Indonesia
NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:432
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMULAI PETUALANGAN DI ALAM BEBAS

Waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Pagi itu, udara masih terasa sejuk saat Kristin, Cintya, dan Ari telah tiba di gedung MAPALA jauh sebelum waktu yang ditentukan. Jantung Kristin berdebar tak sabar, ini adalah pengalaman berkemah pertamanya memasuki kedalaman hutan bersama organisasi kampus.

"Wah, rasanya tak sabar sekali!" seru Cintya dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme. "Kegiatan kali ini pasti akan sangat seru! Selama ini aku hanya mendengar cerita tentang petualangan ke alam bebas dari teman-teman, belum pernah sekalipun aku merasakannya langsung. Rasanya luar biasa akhirnya bisa ikut berangkat bersama kalian!"

Tak lama kemudian, tampaklah Kevin, Rangga, dan Adit berjalan beriringan menuju gedung tempat mereka berkumpul. Melihat ketiga mahasiswa itu, Kevin tersenyum ramah dan menyapa mereka.

"Selamat pagi, adik-adik," ucap Kevin lembut namun tegas. "Seharusnya jumlah mahasiswa baru yang ikut ada enam orang. Kalian bertiga saja yang datang lebih dulu?"

Ari mengangguk sambil melirik jam di pergelangan tangannya. "Mungkin sebentar lagi tiga orang lainnya akan segera hadir, Kak. Waktu pertemuan belum lewat sepenuhnya."

Benar saja, belum berlama-lama, muncul Joel, Bobi, dan Jeki berjalan beriringan menyusul mereka. Kini keenam peserta baru telah berkumpul lengkap. Kevin pun segera memberi arahan agar mereka memeriksa ulang perlengkapan masing-masing dengan teliti, memastikan tak ada satu pun yang tertinggal atau tertukar. Sementara itu, Rangga dan Adit sibuk bergegas keluar-masuk gedung, mengurus segala keperluan serta perlengkapan panitia yang harus dibawa.

Suasana di lokasi berkumpul perlahan menjadi lebih ramai. Dari arah jalan masuk, tampak Doni berjalan santai dengan langkah yang tenang, seakan tak ada beban di pundaknya. Di mulutnya tak lupa terselip sebatang rokok, kebiasaan yang selalu melekat padanya. Tak lama berselang, para senior lainnya pun mulai berdatangan, termasuk Billy, Nisa, dan beberapa nama lain yang sudah lama dikenal di organisasi tersebut.

Setelah segala persiapan dianggap selesai dan lengkap, Billy maju ke depan dan menyampaikan hal yang sedikit mengejutkan. "Maaf, adik-adik sekalian... Aku dan sebagian senior lainnya ternyata tidak bisa ikut mendampingi kalian hingga ke lokasi. Ada urusan mendesak yang harus segera kami selesaikan." Billy menatap mereka satu per satu, lalu melanjutkan, "Jadi, perjalanan dan kegiatan berkemah kali ini hanya akan didampingi oleh Kak Nisa selaku pembimbing, serta panitia yang terdiri dari Doni, Adit, Rangga, dan Kevin. Percayalah, mereka semua sudah cukup berpengalaman untuk menjaga dan membimbing kalian."

Mendengar itu, beberapa orang tampak sedikit kecewa, namun tak ada yang mengajukan keberatan. Sebelum berangkat, mereka pun berkumpul melingkar, merangkul pundak satu sama lain, dan berdoa bersama agar senantiasa terlindungi dari segala bahaya dan hal buruk sepanjang perjalanan maupun selama di lokasi nanti. Setelah itu, mereka pun beranjak menuju bus rombongan yang sudah dipersiapkan khusus untuk mengantar mereka.

Di tengah perjalanan yang membelah jalan berkelok-kelok, Kristin menyandarkan kepalanya sedikit sambil menatap ke luar jendela, lalu berbisik pelan kepada Cintya yang duduk di sebelahnya. "Cintya... kira-kira berapa lama lagi perjalanan ini hingga sampai ke lokasi?"

Cintya tersenyum sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin jendela. "Bus ini hanya akan berhenti di sebuah pos perkemahan yang menjadi tempat persinggahan khusus anggota MAPALA. Dari pos itulah nanti kita akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menembus hutan, kira-kira butuh waktu sekitar empat jam perjalanan." Cintya lalu melirik ke arah barisan kursi depan tempat Doni duduk, lalu berbisik kembali, "Tapi... tahukah kau? Kak Doni terlihat benar-benar keren hari ini."

Kristin ikut melirik sekilas ke arah pemuda itu. Doni tampak tenang saja, duduk bersandar sambil membolak-balik halaman buku yang tampak seperti novel, sesekali menghembuskan asap rokoknya perlahan. Kristin pun kembali menatap Cintya sambil mengerutkan kening sedikit. "Apa bagusnya pemuda yang seperti berandalan itu?"

Cintya justru tersenyum lebar dan menggeleng tak setuju. "Kau belum paham ya? Justru itulah yang membuatnya terlihat keren! Lihat saja gayanya... memakai topi berwarna gelap, kaos lengan panjang yang digulung sebatas siku, celana pendek berwarna gelap, dan sendal gunung yang kokoh. Saat semua orang berusaha tampil rapi dan menjaga penampilan sebaik mungkin, Kak Doni justru tampil apa adanya dengan gayanya sendiri, tanpa berusaha menjadi orang lain. Keberanian dan ketenangannya itulah yang membuatnya terlihat begitu keren di mataku."

Kristin tertawa kecil mendengar penilaian temannya itu. "Kalau begitu menurutmu dia memang sebaik itu... mengapa kau tidak mendekatinya saja? Atau sekalian menjalin hubungan dengannya?"

Wajah Cintya seketika memerah, ia langsung memukul pelan lengan Kristin sambil tertawa malu. "Aduh... jangan mengada-ada! Aku tidak mau menikungmu, tahu!"

Kristin tertawa semakin renyah mendengar jawaban temannya itu. "Hei... jangan salah paham! Aku sukarela menyerahkan sosok berandalan itu kepadamu. Silakan saja kau yang mendekatinya!"

Mereka pun kembali tertawa berdua, melanjutkan perjalanan yang masih panjang dengan saling bercerita dan tertawa. Sebagian peserta lainnya tampak tertidur pulas untuk mengisi kembali tenaga, sementara yang lain sibuk menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan alam yang perlahan berubah menjadi semakin hijau dan asri seiring bus yang terus melaju menjauhi kawasan kota.

Siang harinya, bus pun akhirnya tiba di pos persinggahan yang dituju. Doni segera melangkah paling depan menuju bangunan pos itu, mendaftarkan nama rombongan mereka secara lengkap, serta membayar segala biaya masuk dan izin berkemah sesuai ketentuan yang berlaku. Setelah urusan administrasi selesai, Kevin kembali mengingatkan seluruh peserta agar senantiasa berjalan berkelompok, saling menjaga jarak, dan tak boleh berjalan sendirian. Keselamatan satu sama lain adalah hal yang paling utama sepanjang perjalanan maupun saat tiba di lokasi nanti.

Dengan membawa tas ransel yang cukup berat di punggung masing-masing, mereka pun mulai melangkah memasuki jalur masuk hutan yang rimbun. Kristin yang belum terbiasa berjalan di medan seperti ini sering kali terpeleset akibat tanah yang licin dan berlumut. Ketika harus menyeberangi aliran sungai dangkal, ia sempat merasa berat melangkah karena sepatu yang dipakainya tak lama kemudian menjadi basah kuyup. Tanpa berpikir panjang, Kristin pun melepas sepatunya dan melanjutkan perjalanan dengan telapak kaki telanjang. Meski sesekali kakinya tergores duri tajam atau terinjak batu yang terasa panas, ia tak pernah sekalipun mengeluh atau berhenti melangkah. Di dalam hatinya, tekad terus membara: perjalanan menuju lokasi kemah masih jauh, namun ia tak akan menyerah. Ia ingin membuktikan pada Doni bahwa dirinya bukanlah wanita yang lemah atau manja.

Melihat tingkah Kristin yang berjalan tanpa alas kaki itu, Nisa yang berjalan tepat di belakangnya segera melangkah mendekat dan berpesan dengan nada penuh perhatian. "Kristin... berhati-hatilah. Lebih baik kau memakai kembali sepatumu, agar kakimu tidak terluka parah."

Kristin menoleh sambil tersenyum tegar, lalu menjawab dengan mantap, "Terima kasih perhatiannya, Kak Nisa. Tapi Kakak tidak perlu khawatir... aku baik-baik saja, dan tak akan terjadi apa-apa padaku."

Di barisan paling belakang, Doni berjalan dengan tenang sambil sesekali melirik ke arah Kristin yang berjalan tak jauh di depannya. Ia tak menyampaikan sepatah kata pun, namun sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang tak disadari siapa pun. Di dalam hatinya, pemuda itu mengakui satu hal: wanita muda itu ternyata memiliki tekad yang jauh lebih kuat daripada yang ia duga semula.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!