Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: RUMAH PENGINAPAN TERAKHIR
Langit di atas lereng selatan Lembah Karang perlahan runtuh ditelan gemuruh badai es. Angin utara yang menderu kencang membawa serpihan salju tajam, menusuk rimbunan hutan bambu dan membekukan sisa-sisa jalur tanah. Suhu udara memprosit drastis, memaksa rombongan kecil itu untuk segera mencari persembunyian sebelum membeku di tengah kegelapan rimba.
Di balik bukit terjal yang terisolasi, sebuah bangunan kayu beratap jerami tebal berdiri kokoh menahan gempuran badai. Penginapan Angin Timur—sebuah rumah singgah tua yang hampir terlupakan oleh para pengembara—menjadi satu-satunya titik cahaya di tengah lautan putih es.
Setelah Qing Luo memutuskan untuk pergi lebih dulu menerobos kabut demi mencari petunjuk keberadaan racun pembusuk darah, Shen Rui dan Lian Yue terpaksa melangkah masuk ke dalam penginapan tersebut.
Suara gemerincing lonceng angin tembaga menyambut kedatangan mereka sewaktu Shen Rui mendorong pintu kayu tebal penginapan. Di dalam, suasana hangat mendadak menyergap kulit. Sebuah tungku perapian batu besar menyala terang di tengah ruangan, memancarkan bau asap kayu pinus yang menenangkan. Penginapan itu sepi, hanya ada seorang lelaki tua pengelola tempat yang sedang tertidur lelap di balik meja kasir.
Shen Rui meletakkan beberapa keping perak di atas meja, lalu membimbing Lian Yue menuju satu-satunya kamar kosong yang tersisa di lantai atas.
Kamar kayu itu sederhana namun bersih. Sebuah pembarakan lilin menyala temaram di atas meja kecil, melemparkan bayang-bayang hangat ke dinding. Sebuah tempat tidur luas beralas selimut bulu tebal terletak di sudut ruangan, menghadap lurus ke arah jendela kayu yang terkatup rapat dari gempuran badai di luar.
Untuk pertama kalinya sejak mereka melarikan diri dari Gunung Wuyin, tekanan dari Paviliun Tianjian, kepungan warga desa, dan bayang-bayang batas waktu hari ke-49 seolah terhenti di luar pintu kamar ini. Di tempat persembunyian yang sempit ini, mereka tidak bertindak sebagai pemburu bertangan dingin dan siluman ular yang diburu—melainkan hanya dua manusia biasa yang berlindung dari kejamnya badai.
"Duduklah di dekat perapian," kata Shen Rui pelan.
Ia melepaskan mantel bulu serigalanya yang penuh dengan serpihan es, menyisakan jubah ketat abu-abu yang memperlihatkan ketegasan bahunya. Pria itu berlutut di depan perapian kecil kamar, menambahkan beberapa potong kayu kering agar apinya membesar.
Lian Yue melangkah pelan, mendudukkan tubuhnya di atas karpet bulu di samping Shen Rui. Tubuhnya yang biasanya sedingin pualam perlahan menyerap hawa hangat perapian. Wajah pucatnya kini dihiasi rona merah tipis di sekitar pipi dan bibirnya.
Ia menatap jemari Shen Rui yang terampil menata kayu bakar. Tidak ada kilatan Pedang Zhaoyang di tangannya saat ini, tidak ada aura pembunuh yang biasanya menyelimuti seorang murid utama Paviliun Tianjian.
"Kau tampak berbeda jika tanpa pedangmu," bisik Lian Yue halus, memecah keheningan di antara gemertak kayu yang terbakar.
Shen Rui menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh, menatap mata perak Lian Yue yang jernih dalam jarak beberapa jengkal.
"Pedang itu adalah beban," jawab Shen Rui rendah. "Sejak kecil, aku diajarkan bahwa pedang ini adalah bagian dari diriku. Tapi malam ini... aku merasa lebih hidup saat tidak menggenggamnya."
Lian Yue tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang pertama kali terpancar dari wajahnya sejak terbangun tanpa ingatan. Keindahan senyuman itu membuat dada Shen Rui mendadak bergolak hebat, membawa getaran hangat yang melintasi setiap pembuluh darahnya.
Shen Rui mengulurkan tangannya. Jemarinya yang kasar oleh bekas luka latihan pedang bergerak pelan, menyapu sehelai rambut hitam Lian Yue yang menempel di pipinya yang hangat. Sentuhan itu tidak lagi memicu pertahanan qi atau detak ketakutan; yang ada hanyalah kelembutan yang teramat dalam dan kerinduan yang telah tertahan selama seribu tahun.
Lian Yue tidak menghindar. Ia justru memiringkan kepalanya sedikit, menyandarkan pipinya pada telapak tangan Shen Rui, membiarkan kehangatan pria itu mengikis sisa-sisa rasa dingin dari dalam jiwanya.
"Jika waktu bisa berhenti di dalam kamar ini," bisik Lian Yue dengan mata berkaca-kaca, "aku tidak peduli siapakah aku di masa lalu, dan aku tidak peduli pada hari ke-49 itu..."
Shen Rui menatap bibir kemerahan Lian Yue yang bergetar. Rasa bersalah atas tiga kehidupan masa lalu dan ancaman perintah Gurunya mencair, digantikan oleh dorongan murni untuk melindungi perempuan ini dari kejamnya dunia luar.
"Di dalam ruangan ini," kata Shen Rui dengan keteguhan yang tak tergoncangkan, "kau hanyalah Lian Yue, dan aku hanyalah pria yang memilih berada di sisimu."
Di luar jendela, badai es menderu hebat menghantam dinding Penginapan Angin Timur, namun di dalam kamar kayu yang temaram itu, dua jiwa yang terikat oleh kutukan seribu tahun akhirnya menemukan kedamaian singkat dalam pelukan kehangatan yang tak terganggu oleh dunia luar.