Indonesia
NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Keheningan di dalam kamar VIP yang serba putih itu mendadak mengental dan menghimpit. Hayden tidak langsung pergi usai pembicaraan mereka yang menggantung. Pria itu justru melangkah mendekat, mengikis jarak hingga bayangan tubuh tegapnya menutupi Aluna dari cahaya lampu ruangan. Matanya menyala oleh dorongan gila—sebuah obsesi gelap untuk memiliki Aluna sepenuhnya, tak peduli sekencang apa gadis itu mencoba melarikan diri.

​"Kenapa kamu harus sesakit ini, Aluna?" bisik Hayden rendah, jemarinya mencekeram dagu Aluna dengan kasar, memaksa wajah tirus itu menengadah menatapnya. "Kamu milikku sekarang. Apapun yang terjadi malam itu, kamu sudah menjadi milikku."

​Aluna memejamkan mata rapat-rapat, meringis merasakan cengkeraman kuat pada rahangnya. "Lepas... Hayden, lepas!"

​"Buka matamu dan tatap aku!" bentak Hayden, suaranya sarat intimidasi yang membuat bahu Aluna bergetar hebat. "Jangan berakting seolah kamu korban paling menderita di sini. Kejadian malam itu bukan sepenuhnya salahku, Aluna. Kamu ingat bagaimana kamu merespons sentuhanku? Kamu menikmati permainan itu, bukan?"

​Kata-kata itu menghantam Aluna bagai cambukan beracun. Air matanya menetes deras, membasahi jemari Hayden yang masih mencekeram dagunya. "Tidak.. Itu tidak benar... kamu jahat, Hayden!"

​Hayden terkekeh dingin, sebuah tawa getir yang merendahkan harga diri Aluna tanpa ampun. Ia melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, menatap Aluna dari atas dengan pandangan mencemooh.

​"Jahat? Jangan berpura-pura suci," ejek Hayden penuh racun. "Kalaupun aku tidak menjadikanku model lukisanku saat itu, mungkin kamu sudah menyerahkan dirimu pada pria lain. Apa kau lupa, dulu kamu bekerja sebagai model lukis—membiarkan tubuhmu jadi tontonan puluhan mata pria lapar di luar sana. Apa bedanya?"

​Dada Aluna naik turun drastis. Napasnya tercekat oleh rasa hina yang luar biasa. Pekerjaan masa lalunya yang ia jalani demi bertahan hidup dan membiayai pengobatan kakaknya kini dijadikan senjata oleh Hayden untuk menginjak-injak kehormatannya.

​"Cukup, Hayden... cukup!" jerit Aluna dengan suara serak yang memilukan.

​Hayden membungkuk, berbisik tepat di samping telinga Aluna dengan nada yang amat mengancam. "Jangan coba-coba melawanku atau melarikan diri, Aluna. Ingat, Romeo adalah kakakmu dan satu-satunya keluargamu yang tersisa. Satu langkah salah darimu, dan aku pastikan seluruh fasilitas rumah sakit serta biaya pengobatannya kucabut detik ini juga. Kamu mau melihat kakakmu lumpuh selamanya?"

​Ancaman itu membungkam Aluna seketika. Pertahanannya hancur berkeping-keping. Pria ini tidak hanya merenggut kehormatannya, tapi juga mengunci setiap celah napasnya menggunakan keselamatan Romeo.

*

​Tepat saat keheningan yang menyiksa itu kembali menguasai ruangan, ponsel milik Hayden berdering nyaring. Pria itu menggeser tombol hijau tanpa mengalihkan pandangan dari Aluna.

​"Ada apa, Rendra?" bisik Hayden dingin.

​"Tuan... mohon maaf mengganggu," suara Rendra di seberang sana terdengar sangat tegang. "Saya berada di depan kamar. Ada hal yang sangat mendesak dan harus Tuan lihat sekarang juga. Ini soal foto di IGD tadi."

​Hayden menghela napas berat, merapikan jasnya yang sedikit kusut. "Aku keluar sebentar. Jangan coba-coba melakukan hal bodoh," ucapnya pada Aluna sebelum memutar tubuh dan melangkah keluar.

​Di koridor yang lengang, Rendra menyambutnya dengan wajah pucat dan menyodorkan sebuah tablet. "Lihat ini, Tuan. Foto saat Tuan menggendong Nona Aluna di selasar IGD tadi sudah menyebar luas di media sosial. Netizen dan media hiburan sedang geger berburu identitas wanita di dekapan Tuan."

​Hayden menatap foto itu dengan rahang mengeras. "Tutup semua akses informasi. Beli semua lisensi foto itu dan hapus sekarang juga."

​"Masalahnya bukan cuma publik, Tuan..." Rendra menelan ludah kaku. "Nyonya Besar dan Tuan Besar sudah melihatnya. Tuan Besar sangat murka dan menuntut Tuan untuk pulang ke kediaman utama malam ini juga. Jika Tuan menolak, beliau mengancam akan menerjunkan pengawal pribadi ke rumah sakit ini untuk menyisir identitas Nona Aluna."

​Ancaman orang tuanya memukul telak pertahanan Hayden. Ia tidak bisa membiarkan keluarganya menyentuh Aluna saat kondisi gadis itu sedang seperti ini.

​"Siapkan mobil," perintah Hayden cepat. "Panggil dua penjaga tambahan di depan pintu kamar ini. Tidak ada satu orang pun yang boleh masuk tanpa izin darimu."

​Hayden membuka sedikit selokan pintu untuk menatap Aluna sekali lagi. Gadis itu terbaring kaku membelakanginya. "Aku harus pergi sebentar untuk menyelesaikan suatu urusan. Istirahatlah. Aku akan kembali secepatnya."

​Pintu bergeser tertutup. Derap langkah Hayden dan Rendra perlahan menghilang di balik lorong.

​Begitu helatan napas dan derap langkah di luar benar-benar lenyap, kamar VIP itu mendadak terasa hampa dan memekakkan telinga.

​Aluna perlahan membuka matanya. Kata-kata Hayden kembali berputar bagai kaset rusak di benaknya. 'Kamu menikmati permainan itu... kamu membiarkan tubuhmu jadi tontonan puluhan pria lapar...'

​"Kenapa..." bisik Aluna, suaranya pecah di tengah keheningan. "Kenapa aku harus hidup kalau hanya untuk dihina seperti ini?"

​Rasa hina, murka, trauma, dan ketakutan akan ancaman terhadap Romeo meluap bersamaan. Seluruh tembok pertahanan mental Aluna runtuh sepenuhnya. Ia tidak sanggup lagi menanggung beban yang membakar dadanya.

​"Aku jijik..." gumamnya histeris dengan tubuh gemetar hebat. "Aku jijik pada diriku sendiri!"

​Dengan napas memburu, Aluna mulai memukul-mukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan, mencoba mengalihkan rasa sakit di jiwanya yang tak tertahankan.

​"Kenapa kamu tidak mati saja, Aluna?!" jeritnya tertahan, takut terdengar ke luar.

​Rasa benci pada diri sendiri menuntun jemarinya menggapai selang infus di punggung tangannya. Tanpa ragu, Aluna merenggut jarum itu dengan satu tarikan kasar.

​Srett!

​"Ahkh!" Aluna meringis pelan saat darah segar seketika menyembur keluar, menetes-netes membasahi sprei putih rumah sakit.

​Gadis itu menyibak selimut dan menyeret tubuhnya yang lemas turun dari ranjang. Kakinya menapak gemetar di lantai granit yang dingin. Saat terduduk di samping meja dorong, matanya menangkap kilauan tajam dari piring buah—sebuah pisau kecil berlapis stainless steel terletak di sana.

​Aluna menatap pisau itu. Jemarinya yang berdarah terulur lambat, meraih gagang pisau tersebut.

​"Kak Romeo..." bisik Aluna dengan nada yang teramat pilu. "Maafkan Aluna... Aluna sudah kotor. Aluna tidak sanggup lagi melindungi Kakak..."

​Dengan jemari bergetar hebat, Aluna mengarahkan mata pisau yang tajam itu tepat di atas pergelangan tangan kirinya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menyayat kulitnya tanpa ragu.

​Srat!

​Rasa perih melesat tajam, namun bagi Aluna, rasa sakit fisik itu membawa sedikit kelegaan mendalam. Seolah darah merah yang mengalir deras menetes ke lantai dingin itu membawa pergi sebagian dari depresi dan rasa hina yang mengimpit dadanya.

​Darah kental menyebar cepat di atas granit putih, membentuk genangan merah yang mengerikan. Kepala Aluna mendadak terasa sangat ringan. Pandangannya mengabur, dan pisau buah di genggamannya terlepas berdenting di lantai.

​Dengan sisa tenaganya yang kian terkuras, Aluna menyandarkan kepalanya di tepi ranjang. Senyum tipis yang penuh kepasrahan terukir di bibirnya yang pucat pasi, saat kegelapan perlahan merenggut seluruh kesadarannya.

*

*

*

1
+1
selamat datang di neraka tuan muda 🌚
Mia Camelia
yah kok jadi begini😨
+1
good🌚
Mia Camelia
ehmm Hayden jadi mati kutu nih😔
Mia Camelia
pasti udah di sabotase sama suster maya😔
Mia Camelia
aku pasti mampir thor🤭
Mia Camelia
suka nih ngliat Hayden yg intimidatif🤣
+1
kasian.. tapi aku suka🌚
Mita Paramita
lagi Thor double up 😍
MissSHalalalal: author usahakan ya kak.🙏
total 1 replies
+1
jadi takut jatuh cinta
Mia Camelia
ekstreme banget si Aluna langsung bundir gitu😨😨😨untung aja masih selamat 😔
+1
semoga tidak sad ending
Mia Camelia
wah Hayden mulai posesif nih🤭
Mia Camelia
Aluna ketakutan banget itu🤭🤭🤭
+1
lagi🌚
+1
rome.. bawa adikmu pergi, jauh 🌚
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!