Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Bencana di Dermaga Empat
Suasana malam di area Pelabuhan Barat terasa begitu dingin dan lengang. Bau garam laut beradu dengan aroma solar dari deretan kapal kargo yang bersandar di sepanjang dermaga. Di dalam kabin sedan coupe Porsche Panamera berwarna midnight blue yang terparkir senyap dua ratus meter dari pintu gerbang pelabuhan, Bayu Anggara duduk tenang di kursi penumpang depan. Ia mengenakan kemeja katun hitam yang rapi, sementara Dimas memangku laptop taktis di kursi pengemudi.
"Poin koordinat dari server bayangan kita tepat seratus persen, Bay," kata Dimas seraya menunjuk titik hijau yang berkedip pada layar peta digital. "Dermaga empat. Ada tiga truk kontainer tanpa pelat nomor yang baru saja merapat di samping kapal kargo tak terdaftar."
Bayu membetulkan letak kacamata titaniumnya, menatap layar monitor dengan pandangan tajam terukur. "Bagaimana laporan pemindaian muatannya, Jarvis?"
"Pemindaian spektral massa berhasil," suara sintesis Jarvis mengalun jernih melalui earphone mikro di telinga kiri Bayu. "Terdapat empat belas peti baja kedap udara. Muatan berisi seratus pucuk senapan serbu ilegal kelas militer, empat unit pemancar pemicu EMP mikro, serta perangkat penyadap data serat optik buatan khusus. Nilai komersial barang selundupan ini diperkirakan mencapai lima belas juta dolar AS."
Dimas membelalakkan matanya, menghembuskan napas berat. "Lima belas juta dolar?! Senjata kelas militer dan alat penyadap?! Kalau barang-barang ini lolos dan tersebar di kota, bisa kacau total, Bay!"
"Barang-barang ini tidak akan pernah menyentuh jalanan kota, Dim," tegas Bayu tenang namun berwibawa. "Jarvis, aktifkan protokol pemadaman sinyal lokal dan siapkan pendar Nano-Cell."
"Protokol pemadaman sinyal lokal aktif dalam tiga detik," jawab Jarvis presisi.
"Aku turun sekarang, Dim. Tetap pantau jalur komunikasi kepolisian," instruksi Bayu.
"Siap, Bay! Hancurkan bisnis selundupan mereka!" seru Dimas antusias.
Bayu menekan kenop biometrik jam tangan titaniumnya dua kali. Dalam waktu satu koma dua detik, pendar sel nano perak memancar menyelimuti seluruh tubuhnya, membentuk Zirah Baja matte hitam kelabu bergaris pendar biru yang gagah.
Wusss!
Ksatria Baja melesat cepat keluar dari kabin mobil, membubung mulus menembus kegelapan malam menuju Dermaga Empat.
Di atas dermaga yang basah oleh percikan air laut, belasan pria berbadan tegap dengan jaket taktis hitam sedang sibuk memindahkan peti-peti baja tebal dari lambung kapal kargo ke dalam bak truk kontainer. Di tengah mereka, seorang pria tinggi berwajah keras dengan tato gambar ular viper berkepala dua di lehernya berdiri memegang tablet kendali digital. Pria itu adalah Victor, kepala eksekutor lapangan untuk sindikat selundupan wilayah barat.
"Cepat gerakkan kerannya!" bentak Victor dengan suara serak dan kasar. "Kita cuma punya waktu dua puluh menit sebelum patroli air laut melintas! Jangan sampai ada satu peti pun yang tergores!"
"Siap, Bos Victor!" sahut salah seorang anak buahnya seraya menarik rantai pengikat peti baja. "Semua dokumen manifes palsu sudah disetujui lewat sinyal terenkripsi Viper Network."
Victor tertawa dingin, menyesap rokoknya. "Jaringan Viper memang tidak pernah gagal. Sinyal terenkripsi sembilan lapis kita tidak akan mungkin bisa dideteksi oleh polisi atau peretas amatir mana pun di kota ini."
Brak!
Sebuah dentuman halus namun bertenaga mengguncang permukaan beton dermaga. Kepulan asap tipis membubung saat sosok Zirah Baja hitam bergaris pendar biru mendarat tegak tepat di tengah-tengah jalur pergerakan truk kontainer, hanya lima meter di hadapan Victor.
Seluruh anggota geng dan operator keran seketika menghentikan kegiatan mereka. Suasana dermaga mendadak hening mencekam, hanya menyisakan deru angin laut.
"Siapa lu?!" teriak Victor kaget, refleks menjatuhkan rokoknya dan menarik pistol otomatis kaliber sembilan milimeter dari balik jaketnya. "Bagaimana bisa ada orang asing masuk ke perimeter ini?!"
"Pengiriman barang selundupan kalian berakhir di sini," gema suara berat Ksatria Baja memotong keheningan dengan nada yang sangat stabil dan dingin.
"Ksatria Baja...?!" pekik anak buah Victor panik, mundur dua langkah dengan wajah pucat. "Bos! Itu pahlawan berzirah yang melumpuhkan geng motor dan perampok bank!"
"Persetan dengan pahlawan berzirah!" murka Victor, matanya mendelik liar. "Ambil senjata kalian dan tembakan! Hancurkan dia sekarang juga!"
Dar! Dar! Dar! Dar!
Belasan anak buah Victor serentak mengarahkan senapan serbu otomatis mereka dan memuntahkan ratusan peluru kaliber lima koma lima enam milimeter ke arah Ksatria Baja. Dentuman tembakan beruntun memenuhi udara dermaga.
Namun, Ksatria Baja tetap berdiri tegak tanpa bergeming satu milimeter pun. Seluruh selongsong peluru tembaga yang menghantam permukaan zirah baja hitamnya hancur berkeping-keping dan jatuh gemerincing ke atas beton tanpa meninggalkan bekas goresan sedikit pun.
"Menyerap energi kinetik proyektil," lapor Jarvis santai di telinga Ksatria Baja. "Tingkat efisiensi perisai: seratus persen."
"Sudah selesai?" tanya Ksatria Baja santai seraya merentangkan telapak tangan kirinya ke depan.
Bzzzzzt!
Pendar gelombang pulsa elektromagnetik (EMP) berwarna kebiruan memancar melingkar dari telapak tangan Ksatria Baja. Dalam sekejap, seluruh mekanisme pemicu senjata api milik para penjahat itu terkunci mati, dan seluruh lampu penerangan dermaga padam seketika.
"Senjata gue macet! Semua senjata macet!" teriak para anak buah Victor histeris seraya melempar senapan mereka yang terasa panas dan mati rasa.
Ksatria Baja melangkah maju dengan tenang. Hanya dalam hitungan detik, gerakan lengannya yang presisi melumpuhkan sepuluh anggota geng dengan dorongan energi kinetik halus, membuat mereka terlempar dan terkunci lemas di tanah tanpa memicu cedera fatal.
Victor mundur terbata-bata hingga punggungnya menabrak peti baja. Tangan yang memegang tablet kendali digital gemetar hebat. "N-Nggak mungkin... Sinyal transmisi transaksi pengiriman ini terenkripsi sembilan lapis oleh sistem Viper Network! Bagaimana bisa lu tahu lokasi dermaga ini?!"
Ksatria Baja berhenti tepat satu meter di depan Victor, menatap pria itu dari balik visor berpendar biru. "Sistem enkripsi polimorfik milik Viper Network yang kamu banggakan itu hanyalah permainan sederhana bagi arsitektur saya. Server kalian telah diisolasi sepenuhnya."
"Lu... lu membobol Viper Network?!" jerit Victor tak percaya.
Tiba-tiba, tablet digital di tangan Victor bergetar keras. Sebuah saluran panggilan suara terenkripsi tingkat tinggi terhubung secara otomatis. Suara berat, dalam, dan dipenuhi amarah murka yang sangat dingin terdengar dari pengeras suara tablet tersebut.
"Victor! Apa yang terjadi di Dermaga Empat?!" bentak suara dari balik panggilan terenkripsi itu, suara sang Pemimpin Utama Sindikat Viper Network. "Kenapa seluruh sinyal GPS kontainer dan pemancar transaksi kita terputus secara bersamaan?!"
Victor mengangkat tabletnya dengan tangan gemetar. "B-Bos! Ksatria Baja! Dia ada di sini! Seluruh anak buah runtuh dan muatan lima belas juta dolar kita berhasil dicegat!"
"Apa?! Ksatria Baja?!" raung Pemimpin Sindikat Viper Network dengan nada amarah yang membakar. "Manusia berzirah sampah itu lagi?! Bagaimana dia bisa melacak jalur rahasia kita?!"
Ksatria Baja mencondongkan badannya sedikit ke arah tablet di tangan Victor, bicaranya tenang namun mengintimidasi. "Dengarkan saya, siapa pun Anda di balik saluran ini. Kota ini bukan tempat untuk kejahatan selundupan kalian. Setiap barang ilegal yang kalian kirim akan saya hancurkan sebelum menyentuh tanah ini."
"Kurang ajar kamu, Ksatria Baja!" murka Pemimpin Sindikat Viper Network, suaranya bergetar hebat menahan kebencian mendalam. "Kamu tidak tahu dengan siapa kamu berurusan! Kamu baru saja menghancurkan pengiriman penting kami dan merugi belasan juta dolar! Sindikat kami akan memburu dan menghancurkanmu sampai tidak tersisa!"
"Saya akan menunggu usaha kalian," sahut Ksatria Baja dingin.
Klak!
Dengan satu remasan lembut jemari berzirah Ksatria Baja, tablet digital tersebut hancur berkeping-keping menjadi abu elektronik, memutus saluran panggilan secara permanen.
Victor jatuh berlutut di atas beton dengan wajah terperangah lemas, kehilangan seluruh keberaniannya. Ksatria Baja mengibaskan tangannya, mengunci tubuh Victor dan seluruh anak buahnya menggunakan medan gravitasi mikro hingga mereka tidak sanggup bergerak sedikit pun.
Sirine mobil kepolisian terdengar meraung nyaring dari arah jalan utama pelabuhan. AKP Hendra bersama puluhan personel Tim Penindak Kejahatan Intensitas Tinggi menyerbu masuk ke area Dermaga Empat dengan senjata lengkap dan lampu senter taktis menyala cerah.
"Polisi! Jangan bergerak!" teriak AKP Hendra tegas. Namun, langkah Hendra mendadak terhenti saat menyaksikan belasan anggota sindikat sudah tergeletak lemas dan terkunci rapat di tanah di samping belasan peti baja yang terbuka.
Di atas salah satu truk kontainer, Ksatria Baja berdiri tegak memandangi barikade kepolisian.
"Komandan Hendra," panggil Ksatria Baja dengan nada suara penuh rasa hormat yang bergema halus.
AKP Hendra menyarungkan senjatanya, menengadah menatap sosok pahlawan berzirah tersebut dengan rasa kagum yang mendalam. "Ksatria Baja! Apa yang ada di dalam peti-peti baja ini?"
"Seratus pucuk senapan serbu ilegal, empat unit bom EMP mikro, dan alat penyadap jaringan kota milik sindikat internasional Viper Network," urai Ksatria Baja mendetail. "Seluruh barang bukti dan para pelaku sudah saya amankan secara utuh untuk proses hukum resmi kepolisian."
Hendra mengangguk mantap, mengarahkan anggotanya untuk segera memborgol Victor dan mengamankan peti-peti senjata tersebut. "Pengagagalan selundupan yang sangat besar. Kamu baru saja menyelamatkan kota ini dari ancaman senjata berat, Ksatria Baja."
"Ini adalah tugas kita bersama untuk menjaga keamanan warga, Komandan," sahut Ksatria Baja ramah. "Seluruh data transaksi mereka telah saya kirimkan ke saluran terenkripsi radio taktis Anda."
Hendra memegang headset-nya, tersenyum bangga. "Kerja sama yang sempurna. Terima kasih, mitra."
"Sampai jumpa lagi, Komandan."
Wusss!
Dalam sekejap kilatan pendar biru yang indah, Ksatria Baja membubung tinggi menembus awan malam, menghilang dari pandangan sebelum tim media tiba di lokasi.
Beberapa saat kemudian, Bayu telah kembali berwujud mahasiswa biasa dengan kemeja katun hitam dan kacamata titaniumnya, duduk santai di dalam kabin sedan Porsche Panamera milik mereka. Dimas menginjak pedal gas, membawa mobil meluncur mulus menjauhi area pelabuhan yang dipenuhi lampu sirine polisi.
"Sumpah, Bay! Lu keren banget tadi!" seru Dimas antusias dengan tawa puas. "Gue denger sendiri tadi bos Viper Network meluap marah di telepon sampai teriak-teriak gara-gara pengiriman lima belas juta dolar mereka lu hancurkan total!"
Bayu membetulkan letak kacamatanya seraya menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang nyaman. Senyum tenang dan bijaksana mengukir indah di wajahnya.
"Kemarahan mereka adalah bukti bahwa tindakan kita tepat sasaran, Dim," tutur Bayu lembut dan berwibawa. "Satu pengiriman besar telah kita gagalkan, dan seluruh muatan berbahaya mereka kini berada di tangan kepolisian secara aman."
"Data transaksi dan log komunikasi Viper Network terisolasi penuh," Jarvis mengonfirmasi melalui pengeras suara mobil. "Ancaman pengiriman pertama berhasil dinetralkan seratus persen."
Dimas menyunggingkan senyum bangga seraya menatap jalanan kota yang aman dan damai. Di balik kemarahan dan kebencian sindikat rahasia yang terbakar, Bayu Anggara berdiri tegak sebagai benteng keadilan yang tak teruntuhkan, siap menghadapi gelombang kejahatan apa pun demi melindungi kedamaian kota dan orang-orang yang dicintainya.