Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Tiyas melajukan mobilnya membelah pekatnya malam tanpa arah yang pasti, hingga roda-roda kendaraannya berhenti di depan sebuah tempat yang tidak pernah sekali pun terbayang akan ia injak.
Bangunan itu berdiri mencolok dengan pendar lampu neon berwarna keunguan dan merah menyala.
Sebuah diskotik kelas atas dengan musik house bertempo cepat yang dentum bass-nya bahkan sudah terasa bergetar dari pelataran parkir.
Begitu melangkah masuk melewati pintu peredam suara, Tiyas disambut aroma campuran alkohol mahal, asap rokok tipis, dan wewangian parfum yang menyengat.
Cahaya lampu strobe yang berkedip-kedip liar menerangi kerumunan orang yang menari lepas di dance floor, seolah-olah tempat itu dirancang khusus untuk membuang segala norma dan melupakan kepahitan dunia luar.
Dengan langkah sedikit ragu namun penuh nekat, Tiyas menerobos kerumunan dan duduk di salah satu kursi tinggi di area bar counter.
"Pesan ini satu," ucap Tiyas lantang seraya menunjuk menu minuman keras beralkohol tinggi di hadapannya.
Bartender muda di balik meja menatap penampilan Tiyas yang terkesan sangat rapi dan elegan—jelas bukan tipe pengunjung reguler di tempat ini.
"Anda yakin?" tanya sang bartender ragu.
Tiyas menganggukkan kepalanya mantap. Malam ini, ia hanya ingin satu hal: menyiram habis seluruh sisa rasa sakit dan ingatan tentang Gio dari kepalanya.
Tak berselang lama, bartender menyuguhkan pesanan Tiyas.
Satu gelas habis berisikan cairan hangat yang membakar tenggorokannya.
Dua gelas, hingga tak terasa sepuluh gelas sloki kecil telah tandas di atas meja.
Kesadaran Tiyas mulai terkikis hebat. Penglihatannya membayang, kepalanya terasa amat berat, dan ia mulai mengoceh tidak karuan, meracik rasa marah dan tawa sumbang tentang pengkhianatan suaminya.
Melihat kondisi Tiyas yang sudah lepas kendali dan berisiko dimanfaatkan oleh pengunjung lain yang berniat jahat, sang bartender yang khawatir mengambil ponsel milik Tiyas dari atas meja.
Ia mencari kontak yang paling baru dihubungi dan menekan tombol panggil ke nama Narendra.
"Halo, Tiyas? Bagaimana?" suara Narendra terdengar tegap di seberang sana.
"Halo, Mas. Ini pacarnya, mabuk berat di bar kami," ujar sang bartender jujur.
"APA?!" pekik Narendra dari balik telepon, keterkejutan menguasai nada suaranya.
Tanpa membuang waktu, Narendra meminta sang bartender untuk mengirimkan share location tempat tersebut dan berjanji akan segera menuju ke sana.
Ia memohon dengan sangat agar bartender itu menjaga Tiyas dan memastikannya tidak pergi ke mana-mana sampai ia tiba.
Narendra memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah keheningan malam Yogyakarta.
Dadanya bergemuruh panik, membayangkan Tiyas berada di dalam diskotek penuh marabahaya dalam keadaan mabuk berat.
Begitu tiba di lokasi, dentuman musik yang memekakkan telinga langsung menyambutnya.
Narendra menerobos kerumunan manusia yang
sedang menari liar, matanya bergerak cepat menyisir area bar.
Di sana, ia melihat Tiyas sedang duduk terhuyung-huyung, sementara seorang pria asing mencoba mendekatinya dan memegang bahunya.
"Jangan sentuh dia!" bentak Narendra dingin seraya menepis kasar tangan pria itu.
Pria asing itu mundur ketakutan melihat kilat kemarahan di mata Narendra. Narendra segera meraih pinggang Tiyas, berusaha memapah wanita itu berdiri.
"Tiyas, ayo pulang. Ini bukan tempat kamu."
Tiyas yang kesadarannya sudah terenggut alkohol menoleh.
Matanya yang sayu menatap wajah Narendra yang berada sangat dekat.
Dalam ilusi mabuknya, rasa sepi, kepedihan, dan kerinduan akan kehangatan meledak secara bersamaan.
Tanpa peringatan, Tiyas menarik kerah kemeja Narendra dan menempelkan bibirnya, mencium bibir pria itu dengan nekat dan emosional.
Narendra tersentak hebat, tubuhnya membeku seketika.
Sensasi manis alkohol dan kehangatan bibir Tiyas menyengat kesadarannya, namun akal sehat Narendra cepat mengambil alih.
Ini bukan Tiyas yang sebenarnya; ini adalah wanita lelah yang sedang hancur dan lepas kendali.
Narendra menarik dirinya mundur dan melepaskan ciuman itu secara paksa.
"Tiyas! Cukup!"
"Lepas! Aku nggak mau pulang! Aku mau minum lagi! Aku benci semua pria!" racau Tiyas histeris saat Narendra mencoba memegang tangannya kembali.
Wanita itu mulai meronta keras, memukul-mukul dada Narendra dengan sisa tenaganya.
Melihat perhatian pengunjung bar mulai tertuju pada mereka dan bahaya yang mengintai jika tetap berada di sana, Narendra tidak punya pilihan lain.
Ia merengkuh tubuh Tiyas dan membungkuk cepat, memanggul tubuh Tiyas di atas bahu kokohnya seperti mengangkat beras.
"Naren! Lepasin aku! Turunin!" berontak Tiyas histeris, kakinya menendang-nendang udara sementara tangannya memukul-mukul punggung Narendra.
Narendra menahan kedua kaki Tiyas dengan satu tangannya yang kuat, tidak memedulikan pukulan dan tontonan orang-orang di sekitar.
Dengan langkah lebar dan napas memburu penuh ketegangan, Narendra membawa Tiyas menerobos pintu diskotek menuju mobilnya, bertekad menyelamatkan wanita itu dari kehancuran yang diciptakannya sendiri malam ini.
Narendra memasang sabuk pengaman Tiyas dengan hati-hati, memastikannya terkunci erat sebelum melaju meninggalkan pelataran diskotek.
Mengingat jarak rumah Tiyas yang terlalu jauh dari lokasi tersebut, Narendra mengambil keputusan cepat untuk membawa Tiyas ke rumahnya sendiri yang berada paling dekat dari tempat itu.
Di dalam mobil yang melaju membelah pekatnya malam, Tiyas terus bergumam tidak karuan.
Kata-kata dari bibirnya tercampur aduk antara tangisan lirih, tawa sumbang, dan igauan putus asa.
Narendra melirik Tiyas melalui kaca spion dalam, matanya menyiratkan kecemasan sekaligus rasa iba yang mendalam.
"Bukankah aku sudah mengatakannya untuk menghubungiku, Tiyas? Kenapa kamu malah nekat pergi ke tempat seperti itu?" gumam Narendra pada diri sendiri, suaranya sarat akan kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan.
Sesampainya di rumah, Narendra mematikan mesin mobil dan kembali memapah tubuh Tiyas yang kini sudah terlelap pasrah karena pengaruh kuat alkohol.
Ia membawanya masuk dengan perlahan, menaiki anak tangga menuju kamar utamanya.
Dengan sangat hati-hati, Narendra meletakkan tubuh Tiyas di atas peraduan yang empuk.
Wajah wanita itu kini terlihat jauh lebih tenang, bebas dari gejolak emosi yang tadi membakar dirinya di diskotek.
Narendra berlutut di sisi tempat tidur, menatap Tiyas sejenak.
Dengan lembut, Narendra melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki Tiyas, lalu meraih selimut tebal dan menariknya hingga menutupi dada sang wanita.
Pria itu menghembuskan napas panjang, memastikan Tiyas benar-benar aman dan terlelap dalam lindungannya.
Sementara itu di tempat lain, Gio menyewa rumah kontrakan kecil di pinggiran kota.
Ia memasukkan kopernya ke dalam ruangan sempit yang berbau lembap itu, membanting pintu dengan amarah yang masih membakar dada.
Tepat saat ia menyapukan pandangan ke sekeliling tembok kusam kontrakan tersebut, ponsel di saku celananya berdering nyaring.
Nama Mia terpampang di layar. Gio memencet tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
"Halo, Mia! Kenapa kamu menelepon jam segini?!" bentak Gio panik.
Suara tangis histeris Mia langsung memecah keheningan kontrakan.
"Gio, Naren tahu semuanya! Dia tahu kebusukan kita!"
"Maksudmu apa?! Narendra tahu dari mana?!"
"Tadi waktu aku pulang, ternyata dia sudah nunggu aku di rumah, Gio! Naren memutar semua rekaman desahan kita di vila Lembang, dia lempar foto-foto intim kita ke muka aku! Dia bahkan ngusir aku dan lempar semua baju-bajuku ke tempat sampah di depan rumah!" jerit Mia dengan napas memburu.
"Dia sudah menjatuhkan talak tiga ke aku, Gio. Aku hancur, aku nggak punya apa-apa lagi!"
Gio membelalakkan matanya, terduduk lemas di tepi kasur tipis.
Rencananya dan Mia telah hancur berkeping-keping dalam sehari.
Namun, sadar bahwa mereka kini berada di kapal yang sama, Gio berusaha menguasai emosinya.
"Tenang, Mia. Jangan histeris begitu," ucap Gio serak. "Datanglah ke rumah ini, Mia. Aku kirim lokasinya sekarang."
Setelah sambungan terputus dan menerima titik lokasi dari Gio, Mia tidak membuang waktu.
Dengan napas bersisa isak tangis dan pakaian seadanya, Mia memanggil taksi mengantar ke rumah kontrakan Gio, menyusuri jalanan malam menuju satu-satunya pelarian yang tersisa baginya.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘