Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Cemas Yang Membawa Bukti Dan Kebohongan Yang Terbongkar
Bab 34
Beberapa hari setelah kejadian di taman itu ayahku semakin jarang meninggalkan rumah. Setiap kali ia harus pergi urusan luar ia selalu berangkat pagi pagi sekali dan berusaha pulang sebelum matahari terbenam. Wajahnya yang dulu selalu tampak tenang dan tegas kini mulai terlihat garis garis kelelahan yang semakin jelas terlihat setiap kali ia kembali pulang. Namun di hadapanku ia tetap berusaha tersenyum dan bersikap seolah olah tidak ada hal berat yang sedang membebani pikirannya. Aku tahu betul apa yang ia rasakan. Ia takut meninggalkanku sendirian di rumah ini. Ia takut saat ia pergi orang orang yang berniat jahat itu akan datang dan menyakitiku. Karena itulah ia berusaha sebisa mungkin selalu berada di dekatku untuk menjaga dan melindungiku dari segala bahaya yang mengintai.
Suatu pagi seorang pria tua yang tampak tegas dan berwibawa datang berkunjung ke rumah. Ia adalah orang yang sudah lama bekerja bersama ayahku dan dipercaya sepenuh hati olehnya. Mereka berbicara cukup lama di ruang kerja ayahku dengan pintu yang tertutup rapat. Namun karena kekhawatiran yang terus menghantui hatiku aku tidak sengaja mendengar sebagian pembicaraan mereka dari luar pintu. Pria tua itu melaporkan bahwa kerabat kerabat ayahku itu ternyata tidak hanya sekadar mengawasi dan mengganggu urusan pekerjaan saja. Mereka ternyata sedang menyusun rencana yang jauh lebih besar dan berbahaya. Mereka berusaha mencari bukti bukti rekayasa untuk menuduh ayahku melakukan hal hal yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan. Jika rencana itu berhasil mereka bisa melaporkannya kepada pihak berwenang dan memisahkan ayahku dariku untuk sementara waktu. Saat itulah mereka akan datang mengambil alih rumah dan kekuasaan sekaligus melancarkan niat jahat mereka kepadaku.
Mendengar hal itu jantungku seakan berhenti berdetak seketika. Ternyata niat mereka jauh lebih kejam dari yang aku duga sebelumnya. Mereka tidak hanya menginginkan harta dan kekuasaan. Mereka berencana memisahkan aku dan ayahku agar aku tidak memiliki pelindung lagi. Air mataku perlahan menetes di pipi namun aku segera menghapusnya. Aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh menjadi alasan yang membuat ayahku semakin cemas dan tertekan. Aku harus mencari cara untuk membantu ayahku. Aku harus menjadi mata dan telinganya agar rencana jahat orang orang itu bisa digagalkan sebelum semuanya terlambat.
Aku berjalan perlahan meninggalkan pintu ruang kerja itu dan kembali ke kamarku. Di sana aku merenung cukup lama mencoba menyusun pikiran dan menyusun rencana di dalam kepalaku. Aku teringat apa yang pernah dikatakan ayahku bahwa orang orang itu sering kali menyamar menjadi orang baik dan memanfaatkan kelemahan orang lain untuk mendekat. Jika mereka berniat datang ke rumah ini saat ayahku tidak ada maka mereka pasti akan mencari cara untuk masuk dengan alasan yang tampak wajar dan masuk akal. Karena itu aku harus selalu waspada dan tidak boleh mudah percaya kepada siapa pun yang datang dengan membawa alasan yang mencurigakan.
Beberapa hari kemudian saat ayahku terpaksa pergi sebentar untuk menyelesaikan urusan yang sangat mendesak datanglah seseorang berpakaian rapi dan sopan di depan pintu rumah. Ia memperkenalkan diri sebagai utusan dari pihak berwenang yang datang untuk memeriksa beberapa hal penting. Ia berkata bahwa ada laporan yang masuk mengenai keamanan rumah ini dan ia datang untuk memastikan bahwa tidak ada hal yang membahayakan penghuni rumah. Mendengar kata kata itu penjaga rumah yang belum mengetahui rencana jahat itu merasa ragu namun tetap menyambutnya dengan sopan dan melaporkannya kepadaku.
Aku segera turun ke bawah dan menemui orang itu. Saat melihatnya sekilas hatiku langsung merasa tidak tenang. Meski pakaiannya rapi dan sikapnya tampak sopan namun matanya tidak tenang menatap ke sana kemari seolah olah sedang mencari sesuatu atau seseorang di dalam rumah. Ia juga tidak membawa tanda pengenal apa pun yang bisa menunjukkan bahwa ia benar benar petugas yang dikirimkan oleh pihak berwenang. Saat aku bertanya kepadanya menunjukkan surat tugas atau tanda pengenal ia menjadi gugup dan mengalihkan pembicaraan dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Ia berusaha meyakinkanku bahwa ia sudah cukup lama dikenal oleh ayahku dan menyuruhku membiarkannya masuk ke dalam rumah agar dapat memeriksa keadaan seisi rumah.
Saat itulah aku semakin yakin bahwa orang ini bukan petugas yang sebenarnya. Ia kemungkinan besar dikirim oleh kerabat kerabat ayahku untuk memeriksa keadaan rumah dan mencoba mencari celah agar bisa masuk saat ayahku tidak ada di rumah. Aku berdiri tegak di ambang pintu dan menatapnya dengan tenang namun tegas. Maaf Tuan. Ayahku sedang tidak ada di rumah. Jika Tuan benar benar memiliki urusan penting silakan datang kembali saat Ayahku ada di sini. Tanpa surat tugas dan tanda pengenal yang sah aku tidak berhak membiarkan Tuan masuk ke dalam rumah ini. Orang itu terkejut mendengar jawabanku yang begitu tegas. Wajahnya yang tadi tampak sopan perlahan berubah menjadi dingin dan tidak ramah. Ia mencoba mendesak dan berusaha memaksakan diri untuk masuk namun aku tidak bergeming sedikit pun. Penjaga rumah yang berdiri di belakangku pun ikut menghalanginya dengan tegas.
Melihat bahwa ia tidak akan berhasil masuk orang itu akhirnya menatapku dengan tatapan yang penuh ancaman lalu berbalik pergi meninggalkan rumah dengan langkah yang tergesa gesa dan tampak marah. Segera setelah ia pergi aku menyuruh orang kepercayaan ayahku melaporkan kejadian itu kepada ayahku secepat mungkin. Saat ayahku pulang sore itu wajahnya tampak sangat lega dan bangga setelah mendengar seluruh kejadian dari mulutku sendiri. Ia segera memelukku erat erat dan berkata dengan suara yang penuh rasa syukur dan kekaguman kau benar benar anak yang cerdas dan berhati teguh Maya. Jika kau lengah sedikit saja hari ini mungkin bahaya sudah masuk ke dalam rumah kita. Kau telah menggagalkan rencana licik mereka. Terima kasih putriku. Kau benar benar membuat Ayah merasa tenang dan bangga.
Malam itu ayahku memperkuat seluruh penjagaan di sekeliling rumah dan memberikan peringatan tegas kepada semua orang yang bekerja di rumah agar tidak membiarkan siapa pun masuk tanpa izin darinya secara langsung. Ia juga memujiku terus menerus dan berkata bahwa kehati hatianku hari ini telah menyelamatkan kita dari bahaya yang jauh lebih besar. Namun di dalam hatiku aku menyadari bahwa ini baru permulaan saja. Karena rencana mereka gagal kali ini mereka pasti akan menyusun rencana lain yang jauh lebih licik dan berbahaya. Namun aku tidak takut. Selama aku tetap waspada dan tidak pernah lengah aku yakin kita bisa terus menjaga keamanan rumah ini sampai kapan pun. Dan malam itu aku berjanji kembali di dalam hatiku bahwa aku akan selalu berdiri tegak menjaga rumah ini dan menjaga keselamatan ayahku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita atau menyakiti orang yang paling berharga bagiku di dunia ini.
bersambung...