Indonesia
NovelToon NovelToon
After The Last Goodbye

After The Last Goodbye

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.

Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.

Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Alasan Konyol

Matahari pagi menembus celah tirai kamar utama, menyiramkan cahaya tipis yang terasa menusuk di mata Ethan, membuat Ethan terbangun dengan tubuh kaku dan kepala yang dihantam rasa pening luar biasa.

Tidurnya semalam tak nyenyak, dipenuhi mimpi buruk dan bayangan masa lalu yang terus memburu. Rasa melilit di perutnya memang sedikit mereda, namun kekosongan di dadanya semakin menganga lebar.

Setelah membasuh wajahnya yang pucat, Ethan melangkah turun ke lantai satu. Di meja makan, Marcus sudah duduk menunggunya dengan satu cangkir kopi hitam dan tablet yang menyala.

“Pagi yang buruk, Ethan. Wajahmu terlihat seperti orang yang belum tidur tiga hari,” tegur Marcus tanpa basa-basi, mendorong sepiring roti panggang dan salad ke hadapan Ethan.

Ethan hanya bergumam pelan, menarik kursi dan duduk tanpa menyentuh makanannya. Ia meremas cangkir kopinya, mencari kehangatan yang tak mampu mengusir dingin dalam dirinya.

“Ada urusan apa kamu datang pagi-pagi begini, Marcus?”

“Sarapanmu dihabiskan dulu,” ujar Marcus tegas, lalu mengetuk layar tabletnya.

“Jadwal syuting Reading pertama untuk film Sutradara Aries dimulai lusa. Hari ini kamu ada sesi foto karakter pukul satu siang, kemudian dilanjutkan dengan konfirmasi ulang kontrak. Aku ingin memastikan fokusmu tidak terbagi, terutama setelah kejadian kemarin.”

“Aku paham,” potong Ethan dingin, lalu  meneguk kopinya sebentar.

“Bagus. Selesai sarapan, kita berangkat bersama. Aku yang menyetir.”

“Tidak,” tolak Ethan cepat, membuat Marcus menghentikan jemarinya di atas layar tablet.

“Aku akan pergi sendiri mengendarai mobilku.”

Marcus menatap Ethan curiga. “Mobilmu? Untuk apa? Sesi foto akan dilakukan di ruang studio rumah produksi, dan aku bisa mengantarmu dengan aman tanpa kamu harus menghadapi kemacetan.”

“Aku butuh udara segar sebelum bekerja, Marcus. Jangan atur jalanku hari ini. Aku tahu apa yang harus aku lakukan,” tegas Ethan dengan nada yang tak menerima bantahan.

Marcus menarik napas panjang, mengalah. “Baik. Tapi ingat, jam satu siang kamu harus sudah berada di studio. Jangan terlambat.”

“Oke. Jangan khawatir. Aku pastikan aku datang tepat waktu.” Ethan kemudian bergegas pergi usai mengambil jaket dan kunci mobil.

Sejurus kemudian, mesin V8 berderum halus saat Ethan membelah jalanan kota. Jarum speedometer bergerak naik, namun pikiran Ethan sama sekali tidak tertuju pada jalanan atau sesi foto siang nanti.

Jemarinya mencengkeram kemudi dengan erat. Ia berbohong pada Marcus. Tujuan utamanya pagi ini bukanlah menyendiri atau mencari udara segar.

Di kursi samping kemudi, terdapat kotak perhiasan beludru yang kemarin ia beli bersama Jane. Ethan melirik kotak itu dengan tatapan penuh intrik. Ia telah menyiapkan sebuah alasan yang masuk akal. Ia ingin menukar set perhiasan beludru tersebut dengan alasan Jane kurang menyukai desainnya.

Namun di balik alasan rasional itu, jiwanya meronta memendam niat asli yang menyedihkan. Ia hanya ingin kembali ke toko perhiasan itu demi melihat Mia, ingin memastikan bahwa wanita yang dulu selalu ada di sisinya itu memang nyata.

****

Pintu kaca toko perhiasan berdenting halus saat Ethan melangkah masuk.

Mia yang sedang merapikan etalase kaca bagian depan mendongak refleks dengan senyum formal yang sudah terlatih.

“Selamat datang di toko kami,” sambut Mia dengan senyum terukir sempurna.

Namun, senyum itu seketika membeku di bibirnya. Di hadapannya berdiri Ethan, bukan sosok aktor besar berpenampilan sempurna yang biasa menghiasi papan reklame atau layar kaca. Pria itu datang hanya mengenakan kaos polos tipis, celana santai, dan jaket yang terpasang asal, lengkap dengan wajah pucat serta lingkaran hitam di bawah matanya.

Mia terpaku sejenak, memegang kain lap kristal dengan jemari yang mendadak gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksakan diri menguasai gemetar di tubuhnya dan menekan rapat-rapat kekacauan di dadanya.

Ia kemudian menegakkan punggung, memasang wajah setenang mungkin, lalu melangkah mendekati Ethan dengan nada suara yang diusahakan selurus mungkin.

“Selamat pagi, Tuan Ethan. Ada yang bisa saya bantu hari ini?” tanya Mia halus, mencoba mengabaikan tatapan intens dari mata Ethan yang tampak begitu dahaga dan lelah.

Ethan meletakkan kotak perhiasan beludru yang dibawanya di atas etalase kaca, tepat di hadapan Mia. Gerakannya pelan, namun tatapannya tak sekejap pun lepas dari wajah wanita itu, seolah takut Mia akan menghilang jika ia berkedip.

“Selamat pagi, Mia,” ujar Ethan, suaranya terdengar agak serak dan dalam. Ia berdeham pelan untuk menetralkan tenggorokannya yang terasa kering.

“Aku... aku ingin menukar set perhiasan ini,” kata Ethan, berusaha keras menyusun kata-kata yang terdengar rasional di tengah degup jantungnya yang kian liar.

Mia menunduk sebentar, menatap kotak beludru itu sebelum kembali menatap Ethan dengan profesionalitas yang dipaksakan.

“Menukarnya, Tuan? Apakah ada cacat pada barangnya, atau mungkin ada kendala lain?”

“Tidak, bukan karena cacat,” potong Ethan cepat. Ia meremas jemarinya yang dingin di dalam saku jaket.

“Jane kurang menyukai desain yang kemarin dibeli. Dia bilang terlalu formal untuk seleranya. Jadi, aku berpikir untuk menggantinya dengan model lain yang mungkin lebih cocok.”

Ethan sengaja menggantung kalimatnya. Alasan itu meluncur begitu mulus dari bibirnya, padahal Jane bahkan belum menyentuh kotak itu. Tatapan Ethan kini makin dalam, menyapu setiap inci wajah Mia, mencari secercah reaksi ataupun retakan kecil pada topeng formalitas di wajah Mia, atau sekadar bukti bahwa kehadiran dirinya masih memberi pengaruh bagi Mia.

“Maaf. Barang yang sudah dibeli tidak bisa ditukar atau dikembalikan, Tuan Ethan. Kecuali jika terdapat cacat produksi pada perhiasan tersebut,” ucap Mia dengan nada profesional, matanya sengaja menghindari tatapan langsung Ethan.

Ethan menyandar sedikit pada etalase kaca, memutar otak dengan cepat. Rasa canggung dan salah tingkah membuat jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca secara tidak beraturan.

“Bagaimana kalau... pengaitnya?” ujar Ethan tiba-tiba, suaranya sedikit ragu. Ia membuka kotak beludru itu dan menunjuk bagian klip kalung di dalamnya.

“Pengaitnya terasa agak longgar. Aku khawatir ini cacat produksi dan bisa terlepas kalau dipakai.”

Mia menaikkan sebelah alisnya, mengamati perhiasan itu sejenak sebelum menatap Ethan. “Kalung itu diperiksa dua kali sebelum dimasukkan ke dalam kotak kemarin, Tuan. Tapi jika Tuan ragu, saya bisa membawanya ke bagian teknisi di belakang untuk diperiksa ulang. Prosesnya memakan waktu sekitar tiga puluh menit.”

“Tidak apa-apa, aku akan menunggu,” potong Ethan cepat, seolah tak ingin kehilangan alasan untuk tetap berada di sana.

Mia mengangguk pelan. “Baik, silakan duduk di sofa tamu. Saya akan ambilkan minum terlebih dahulu.”

Saat Mia berbalik menuju ruang staf, Ethan mengembuskan napas panjang. Ia duduk di sofa kulit hitam di sudut ruangan, memperhatikan setiap gerak-gerik Mia dari kejauhan. Meski alasannya terdengar dipaksakan, setidaknya ia berhasil mencuri sedikit waktu untuk berada di tempat yang sama dengan wanita itu.

“Oh came on. Ada apa denganmu hari ini, Ethan,” gumam Ethan pada dirinya yang mendadak aneh pagi ini.

–tbc–

1
Tiara Bella
what Liam nyosor tp gk kena....
Tiara Bella
ngeyel bngt si Ethan km ya
Tiara Bella
rumit jg ya hubungan mereka Mia sm Ethan.....
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): yaaah lumayan rumit sih🤧🤧 karir Ethan juga bakal jadi taruhan kalau sampai pernikahan rahasianya terbongkar. tapi skenario yg dia perankan dlm film akan jadi kenyataan stlh ini, seorang laki² yg mempertaruhkan segalanya demi seorang wanita🤧
total 1 replies
Tiara Bella
yah ms Mia msh ngarepin si Ethan sh....
Tiara Bella
visual Liam ganteng bngt...../Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
Tiara Bella: hooh....Ethan jg ganteng tp aku gk suka sm sifatnya yg plin plan....
total 2 replies
Tiara Bella
tuh kan Liam udh nyari tw tentang Mia dan Ethan.....
Tiara Bella
terima aja Mia ngapain ngarepin Ethan yg udh pernah ngecewin km
Tiara Bella
jangan² Liam Vincen ini tw klu Mia mantan istrinya Ethan.....
Tiara Bella
saingan Ethan ini Liam vance ini ternyata.....
Tiara Bella: hooh ya....
total 2 replies
Tiara Bella
Liam siapa lg ini apakah dia suka sm Mia.....
Tiara Bella
bingunin orng sh Ethan mah ya....
Tiara Bella
mwnya apa sh Ethan ini Herman aku
Tiara Bella
nh loh Ethan km bingung skrng.....
Tiara Bella
bener kenapa hrs skrng Ethan setelah ceria br nyariin....
Tiara Bella
Ethan yg aneh ....bilang aja bang klu suka....🤭
Tiara Bella: hooh....
total 2 replies
Tiara Bella
penyesalan pasti dtngnya belakangan.....
Tiara Bella: hooh....
total 2 replies
Tiara Bella
baru terasa setelah gk ada ya kan Ethan.....
Tiara Bella
salam kenal aku mampir Thor.....
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): salam kenal juga. makasih udah mampir😊😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!