Indonesia
NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertangkap Basah

# Tertangkap basah! #

"Ini sebenarnya ada apa ya, Nona? Kok sepertinya situasinya bahaya sekali... Lebih baik kita pulang saja yuk?" bisik Bi Muna cemas.

Sora mengangguk cepat sembari menoleh ke kanan dan ke kiri secara bersiaga. Hatinya tidak tenang. Saat ini, Sora dan Bi Muna sedang duduk menanti di kursi panjang depan area toilet. Mereka menantikan Ino yang sedang berganti pakaian di dalam. Meski Ino tidak menceritakan detail rencananya, Sora cukup peka untuk menyadari bahwa kawan barunya itu sedang berupaya keras melarikan diri dari kejaran seseorang.

Sementara itu, di dalam bilik toilet pria, Ino sibuk meluapkan kekesalannya sambil berganti baju secepat kilat.

"Ish... Mommy nggak asyik banget! Baru juga main dua hari udah dicari-cari," gerutu Ino berbisik. "Axcel... kau jangan bangun dulu ya! Jangan berontak. Tidur yang nyenyak, aku masih mau main sama Sora!"

Ino mengenakan dress panjang feminin, pakaian yang awalnya secara diam-diam ia belikan untuk Bi Muna. Siapa sangka, dress itu justru menjadi penyelamat utamanya saat ini. Ino harus berhasil kabur dari Mark, asisten pribadi mommy nya. Ia menolak keras dibawa pulang hanya untuk dikurung di dalam kamar sampai mati kebosanan.

BUKKK!

"Aduh!"

Ino yang keluar dari bilik toilet dengan tergesa-gesa tak sempat menghindari seseorang yang hendak masuk. Benturan itu tidak sampai membuatnya jatuh, tetapi sukses menggeser posisi wig rambut wanita yang ia kenakan.

Dengan panik, Ino membetulkan posisi wig-nya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Penyamarannya nyaris terbongkar! Yang lebih mengerikan, orang yang baru saja ia tabrak adalah Mark, sosok yang paling ingin ia hindari dari sekian banyak pengawal di mall ini.

"Haiiihh... Maaf Nona! Sepertinya saya salah masuk toilet... Maaf... Maaf..." Mark berkali-kali meminta maaf sembari menunduk.

Ino hanya bisa membisu dan terus menundukkan kepala. Mark bergegas keluar. Namun, sebelum Ino sempat menghela napas lega, Mark mendadak berbalik masuk kembali.

"Loh? Tapi ini benar logo toilet pria! Nona yang salah masuk!" gertak Mark penuh keheranan.

Ino semakin menundukkan kepalanya, lalu dengan cepat berbalik hendak menerobos keluar.

"Tunggu sebentar... Berhenti di sana! Jangan bergerak!"

Langkah Ino seketika membeku. Mark sepertinya mulai mengenali penyamarannya. Jika yang bertatap muka dengannya adalah anak buah biasa, Ino bisa dengan mudah mengelabui mereka. Namun ini Mark, orang yang sangat memahami gerak-gerik raga Axcelino.

Mark menyuruhnya berbalik badan. Ino tetap mematung pada posisinya, bersiap memasang mode lari kencang jika Mark nekat mendekat, sekalipun itu artinya ia harus meninggalkan Sora dan Bi Muna yang menunggunya di luar.

"Aw... shhh! Sepertinya Sisi beneran menaruh racun di sarapanku tadi! Awas kau ya, Sisi..." ringis Mark mendadak.

Pria tegap itu tiba-tiba membungkuk sembari mencengkeram perutnya erat-erat. Bau gas alam yang kurang sedap mulai menyeruak di udara. Mark, yang awalnya berniat menginterogasi sosok mencurigakan di depannya, langsung mengurungkan niat. Dengan wajah membiru menahan gejolak mules luar biasa, ia lari terbirit-birit masuk ke salah satu bilik toilet.

"SISIIIIII, I LOVE YOU FULL!" seru Ino setengah berbisik girang.

Ia berlari keluar toilet sembari menyerukan rasa terima kasih mendalam pada Sisi, salah satu asisten rumah tangga di kediaman Pierce yang memang langganan berselisih paham dengan Mark. Entah Sisi benar-benar menjejali Mark dengan obat pencahar atau tidak, Ino sangat bahagia mendengar rintihan penderitaan pengawal Mommy nya itu.

"Ayo cepat Sora! cepat pesan taksi online! Kita pulang sekarang!" perintah Ino panik saat menjumpai dua kawannya. "Sini belanjaannya aku yang bawa semua. Aku tunggu di pintu depan ya!"

"Hah...?" Sora dan Bi Muna saling pandang dalam kebingungan. Otak mereka belum sempat mencerna situasi, tetapi Ino sudah lebih dulu ngacir membawa seluruh paper bag belanjaan mereka.

"Jadi kalian sama sekali tidak bisa menemukan Tuan Axcel?!" bentak Mark kesal. "Berapa kali kalian memerhatikan rekaman CCTV toko dan mall?!"

Mark tampak sangat murka saat anak buahnya melaporkan hasil pencarian yang nihil. Berkali-kali ia menyumpah serapah, tak lupa mengutuk nama Sisi yang telah mengacaukan konsentrasinya dalam bertugas.

Setelah urusan perutnya tuntas, Mark memutuskan kembali ke toko pakaian yang tadi didatanginya. Ia ingin memeriksa sendiri rekaman CCTV yang belum sempat ia cermati.

"Stop... stop! Stop di sini! Tolong zoom bagian itu!" perintah Mark tegas pada operator CCTV. Mark menyipitkan mata, menarik napas panjang.

"Tuan, kalau dilihat dari jam pembayaran dan rekaman CCTV ini, ben—"

"Tidak perlu dilanjutkan," potong Mark seraya mengangkat tangannya, mengisyaratkan manajer toko untuk diam.

Dengan satu lambaian tangan dingin, Mark memberi instruksi kepada seluruh anak buahnya untuk segera mengosongkan area toko dan meninggalkan mall.

Beep... Beep...

Di ruang kerjanya yang megah, Nyonya Evelyn menggeser layar ponselnya. "Ya, Mark? Apa kau sudah mendapatkan informasi yang valid?"

"Nyonya, maaf... saya tidak bisa membawa pulang Tuan Muda secara langsung," ujar Mark di balik telepon. "Tuan Ino mengenakan setelan pakaian wanita dan memakai wig..."

BRAKKK!

Nyonya Evelyn memukul meja kerjanya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, lalu menghela napas berat. Sebagai seorang ibu, beliau memang sudah terbiasa dengan dinamika alter-ego Ino, bahkan terbilang sangat dekat dengannya.

Namun, ini adalah kali pertama Ino muncul dengan mengenakan pakaian wanita, sebuah pelanggaran batas atas kesepakatan tegas di antara mereka. Sejak awal kemunculan Ino, Nyonya Evelyn telah menetapkan aturan sakral, Ino dilarang keras berpenampilan atau menggunakan aksesori wanita di muka umum. Semua itu demi menjaga nama baik sang penerus Pierce Group agar tidak ada celah dan kelemahan sekecil apa pun yang dimanfaatkan oleh musuh bisnis mereka.

"Saya melihat Tuan Muda sedang bersama seorang gadis berambut panjang dan seorang wanita paruh baya," lanjut Mark. "Saya sudah mengambil flashdisk rekamannya dan meminta pihak toko menghapus semua berkas video yang menampilkan Tuan Ino. Saat ini, saya menugaskan Rio untuk melacak identitas kedua wanita itu."

Nyonya Evelyn mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja kaca. Ia merasa Ino kini mulai berani membangkang padanya. Baru kali ini pula Ino nekat tidak pulang ke rumah. Padahal biasanya, setiap kali membuat kegaduhan, Ino akan selalu datang dan mengadu padanya.

Apa yang membuat anak itu berubah? batin Evelyn prihatin.

Ino bahkan meninggalkan tas, ponsel, dan sepeda motor Axcel begitu saja di kampus. Jika bukan karena laporan Tuan Antony mengenai perkelahian Axcel dengan Easton, sepupu Axcel tadi pagi, Nyonya Evelyn pasti tidak akan tahu apa-apa. Ia menduga insiden dengan Easton itulah yang menyulut emosi hingga memancing kebangkitan Ino.

"Mark... menurutmu, mengapa Ino sampai bergantung pada dua wanita asing itu?" gumam Evelyn lirih. "Apakah Ino merasa mereka lebih sanggup melindunginya daripada Ibunya sendiri? Kenapa mendadak ia menjauh dan bersembunyi dariku? Apa selama ini aku kurang memanjakannya?"

Mark di seberang telepon hanya bisa membisu. Ia tidak berani menghakimi keresahan majikannya.

Ino dan Axcel memang bak dua kutub magnet yang berseberangan. Pada dasarnya, Ino hanya mendambakan kebebasan, sementara Axcel lah yang menanggung seluruh beban berat kepemimpinan keluarga. Nyonya Evelyn sendiri sudah berusaha seadil mungkin. Setelah kehilangan putri sulungnya secara tragis, kehadiran Ino sedikit banyak mengobati rasa rindu sang ibu. Itulah alasan Nyonya Evelyn dan almarhum Tuan Pierce selalu memanjakan serta pasang badan membentengi Ino.

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel Mark bergetar menerima laporan masuk. "Ya, Rio? Kau sudah dapat data validnya? Oke, kerja bagus. Tunggu instruksiku sebelum bertindak."

Nyonya Evelyn menghentikan ketukan jarinya dan mendongak tegak. Wajah cemasnya berganti menjadi penuh tuntutan. "Siapa mereka, Mark?"

"Gadis itu bernama Sora Kyne, Nyonya," laporkan Mark sigap. "Dia mahasiswi di kampus yang sama dengan Tuan Muda, sekaligus putri semata wayang dari Profesor Mubis, peneliti utama yang sering kita undang dalam kajian riset perusahaan."

Seulas senyum anggun terukir di bibir Nyonya Evelyn. Profesor Mubis adalah rekan lama yang sangat ia kenal baik. Jika Ino berada di sana, membawanya pulang akan menjadi urusan yang sangat mudah.

"Siapkan mobil. Kita jemput Ino sekarang!" perintah Evelyn mantap.

Saking bersemangatnya, beliau sampai melupakan agenda meeting jajaran direksi yang akan dimulai 10 menit lagi. Begitu Mark mengingatkannya, binar di wajah Evelyn mendadak redup. Ia kembali bersandar lemas di kursi kerjanya sembari memejamkan mata, menunda penjemputan itu sejenak demi formalitas perusahaan.

---

Kediaman Keluarga Sora — Malam Hari

"Bi, maaf ya... bajunya malah aku pakai tadi," ujar Ino merasa tak enak hati. Ia menyerahkan dress panjang bekas penyamarannya siang tadi kepada Bi Muna. "Ini bisa Bibi cuci lagi, atau boleh dibuang kalau Bibi nggak mau pakai barang bekas pakaiku. Tapi tenang saja, di paper bag warna krem itu masih ada setel pakaian baru yang utuh buat Bi Muna."

Bi Muna menerimanya dengan binar mata bahagia. "Aduh, tidak apa-apa, Tuan Ino! Saya sama sekali tidak keberatan. Terima kasih banyak ya, Tuan..."

Bi Muna memeluk baju itu erat-erat. Tak disangka, sosok "teman ajaib" Nonanya ini memiliki hati yang sangat dermawan. Ini akan menjadi pakaian termahal yang pernah dimiliki Bi Muna sepanjang hidupnya.

Senang melihat kepuasan Bi Muna, Ino langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk Sora. Rasa lelah akibat aksi pahlawan penyamarannya siang tadi mendadak menguras seluruh staminanya.

"Inoooo... sebenarnya tadi di mall ada kejadian apa sih?" tanya Sora yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Sora mendudukkan diri di tepi ranjang tepat di samping Ino, menatap kawan barunya itu dengan raut wajah amat serius. Karena Bi Muna sudah melangkah keluar kamar, Ino merasa kini saat yang tepat untuk membeberkan kisah pelariannya.

"Kau tahu pria berjas yang masuk ke toilet setelah aku?" bisik Ino memulai. "Namanya Mark. Dan semua pria berjas yang ada di toko itu, mereka sebenarnya..."

TOK... TOK... TOK!

"Nonaaa! Nona Sora!" panggil Bi Muna dari balik pintu dengan ketukan keras dan suara panik. "Ada tamu yang mencari Nona di bawah! Tolong segera turun, katanya ini sangat penting!"

Kalimat Ino terputus seketika. Sora berdecak heran, lalu bangkit berdiri. Dengan pakaian santai seadanya, ia bergegas turun ke lantai bawah. Ayah dan Ibunya sedang ada tugas di luar kota, jadi siapa orang penting yang mendadak bertamu malam-malam begini?

Sora melangkah perlahan memasuki area ruang tamu. Matanya membelalak heran saat mendapati pemandangan di depannya.

Seorang wanita paruh baya dengan aura anggun dan elegan luar biasa, serupa selebriti papan atas sedang duduk di sofa utama. Di belakangnya, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang memancarkan aura mengintimidasi.

"Emm... Maaf, Tante," sapa Sora ragu-ragu. "Ayah dan Ibu sedang tidak ada di rumah. Saya anaknya. Kalau boleh tahu, Tante siapa dan ada keperluan apa ya?"

Sora duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan wanita tersebut. Ia bersyukur saat Bi Muna masuk membawakan nampan berisi teh hangat dan kudapan kecil untuk mencairkan suasana.

"Terima kasih, tapi tidak perlu repot-repot," potong wanita itu dengan suara tenang namun penuh penekanan. Ia menatap Sora tajam. "Nak Sora... bisa tolong antar Tante menemui Ino?"

DEG!

Sora tersentak hebat. Bagaimana wanita ini bisa tahu kalau Ino berada di rumahnya?! Apakah wanita ini orang tua Ino? Namun, wajahnya tampak jauh berbeda dari foto keluarga Axcelino yang pernah didapatkan oleh informannya. Di foto tersebut, ibu Axcelino nampak seperti wanita paruh baya biasa, sementara wanita di hadapannya ini terlihat sangat muda, modis, dan memancarkan wibawa kelas atas.

Belum sempat Sora menata kalimat jawabannya, wanita anggun itu sudah berdiri tegak dari sofanya.

Tanpa berpikir panjang, Sora segera memesan taksi online sembari mengajak Bi Muna berlari menyusul Ino. "Ayo...Tunjukkan jalannya sekarang," perintahnya tanpa menerima penolakan.

Dominasi aura wanita itu membuat Sora tidak sanggup mengelak. Seperti terhipnotis, Sora melangkah menuntun sang tamu menuju lantai atas, disusul oleh dua pengawal berjas tegap di belakang mereka.

CEKLEK!

"Sora, siapa tamunya...?"

PYAARRR!

Gelas berisi air minum di genggaman Ino jatuh terhempas ke lantai, berkeping-keping. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku melihat sosok yang berdiri tepat di ambang pintu kamar.

"M-Mommy...?" bisik Ino dengan suara gemetar hebat. "Aku... aku bisa jelaskan, Mom..."

⭐⭐⭐⭐⭐

WADUH MATI KAU INO! 😱 Nyonya Evelyn sendiri yang turun tangan memergoki Ino di kamar Sora! Mana Ino belum sempat lepas penyamaran baju cewek lagi!

Kira-kira gimana nasib Sora dan Bi Muna saat tahu kalau mereka selama ini menampung 'buronan' Pierce Group?! Terus, apa yang bakal dilakukan Ny. Evelyn ke Ino setelah melihat kelakuan anak kesayangannya ini?!

Yuk, tulis tebakan gokil kamu di kolom komentar! 💬👇

Kiravers...Jangan lupa:

TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung keselamatan Ino & Sora!

SIMPAN CERITA INI KE LIBRARY biar nggak ketinggalan Notifikasi Bab 13 yang rilis NANTI MALAM JAM 21.00 WIB! 🕗✨

FOLLOW PROFILKU untuk info update bab-bab seru berikutnya!

Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading! 🚀🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!