Indonesia
NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Langkah yang ditahan

Jayengrana menatap ruang di hadapannya.

Dengan serpihan Mata Pemburu yang masih aktif, rajutan benang perangkap membayang jelas bagaikan sarang laba-laba raksasa yang memenuhi lantai batu.

Ia menarik napas pendek, lalu mengayunkan langkah.

Satu langkah... ia berhenti. Dua langkah... ia bergeming kembali.

Jayengrana menyelinap di antara celah-celah jaring halus itu dengan gerak leluasa yang nyaris tanpa desis. Sesekali ia memiringkan tubuhnya, sesekali merunduk rapat, hingga akhirnya berhasil menyeberangi seluruh jangkauan perangkap.

Begitu ia melintasi area bahaya tersebut, ketajaman penglihatannya berangsur memudar kembali normal. Kelopak matanya menyengat perih, memaksa Jayengrana memejamkan mata beberapa saat.

"Memaksakannya terlampau lama..." gumamnya lirih.

Bisikan Penunggang Perjanjian bergaung tipis. "Kemampuan yang dipaksakan melebihi batas raga akan menguras daya hidupmu."

"Aku paham."

Jayengrana melanjutkan penyusupan. Di ujung gudang bawah tanah, terhampar tangga batu yang menanjak ke lantai atas. Sayup-sayup terdengar percakapan dua orang dari balik remang anak tangga.

Ia merayap naik perlahan. Saat matanya sejajar dengan anak tangga tertinggi, ia mengintip lewat celah kisi-kisi pintu.

Dua prajurit bersenjatakan tombak pendek tengah bersiaga. Salah seorang di antaranya membuang napas seraya menguap lebar.

"Sejak sosok algojo itu menginjakkan kaki di sini, suasana lorong ini terasa makin mencekam."

"Tutup mulutmu," tegur temannya tajam. "Kalau sampai ia mendengar keluhanmu, lidahmu bisa dipotong."

"Aku hanya mengutarakan apa yang kurasakan, bukan bermaksud menghina."

Jayengrana mengaktifkan Naluri Niat. Gelombang emosi kedua penjaga itu terpancar seketika.

Prajurit pertama dilingkupi ketakutan yang pekat, sementara prajurit kedua dipenuhi kecemasan. Tak ada hasrat membunuh maupun kewaspadaan tinggi—mereka semata-mata mendambakan jam pergantian tugas segera tiba.

Jayengrana memungut sebutir kerikil dari sudut tangga, lalu melemparnya ke lorong sebelah kanan.

Tak!

"Suara apa itu?" Kedua penjaga serta-merta menoleh dan bergerak menuju sumber denting.

Begitu lorong di hadapannya melangang kosong, Jayengrana melesat secepat bayangan. Ia melintasi ambang pintu dan merapat di balik pilar batu sebelum kedua prajurit itu kembali. Tak seorang pun menyadari sesosok bayangan baru saja melintas.

Koridor Gedung Utara jauh lebih membentang luas daripada perkiraannya. Obor-obor dinding dipasang setiap beberapa tombak, menyinari deretan lukisan tua yang tergantung di sepanjang tembok batu.

Anehnya, seluruh wajah tokoh dalam lukisan-lukisan tersebut sengaja dicoret pekat, bahkan ada yang dipahat hingga hancur—seolah ada pihak yang berupaya keras menghapus jejak identitas mereka dari ingatan zaman.

Jayengrana menghentikan langkahnya sejenak. "Sungguh aneh..."

Suara Penunggang Perjanjian kembali merayap di benaknya. "...Jangan memandang lukisan-lukisan itu terlampau lama."

"Mengapa?"

"...Tempat ini sengaja dirancang untuk mengikis ingatan manusia."

Jayengrana tak sepenuhnya memahami maksud peringatan itu, namun ia segera mengalihkan pandangannya dan memilih terus bergerak maju.

Di ujung koridor, sayup-sayup terdengar isolasi ratapan seorang wanita—pelan, parau, dan merintih kelelahan. Jayengrana mempercepat derap langkahnya menuju sumber suara di balik pintu besi tebal.

Ia merapat, mengintip melalui celah pengintai di pintu.

Di dalam sel yang dingin, seorang wanita tampak duduk memeluk lututnya. Tubuhnya kurus kering dengan rambut panjang yang kusam, sedang kedua pergelangan tangannya dipasung rantai berat.

Jayengrana mengepalkan tangannya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang. Namun... sosok itu bukan istrinya. Ia tak mengenali wanita tersebut, meski jelas ia adalah salah satu korban penyekapan di benteng ini.

Tiba-tiba, wanita di dalam sel mengangkat kepalanya. Tatapannya tertuju lurus pada celah pintu, seolah menyadari ada sepasang mata yang tengah mengamatinya.

Dengan bisikan yang teramat lemah, wanita itu merintih, "Tolong..."

Sebelum Jayengrana sempat mengambil tindakan, derap langkah kaki menggema nyaring dari arah belokan lorong. Bukan langkah tunggal, melainkan rombongan besar.

Ia segera menarik diri dan melebur di balik pilar batu yang gelap.

Beberapa detik kemudian, enam pria berbalut jubah hitam melintas beriringan. Di tengah-tengah barisan mereka, melangkah sosok bertopeng kayu yang pernah dijumpai Jayengrana.

Kali ini, di belakang pria bertopeng itu, dua prajurit menyeret sesosok tahanan yang kepalanya ditutupi kain hitam pekat. Tahanan itu berjalan sempoyongan dengan tangan terikat erat.

Jayengrana mengerahkan Naluri Niat untuk menyapu sosok tersebut.

Seketika itu pula, dadanya terasa sesak luar biasa. Dari balik kain hitam penutup kepala itu, memancar satu gejolak niat yang teramat kuat.

Bukan pendar rasa takut, bukan permohonan ampun, melainkan dorongan dahsyat untuk melindungi seseorang.

Jayengrana membeku di tempatnya.

Pancaran rasa itu... teramat sangat ia kenali. Hanya ada satu pribadi yang senantiasa menyimpan tekad perlindungan yang begitu murni.

Istrinya.

Jayengrana mencengkeram erat gagang tombak berbungkus kain di tangannya.

Rombongan kecil itu berjalan kian mendekat. Pria bertopeng kayu melangkah paling depan dengan derap yang santai. Di belakangnya, dua prajurit berzirah menyeret sesosok perempuan berbalut tudung hitam.

Setiap derap langkah perempuan itu terlihat begitu berat dan kepayahan. Namun, posisi kepalanya tetap tegak membanggakan—sebuah keteguhan yang tak sanggup ditundukkan oleh rasa sakit.

Dada Jayengrana terasa sesak. Naluri Niat yang terpancar dari sosok itu tak mungkin keliru. Pendar tekad untuk melindungi orang-orang tercinta... ia telah menyaksikannya berkali-kali di masa lalu.

Saat sang istri mendekap erat anak mereka di tengah wabah yang melanda desa. Saat jemari lentiknya melepas keberangkatan Jayengrana menuju medan perang seraya menyembunyikan genangan air mata.

Keteguhan itu masih sama persis. Belum rapuh, apalagi patah.

Jayengrana menggeser kakinya, berkehendak melangkah keluar dari balik pilar batu.

Seketika itu pula, simpul perjanjian di dadanya menyengat hebat bagai luka bakar.

"Berhenti!"

Gema suara Penunggang Perjanjian memantul jauh lebih nyaring dan keras dibanding biasanya.

Jayengrana mengatupkan rahang rapat-rapat. 'Itu istriku!'

"Aku tahu."

'Lantas mengapa aku harus bergeming membiarkannya berlalu?!'

Keheningan mencengkeram benaknya selama beberapa saat sebelum Penunggang Perjanjian kembali berbisik. "Gunakan matamu."

Jayengrana memusatkan kepekaannya, membangkitkan serpihan Mata Pemburu. Dalam sekedip mata, penglihatannya menyingkap kejanggalan yang sebelumnya luput.

Di sepanjang koridor batu... terbentang rajutan garis-garis tipis berpendar kemerahan yang menghubungkan pilar satu dengan lainnya. Garis itu bukan terbuat dari tali maupun benang fisik, melainkan jejak manifestasi tenaga gaib. Seluruh rajutan itu bermuara langsung pada tongkat hitam yang digenggam pria bertopeng kayu.

'Apa itu?'

"Segel pengintai gaib," desis Penunggang Perjanjian. "Begitu kau menerobos garis itu dan melancarkan serangan, seluruh penghuni gedung ini bakal langsung mendeteksi keberadaanmu."

Cengkeraman jemari Jayengrana pada gagang tombak mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ia membenci kenyataan pahit ini. Jarak antara dirinya dan sang istri hanya terpisah belasan tindak, namun terasa begitu jauh seolah terbentang batas langit dan bumi.

Rombongan itu terus bergerak maju.

Namun, saat tepat melintas di depan pilar tempat Jayengrana bersembunyi... perempuan bertudung hitam itu mendadak menghentikan langkahnya.

Dua prajurit pengawal serta-merta merenggut rantai pengikatnya. "Jalan!"

Perempuan itu tetap bergeming. Ia hanya miringkan wajahnya sedikit, memiringkan tudung hitamnya ke arah pilar... seolah-olah indranya sanggup merasakan keberadaan seseorang.

Jayengrana menahan napasnya seketika.

Pria bertopeng kayu ikut menyetop langkahnya. Ia berbalik, menatap dingin ke arah tahanan wanita tersebut. "Ada apa?"

Perempuan itu menggeleng pelan. "...Tidak ada apa-apa..." ucapnya dengan suara parau namun mantap. "...Saya hanya... merasa suami saya masih hidup dan berada sangat dekat."

Kalimat bersahaja itu membuat detak jantung Jayengrana seakan berhenti berdenyut. Matanya memerah menahan gelombang emosi yang membuncah, namun ia memaksa raganya tetap membisu di balik bayangan pilar.

Pria bertopeng kayu terkekeh pelan dari balik topengnya. "Harapan memang jenis racun yang sulit dibunuh. Namun cepat atau lambat... harapan itu sendiri yang akan lelah dan membunuhmu."

Ia mengibaskan tangan memberi isyarat. Para prajurit kembali menyeret rantai besi tersebut, memboyong sang istri makin jauh menelusuri koridor bawah tanah.

Baru setelah lorong batu itu kembali diselimuti sunyi, Jayengrana menyandarkan tubuhnya yang lunglai ke dinding. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengatur napasnya yang bergetar hebat.

Begitu dekat... namun ia tak sanggup merengkuhnya.

Bisikan Penunggang Perjanjian kembali merayap lembut di benaknya, kali ini dengan nada yang jauh lebih tenang.

"Malam ini... kau baru saja memenangkan pertarungan yang paling berat."

Jayengrana tak bersuara.

"Yaitu penaklukan atas gejolak amarah di dalam dirimu sendiri."

Simpul perjanjian di dadanya menyengat hangat—bukan hangat pembuka kemampuan baru maupun bentuk hadiah, melainkan usapan lembut yang perlahan meredam kecamuk emosi di relung hatinya.

Beberapa saat kemudian, Jayengrana membuka mata. Tatapannya telah bergeser sepenuhnya—jauh lebih tenang, tajam, dan penuh keteguhan mutlak.

Ia telah menggenggam satu kepastian paling berharga: istrinya masih hidup, dan semangat wanita itu belum sanggup dihancurkan oleh siapa pun.

Artinya... kobaran harapan di antara mereka berdua tak akan pernah padam.

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!