Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Senyum Penuh Kepalsuan

Ninis menyodorkan nampan ke arah Levia. "Non, dimakan dulu, ya. Dari tadi belum makan. Biar badan Nona gak lemas."

Pandangan Levia kembali jatuh pada sepotong black forest, beberapa donat dengan aneka topping, serta segelas cokelat hangat yang dipenuhi krim tebal.

Sebagai seorang desainer yang paham bentuk tubuh, ditambah baru saja mendengar penjelasan dokter, pikirannya langsung menghitung perkiraan kalorinya.

"Ini bisa lebih dari seribu kalori. Kalau tiap hari makan beginian, bukan turun berat badan, aku malah bisa berubah jadi gajah."

Levia tersenyum tipis. "Terima kasih, Nis. Tapi aku lagi gak pengen yang manis-manis."

Ninis tampak terkejut. "Loh? Bukannya Nona paling suka black forest?"

"Sekarang enggak."

Levia sempat menangkap perubahan kecil di wajah gadis itu. Sangat singkat, hanya sepersekian detik. Namun sebelum sempat dipahami, senyum ramah itu kembali menghiasi wajah Ninis.

"Kalau gitu aku simpan aja dulu." Ninis meletakkan nampan di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang dekat Levia. "Non... Kak Vandra tadi masih marah?"

Levia mengangguk singkat. "Biasa."

Ninis mengembuskan napas panjang. "Kalau aku jadi Nona, sih, aku gak bakal rela diceraiin."

Levia terdiam. Ingatan pemilik tubuh ini kembali bermunculan.

Dulu, saat Vandra pertama kali mengajukan gugatan cerai, Ninislah yang memberi saran.

> "Kalau Kak Vandra tetap ngotot cerai, pura-pura bunuh diri saja, Non. Biar dia takut dan batalin niatnya."

Sejak saat itu, setiap kali Vandra hendak pergi atau kembali membahas perceraian, Levia selalu mengancam mengakhiri hidupnya.

Sampai akhirnya...

Hari ini, Levia benar-benar melompat ke sungai.

"Mana ada orang yang bener-bener sayang sama temen ngasih saran seekstrem itu?" batinnya. "Gak bener nih cewek. Itu bukan saran, tapi penyesatan."

Tatapannya perlahan beralih kepada Ninis. "Kalau dia mau cerai..." ucap Levia tenang, "...ya cerai aja."

"Hah?" Ninis spontan menoleh cepat. Matanya membelalak beberapa saat sebelum kembali tersenyum.

Namun Levia sempat menangkap kilatan kekecewaan yang melintas di sana. Sangat tipis. Hampir tak terlihat.

"Ekspresinya... Aneh," pikir Levia.

Sementara itu, di balik senyumnya, pikiran Ninis mulai dipenuhi tanda tanya. "Kenapa jawabannya beda?"

Biasanya Levia pasti menangis. Memohon. Atau marah-marah. Sekarang justru terdengar dan terlihat begitu tenang.

Ninis berdeham pelan. "Kalau... Nona mau, aku bisa bantu cari cara supaya Kak Vandra berubah pikiran."

Levia menatapnya tanpa berkedip. "Cara?"

"Iya."

Ninis berpura-pura berpikir. "Mungkin Nona bisa dateng ke rumah Ibu Ratih besok. Tunjukkin kalau Nona benar-benar nyesel. Terus bilang ke Kak Vandra kalau Nona gak bisa hidup tanpa dia. Laki-laki itu kadang cuma gengsi. Kalau Nona terus berjuang, lama-lama hatinya pasti luluh."

Levia hanya tersenyum tipis. "Enggak usah."

"Tapi, Non...."

"Aku capek."

Jawaban singkat itu membuat Ninis kehilangan kata-kata. Beberapa saat kemudian ia tersenyum canggung. "Nona hari ini beda banget."

"Beda?" Levia mengangkat sebelah alis.

"Iya." Ninis tertawa kecil. "Biasanya Nona pasti langsung panik kalau dengar soal Kak Vandra."

"Mungkin..." Levia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. "Aku sudah terlalu lelah."

Ninis mengangguk pelan. "Kalau begitu Nona istirahat saja."

Ia merapikan kembali nampan di atas meja, lalu berjalan menuju pintu.

"Kalau butuh apa-apa, panggil aku ya, Non."

"Iya."

Pintu kamar tertutup perlahan. Begitu berada di lorong dan memastikan tak ada siapa pun di sekitarnya, senyum ramah di wajah Ninis lenyap seketika. Tatapannya berubah tajam.

"Sial...." Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Hampir saja berhasil."

Bayangan kejadian di tepi sungai kembali terlintas di kepalanya.

Sejak awal ia sudah mengawasi Levia dari kejauhan. Bahkan saat melihat Levia berjalan menuju sungai, ia sengaja mengalihkan perhatian beberapa warga agar tidak ada yang menyadari tindakan nekat itu.

Menurut perhitungannya, tidak akan ada seorang pun yang sempat menolong Levia.

Namun... Siapa sangka seorang pemancing yang berada di balik rimbunnya pepohonan luput dari pengamatannya.

Pria itulah yang pertama kali berteriak meminta tolong hingga menarik perhatian warga dan Vandra.

Ninis menggigit bibirnya kesal. "Kenapa harus ada orang itu?"

Kini Levia bukan hanya gagal mati. Wanita itu bahkan berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

Tatapan Ninis mengeras. "Apa sebenarnya yang terjadi sama kamu, Levia?"

Ia menarik napas panjang, lalu kembali memasang senyum ramah sebelum melangkah meninggalkan lorong.

Ninis kembali ke dapur, mengambil segelas air putih, lalu berjalan menuju ruang kerja Bram Gultom.

Tok. Tok.

"Masuk."

Ninis membuka pintu dengan senyum ramah. "Pak, ini air putihnya. Sudah waktunya minum obat."

Bram mengangkat wajah dari berkas-berkas di mejanya. "Oh... terima kasih, Nis."

Ninis meletakkan gelas di atas meja, lalu mengambil botol obat yang sudah disiapkan di sampingnya.

"Dokter tadi juga bilang Bapak jangan telat minum obat."

Bram tersenyum tipis. "Kamu selalu ingat."

"Itu sudah kewajiban saya, Pak."

Bram meminum obatnya, lalu meneguk air putih. "Terima kasih."

"Sama-sama."

Ninis tidak langsung pergi. Ia berdiri sambil memainkan ujung celemeknya, seolah sedang ragu mengatakan sesuatu.

"Ada apa?" tanya Bram.

Ninis buru-buru menggeleng. "Enggak kok, Pak."

"Kalau ada yang ingin disampaikan, bilang saja."

Ninis menundukkan kepala. "Saya cuma... senang lihat Nona sudah selamat."

Bram mengangguk pelan. "Saya juga."

"Tapi..." Ninis menggigit bibirnya pelan. "Saya takut perubahan Nona cuma sementara."

Bram terdiam.

"Nona sudah sering janji mau berubah, Pak." Ninis buru-buru menambahkan, "Bukan maksud saya menjelekkan Nona. Saya cuma takut Bapak nanti kecewa lagi."

Bram mengembuskan napas pelan. "Kalau memang begitu, biarlah. Dia tetap satu-satunya anak saya."

Ninis kembali berkata dengan nada hati-hati. "Kadang saya kasihan lihat Bapak."

Bram menatapnya.

"Bapak selalu mengalah demi Nona. Padahal... Bapak juga capek."

Bram tersenyum tipis. "Namanya juga orang tua. Anak seburuk apa pun tetap anak."

Kalimat itu membuat Ninis sesaat kehilangan senyumnya. "Saya tahu, Pak. Bapak terlalu baik."

Bram menggeleng pelan. "Bukan terlalu baik." Ia memandang foto mendiang istrinya yang berdiri di sudut meja. "Dulu saya pernah berjanji pada istri saya. Saya akan menjaga Levia apa pun yang terjadi."

Ninis mengepalkan jemarinya di balik celemek. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."

"Iya."

Setelah pintu tertutup, senyum ramah di wajah Ninis perlahan memudar.

"Kenapa...? Kenapa Bapak selalu membela Levia? Padahal selama ini yang nemenin Bapak setiap hari itu aku. Yang mengingatkan minum obat, menyiapkan makan, dan dengerin keluh kesah Bapak juga aku. Kenapa di mata Bapak, aku tetep gak pernah bisa gantiin Levia?"

Ninis menggigit bibirnya kuat-kuat. "Kalau saja Levia gak pernah dilahirkan..."

 

...✨"Kasih sayang orang tua sejati tidak pernah bisa direbut, karena cinta mereka bukan hadiah yang dapat dipindahkan kepada orang lain."...

..."Tidak semua nasihat lahir dari ketulusan. Ada yang terdengar baik, tetapi diam-diam mengarahkanmu menuju kehancuran."...

..."Tidak semua yang menemanimu sedang mendukungmu. Ada yang berjalan di sisimu hanya untuk memastikan kau tersesat."✨...

.

To be continued

1
Anitha
nah rasain sekarang masalahnya jadi tambah besar gara² bukti pertama tidak cukup jadi terpaksa Vandra memberikan bukti lain yang menyangkut nama Pramono srorang Jendral yang menekan bawahannya,good Vandra semoga dengan bukti terakhir itu kalian bisa lolos dan menang dalam sidangnya...

si Jendral dan anaknya di Penjara karena kelakuannya sendiri🤣
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
anonim: Sama-sama Author 🙏🙏🙏👍👍/Heart/
total 2 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!