Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Bunyi mesin EDC yang memproses transaksi terdengar seperti melodi surgawi di telinga Alea.
Kertas setruk meluncur keluar dari celah mesin, panjangnya nyaris menyaingi daftar dosa-dosa para preman yang baru saja kabur.
Alea merobek setruk itu dengan gerakan anggun bak konduktor orkestra yang baru menyelesaikan mahakaryanya. Ia menatap deretan angka nol di kertas termal tersebut dengan mata berkaca-kaca penuh haru, sebelum mengangsurkan Black Card itu kembali ke tangan Arka.
"Enam ratus ribu untuk ganti rugi properti dan red velvet yang batal dibayar," ucap Alea dengan nada selembut sutra, senyumnya mengembang sempurna.
"Dan dua juta rupiah untuk pendaftaran keanggotaan Diamond VIP atas nama Arka Adiwangsa! Selamat, Bos! Lo sekarang resmi jadi pelanggan VIP di Kafe Sudut Temu. Lo berhak dapat diskon sepuluh persen setiap pembelian kopi susu gula aren setiap hari Selasa!"
Arka menatap kartu di tangannya, lalu beralih menatap gadis di depannya. Wajah pemuda itu tetap tanpa ekspresi, namun aura di sekitarnya mengisyaratkan kebingungan eksistensial yang mendalam.
"What! Lo daftarin gue menjadi anggota VIP di kafe yang bahkan kopinya terasa seperti air cucian piring ini?" suara bariton Arka mengudara pelan, penuh penekanan di setiap kata.
"Heh, jaga tuh bacot ya! Enak aja, kopi di sini pakai biji robusta pilihan, tau!" protes Alea tak terima, meski sedetik kemudian ia merendahkan suaranya dan mencondongkan tubuh ke depan.
"Lagian, komisi buat karyawan yang berhasil jual kartu Diamond lumayan besar loh! Dua ratus ribu tunai. Untung kan gue! Anggap aja itu uang tutup mulut gue karena udah lihat lo muterin tangan anak orang kayak muter keran air. Win-win solution, kan?"
Arka tidak merespons. Ia hanya menatap Alea dalam keheningan yang panjang. Di dunianya, uang tutup mulut biasanya bernilai miliaran rupiah, saham perusahaan, atau ditukar dengan nyawa. Namun di hadapannya saat ini, sang pewaris klan mafia baru saja 'diperas' sebesar dua ratus ribu rupiah berkedok komisi kartu keanggotaan kafe.
Bukannya marah, dada Arka justru bergemuruh oleh getaran aneh yang sudah lama mati. Ia memasukkan Black Card-nya ke dalam saku jas, berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan kembali duduk di sudut redup kafe.
Ia menunggu dalam diam, membiarkan waktu berlalu sementara Alea kembali sibuk dengan tugasnya.
Tepat pukul sebelas malam, lampu utama kafe dipadamkan. Lonceng bergemerincing untuk terakhir kalinya saat Alea mengunci pintu kaca dari luar. Udara malam yang menggigit langsung menyambut kulitnya. Gadis itu menghela napas panjang, merenggangkan otot bahunya yang kaku, sambil memeluk erat kotak hitam berisi croissant berlapis emas dan sekantong plastik sisa pastry yang tak terjual.
Langkah Alea terhenti saat ia berbalik.
Di tepi trotoar yang sepi, sebuah mobil SUV hitam legam yang harganya dipastikan bisa membeli seluruh blok ruko ini terparkir membelah keheningan malam.
Arka bersandar santai di kap mobil, kedua tangannya berada di dalam saku celananya. Sorot matanya yang sekelam obsidian langsung mengunci pergerakan Alea.
"Lo ngapain disini?!" seru Alea kaget, memeluk kotak croissant-nya makin protektif.
"Shift gue udah kelar, Bos! Argo argoan udah berhenti sejak 10 menit yang lalu! Oh, jangan bilang lo mau minta uang lo balik karena sadar kartu Diamond kafe gue nggak guna, ya?!"
"Masuk," titah Arka singkat, mengabaikan tuduhan absurd Alea. Ia membuka pintu penumpang depan, memberi isyarat dengan kepalanya.
Alea tidak bergerak. Ia justru mundur selangkah, menatap mobil mewah itu dengan penuh curiga. Otaknya mulai menyusun teori konspirasi kelas teri.
"Ngak," potong Alea dengan mata memicing tajam.
"Di dunia ini nggak ada yang gratis, apalagi tumpangan dari cowok asing kayak lo, yang hobinya muterin tulang orang. Lagian mobil lo pasti minumnya V-Power, kan? Gue nggak sanggup bayar patungannya, jir! Mending gue naik angkot ngetem di perempatan!"
Arka memejamkan mata sesaat. Kesabarannya kembali diuji oleh logika gadis ini.
"Gue nggak mungut biaya, Cerewet. Ini sudah larut malam. Angkot tidak ada yang beroperasi jam segini, kecuali lo berjalan kaki sendirian dan itu sama saja dengan membuang investasi gue hari ini."
"Eh! Tunggu! Investasi apa nih?!"
"Keamanan," balas Arka mulus, melangkah maju mendekati Alea hingga gadis itu harus mendongak.
"Siapa yang akan memandu tur gue besok di sekolah kalau lo mati dibegal di jalan malam ini?"
Alea terdiam. Alasan itu terdengar masuk akal bagi otaknya yang selalu perhitungan. Namun, insting bertahan hidupnya yang terbentuk dari kerasnya jalanan tidak semudah itu ditaklukkan.
"Hmn! Kalau gitu gue ikut deh," sahut Alea cepat.
"Tapi gue peringatin ya, Bos. Kalau lo punya niat mau nyulik gue terus panen organ tubuh gue buat dijual ke black market, mending lo batalin niat lo sekarang."
Arka mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa?"
"Karena ginjal gue ini isinya cuma residu mie instan kuah soto, es teh manis, sama gorengan Mang Ujang!" sembur Alea bangga dengan kemiskinannya.
"Nggak bakal lolos quality control pasar gelap! Harganya di jamin anjlok, yang ada lo malah rugi bandar buat bayar dokter bedahnya!"
Keheningan malam seketika pecah. Tawa yang sejak tadi ditahan Arka di dalam tenggorokannya akhirnya lolos. Bukan tawa terbahak-bahak, melainkan kekehan pelan yang dalam, serak, dan menggetarkan udara di sekitarnya. Bahu lebarnya sedikit berguncang.
Alea terpaku. Senyuman dan kekehan itu secara drastis mengubah aura mematikan Arka menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagi kewarasan jantung Alea.
Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, ketampanan pemuda itu terasa tidak nyata, menyilaukan, sekaligus mematikan.
"Gue pastikan ginjal lo yang penuh pengawet itu aman di tempatnya," ucap Arka setelah tawanya reda. Sorot matanya kini melembut, menatap Alea dengan intensitas yang aneh.
"Masuklah, Nona Alea."
Untuk pertama kalinya, Arka memanggil nama gadis itu dengan tulus. Bagi Alea, panggilan dari bibir pemuda itu entah kenapa terdengar jauh lebih mengintimidasi daripada melihatnya mematahkan tangan preman beberapa jam yang lalu.
Dengan detak jantung yang mendadak konser dadakan, Alea akhirnya masuk ke dalam mobil mewah tersebut, sama sekali tak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan dirinya ke dalam perlindungan mutlak dari iblis paling menawan sekaligus berbaya di dunia bawah tanah.
Bersambung...