Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 PENYESUAIAN DAN PERTENTANGAN

Hari-hari pertama di mansion Prakoso adalah latihan ketaknyamanan yang tak putus.

Setiap pagi Maya terbangun di sebuah ranjang raksasa, dengan seprai katun Mesir dan bantal bulu, dan selama beberapa detik ia tak ingat sedang berada di mana.

Lalu, kenyataan menghantamnya bagai seember air dingin: ia telah menikahi seorang mafioso.

Ia tinggal di mansionnya. Dan ayahnya, yang duduk di meja sarapan dengan raut anjing yang teraniaya, adalah satu-satunya penghubungnya dengan dunia yang telah hilang.

Sarapan adalah saat paling menegangkan sepanjang hari.

Meja ruang makan itu terbuat dari kayu mahoni yang dipoles licin, cukup untuk menampung dua puluh orang. Mereka hanya bertiga: Maya, Bramantyo, dan Bara. Tiga orang yang tak punya apa pun untuk dibicarakan, duduk dengan jarak yang janggal satu sama lain, seperti pulau-pulau yang dipisahkan lautan kayu berkilau.

Bu Marta menyajikan sarapan dengan efisiensi mekanis. Kopi yang baru diseduh, jus jeruk peras, sepiring kue-kue manis, buah yang dipotong dadu sempurna, telur orak-arik yang tak perlu dimasak siapa pun sebab di rumah ini ada juru masak. Maya menatap makanan itu dan merasakan simpul di perutnya.

Ia teringat sup-sup buatan Bu Erna, roti keras di apartemen, uang receh yang dihitung satu per satu. Semua itu telah tertinggal di belakang, tapi tubuhnya belum melupakannya.

Bara membaca koran dalam diam. Bukan koran sembarangan. Itu koran ekonomi, koran yang sama yang dulu biasa dibaca ayahnya setiap pagi, koran yang sama yang kini dipandang Bramantyo dengan campuran rindu dan dendam.

"Silakan dibaca kalau mau," ujar Bara tanpa mengangkat pandangan. "Saya tidak menggigit."

Bramantyo menggerutukkan sesuatu yang tak jelas dan memalingkan muka.

Maya menyaksikan adegan itu dan merasakan tusukan akan sesuatu yang tak bisa ia beri nama. Iba? Frustrasi? Syukur? Ia tak yakin. Semuanya terlalu membingungkan.

* * *

Pagi itu, sementara Bu Marta membereskan piring-piring, Bara melakukan sesuatu yang tak terduga.

Ia meletakkan koran di atas meja, menyandarkan diri ke kursi, dan menatap Maya dengan raut yang tak bisa Maya artikan.

"Saya butuh Anda memberi saya daftar barang-barang milik Anda," katanya.

"Apa?"

"Barang-barang Anda. Pakaian, sepatu, buku, benda-benda pribadi. Semua yang hilang saat rumah keluarga Anda disita. Saya mau daftarnya."

Maya berkedip, bingung.

"Untuk apa?"

Bara mengangkat bahu.

"Karena sekarang Anda tinggal di sini. Dan Anda butuh berbagai hal. Anda tak bisa memakai pakaian yang sama sepanjang minggu."

Komentar itu, diucapkan dengan dingin setajam pisau bedah yang menjadi ciri Bara, menghantam Maya di titik yang rawan. Ia menatap tangannya sendiri. Kuku-kukunya masih terkelupas.

Pakaian yang ia kenakan sama dengan yang ia pakai di pernikahan sipil, kusut dan usang. Ia tak sempat mencuci, tak punya semangat untuk apa pun.

"Saya tidak butuh apa-apa," jawabnya, dengan nada lebih tajam dari yang ia maksudkan. "Saya baik-baik saja begini."

"Tidak," ujar Bara, tanpa berkedip. "Dan ini bukan soal apa yang Anda butuhkan. Ini soal apa yang orang lain lihat. Anda istri saya. Anda tampil bersama saya di depan umum. Anda tak bisa berpakaian seolah baru keluar dari penampungan."

Maya merasa darahnya mendidih.

"Baru keluar dari penampungan?" ulangnya, suaranya gemetar oleh amarah. "Anda tahu? Saya sudah kehilangan rumah saya, kekayaan saya, masa depan saya. Saya tidur di atas kasur di lantai. Saya makan roti keras karena tak ada yang lain.

Dan sekarang Anda, yang muncul dengan mansion dan mobil-mobil dan setelan berharga jutaan, berani-beraninya mengatakan saya berpakaian seperti pengemis?"

Bara menatapnya tanpa mengejap.

"Saya tidak bilang Anda berpakaian seperti pengemis. Saya bilang Anda butuh pakaian baru. Kalau Anda mau mengartikannya sebagai hinaan, itu urusan Anda."

Bramantyo, yang sedari tadi mengikuti percakapan itu dengan intensitas penonton pertandingan tenis, menyela dengan dengusan.

"Prakoso, tak bisakah kamu diam barang semenit?"

"Tidak," jawab Bara. "Tidak bisa. Sebab kalau saya diam, anak Anda akan terus memakai pakaian yang sama tiga hari berturut-turut dan pers mulai bergunjing. Dan kalau pers bergunjing, adik Anda tahu. Dan begitu adik Anda tahu, ia menggerakkan bidaknya. Anda mau ia menggerakkan bidaknya, Pak Bramantyo?"

Nama Mahendra jatuh di atas meja bagai batu ke dalam kolam. Keheningan yang menyusul terasa pekat, sarat ketegangan yang tak seorang pun dari mereka bertiga tahu cara memecahkannya.

Akhirnya Maya menghela napas.

"Baiklah," katanya, dengan gigi terkatup. "Akan saya beri daftar sialan itu."

Bara mengangguk, seolah itu hal paling wajar di dunia.

"Bu Marta akan menemani Anda ke butik sore ini. Beli apa saja yang Anda perlukan. Tanpa batas pengeluaran."

"Tanpa batas?" Maya mengangkat sebelah alis. "Anda tidak khawatir saya menghabiskan seluruh kekayaan Anda?"

Bara menatap matanya. Sesaat, sangat singkat, ada sesuatu yang berkilat di tatapan kelabunya. Terkaan? Geli?

"Belanjakan sesuka Anda," ujarnya, bangkit dari meja. "Anggaran Anda tiga miliar rupiah."

Maya melongo.

Tiga miliar. Untuk pakaian.

Bramantyo, di sisinya, mengeluarkan suara yang bisa jadi batuk atau bisa jadi tawa yang ditahan. Tak jelas yang mana.

Bara sudah pergi, meninggalkan gema langkahnya di lantai marmer ruang penerima tamu.

Sore itu Maya menemukan ayahnya di perpustakaan.

Bramantyo duduk di sebuah kursi kulit, dengan buku terbuka di atas lututnya yang tidak sedang ia baca. Sepasang matanya yang bening, begitu mirip dengan mata Maya, memandang perapian dengan raut muram.

"Papa," ucap Maya, duduk di sampingnya. "Papa tidak apa-apa?"

Bramantyo butuh sejenak untuk menjawab.

"Papa tidak tahu, Nak. Memangnya harus baik-baik saja? Papa tinggal di mansion seorang mafioso. Adik Papa mencoba menghancurkan Papa. Ibumu tersedasi di kamar yang bukan miliknya. Dan kamu... kamu menikahi seorang penjahat demi mengeluarkan Papa dari penjara. Adakah dari semua itu yang baik-baik saja?"

Maya menggenggam tangan ayahnya. Terasa dingin, bertulang, lebih rapuh dari yang ia ingat.

"Papa keluar dari penjara. Itu yang baik."

Bramantyo menghela napas.

"Ya. Itu yang baik. Dan Papa tak mau mengakuinya, tapi... Prakoso menepati janjinya. Ia memberimu uang. Mengeluarkan ibumu dari neraka itu. Membawa kita ke sini. Dan sekarang, ternyata ia mau kamu membeli pakaian baru."

"Dengan anggaran tiga miliar," tambah Maya, dengan senyum sinis.

Bramantyo menggeleng, tapi ada sesuatu yang baru di raut wajahnya. Sesuatu yang tak pernah Maya lihat sejak sebelum penangkapan itu.

"Papa tidak suka pria itu, Nak. Itu sudah jelas. Ia dingin, penuh perhitungan, berbahaya. Tangannya berlumuran darah, dan Papa tidak sedang berkiasan. Tapi..." Ia berhenti, seolah kata-kata itu terasa berat untuk diucapkan. "Tapi ia bukan monster yang Papa duga. Setidaknya, ia bukan monster terhadapmu."

Maya terdiam, mencerna apa yang baru saja ia dengar.

"Papa bilang Papa mulai suka padanya?"

"Amit-amit!" seru Bramantyo, dengan ngeri yang begitu tulus sampai Maya tak bisa menahan tawa. "Pria itu lebih menyebalkan daripada adik Papa sendiri, dan itu sudah luar biasa. Tapi... Papa tahu kapan seseorang bertindak dengan tata krama. Dan ia, dengan caranya yang bengkok dan penuh tipu mafia, bertindak dengan tata krama. Papa tak berutang apa pun padanya. Tapi Papa tak bisa bilang ia mengingkari janji."

Maya meremas tangan ayahnya.

"Itu sudah lebih dari yang kuharapkan, Papa."

Bramantyo menggerutu.

"Jangan terbiasa. Papa tetap menganggapnya bajingan."

"Tentu saja."

"Bajingan yang punya selera bagus soal mansion, itu memang iya."

"Papa."

"Iya, iya. Papa tak bicara lagi."

Tapi Maya melihatnya. Sebuah senyum kecil, nyaris sekadar guratan, melengkung di bibir ayahnya. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Bramantyo Adiwangsa tak lagi tampak seperti pria yang kalah. Ia tampak seperti pria yang, dengan setengah hati, mulai menerima kenyataan barunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!