Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Di Sarang Serigala

Terjebak Di Sarang Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.


yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Malam itu , di kaki gunung selalu terasa dingin, namun bagi Nina, gadis yang selama ini di kenal selalu ceria sangat berbeda dengan yang orang-orang kenal selama ini , dinginnya angin yang menusuk tulang tak ada apa-apanya dibandingkan rasa hampa di dadanya. Di sudut teras belakang rumah yang tersembunyi dari pandangan orang, ia duduk melipat lutut, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara. Ia menekan dadanya yang sesak, berusaha menahan air mata yang terus menetes membasahi piyama nya.

Sore tadi, dunia terasa berhenti berputar bagi Nina. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Dias, pria berseragam PNS kecamatan yang selama ini diam-diam memenuhi doa-doanya berdiri mantap di hadapan keluarga angkat Taniza. Pria itu datang bukan sekadar bertamu seperti biasanya, melainkan membawa niat tulus untuk meminang.

Hati Nina hancur berkeping-keping saat melihat Taniza mengangguk dengan wajah bersemu merah. Taniza, sahabat nya yang sudah ia anggap seperti saudara kandung sendiri, menerima lamaran itu. Tak ada prasangka, tak ada pengkhianatan yang disengaja. Kedua orang itu hanya menjalankan keyakinan mereka untuk mencintai dalam diam, menjaga rasa tanpa ikatan pacaran yang dilarang agama, lalu menyatukannya dalam ikatan suci.

Lantas, kepada siapa Nina harus marah?

Ia tidak bisa membenci Taniza yang begitu lembut dan polos. Ia juga tidak bisa menyalahkan Dias yang memang tak pernah tahu isi hatinya. Kebenaran bahwa mereka saling mencintai secara terhormat justru membuat rasa sakit Nina terasa semakin tidak berhak untuk ada.

"Assalamualaikum...Nina? Kamu di sini?"

Suara lembut Taniza mendadak terdengar dari balik pintu teras, memecah kesunyian malam. Nina terkejut setengah mati. Dengan cepat ia menyapu air matanya menggunakan ujung lengan baju, menarik napas dalam-dalam, dan memaksa bibirnya mengukir ukiran senyum paling rapi yang pernah ia buat dalam hidupnya.

Ia menoleh, menatap Taniza yang berjalan mendekat dengan binar bahagia di matanya, binar yang kini terasa amat asing bagi Nina.

"Eh, Taniza,.. waalaikumsalam" sahut Nina. Suaranya sedikit serak, tetapi ia buru-buru berdeham untuk menyembunyikannya. "Kenapa belum tidur? Udah malam, lho."

"Aku nggak bisa tidur, Nin," ujar Taniza sembari duduk di samping Nina, menggenggam jemari sahabatnya yang terasa sedingin es. Taniza menatap lurus ke arah kegelapan malam dengan senyum merekah. "Aku masih terasa mimpi... Mas Dias ternyata punya rasa yang sama selama ini. Aku nggak pernah nyangka dia bakal datang ke rumah sore tadi."

Setiap kata yang diucapkan Taniza terasa seperti sembilu yang mengiris hati Nina secara perlahan. Namun, Nina hanya bisa mengangguk pelan. Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari Taniza, berpura-pura menjadi sahabat yang paling bahagia di dunia.

"Selamat ya, Tan," bisik Nina lembut, memaksakan matanya tetap menatap Taniza tanpa goyah sedikit pun. "Kamu pantas bahagia. Mas Dias orang yang baik... kalian berdua sangat cocok."

"Terima kasih ya, Nin. Kamu kan tahu, cuma kamu tempat aku cerita selama aku tinggal di sini" ucap Taniza tulus, lalu memeluk Nina dengan erat.

Di dalam pelukan sahabatnya itu, di balik pundak Taniza yang tak melihat wajahnya, pertahanan Nina runtuh seketika. Air matanya kembali menetes tanpa suara, menyerap masuk ke dalam kain baju Taniza. Nina memeluk balik sahabatnya itu rapat-rapat, memeluk kebahagiaan orang lain, sembari mengubur dalam-dalam kepedihan serta cintanya sendiri yang tak pernah sempat terucap.

"Apa kamu juga bahagia nin?" tanya Taniza setelah melepaskan pelukannya pada Nina.

"tentu saja Iza, hidupmu dulu penuh penderitaan, sudah sepantasnya kamu bersama orang yang tepat, seperti Tania yang saat ini sudah hidup bahagia dengan Tuan Ameer" Jawab, Nina dengan mata berkaca-kaca.

"Tapi kenapa saat aku kesini tadi kamu seperti sedang menangis?" tanya Taniza curiga.

Nina tersenyum lembut "Aku hanya merindukan almarhum ibuku Za, sebentar lagi, Aku akan kuliah di jakarta dan , mungkin jarang ke desa".

"Oh, jangan sedih na , Ibumu sudah bahagia di sana, ibumu hanya butuh doa , Aku juga sering menangis saat merindukan mereka" balas Taniza memeluk kembali Nina yang air matanya kembali tumpah.

Setelah suasana membaik, Taniza izin pulang karena udara malam di kaki gunung sangat dingin.

___

Langkah kaki yang tegas dan berirama berat memecah keheningan teras belakang tak lama setelah Taniza pamit masuk ke dalam rumah yang tidak jauh di rumahnya. Paman Juan berdiri di ambang pintu, menatap punggung Nina dengan pandangan dingin yang tajam.

Pria paruh baya itu tak pernah menikah lagi sejak istrinya meninggal dalam kecelakaan tragis saat mengantarkan anak mereka pergi mengaji bertahun-tahun lalu. Cintanya sudah mati bersama almarhumah istrinya. Sejak hari itu, hidup Paman Juan hanya diisi oleh kedisiplinan kaku dan rasa benci yang mendalam terhadap adik iparnya nya sendiri, ayah Nina, seorang pria lemah yang tega menelantarkan anak dan istrinya demi mengejar wanita kaya asal Jakarta.

Bagi Paman Juan, Nina adalah proyek pembuktian. Ia mendidik Nina dengan aturan militer yang keras sejak kecil, tidak boleh terlihat lemah, tidak boleh menangis di depan orang lain, dan harus tangguh menghadapi kerasnya dunia. Ia tidak ingin Nina mewarisi kelemahan sang ayah, sekaligus ingin menggunakan ketangguhan Nina sebagai bentuk balas dendam atas luka keluarga mereka.

"Masih menangisi hal yang bukan milikmu, Nina?" suara Paman Juan terdengar berat dan datar, tanpa sedikit pun nada simpati.

Nina terkejut, buru-buru menegakkan tubuhnya dan menyapu sisa air mata di pipi. Refleks kedisiplinan yang ditanamkan pamannya selama bertahun-tahun langsung mengambil alih. Ia berdiri tegap, menundukkan kepala sedikit.

"Tidak, Paman," jawab Nina pelan namun berusaha tegar.

"Bagus. Jangan biarkan perasaan tidak berguna merusak fokusmu," ujar Paman Juan dingin sembari melangkah mendekat. Sebagai salah satu orang terpandang dan terkaya di desa itu, Paman Juan sebenarnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan Nina tanpa kekurangan satu apa pun. Namun, kekayaan itu tak pernah diimbangi dengan kehangatan.

"Ingat untuk apa kamu saya didik selama ini. Jangan sampai kamu menjadi sosok yang lemah dan menyedihkan seperti ayahmu yang tidak berguna itu," lanjut Paman Juan, menatap Nina lurus-lurus.

"Baik, Paman. Saya mengerti."

Paman Juan hanya mengangguk singkat sebelum berbalik dan pergi, meninggalkan Nina sendirian dalam kesunyian malam.

Memasuki kamarnya, Nina mengunci pintu rapat-rapat. Ia berjalan ke meja belajar yang dipenuhi gulungan sketsa. Untuk mengalihkan rasa sesak di dadanya, Nina menarik kursi dan mengambil pensil gambar. Menjelang hari pertamanya masuk kuliah di Jakarta, menggambar desain busana adalah satu-satunya pelarian yang ia miliki.

Setiap goresan pensil di atas kertas putih itu menjadi tempatnya menyembunyikan luka hati atas Dias, sekaligus menyusun tekad untuk pergi dari desa ini. Ia sudah berencana akan tinggal di kos di Jakarta nanti, melepas secara perlahan bayang-bayang kedisiplinan Paman Juan yang mencekik, dan memulai hidup barunya sendiri, tanpa menyadari bahwa di kota besar itulah takdir kelam yang sesungguhnya tengah menunggunya.

_____

Assalamualaikum....

Bertemu lagi dengan cerita baru....

Ini cerita tentang Nina ya, sahabat nya Tania sejak kecil, sama-sama kuat, namun Nina menyimpan kesediaan yang tidak semua orang tahu , apalagi wajahnya selalu ceria,meski semua orang tahu didikan paman Juan keras , namun mereka tahu kalau paman Juan sangat menyayangi keponakannya itu

Yuh....ikuti kisah Nina selanjutnya...

bantu kasih dukungan ya, karena dukungan kalian adalah penyemangat ku...

Terimakasih....

Salam sehat selalu

🙏🏻🙏🏻🙏🏻🥰🥰🥰

1
Ayusha
udah paling bener begitu, orang bebal susah sadar sebelum masuk liang kubur
@Mita🥰
bagus Nina
Ayusha
wis lah, ga usah di kasih hati orang begini
Ayusha
lagi dan lagi, hanya rasa sakit yg di dapat
Teh Qurrotha
🤣 faris2 lucu,mungkin karena uang hasil jual Nina blm kamu nikmati dan lupa utang dibayarin dengan jual Nina.
sungguh terlalu kamu Faris
Ayusha
gaada penyesalan kah di hati Faris, dulu menyia²kan istri dan mengorbankan anak kandung nya.
@Mita🥰
Faris ...faris
suti markonah
faris ini ga sadar bahwa selama ini ga merawat nini, tp giliran butuh uang' anak yg selama ini tak di ksh nafkah malah di peras
@Mita🥰
jafar udah mulai bucin
@Mita🥰
mungkin preman suruhan nina
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣 jafar kejang" Krn terkejut 🤣🤣🤣
M⃟3💋AisyahRendra
Jafar oh Jafar..Pelan tapi pastiiii, dikit demi sedikit lama² jadi bukitt itu cintamu untuk Nina 🤣 tunggu sajaaa MP nyaa yaaa 🫢😆🤣 gasabar nih menantikan saat² romantisnya 🫠
Sri Supriatin
Wah karma tuh Faris... Akakah mereka kapok 🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
wah Fajar mulai deketin Nina🤭🤭
M⃟3💋AisyahRendra
Berasaaa lumayan puas sihh yaa sm nasib kehidupan Faris Anggun Dkk. 🫠 Tapiiiii tunggu tunggu tunggu dlu Hazel belum dapet giliran, dan lagiiiii kakaknya yg berada dalam rehabilitas juga belum merasakan kesakitan yg amat krn sudah pernah bermimpi ingin menganuuu Nina 🙄😒😏 next kak Onel
Ayusha
jajan nya orang have, sekali beli jajan nya aset dong 🤭
Ani Sulastri
Jafar pasti shock nich , liat nonif dari perbankan 😂😂..
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰
Sri Supriatin
Tks upnya thor💪💪💪
Ayusha
gadis desa yg keren khaan🤭
Ayusha
malah bagus dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!