Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : SEBUAH KEBAIKAN KECIL
...BAB 14...
...SEBUAH KEBAIKAN KECIL...
Arena balap perlahan mulai sepi. Suara kendaraan yang sejak siang memenuhi tempat itu satu per satu menghilang. Para penonton sudah meninggalkan arena, begitu juga sebagian besar tim pembalap.
Namun Amelia masih berada di dalam mobilnya.
Ia duduk diam di balik kemudi sambil sesekali melihat ke arah pintu keluar arena.
Lututnya masih terasa perih. Tumit kaki kanannya juga sakit setiap kali digerakkan.
Tetapi Amelia tidak pulang. Ia masih menunggu Reyga. Bukan karena ingin mengganggunya. Ia hanya ingin mendapatkan wawancara.
Hari ini seharusnya menjadi kesempatan terbaik. Reyga menang. Berita tentang kemenangannya pasti akan dicari banyak media.
Kalau ia bisa mendapatkan pernyataan langsung dari Reyga, setidaknya ia punya sesuatu untuk dibawa ke kantornya.
Amelia melirik buku catatan yang berada di kursi sebelah. Beberapa halaman sedikit kusut akibat terjatuh tadi.
Ia menghela napas. "Sedikit lagi." Amelia menguatkan dirinya. "Aku cuma butuh wawancara dia."
Hari semakin sore...
Akhirnya Amelia melihat seseorang keluar dari gedung utama arena.
Reyga.
Lelaki itu berjalan sendirian sambil membawa piala kemenangan. Sepertinya ia sudah hendak pulang.
Amelia langsung membuka pintu mobil. Ia turun. Begitu kakinya menapak, rasa sakit langsung menjalar dari tumit ke betis.
Amelia meringis. Namun ia tetap berjalan. Pincang.
"Reygaa!"
Lelaki itu berhenti. Ia menoleh.
Begitu melihat Amelia, wajahnya langsung berubah tidak senang. "Lo lagi?"
Amelia menghampirinya dengan susah payah. "Saya cuma ingin wawancara sebentar."
"Gue sudah bilang berkali-kali jawabannya tetap tidak."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa masih ngejar gue?"
Amelia tersenyum kecil. "Karena saya harus bekerja."
Reyga hendak menjawab, tetapi pandangannya tiba-tiba turun ke kaki Amelia.
Lutut perempuan itu masih terluka. Darah terlihat mengering di beberapa bagian. Tumitnya juga tampak tidak bisa menapak dengan sempurna.
Reyga terdiam. Ia teringat kejadian beberapa waktu lalu. Salah satu mekaniknya memang sempat mendorong Amelia agar menjauh. Dan perempuan itu terjatuh.
Tatapan Reyga berubah sedikit. "Lo belum mengobati luka itu?"
Amelia menggeleng. "Belum."
"Kenapa?"
"Saya tidak apa-apa kok."
Reyga mendengus. "Jelas-jelas berdarah begitu bilang nggak apa-apa."
Amelia terdiam. Reyga melihat kaki Amelia lagi. "Kalau mau wawancara, duduk dulu." Reyga berbalik berjalan mendekati bangku panjang.
Amelia mengangkat wajah. "Jadi..."
"Gue kasih waktu lima menit."
Senyum Amelia langsung muncul. "Terima kasih."
Reyga menghela napas. "Jangan bilang terima kasih dulu."
Mereka kemudian duduk di bangku yang tidak jauh dari arena.
Amelia membuka buku catatannya. "Pertama, selamat atas kemenangan Anda."
"Terima kasih."
"Bagaimana perasaan Anda setelah memenangkan pertandingan?"
"Biasa."
Amelia menatapnya.
"Biasa?"
"Iya."
"Padahal Anda memenangkan hadiah miliaran."
Reyga mengangkat bahu. "Makanya gue ikut."
Amelia menulis. "Berarti uang hadiah menjadi salah satu alasan terbesar Anda mengikuti pertandingan ini?"
"Iya."
"Untuk apa?"
Reyga terdiam sebentar. Kemudian menjawab singkat. "Untuk kebutuhan hidup."
Amelia tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu sebagian cerita dari Berry kemarin. Jika Reyga tidak suka masalah keluarganya di perbincangkan. Lalu Ia melanjutkan pertanyaan seputar pertandingan.
Tentang persiapan. Tentang lawan. Tentang kemenangan.
Reyga menjawab seperlunya. Dingin dan singkat. Namun kali ini ia tidak mengusir Amelia.
Setelah beberapa pertanyaan, Amelia menutup buku catatannya.
"Terima kasih atas jawabannya."
Reyga berdiri. "Sudah?"
"Ya. Sudah."
Amelia ikut berdiri. Namun ketika berdiri, kakinya kembali terasa sakit. Tubuhnya sedikit oleng.
Reyga refleks mengulurkan tangan. Namun Amelia berhasil menyeimbangkan diri.
Reyga mengerutkan kening. "Lo harus mengobati kaki lo."
Amelia mengangguk. "Iya. Nanti aku obati."
"Jangan pulang sendiri kalau sakit."
"Saya bisa."
Reyga menatapnya beberapa detik. "Semua perempuan memang keras kepala?"
Amelia terkekeh kecil. "Entahlah."
Reyga mengambil pialanya. "Obati dulu."
Amelia tersenyum. "Iya."
Entah kenapa, perhatian kecil itu membuat hati Amelia terasa hangat.
Padahal Reyga masih berbicara dengan nada dingin. Tidak ada senyuman. Tidak ada kata-kata lembut. Namun setidaknya, lelaki itu tidak lagi memperlakukannya seperti gangguan.
"Reyga."
Lelaki itu menoleh.
"Boleh aku minta fotonya untuk berita."
Reyga menghela napas. "Foto lagi?"
"Ini penting."
Reyga memandang Amelia. Namun akhirnya ia mengangguk. "Ya sudah."
Amelia mengambil kamera liputannya. Ia melihat ke sekitar. Tidak ada kameramen dari medianya.
Akhirnya Amelia meminta bantuan seseorang yang masih berada di sekitar arena. "Mas, boleh tolong fotokan kami?"
Orang tersebut mengangguk. Amelia kemudian berdiri di samping Reyga. Reyga memegang piala kemenangannya.
Wajahnya tetap datar. Amelia justru tersenyum. "Kok nggak senyum?"
"Gue nggak biasa."
"Sedikit saja."
Reyga menghela napas. "Begini saja."
Orang yang memegang kamera tertawa kecil.
"Sudah siap?"
Amelia mengangguk. Namun ketika ia mencoba mendekat untuk masuk ke dalam frame, kakinya tiba-tiba salah menapak.
"Aduh!"
Tubuh Amelia kehilangan keseimbangan. Ia hampir jatuh ke samping.
Namun sebelum tubuhnya menyentuh tanah, tangan Reyga bergerak spontan. Satu tangannya memegang pinggang Amelia. Menahannya agar tidak jatuh.
Amelia membeku.
Reyga juga.
Untuk beberapa detik...
Mereka hanya saling menatap. Jarak mereka begitu dekat.
Amelia bisa merasakan tangan Reyga masih berada di pinggangnya. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Deg.
Sekali.
Kemudian semakin terasa.
Deg... deg...
Amelia menahan napas.
Matanya bertemu dengan mata Reyga. Untuk sesaat, suara arena seperti menghilang.
Reyga juga terdiam.
Ia hanya ingin mencegah Amelia jatuh. Tidak lebih.
Namun entah kenapa, ketika melihat wajah perempuan itu dari jarak sedekat ini, ia justru diam beberapa detik lebih lama.
Kemudian Reyga segera menyadari posisinya. Ia melepaskan tangannya. "Lo nggak apa-apa?"
Amelia buru-buru berdiri tegak. "I-iya." Suaranya sedikit bergetar. "Maaf."
Reyga mengangguk. "Jangan sampai jatuh lagi."
Amelia menunduk. "Iya."
Orang yang memegang kamera tadi masih menunggu. "Sudah siap?"
Amelia menarik napas. "Sudah."
Kali ini ia berdiri sedikit lebih jauh dari Reyga. Namun jantungnya masih berdetak tidak karuan.
Kamera diangkat.
"Siap."
Klik!
Satu foto.
"Ambil satu lagi."
Klik!
Selesai.
Amelia mengambil kameranya. Ia melihat hasil foto.
Di foto pertama, Reyga berdiri memegang piala. Dan Amelia berada di sampingnya.
Namun foto kedua menangkap momen sesaat setelah Reyga menahan tubuhnya.
Ekspresi keduanya terlihat sedikit berbeda. Amelia langsung menutup layar kamera.
"Yang pertama saja."
Reyga tidak memperhatikan. Ia hanya melihat jam. "Gue harus pergi."
Amelia mengangguk. "Ya. Sekali lagi. Terima kasih banyak atas waktunya."
Reyga tak menjawab, lalu dia berbalik dan berjalan beberapa langkah.
Kemudian berhenti. Ia menoleh.
"Amelia."
"Iya?"
"Jangan lupa. Obati luka lo."
Amelia tersenyum. "Iya."
Reyga kemudian pergi.
Amelia berdiri sambil melihat punggungnya. Tangannya perlahan menyentuh pinggang tempat tadi tangan Reyga menahannya.
Jantungnya kembali berdetak aneh. Amelia buru-buru menurunkan tangannya.
"Apa-apaan sih gue ini?" Ia menggelengkan kepala. "Itu cuma karena hampir jatuh."
Namun meskipun ia mencoba menganggapnya biasa. Tanpa ia sadari, senyum kecil muncul di wajahnya.
Sementara itu, Reyga berjalan menuju taksi. Ia sendiri sempat teringat kejadian barusan. Tangannya tadi bergerak begitu saja.
Refleks.
Tidak ada alasan lain.
Reyga menggeleng. "Kenapa gue malah kepikiran?"
Ia memasukkan tangan ke saku. Kemudian masuk ke dalam taksi. Selesai. Setidaknya begitu pikirnya.
Di dalam mobilnya, Amelia melihat kembali foto tadi. Ia memperbesar gambar.
Foto dirinya dan Reyga dengan piala kemenangan. Ia tersenyum kecil.
Namun kemudian ponselnya bergetar.
Pesan dari adiknya.
Kak, uang SPP-nya jangan lupa.
Senyum Amelia perlahan menghilang. Ia teringat mengapa ia berada di sini. Mengapa ia mengejar Reyga. Mengapa ia harus mendapatkan berita. Bukan untuk dirinya sendiri.
Amelia menghela napas lega. "Besok pagi harus ke kantor."
Ia menyimpan kameranya. Kemudian menyalakan mobil. Kakinya masih sakit. Lututnya masih berdarah.
Namun setidaknya hari ini ia mendapatkan wawancara. Dan tanpa ia sadari...
Satu kebaikan kecil dari Reyga sudah meninggalkan sesuatu yang berbeda di hatinya.
Bukan cinta.
Belum.
Hanya sebuah debar yang belum bisa ia pahami.
Sementara Reyga pun tidak menyadari bahwa untuk sesaat...
perempuan yang selama ini paling ia hindari itu berhasil membuatnya lupa untuk bersikap dingin.
Bersambung...
Selalu tinggalkan jejaknya yaaaaa readers 😍😍😍 love-love buat kalian karena masih mengikuti ceritanya 🫶🫶🫶