Indonesia
NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Nikah Kontrak / Kapten
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Terlambat Menyadari

Sambungan Tania baru kembali setelah matahari terbit.

“Pesan Nathan bukan pesan mesra,” katanya cepat. “Dia menyuruh Cheryl berhenti dan nggak mengganggu kamu.”

Renata menutup mata sebentar.

“Aku kirim bukti waktunya. Semua foto dijadwalkan sebelum kalian berangkat.”

“Aku mengerti.”

“Jadi jangan langsung mengambil keputusan saat kamu masih marah.”

Renata memandang koper yang sudah tertutup. “Keputusanku nggak lahir dari satu foto, Tata. Foto itu cuma mengingatkan kenapa aku mengambilnya.”

Ia mengakhiri panggilan untuk menghadiri pertemuan terakhir.

Di ruang konferensi kecil dekat dermaga, Renata menyerahkan laporan awal kepada Xavier dan Liam. Jalur ilegal sudah diputus. Izin vendor lama dicabut secara bertahap. Bukti perangkat, daftar kunjungan kapal, serta arsip akses diserahkan kepada tim penyelidikan resmi.

“Pelakunya belum kita sebut,” kata Renata. “Data yang ada cukup untuk mempersempit penyelidikan, bukan untuk menuduh orang.”

Liam menyerahkan daftar tindakan lanjutan. Mulai malam itu, setiap kapal servis harus mendapat konfirmasi ganda. Vendor lama tidak bisa lagi memakai izin otomatis. Dua anggota jaga yang bertugas saat kunjungan palsu dipindahkan sementara tanpa dinyatakan bersalah sampai pemeriksaan selesai.

“Jangan perlakukan mereka seperti pelaku hanya karena jadwalnya cocok,” pesan Renata. “Bisa jadi akses mereka ikut dipakai.”

Xavier memandang daftar biaya yang berhasil diselamatkan. Jika jalur bocor dibiarkan satu minggu lagi, seluruh sistem pulau harus diganti. Dengan isolasi bertahap, layanan tetap berjalan dan bukti tidak rusak.

“Tim saya enam bulan mengejar masalah ini,” katanya. “Anda datang dan membuatnya bisa dipahami dalam beberapa hari.”

“Karena tim Anda sudah mengumpulkan sebagian besar potongan. Mereka hanya menyusunnya dari arah yang salah.”

Renata menolak mengambil seluruh pujian. Dua staf yang awalnya meragukannya kini mencatat setiap rekomendasi tanpa menyela.

Xavier menandatangani penerimaan. “Itu sebabnya saya suka laporan Anda. Nggak ada drama, hanya hal yang bisa dibuktikan.”

Ia mengumumkan di depan tim bahwa Renata merupakan ahli terbaik yang pernah bekerja bersamanya dan Purnama ingin memperpanjang kontrak untuk pengawasan jarak jauh.

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Nathan berdiri di sisi belakang. Ia bangga, tetapi rasa itu bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap ketika Xavier menjabat tangan Renata terlalu lama menurutnya.

“Saya kirim penawaran resmi minggu depan,” kata Xavier.

“Kirim melalui jalur yang sama,” jawab Renata.

“Dan makan siang tetap masuk tagihan?”

“Terutama makan siang.”

Keduanya tersenyum.

Nathan menunggu sampai anggota tim keluar. “Rena, kita bicara sebentar?”

“Tentang pekerjaan?”

“Tentang kita.”

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar seperti perintah.

Renata menatapnya. Wajah Nathan tampak lelah karena tidak tidur. Jika percakapan itu terjadi sebelum foto Cheryl muncul, mungkin hatinya akan goyah lagi.

Sekarang ia sudah mengingat harga sebuah harapan.

“Nggak ada yang perlu dibicarakan,” katanya. “Sampai Jakarta, kita urus perpisahan.”

Nathan membeku. “Karena foto itu?”

“Bukan.”

“Aku sudah menyuruh Cheryl menghapusnya.”

“Aku tahu.”

Jawaban tersebut justru membuatnya semakin panik. “Kalau kamu tahu, kenapa masih...”

“Karena kamu berhenti membela Cheryl selama beberapa hari bukan alasan untukku melupakan tiga tahun.”

Renata mengambil map dan berjalan keluar.

Nathan tetap berdiri di ruang kosong. Ia sudah menduga Renata marah karena foto Cheryl. Mengetahui perempuan itu memahami kebenaran tetapi tetap ingin pergi terasa jauh lebih buruk.

Tidak ada penjahat sederhana yang bisa ia salahkan. Cheryl memang membuat jebakan, tetapi luka Renata sudah ada jauh sebelum foto pertama diunggah.

Nathan sendiri yang menciptakan tempat agar jebakan itu bekerja.

Ia membuka ponsel dan melihat pesan dari Reno. Catatan perjalanan lama Cheryl hampir selesai diverifikasi. Ada beberapa tanggal yang tidak cocok, tetapi laporan akhir baru tersedia setelah mereka kembali.

Dulu, Nathan akan langsung menghubungi Cheryl dan meminta penjelasan. Kali ini ia meminta Reno menyimpan bukti lengkap dan tidak membocorkan penyelidikan.

Di dermaga, Liam membantu tim menaikkan kotak perangkat ke perahu. Xavier berdiri di samping Nathan sambil memandang Renata memberi instruksi.

“Perempuan sebagus dia, kalau hilang ya hilang,” katanya.

Nathan mengepalkan tangan. “Jangan bicara seolah kamu menunggu kesempatan.”

“Saya bicara sebagai orang yang melihat Anda selalu terlambat satu langkah.”

“Ini urusan pernikahan kami.”

“Benar. Dan dia sudah bilang ingin mengakhirinya.” Xavier menepuk bahu Nathan sekali. “Kalau masih mau mempertahankan, berhenti memakai status suami sebagai alasan. Mulai bertindak seperti suami.”

Nathan tidak membalas.

Saat perahu meninggalkan pulau, Liam berdiri di dermaga memberi hormat. Xavier menunggu sampai Renata naik dengan aman, lalu memilih duduk di bagian depan bersama timnya. Ia sengaja membiarkan satu bangku kosong di samping Renata.

Nathan duduk di sana.

Sepanjang perjalanan, percikan laut membasahi sisi perahu. Nathan menawarkan handuk. Renata menerimanya hanya untuk mengeringkan tas perangkat, bukan dirinya sendiri.

“Semua yang kuberikan sekarang selalu kamu tolak?” tanyanya.

“Saya menerima yang berguna untuk pekerjaan.”

“Dan untuk kita?”

“Kita bukan proyek yang bisa diperbaiki dengan daftar tindakan.”

Nathan memandang pulau mengecil di belakang. Untuk pertama kalinya ia berharap rumah tangga memiliki prosedur jelas seperti mesin: temukan kerusakan, ganti bagian, uji kembali. Renata bukan sistem. Ia tidak berkewajiban menunggu perbaikan.

Perjalanan kembali dimulai dengan pesawat laut, lalu berpindah ke pesawat sewaan. Renata memilih kursi dekat jendela dan menutup mata begitu sabuk terpasang.

Ia tidak benar-benar tidur.

Beberapa jam kemudian, suhu kabin turun. Nathan melepaskan jaket dan menyelimutkannya ke bahu Renata dengan hati-hati.

Renata membuka mata.

“Dingin,” katanya.

“Saya punya selimut.”

Ia mengambil jaket itu, melipatnya rapi, lalu mengembalikan ke pangkuan Nathan. Setelah itu ia meminta selimut kepada awak kabin.

Gerakan kecil tersebut terasa seperti penolakan atas semua hal yang Nathan baru belajar berikan.

“Aku benar-benar ingin mencoba,” katanya pelan.

Renata memandang awan di luar. “Kamu baru ingin mencoba setelah aku berhenti menunggu.”

“Beri aku waktu.”

“Waktu kita sudah ada. Kamu yang nggak memakainya.”

Nathan menggenggam jaket di pangkuan. Ia tidak memiliki jawaban yang bisa mengubah fakta.

Pesawat mendarat di Jakarta menjelang malam. Saat meluncur menuju area parkir, beberapa anggota tim melihat ke luar jendela.

Seorang perempuan berdiri di balik pembatas kedatangan khusus. Ia memegang papan bertuliskan Selamat datang, Nathan dan tersenyum ke arah pesawat.

Cheryl.

Ia jelas mengetahui jadwal kedatangan dari seseorang di Jakarta. Dua fotografer infotainment berdiri tidak jauh dari pembatas, kamera sudah mengarah ke pintu pesawat. Kedatangannya bukan sambutan pribadi. Itu panggung lain yang disiapkan agar publik melihat dirinya sebagai perempuan yang selalu menunggu Nathan.

Nathan ikut melihat dan wajahnya langsung mengeras. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi keamanan bandara, tetapi Renata sudah berdiri.

Renata melihatnya dari jendela. Bibirnya membentuk senyum dingin yang nyaris tidak terlihat.

Kebenaran tentang foto terjadwal tidak mengubah satu hal: Cheryl selalu tahu ia bisa menunggu Nathan di depan pintu mana pun.

Renata membuka sabuk pengaman begitu diizinkan, mengambil tas, lalu menjadi orang pertama yang berjalan turun dari pesawat.

1
Siti Kamisah Hasnul
Ya Allah sedihnya
Bulan-³
yuk mulai dari awal dengan lebih baik lagi
yuqana
berhasil bikin aku nangis bombay kak, 😭😭😭😭
tri septi
oh, Tante Sisca yang tantenya Nathan sering merendahkan Rena 😣 bisa ada kemungkinan kaitan dengan Cheryl ga? kok ada nyangkut angkasa juga🤔
tri septi
Tante Sisca siapa lagi ya.....🤔 apa harus scroll ke atas🤔🤭😄
Siti Kamisah Hasnul
😍
tri septi
keras kepala 😔
tri septi
penyesalan pada akhirnya 🌧️🌧️🌧️
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
kasihan opa, nama basar keluarga disalah gunakan anaknya dijadikan tameng untuk menutupi kejahatan mereka
tri septi
semangat thor💪
tri septi
mengapa Cheryl kekeh merebut Nathan dan niat menjadi pelakor ? apakah ada keturunan ?😣🤔🤔
tri septi
Cheryl, bisa2nya mengaku-ngaku karya orang lain , oh malunya....😄😄😄😄 🤭
tri septi
lanjut thor 👍💪
tri septi
jadi belibet ya 🤭😄
tri septi
apa itu 🤭
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
banyak kasus dan nama yang perlu pembaca cari sendiri hubungannya
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
jangan terlalu memaksa,, turutilah keinginan Rena
Siti Kamisah Hasnul
lanjutttt.....serruuuuu👍
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
Nathan gak sabaran
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
wowww bom update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!