misalkan pupuknya diganti merek lain takut mempengaruhi hasil panen. Apalagi ini kwalitasnya di bawah yang sebelumnya," ujar seorang buruh tani yang sudah bekerja beberapa tahun di keluarga Kusuma. Makanya dia sudah hafal apa-apa yang harus digunakan.
Januar melirik tak suka, karena idenya dibantah. Padahal dia sampai kurang tidur beberapa malam karena terus memikirkannya.
"Di sini kamu atau aku bosnya?" tukas Januar sambil bertolak pinggang dan mata melotot. Hingga pria paruh baya di depannya menunduk takut.
"Maafkan saya, Den," ujarnya dengan wajah pucat, khawatir akan diberhentikan dari pekerjaan yang sudah menghidupi keluarganya ini.
"Makanya kerjakan saja apa yang aku perintahkan! Biar nanti aku yang tanggung jawab," tandas Januar. Pria itu langsung mengangguk, lalu kembali ke pekerjaannya. Masalah ini hanya mereka yang tahu, dan dipastikan tidak boleh tercium oleh Biyakta.
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh