Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya
Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Caspian pulang
Cahaya matahari pagi menyusup perlahan melalui celah-celah tirai beludru kamar mereka, memancarkan bias keemasan yang menghangatkan ruangan tersebut.
Celeste mengerjap perlahan, merasakan kesadaran yang mulai merayap kembali.
Matanya masih terasa berat, namun ada satu hal ganjil yang langsung menarik perhatiannya begitu ia mencoba menggerakkan tubuh.
Leher dan tengkuknya terasa begitu hangat, seolah ia sedang beralaskan sesuatu yang kokoh, padahal ia ingat betul semalam ia hanya tidur menenggelamkan diri di atas bantal.
Bukan cuma itu. Pinggangnya terasa terbelit oleh sesuatu yang berat—lengan kekar berotot yang mendekap erat tubuhnya dari belakang, menariknya masuk ke dalam pelukan yang begitu rapat tanpa celah.
Seketika itu juga, seluruh saraf di tubuh Celeste menegang. Rasa mengantuknya menguap dalam hitungan detik.
"Tunggu... Sejak kapan bantal di kamar ini bisa meluk?! Jangan-jangan semalam ada penyusup anjir?" batin Celeste histeris, jantungnya berdegup kencang tak keruan.
Napasnya tertahan. Refleks, mulutnya sudah terbuka lebar, bersiap mengeluarkan teriakan paling melengking sepanjang sejarah hidupnya untuk membangunkan satu mansion Devereux.
Namun, sebelum suara teriakan itu sempat lolos dari bibirnya, tangan kekar yang melingkar di pinggangnya bergerak dengan kecepatan kilat. Dalam satu sentakan halus namun bertenaga, tubuh Celeste dibalikkan secara paksa hingga kini ia telentang menghadap ke atas, langsung berhadapan dengan dada bidang seseorang.
Dan sebelum Celeste sempat mencerna apa yang sedang terjadi, wajah seseorang itu sudah menunduk.
Cup!
Bibir itu langsung membungkam bibir Celeste dengan ciuman yang begitu intens, mendalam, dan menuntut. Ciuman itu datang begitu tiba-tiba, membuat mata Celeste membelalak selebar-lebarnya karena terkejut luar biasa.
Aroma yang sangat khas langsung menyerbu indra penciumannya, mematikan separuh akal sehatnya dalam sekejap.
Celeste menggunakan kedua tangan kecilnya untuk mendorong dada bidang pria di hadapannya sekuat tenaga hingga terdorong menjauh beberapa sentimeter.
Celeste menghirup napas terengah-engah, dadanya naik-turun cepat. Matanya melotot tajam penuh kewaspadaan, menatap lekat-lekat sosok pria berwajah nyaris sempurna dengan rambut acak-acakan bangun tidur yang kini tengah menatapnya dengan senyuman miring paling menyebalkan sedunia.
"Siapa—?! Kau...!" desis Celeste panik, bersiap melayangkan tinju maut ke wajah pria itu.
Namun, pria itu dengan tatapan mata kelam —meraih pergelangan tangan Celeste dengan mudah, lalu mengecup telapak tangan kecil istrinya sekilas.
"Hei... Tenanglah" suara bariton yang serak khas bangun tidur itu mengalun rendah, begitu lembut dan memesona. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis, lalu menatap manik abu Celeste lekat-lekat. "Ini aku, sayang..."
Deg.
Jantung Celeste seolah berhenti berdetak ses detik. Ia mengerjap-ngerjap, memandangi wajah tegas berahang kokoh, hidung mancung, dan mata tajam yang kini berada tepat di hadapannya. Pria es batu yang seharusnya masih terjebak di belahan bumi lain ribuan kilometer jauhnya——Caspian, kini benar-benar ada di hadapannya.
Celeste terdiam kaku di atas ranjang. Otaknya mendadak error, tidak mampu memproses bagaimana bisa pria ini kini sudah berbaring di sampingnya dengan wujud nyata dan rambut acak-acakan khas bangun tidur.
"K-Kau..." Celeste menelan ludah susah payah, matanya masih melotot tak percaya menatap wajah Caspian yang kini semakin mendekat, menghiraukan keterkejutan sang istri. "Kenapa sudah disini? Bukannya kamu sibuk disana. Kamu pake ilmu hitam ya supaya bisa terbang kesini?"
Caspian mendengus pelan, sebuah kekehan rendah yang terdengar begitu seksi lolos dari tenggorokannya. Ia mengubah posisinya, menopang kepalanya dengan satu tangan sementara tangan yang bebas terulur untuk menyelipkan beberapa helai rambut Celeste yang berantakan ke belakang telinga.
"Ilmu hitam apa, hm?" gumam Caspian dengan suara baritonnya yang serak khas bangun tidur, terdengar begitu memikat. Jari-jarinya dengan lembut mengusur pipi Celeste yang mulai merona merah. "Aku menyelesaikan semua pekerjaanku dalam waktu tiga puluh jam tanpa tidur, demi bisa pulang lebih cepat dan melihat wajah istriku yang katanya mau menyambutku dengan piyama beruang."
Mata Celeste membelalak sempurna. Wajahnya langsung berubah panas seperti terbakar api.
"Sialan... Siapa yang cerita soal piyama beruang itu ke dia?! Pasti Cassandra si ember bocor!" batin Celeste histeris, ingin sekali pura-pura pingsan saat itu juga.
"N-Ngaco! Siapa juga yang mau pakai piyama jelek itu buat penyambutan kamu" sangkal Celeste dengan suara bergetar, mencoba memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan dalam dari manik kelam Caspian.
Caspian sama sekali tidak membiarkan istrinya lolos. Pria itu semakin mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Napas hangat lelaki itu berhembus menerpa kulit wajah Celeste, membuat detak jantung gadis itu menggila tak karuan.
"Oh, benarkah?" bisik Caspian tepat di depan bibir Celeste, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang berbahaya. "Padahal semalam aku sudah melihatnya di dalam lemari. Rasanya... aku jauh lebih tertarik membukanya dari badanmu, Sayang."
"Caspian! Mesum banget pagi-pagi!" protes Celeste kesal, refleks memukul dada bidang suaminya dengan gemas.
Caspian menangkap tangan kecil Celeste yang memukul dadanya, lalu mengecup pelan punggung tangan itu.
"Atau kamu mau mencoba saran Bibi Aurelia?" mata Celeste melotot lebih lebar.
"Selamat pagi, Nyonya Devereux," bisik Caspian tulus, sebelum kembali menunduk dan melumat bibir Celeste dalam kembal sebelum istrinya itu mengamuk.
Ciuman pagi yang awalnya manis dan menuntut itu perlahan berubah menjadi semakin dalam dan menghanyutkan, membuat Celeste tanpa sadar melingkarkan kedua tangannya ke leher kokoh sang suami, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang sudah ia rindukan tanpa sadar.
Setelah ciuman itu terlepas dengan napas yang sama-sama memburu, Caspian menatap manik abu Celeste lekat-lekat.
Dahi mereka saling bersentuhan, merasakan kehangatan napas yang beradu di keheningan pagi kamar utama itu.
Jemari kokoh Caspian mengusap lembut rahang Celeste, lalu ibu jarinya menyapu bibir bawah sang istri yang sedikit bengkak. Pria itu menelan ludah.
"Aku merindukanmu.." bisik Caspian, tepat di depan bibir Celeste. Kalimat yang terdengar begitu langka keluar dari mulut sang penguasa bayangan.
Caspian mengangkat tubuh mungil Celeste dengan mudah, seolah gadis itu tidak memiliki bobot sama sekali.
"E-Eh! Caspian! Mau dibawa ke mana?!" seru Celeste kaget, reflek mengalungkan kakinya di pinggang Caspian dan merangkul leher pria itu erat-erat agar tidak jatuh.
Caspian sama sekali tidak menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyuman miring penuh arti, lalu membawa langkah lebarnya melintasi kamar menuju ke arah pintu kamar mandi pribadi mereka yang bernuansa marmer hitam mewah.
Begitu mereka masuk ke dalam ruangan beruap air hangat itu, tirai otomatis langsung tertutup rapat, mengunci privasi mereka berdua dari dunia luar. Dan seperti yang bisa dibayangkan—setelah terpisah oleh jarak, kesibukan, dan benteng ego yang meleleh—pagi itu, mereka memulai penuh gairah di bawah deru air pancuran hangat kamar mandi.
...----------------...
Sementara itu, di ruang makan utama yang sangat luas dengan meja panjang bergaya klasik yang dipenuhi berbagai hidangan sarapan mewah—suasana pagi itu tampak santai.
Kakek Donovan sedang membaca koran bisnis sambil menyeruput kopi hitamnya, Nenek Helena dengan anggun mengoleskan mentega pada roti panggangnya, sementara Mommy Chalista, Daddy Cassian, dan Aurelia sibuk memperdebatkan destinasi liburan keluarga.
Cassandra sendiri sedang asyik menusuk sosis di piringnya sambil menguap lebar, bosan karena sang Mommy melarang untuk menjemput Celeste tadi.
Suara derap langkah kaki tegas yang teratur terdengar mendekat dari arah pintu utama. Semua kepala di meja makan sontak menoleh serempak ke arah pintu.
Sosok yang muncul dengan setelan jas hitam rapi tanpa cela, raut wajah dingin, dan aura intimidatif yang begitu kuat adalah Xanderion—asisten pribadi sekaligus bayangan setia Caspian Orion Devereux.
Kehadiran Xanderion seorang diri di mansion utama secara mendadak hanya menyiratkan satu arti.
Mata Cassandra membelalak lebar. Tanpa sadar ia menjatuhkan garpunya ke atas piring hingga berdenting nyaring.
"Xanderion?!" seru Cassandra kaget setengah mati, langsung melonjak berdiri dari kursinya. "Kalau lo ada di sini... Berarti Abang Caspian—?!"
Cassandra baru akan bergegas lari menaiki tangga untuk menyeret kakaknya atau memanggil Celeste turun, tapi sebuah tangan keriput namun kokoh dengan cepat mencekal pergelangan tangannya.
Kakek Donovan menahan lengan cucunya dengan cengkeraman kuat, sementara Nenek Helena di sebelah suaminya justru menyunggingkan senyuman paling misterius dan penuh arti yang pernah Cassandra lihat seumur hidupnya.
"Duduk, Cassie" ujar Kakek Donovan dengan nada rendah yang penuh otoritas, namun ada binar-binar kebahagiaan yang terpancar jelas di mata tua pria itu.
"Tapi Kakek! Abang pasti lagi sama Celeste di kamar! Aku mau panggil mereka ke sini!" protes Cassandra gemas, mencoba melepaskan diri.
Mommy Chalista langsung ikut tertawa kecil, menaruh cangkir tehnya ke atas piring dengan gerakan anggun. Ia menggelengkan kepala pelan ke arah Cassandra.
"Jangan jadi anak nakal yang merusak suasana, Cassie," tegur Chalista lembut namun mutlak. Wanita paruh baya itu bertopang dagu, matanya berbinar penuh antisipasi menatap ke arah tangga lantai atas. "Biarkan mereka di sana. Kamu jangan mengganggu mereka"
Cassandra mengerjap, menatap bergantian ke arah Kakek Donovan, Nenek Helena, dan Mommy Chalista yang kini kompak tersenyum-senyum sendiri dengan ekspresi yang sangat mencurigakan.
Bahkan Aurelia, sang bibi, ikut menutup mulutnya dengan sebelah tangan sambil terkekeh geli, sementara Daddy Cassian hanya menggelengkan kepala maklum sambil tersenyum tipis.
"Betul kata Mommy-mu, Cassie. Biarkan mereka" sambung Nenek Helena dengan suara bersemangat yang sama sekali tidak mencerminkan usianya yang sudah senja. Wanita tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan meja, kedua matanya berbinar-binar penuh harap. "Kamu jangan sok sibuk mengganggu Abang kamu. Biarkan cucu kesayanganku itu menunaikan tugas sebagai suami dengan benar."
"Tugas... tugas apa, Nek?" tanya Cassandra polos, masih belum ngeh.
Kakek Donovan mendengus pelan, tertawa tertahan sambil memukul meja pelan menggunakan jari telunjuknya. "Tugas apa lagi kalau bukan membuat cicit yang banyak untuk Kakek dan Nenek secepat mungkin, bodoh!"
Seketika itu juga, pipi Cassandra langsung merona merah. Ia akhirnya paham gelagat aneh para tetua Devereux yang sejak tadi tersenyum-senyum penuh maklum.
"Ya ampun..." cibir Cassandra salah tingkah, kembali mendudukkan dirinya dengan kasar ke kursi sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
aq bantu cari yx ,, trus bakal aq rawat baik2 seperti aq merawat ank2 ku,, 🤭🤭🤭🤭🤭
biar tau rasa tu si kucing garong ,,
kalang kabut ,, kalang kabut deh tuh,,