Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Rina mendecih pelan dan bersandar pada rak pakaian di dekatnya.
Dia sangat tidak sabar menunggu momen memalukan saat kartu ATM pemuda gembel itu ditolak oleh mesin.
Maya akhirnya mengalah dan dengan cekatan mulai mengambilkan semua pakaian pesanan Ardi.
Satu per satu pakaian mewah itu dibawa ke ruang ganti VIP di sudut butik.
Setelah menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit untuk mencoba, Ardi akhirnya keluar dari ruang ganti.
Dia kini mengenakan setelan jas berwarna biru dongker dengan potongan kerah yang sangat elegan.
Penampilan Ardi berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap.
Rambutnya yang sedikit berantakan justru menambah kesan maskulin pada wajah ketampanannya yang selama ini tertutup oleh kemiskinan.
Maya sampai tersipu malu dan harus menutupi mulutnya melihat ketampanan pelanggannya itu.
Pria di depannya ini sekarang benar-benar terlihat seperti pewaris tunggal keluarga konglomerat.
Bahkan Rina pun sempat terpaku dan menelan ludah selama beberapa detik.
Namun gengsinya yang tinggi membuatnya segera kembali memasang wajah meremehkan.
"Pakaiannya memang bisa menutupi penampilan kampungan, tapi isi dompet tidak bisa berbohong," cibir Rina dari kejauhan.
Ardi mengabaikan cibiran itu dan berjalan mantap menuju meja kasir.
"Aku ambil semua yang tadi dicoba Maya, tolong hitung total seluruhnya," ucap Ardi santai sambil bersandar di meja kasir.
Maya mengangguk cepat dan mulai memindai barcode pada setiap label pakaian dengan tangan sedikit gemetar.
Suara bip dari mesin kasir terdengar terus-menerus memecah kesunyian butik.
"Total semuanya delapan ratus lima puluh juta rupiah Kak," ucap Maya dengan suara bergetar setelah melihat angka akhir di layar monitornya.
Rina langsung melangkah maju dan berdiri di samping Maya dengan senyum penuh kemenangan.
"Nah Mas, silakan bayar sekarang," ucap Rina dengan nada mengejek.
"Kami tidak menerima cicilan paylater atau pinjaman online di sini."
Ardi dengan tenang merogoh saku celana jeans lamanya yang terlipat di dalam tas belanja.
Dia mengeluarkan sebuah kartu debit bank berwarna hitam legam dan meletakkannya di atas meja kasir.
"Tap."
Suara kartu itu berbenturan dengan meja kaca terdengar sangat jelas.
Mata Rina membelalak sempurna melihat kartu hitam dengan ukiran emas berlogo singa tersebut.
Sebagai pramuniaga senior di mal mewah, dia tahu persis itu adalah kartu Infinite Black Card yang hanya dimiliki oleh nasabah super VIP.
"Gesek saja Maya, mesin ini tidak butuh PIN untuk kartuku," ucap Ardi santai memecah kebisuan Rina.
Maya dengan tangan gemetar memasukkan kartu hitam itu ke celah mesin EDC.
Bunyi bip panjang terdengar hanya dalam hitungan detik.
Layar mesin seketika menampilkan tulisan Transaksi Disetujui, disusul keluarnya kertas struk pembayaran yang cukup panjang.
"T-transaksi berhasil Kak," ucap Maya dengan mata berkaca-kaca karena dia sadar komisi yang akan dia terima hari ini bisa membeli sebuah mobil baru.
Lutut Rina seketika terasa lemas bagaikan tidak bertulang.
Dia mundur beberapa langkah hingga menabrak rak di belakangnya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Wajah Rina yang tadinya sombong dan angkuh kini memucat seperti mayat hidup.
Keringat dingin mulai membasahi dahinya dan merusak riasan tebal di wajahnya.
"I-ini tidak mungkin, mesin EDC ini pasti sedang eror," gumam Rina dengan suara bergetar hebat.
"Pemuda gembel ini tidak mungkin punya Black Card!"
Ardi mengambil struk pembayaran dan kartunya, lalu berjalan mendekati Rina dengan tatapan sedingin es.
"Aku sudah membayar lunas semuanya tanpa diskon sepeser pun," ucap Ardi pelan namun menusuk. "
Sekarang, bukankah kamu punya hutang janji padaku?"
Rina menelan ludah dengan susah payah saat tekanan aura Ardi mengintimidasi dirinya.
"M-maafkan saya Tuan, saya sungguh minta maaf karena sudah bermulut kotor dan meremehkan Anda," ucap Rina dengan suara memelas nyaris menangis.
"Aku tidak butuh omong kosong permintaan maafmu," jawab Ardi tegas dan tanpa belas kasihan. "Aku hanya ingin melihatmu bersujud dan memijat kakiku di lantai ini sekarang juga."
Beberapa pelanggan butik yang sedari tadi menonton mulai tertawa pelan dan merekam kejadian itu dengan ponsel mereka.
Rina merasa malu setengah mati, tapi dia tahu dia berhadapan dengan orang yang salah hari ini.
Dengan tubuh bergetar dan air mata yang mulai menetes, Rina perlahan menurunkan tubuhnya ke lantai marmer yang dingin.
Dia benar-benar berlutut di depan kaki Ardi.
"Saya mohon ampun Tuan, tolong jangan laporkan saya ke manajer butik ini," isak Rina sambil memegang ujung celana jas Ardi dengan tangan gemetar.
"Pijat," perintah Ardi singkat tanpa mempedulikan tangisan wanita itu.
Rina terpaksa meremas pelan betis Ardi di depan semua orang yang sedang menonton.
Ini adalah hukuman sosial dan penghinaan terbesar dalam sepanjang karirnya bekerja di mal mewah ini.
"Sudah cukup," ucap Ardi setelah membiarkan Rina dipermalukan selama satu menit penuh.
"Lain kali jangan pernah menilai isi dompet orang dari pakaian luar mereka."
Ardi lalu menoleh ke arah Maya yang sedari tadi hanya diam membeku melihat kejadian luar biasa di depannya.
"Maya, tolong kemas sisa pakaian lainnya dan kirimkan ke alamat ini nanti sore," ucap Ardi sambil menuliskan alamat kosnya di selembar kertas.
"Dan baju lusuhku itu buang saja ke tempat sampah."
"Baik Tuan, pesanan Anda akan kami kirimkan dengan pelayanan prioritas paling cepat," jawab Maya dengan sigap dan penuh hormat seraya menundukkan badannya dalam-dalam.
Ardi berjalan keluar dari butik Vianoce dengan dada membusung bangga.
Kepercayaan dirinya yang selama bertahun-tahun hancur perlahan mulai kembali utuh hari ini.
Dia merasakan kepuasan luar biasa saat bisa membungkam mulut orang sombong hanya dengan kekayaan yang dimilikinya.
Di tengah langkahnya menyusuri lorong mal, ponsel di saku jas Ardi tiba-tiba bergetar pendek.
Ardi mengeluarkan ponselnya dan melihat antarmuka transparan Sistem kembali muncul di layarnya.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Flash Sale Harian Baru Telah Diperbarui!]
[Item: Mobil Hypercar Ferrari SF90 Stradale Hitam Edisi Terbatas.]
[Harga Spesial: Rp1.]
[Waktu Tersisa: 23 Jam 59 Menit.]
Napas Ardi sedikit tertahan melihat penawaran gila di layar ponselnya. Dia memang sedang butuh kendaraan agar tidak dihina Siska lagi karena selalu naik motor butut.
"Sistem ini benar-benar sangat pengertian pada keluh kesahku," batin Ardi sambil tersenyum lebar menatap layar ponsel.
Tanpa berpikir dua kali, Ardi langsung menekan tombol beli berwarna emas di layar ponselnya.
[Memproses transaksi...]
[Pembelian Berhasil.]
[Saldo Anda terpotong Rp1.]
[Kunci mobil pintar dan seluruh dokumen kepemilikan telah diteleportasi ke saku dalam jas Anda.]
[Mobil Ferrari SF90 Stradale saat ini terparkir aman di area VIP Parking Grand Plaza lantai dasar.]
Ardi merogoh saku dalam jas barunya dengan perasaan berdebar.
Tangannya menyentuh sebuah benda padat berbahan metal dingin.
Saat dia mengeluarkannya, sebuah kunci pintar berwarna hitam elegan dengan logo kuda jingkrak kuning terpampang nyata di telapak tangannya.
"Ini nyata, aku baru saja membeli mobil seharga belasan miliar hanya dengan koin satu perak," gumam Ardi tertawa pelan.
Dia segera mempercepat langkahnya menuju lift untuk turun ke area parkir VIP di lantai dasar.
Ardi sudah tidak sabar ingin merasakan sensasi menyetir mobil impian semua pria di dunia itu.
Hari ini Ardi akan berkeliling kota Jakarta dengan identitas barunya sebagai seorang miliarder muda.
Dia sangat berharap bisa bertemu dengan Siska dan Bagas di jalanan hari ini.
"Mari kita lihat wajah sombong kalian nanti saat melihatku di balik kemudi Ferrari ini," batin Ardi sambil melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka.