Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.
Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.
Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.
Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.
Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?
Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Takut pada Diriku Sendiri (+18)
Alessia
Aku tenggelam dalam segala yang kurasakan. Terlalu kuat. Menyakitkan… sekaligus sempurna.
Tangan Fabiano menopang wajahku sementara jari-jarinya menyusup di antara helai rambutku.
Bibirnya menawan bibirku, dan aku harus menahan sebuah desahan.
Kenapa setiap kali ia menciumku, aku merasa melayang sampai ke langit-langit?
Yang lebih buruk, aku tak tahu apakah aku bisa turun kembali suatu saat nanti.
Dan yang paling menakutkan, aku tak yakin apakah aku ingin turun.
Kubiarkan jariku menjelajahi bidang dadanya yang telanjang.
Aku bergetar saat merasakan kekuatannya di bawah sentuhanku.
Setiap otot, setiap urat… luar biasa.
Kuturunkan tanganku sampai ke pinggulnya lalu menyentuh punggung bawahnya, menghafal setiap lekuk tubuhnya sementara mulutnya mengulum ujung lidahku.
"Fabi…" bisikku ketika jariku menyentuh sesuatu yang ingin kusentuh sejak pagi tadi. "Kamu telanjang?"
Ia menjauh beberapa sentimeter.
"Kamu tahu aku tidur telanjang," jawabnya dengan suara serak sementara senyum jenaka muncul di wajahnya.
Senyum itu seharusnya dilarang.
Bagaimana mungkin seorang gadis bisa menahan diri dari senyum semacam itu?
"Fabi…"
"Mungkin sebaiknya kamu pergi," katanya, dan seluruh dadaku terasa sakit.
Kubelitkan jariku di rambut tengkuknya.
"Aku tak mau pergi."
"Tapi kamu takut," balasnya.
Itu bukan pertanyaan. Ia bisa melihat rasa takut di mataku.
"Aku tak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan," lanjutnya. "Aku tak akan pernah memaksamu melampaui batasmu."
"Lalu bagaimana kalau aku yang melampaui batasmu? Bagaimana kalau kamu tak bisa menahan diri?"
"Tak ada titik yang tak bisa diputar balik, sayang. Itu cuma hal yang diciptakan laki-laki untuk menekan perempuan. Kamu tak perlu takut."
"Kamu tak mengerti," kataku sambil membelai lekuk wajahnya. "Aku tidak takut padamu. Aku takut pada diriku sendiri."
"Pada dirimu?" tanyanya bingung.
Kuturunkan lagi tanganku dan kugenggam kejantanan yang megah itu, yang berdiri di antara kami berdua.
"Less?"
"Aku takut tak bisa mengingat apa yang diajarkan orang tuaku… Aku takut tak ingin mengingat siapa diriku… milik siapa aku… Aku takut tak bisa menghentikan diriku," kataku sebelum menciumnya.
Kugerakkan tanganku di sepanjang miliknya sementara mulutnya melahap bibirku.
Tanganku nyaris tak sanggup menampungnya, tapi aku suka merasakan kerasnya sekaligus lembutnya.
"Aku perlu melihat," kataku sambil menarik seprai dari tubuhnya. "Wow," bisikku terpukau. "Bagaimana kamu bisa berjalan dengan benda seperti itu?"
Tawa meledak dari dada Fabiano. Ia tertawa begitu keras sampai ranjang ikut berguncang.
"Aku juga mau punya satu yang begini," kataku iri.
Aku ingin punya satu supaya bisa kusentuh kapan pun aku mau.
"Kalau kamu punya satu, kita tak akan sedang membahas ini sekarang," katanya sementara matanya membakar kedua dadaku.
"Kamu mau melihatnya?"
"Hanya kalau kamu merasa nyaman. Aku tak mau…" Kulepas kaosku sebelum ia selesai bicara.
Kini aku hanya mengenakan celana dalam kecil.
Bara yang kulihat di mata Fabiano membangkitkan sesuatu yang hangat di dalam diriku.
Sesuatu yang baru… terlarang… penuh dosa.
"Kamu cantik, Castelli kecil," bisiknya sementara pandangannya menyusuri tubuhku. "Setiap bagian kecil dari dirimu."
Kulanjutkan belaianku dan Fabiano memejamkan mata.
Ia meletakkan tangannya di atas tanganku dan menuntun gerakanku.
"Begini?" tanyaku saat ia melepaskan tanganku.
"Persis begitu," gumamnya.
Suara seraknya menjalarkan getar dingin di sepanjang punggungku, mengeraskan puncak dadaku.
Tatapannya terpaku di sana, lapar dan penuh hasrat.
Otot-otot perutnya menegang dan tenggorokanku mengering.
Tanpa bertanya lagi, kuturunkan kepalaku dan kucicipi ia.
Perutku bergetar saat rasanya memenuhi mulutku. Aku tahu seharusnya tak boleh begini, tapi aku suka.
Aku terlalu suka.
"Tanpa gigi," desisnya, dan aku menurut.
Aku ingin memuaskan rasa penasaranku terhadapnya. Terhadap tiap sentimeter tubuhnya.
Aku berjuang sampai bisa menampung bagian pertamanya di dalam mulutku… dan aku sudah terlalu penuh. Nyaris tersedak, tapi aku ingin lebih. Aku butuh lebih.
"Oh, Tuhan," gumamnya sebelum mulai bergerak.
Matanya terpaku padaku. Bara yang kulihat di sana terasa mencekik, tapi inilah hal paling erotis yang pernah kualami dalam hidupku yang singkat.
Oh, kuasa yang kumiliki atasnya saat ini benar-benar meruntuhkan pertahananku.
Aku bisa mengangkatnya ke surga atau menjatuhkannya ke neraka.
Dan kebebasan itu begitu membangkitkan gairah.
Jari-jarinya mencengkeram tengkukku sementara ia menghunjam lebih dalam ke mulutku.
Sebuah suara serak lolos dari dadanya sebelum ia menarik diri dari mulutku.
"Tunggu… apa?" aku mulai bertanya, tapi berhenti ketika ia membelit jarinya di rambutku dan menarikku ke mulutnya.
Lidahnya membelit lidahku dengan kecepatan dan kekasaran yang baru.
Ia bergerak sampai tubuh telanjangnya berada di atas tubuhku.
Seharusnya aku merasa terperangkap oleh bobot dan ukurannya yang besar, tapi tak pernah dalam hidupku aku merasa sebebas ini.
Ia meraih tanganku dan membawanya kembali ke bagian favoritku dari tubuhnya.
Miliknya masih keras dan terasa berdenyut di tanganku.
"Kenapa kamu tak membiarkanku memuaskanmu?"
"Kamu pernah orgasme?" Wajahku memerah mendengar pertanyaannya, tapi aku tak menjawab. "Alessia?"
Kugigit bibirku. "Kadang-kadang…" bisikku dengan malu luar biasa. "Aku tahu itu dosa… tapi…"
"Tunjukkan padaku."
"Apa?!"
"Tunjukkan bagaimana kamu membuat dirimu sampai ke sana."
Kupukul lengannya.
"Aku tak akan melakukan itu!" jawabku dengan pipi membara.
Ia menyapukan jari telunjuknya di puncak kedua dadaku lalu turun menyusuri perutku sampai ke tepi celana dalamku. Ia berhenti beberapa detik, tanpa melepaskan pandangannya dariku, sebelum terus turun.
Tubuhku terlonjak di ranjang saat jarinya melewati pusat tubuhku dan terus turun sampai ke ujung.
Jari yang panjang dan tebal itu.
"Fabi?" tanyaku dalam sebuah embusan napas sementara aku mencengkeram bisepnya.
"Tunjukkan padaku," desaknya sebelum menggeser celana dalamku dan menyentuhku langsung.
Ia menghela napas saat menemukan basahku.
"Kamu mencukurnya."
"Persiapan untuk pernikahan."
"Aku suka," bisiknya sebelum kembali menyapukan jarinya.
Mataku terpejam menyambut sentuhannya. Ini pertama kalinya tangan selain tanganku sendiri menyentuhku seintim ini.
Jarinya membentuk lingkaran di pusat tubuhku.
"Fabi!" seruku sambil menancapkan kukuku di punggung atasnya.
"Katakan kalau ada yang tidak kamu suka," katanya sebelum menjatuhkan mulutnya ke kedua dadaku.
Seluruh duniaku hancur untuk membentuk dunia yang baru.