Indonesia
NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Tiba-tiba suara kecil Arkan keluar, bibirnya tak henti bergerak, seolah sudah lama merindukan cairan yang ada di dadaku ini. Dengan gerakan cepat, aku membiarkan ia untuk menghisapnya. Arkan bukannya diam, ia terus saja merengek dan membuatku frustasi. "Ayo keluar?! Aku mohon," gumamku dengan cemas. Air mataku seketika keluar tak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Tubuh ini seharusnya berguna untuk Arkan, tapi kenapa justru memicu konflik baru bagiku.

"Bu Arini, harap tenang. Anda jangan histeris dulu," ucap perawat menenangkan aku.

"Tapi Den Arkan haus. Dia butuh ASI... " Aku menangis sejadi-jadinya, meluahkan rasa sakit di dada ini. Tubuhku yang kurus bergetar hebat di atas bangsal.

"Sudah, Bu Arini. Bawa Den Arkan keluar dulu ke ruangan khusus bayi. Cepat!" desak Marco kepada petugas medis tersebut.

"Jangan! Tolong jangan bawa Den Arkan pergi! Kembalikan dia padaku!" jeritku. Tanganku yang masih lemas ini mencoba meremas dadaku kembali, "Ayo keluar... aku mohon, keluar?!" desakku dengan isak tangis yang pecah.

"Bu Arini, sebaiknya Anda tenang dulu," ucap petugas medis itu lagi sambil berusaha melangkah mundur. Sementara tangannya mendekap Arkan dengan sangat hati-hati agar tidak memicu kepanikan untuk sang bayi.

"Tapi Den Arkan haus! Dia butuh ASI saya... dia butuh cairan itu! Jangan pisahkan aku lagi dengan dia!" lirihku menggeleng pelan tak terima mereka merebut Arkan dari tanganku.

Marco, Hendra, dan Billy yang berdiri mengitari bangsal segera mendekat. Mereka mencoba memposisikan diri untuk menenangkan wanita yang sedang berada di ambang kehancuran.

"Bu Arini, saya mohon dengarkan saya," Hendra melangkah maju, melepaskan kacamata kudanya sejenak untuk memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Menangis dan berteriak seperti ini tidak akan mengubah keadaan. Anda hanya akan menyiksa diri Anda sendiri."

"Tahu apa kamu tentang rasanya menjadi aku, Hendra?!" bentakku dengan napas yang memburu. "Kalian semua tahu, kan? Kalian semua tahu kenyataan pahit ini! Pak Dikta itu mempertahankan aku hingga detik ini hanya karena aku bisa memproduksi ASI untuk anaknya! Apa arti hidupku saat ini jika Arkan saja sudah tidak mengharapkan aku lagi?!"

Billy yang berdiri di dekat pintu dengan panik angkat bicara, mencoba mencairkan suasana. "Tenang, Bu Arini. Ini semua hanya efek sementara dari itu. Anda tidak perlu sedih sampai seperti ini. Pak Dikta pasti bisa mengerti kondisi Anda!"

"Kalian bohong?!" Aku tertawa getir di sela isak tangisku sambil menatap mereka satu per satu dengan pandangan kosong dan penuh luka. "Kalian semua bekerja untuk Pak Dikta, tentu saja kalian akan membelanya!"

Setelah Perawat itu berhasil membawa Arkan keluar dari ruangan, Billy langsung menutup pintu dengan rapat.

Marco melangkah lebih dekat, lalu mencengkeram kedua lengan tanganku yang mulai bergerak liar ingin menyakiti diri sendiri. "Hentikan, Bu Arini! Lihat aku! Jangan pernah merendahkan diri Anda seperti itu lagi. Anda bukan sekadar mesin pembuat ASI untuk keluarga Dirgantara!"

"Lalu apa, Marco?!" tantangku menatap tangan kanan Dikta itu dengan mata yang sembap. "Jika bukan karena itu, untuk apa aku ada di rumah ini? Aku sudah membuat reputasi Pak Dikta hancur. Kehadiranku hanya membawa petaka, dan sekarang, aku sudah tidak berguna lagi bagi Den Arkan, Marco! Aku cacat!"

Marco dan Hendra saling memandang sejenak. Mereka mendadak bingung harus menjelaskan dengan cara apa lagi agar wanita di depan mereka ini berhenti menghukum dirinya sendiri.

"Bu Arini, suntikan itu memang merusak prolaktin Anda secara instan. Dokter Gunawan sedang mengusahakan penawar terbaik di laboratorium sekarang. Tapi tolong, ubah cara berpikir Anda. Den Arkan merengek tadi bukan karena dia menolak Anda, dia hanya bingung dengan kondisi Anda yang sedang stres berat."

"Kalian tidak mengerti..." lirihku.

Billy mengusap sisa keringat dingin di dahinya. "Bu Arini, zaman sekarang susu formula sudah sangat canggih. Den Arkan tidak akan kelaparan. Lagipula, jika Pak Dikta hanya menginginkan ASI, beliau bisa menyewa sepuluh ibu susuan terbaik di kota ini dengan kekayaannya. Tapi nyatanya? Beliau hanya ingin Anda yang ada di samping Den Arkan. Pikirkan itu baik-baik, Bu."

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, menolak mentah-mentah perkataan Billy. "Bohong. Kalian pasti sedang membohongiku," tuduhku.

Pintu kamar rawat VIP itu tiba-tiba terbuka dengan satu dorongan kasar. Langkah sepatu formal yang tegas bergaung di atas lantai. Sesosok pria dengan aura dominan yang mencekam melangkah masuk. Setelan jasnya berantakan, dasinya sudah dilonggarkan, dan matanya memerah menahan badai emosi yang luar biasa.

Seketika Marco, Hendra, dan Billy mundur dua langkah, memberikan penghormatan dengan kepala sedikit menunduk.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Dikta. Matanya langsung mengunci sosokku yang bersimbah air mata di atas ranjang.

"Bu Arini baru saja histeris karena... ASI-nya tidak keluar akibat efek zat kimia itu, Pak," lapor Hendra dengan jujur.

Dikta menatap tajam ke arah bawahannya. "Tinggalkan kami Sekarang."

Kini, hanya ada aku dan Dikta di dalam ruangan ini. Aku sengaja memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak untuk menatap pria yang telah membayar mahal hanya karena aku menyimpan asupan terbaik untuk putranya.

"Lihat aku, Arini," ucap Dikta. Ia melangkah mendekati pinggiran ranjang.

"Untuk apa, Pak?" Jari-jemariku meremas ujung selimut rumah sakit dengan erat. "Untuk melihat wanita cacat yang sudah tidak berguna di hidup Anda? Tugas saya di sini hanya sebagai ibu susuan Den Arkan. Kontrak kita sudah gagal. Jadi untuk apa Anda masih berdiri di sini? Pergi, Pak Dikta... saya mohon, pergi!"

Dikta menghela napas kasar, rahangnya menegang mendengar penolakan itu. Gengsinya yang setinggi langit, hari ini runtuh seketika melihat kerapuhan yang melanda wanita di hadapannya ini."Jangan menjadi orang bodoh yang berpikiran sempit. Aku tidak peduli dengan kontrak sialan itu lagi."

"Tapi saya peduli!" bentakku lalu menatap Dikta yang hanya terpaku, seolah ingin menjadi pendengar terbaik. "Anda tidak tahu rasanya menjadi saya! Saat Den Arkan merengek mencari sumber kehidupannya di dadaku, dan aku... aku tidak bisa memberikan setetes pun! Aku merasa seperti raga kosong yang tidak berguna! Anda membayar saya mahal untuk menjadi ibu susuan, bukan untuk menjadi pajangan di rumah megah Anda!"

"Arini, cukup!" Dikta tiba-tiba mencengkeram kedua bahuku, memaksaku untuk berhenti berbicara konyol yang justru memperburuk keadaan. "Dengarkan aku dengan baik. Kalau aku hanya butuh cairan ASI itu, aku bisa membeli puluhan ibu susuan baru dalam hitungan detik! Tapi apa aku melakukannya? Tidak! Aku menyuruh Marco memastikan keselamatanmu. Apa itu masih belum cukup?"

"Itu karena Den Arkan, Pak! Karena Anda takut anak Anda kelaparan!" balasku tak mau kalah. Aku meluapkan seluruh rasa sakit yang terpendam selama ini. "Kehadiranku sudah menghancurkan reputasi Anda. Dan sekarang, setelah aku tidak bisa lagi menyusui Arkan, apa lagi yang tersisa? Aku ini tidak ada artinya bagi Anda!"

Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari bibirku, cengkeraman Dikta di bahu ini perlahan mengendur. Matanya yang biasa sedingin es mendadak menyiratkan luka yang sangat dalam

"Kau salah, Arini..." bisik Dikta, suaranya tiba-tiba terdengar begitu berat, lelah, dan kehilangan keangkuhannya. "Kau tidak pernah menghancurkan apa pun."

Aku tertegun di atas bangsal. "Maksud... maksud Pak Dikta apa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!